Serakah
“Pak, sebentar lagi Pak Broto datang” seorang sekertarisku
memberitahuku kalau akan ada rekan bisnis yang akan datang. Pak Broto adalah
seorang pengusaha lokal yang mempunyai aset bisnis dimana-mana dan mempunyai
ajudan-ajudan kejam. Ia sudah terkenal di seluruh penjuru negri ini.
Aku seorang pejabat daerah di salah satu kota besar di Pulau
Jawa. Aku mendapat fasilitas rumah dinas, mobil dinas, gaji pegawai negri dan
tunjangan serta bonus-bonus untuku dan keluargaku.
“Apa kabar? sudah lama tidak bertemu” sapa Pak Broto dan
kedua ajudannya langsung menghampiriku di ruanganku ini.
“Baik sekali, sudah ditunggu-tunggu kedatangannya”
“Bagaimana keadaan anak istri?......” basa basi Pak Broto
sebagai pemanis percakapan.
“Baik sekali Pak, sekarang sudah tidak seperti dahulu haha” tawaku
terbahak-bahak mengingat susahnya masa lalu.
“Oke, kamu sudah tahu kan kedatanganku kesini? Bagaimana
kemajuannya ?”
“Emmm… gini Pak sudah saya usahakan namun, ya masih banyak
kendala yang ada di lapangan”
“Sebutkan saja yang anda butuh berapa untuk menyelesaikan
kendala itu ?” Pak Broto mengerti saja apa yangku maksut yaitu tambahan pelicin
bisnisnya.
Dengan sigap salah satu ajudannya membuka koper sedang
bewarna hitam yang berisi pecahan dolar. Mataku langsung melolok dengan
gembiranya.
“Ah tak usah repot-repot lah Pak Broto” Sambil menerima koper
itu dan langsung aku rapikan.
Aku tahu apa akibat dan hukumnya padaku kalau kalau ketahuan.
“Tak apalah yang penting anak istriku dan aku bisa bersenang-senang” bisikku dalam
hati.
Uang inipun tidak aku nikmati sendiri, aku biasanya membagi
rejeki ini untuk bawahan-bawahanku agar cepat rampung mega proyek milik
Pak Broto. Toh, merekapun juga senang dengan apa yang aku kasih.
Proyek ini didirikan ditanah sengketa antara negara dengan
Pak Kusi yaitu seorang pemilik sahnya tanah ini. Ditanah ini juga didirikan
beberapa rumah singgah bagi gelandangan, ada sekolah darurat bagi pengamen dan
pengemis anak-anak yang masih perlu pendidikan. Disana juga ada rumah seni yang
dapat menyalurkan apresiasi seni mereka dan ada perpustakaan sebagai sumber
ilmu mereka.
“Ah biarkan saja! Aku tidak peduli!” Setan sudah menghitamkan
hatiku, aku hanya baik terhadapa uang.
Ada pepatah yang berkata “Siapa yang menang yaitu yang
mempunyai uang”. Walaupun Pak Kusi sudah menempuh jalur hukum dan seharusnya ia
menang, ia tidak bisa menang begitu saja. Aku seorang penguasa, aku mempunyai
uang, aku boleh lakukan apa saja dengan daerahku. Pak Broto dan pengusaha lain dibelakangku
sebagai pelicin masa tidak aku lakukan ia sebagai raja-raja.
Tak hanya satu proyek yang aku jalankan. Sebagai pejabat
tentu banyak yang membutuhkanku. Kesempatan itulah yang membuatku nakal akan amanat
jabatan yang diberikan pada Negara. Sebagai penerima uang haram yang seharusnya
tidak aku terima. Aku melakukan banyak investasi dan membeli berbagai aset dengan berbagai nama untuk
membersihkan uangku dengan kata lain money laundry. Aku lakukan agar
tidak tercium pihak luar apa yang aku lakukan.
“Pak tolong periksa anggaran untuk biaya pendidikan dan
kesehatan tahun ini”. Kata seorang pegawai sambil meberikan map untukku
periksa.
Aku bawa map itu ke mejaku untuk aku periksa lebih
lanjut. Didalamnya terdapat jumalah yang cukup untuk memperbaiki kalitas
pendidikan dan kesehatan di daerahku.
“Kurang!” kataku sambil berteriak dalam hati.
“Mana untukku? Tidak mudah loh untuk melakukan ini semua ”.
Senyum nakal keluar dari bibirku. Aku rubah semua anggaran yang bagiku juga
tidak masuk akal. Namun, untuk urusan perut dan nafsu selalu masuk akal.
Istri mana yang tidak senang mempunyai suami yang sukses dan
anak mana yang tidak senang diberikan fasilitas mewah. Mempunyai uang banyak,
jabatan tinggi dan mempunyai nama yang besar, mobil-mobil mewah, rumah dan
villa ada dimana saja. Seiring bertambahnya penghasilanku istriku suka meminta
hal-hal yang sangat membutuhkan uang yang banyak, seperti ingin menjadi donatur
di acara-acara amal, atau hanya sekedar jalan-jalan dan belanja ke luar negri.
Salah satu penyebabku melakukan ini semua. Tapi hal yang paling mendasar yaitu
aku selalu merasa kurang apa yang telah aku capai.
“Tak apa yang penting orang lain tau kesuksesanku sampai mana”
sambil mengingat dulu banyak orang yang meghina diriku. Karena aku dan
keluargaku dari kalangan orang tidak mampu, namun dengan kegigihan dan gelar
sarjanaku membuat aku dapat menduduki gelar pejabat ini.
Periode tahtaku sudah memasuki periode ke dua. Tetap banyak
dukungan yang aku miliki, karena kerjaku dianggap berhasil oleh rakyatku.
Pundi-pundi uang makin banyak kukumpulkan. Hanya sedikit orang yang
memperhatikan kekayaaanku tidak wajar. Namun, bagi kebanyakan orang posisi ku
yang sebagai pejabat daerah dikatakan wajar dengan kekayaan ini.
Sudah dua bulan aku mangkir dari panggilan Komisi
Pemberantasan Korupsi. Surat-surat panggilan tertumpuk rapi sudah menumpuk
dimejaku. Sudah jarang aku ke kantor. Aku berusaha melarikan diri dari semua
ini. Tetapi tidak mungkin.
“Pak, hari ini kalau Bapak tidak memenuhi panggilan Bapak
akan dijemput paksa”. Kata sekertarisku. Aku langsung merinding seketika dan
keluar keringat dingin membasahi kemejaku.
Sesampainya aku di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi dengan
ditemani kuasa hukum dan para ajudan-ajudanku. Aku langsung disesaki oleh awak
media dan menghujaniku berbagai pertanyaan. Dengan susah payah aku masuk
keruangan dimana seharusnya aku diperiksa.
Pemeriksaan pertama telah ku lewati dengan lancar selama lima
jam. Aku pun diperbolehkan pulang oleh komisi ini. Hatiku benar-benar lega.
Karena mereka masih perlu pemeriksaan lanjutan. Akupun hanya diposisikan
sebagai saksi. Senyum lega bisa aku pakai untuk senyum kepada media masa yang
setia menungguku diluar.
Kasus ini benar-benar melibatkan banyak pihak. Semakin sering
aku dipagggil untuk melakukan pemeriksaan. Entah apa yang harus aku pakai untuk
membuat aku tidak tertangkap.
Istri dan anakku seakan sudah tahu cepat atau lambat aku akan
ditangkap oleh komisi ini. Mereka tidak mau ambil pusing dengan keadaan yang
ada. Mereka pun meninggalkanku setelah semua ini terjadi entah mereka malu atau
tidak ingin menjadi incaran komisi ini. Hatikupun remuk, dengan keadaan dimana
aku sangat butuh dukungan orang-orang yang aku sayangi malah aku ditinggal
sendiri dan ditimpa cobaan seberat ini.
“Bodoh! kenapa aku bodoh?”
“Kenapa aku sangat serakah?” berkali kata-kata ini keluar
dari mulutk sambil menghantamkan kepalaku ke dinding rumah tanpa memerdulikan
rasa sakit dan darah mengalir deras dari
keningku.
Satpam yang bekerja dirumahku mendengar ketukan aneh di
dinding dan langsung mengahmpiri sumber suara.
“Pak sudah pak, inget gusti Allah. Ini cobaan pak” kata
satpam sambil menariku dari dinding dan menyuruhku berbaring. Kemudian ia
membersihkan luka dikepalaku.
“Ternyata masih ada yang peduli denganku” dalam hatiku
berkata sambil keluarnya air mata.
Hari ini tanggal 6 Juni. Aku dinyatakan menjadi tersangka
pencucian uang dan korupsi dana kesehatan dan pendidikan. Hari ini juga
bertepatan dengan ulang tahun anak pertamaku yang ke-15. Ini hadiah yang
terburuk yang aku berikan kepadannya. Aku sudah gagal menjadi seorang
ayah,suami dan pemimpin.
Ini semua terjadi karena aku haus akan uang dan tidak pernah
puas dengan apa yang aku dapat.
“Seharusnya aku tidak perlu melakukan ini semua, aku sudah
tau hukum dan akibatnya kenapa aku masih saja buta?” kataku kepada kuasa
hukumku.
“Sudahlah pak, manusia hanya bisa menyesal dari apa yang ia
telah lakukan, lagipula bapak sudah dapat remisi tahanan” Kata pengacaraku
sambil memegang bahuku dan mengantarkanku masuk ke bui.






0 comments:
Post a Comment