GOLAN DAN MIRAH
Suara
adzan Subuh membangunkan Mirah dari tidurnya yang nyenyak. Diiringi dengan
suara-suara ayam yang berkokok, seolah menyanyi sambil membangunkan orang-orang
yang masih tertidur. Dilangkahkan kaki Mirah menuju kamar mandi untuk mengambil
air wudhu. Segera tertunaikanlah kewajiban Mirah pada Sang Khalik.
Dibukanya
jendela kamar, kemudian dia, Mirah . . . . Melihat burung-burung yang beterbangan
meninggalkan sarangnya untuk mencari makan. Dari timur juga dilihatnya sang
surya menyapanya dengan malu-malu untuk menampakkan cahayanya.
Mirah,
begitu orang memanggilnya tinggal bersama kedua orang tuanya, di salah satu
rumah di desa Ponorogo. Rutinitas pertama Mirah pagi hari ini adalah pergi ke
pasar. Mirah berbagi tugas dengan ibunya, ibunya yang memasak, sedangkan Mirah berbelanja ke pasar. “Miirr!!! . . . Ayo ke
pasar!!” Teriak teman-teman Mirah
dari luar. “Iya....” Jawab Mirah. Mirah bergegas keluar untuk menemui mereka. Di
luar mereka sudah menunggu Mirah. Ada si tomboy Jumroh, si usil Iga dan yang
paling pendiam diantara mereka Siti, mereka itu adalah sahabat terbaik Mirah.
“Kapan
kamu punya pacar Mir?” Tanya Jumroh mengawali pembicaraan diantara mereka.
“Hmmm ..... kapan ya,” jawab Mirah. Mirah begitu gugup menjawab pertanyaan itu,
padahal itu pertanyaan yang sangat mudah untuk dijawab. Soal cinta memang Mirah
tertinggal jauh diantara yang lain. Bayangkan saja, Jumroh yang terkenal tomboy
diantara mereka justru mendahului mereka. . . Jumroh sekarang sudah menikah
dengan pria idamannya. Padahal dulu waktu sekolah tak ada seorang pun laki-laki
yang berani mendekatinya. “Sampai semut pun juga tidak berani mengganggunya
.... hahaha....” pikir Mirah geli.
****
Pulang
dari pasar Mirah segera menyerahkan barang-barang belanjaan kepada ibunya, yang
sudah menunggu di dapur. Mirah membantu sekedarnya saja. Tiba-tiba ketika Mirah
sedang memasak di dapur, dia dikagetkan dengan suara ayam jago. Segera Mirah
mencari sumber suara itu, ternyata di bawah meja makan bersembunyi seekor ayam
jago. Ayam itu langsung ditangkapnya, ternyata ia sangat jinak.
Mirah
bertanya-tanya, punya siapa ayam ini, bulunya sangat lembut dan warna bulunya
juga sangat indah dilihat. Ayam jago ini tidak seperti ayam liar pada umumnya.
Tiba-tiba Mirah dikagetkan lagi, dengan munculnya seorang pemuda, pemuda itu
nampak kelelahan. Mungkin pemuda itu pemilik ayam itu. “Siapa kamu???” Tanya Mirah penasaran.
“Aku Golan, aku dari kampung sebelah,” jawab pemuda itu dengan nafas yang masih
tersengal-sengal. Tidak heran kalau Mirah begitu asing dengan wajahnya. Pemuda
itu begitu tampan. Siapapun pasti akan terpesona melihatnya.
“Maaf .... Aku tidak berniat tidak sopan
padamu. Aku kesini hanya ingin menangkap ayam jagoku yang kamu tangkap itu,”
kata pemuda itu sambil menunjuk ayam yang Mirah bopong.
“Aku
Mirah. Pemilik rumah ini. Apa buktinya kalau ayam ini punyamu???” Tanya Mirah ketus.
“Di
kaki sebelah kiri ayam itu ada dua buah tali yang dikepang, berwarna hitam dan merah,”
jawab pemuda itu dengan tegas.
Benar
saja setelah Mirah memeriksa, ternyata ada tali di kaki ayam yang dibopongnya
itu. Kemudian Mirah menyerahkan ayam itu. Pemuda yang bernama Golan itu lalu
meminta maaf kepada Mirah karena ulah ayamnya. Mirah hanya menganggukkan kepala
sambil tersenyum kepadanya. Pemuda itu mulai mengajak Mirah untuk mengobrol. Tak
ada tampang jahat di wajahnya sehingga Mirah percaya dia pasti pemuda yang
baik.
“Mirah
siapa laki-laki itu!! Pemuda yang tidak punya tata krama, tidak punya sopan
santun, masuk rumah orang lain tanpa permisi dulu!!!” Tanya ayah Mirah dengan
nada keras. Saking asiknya mengobrol, Mirah sampai tidak tahu kalau dari tadi
ayahnya memperhatikan. “Dia Golan ayah. Dia ke sini karena ingin menangkap
ayamnya yang lari dan masuk ke dalam dapur kita ini,” jawab Mirah dengan nada
tebata-bata.
“Benar
pak, aku Golan. Asalku dari kampung sebelah. Aku ke sini hanya ingin menangkap
ayamku yang lari,” sahut Golan dengan
wajah ketakutan.
“Sumpah
pak aku tidak berbuat macam-macam pada anak bapak, Mirah. . . .” Tambahnya
lagi.
“Pergi
dari hadapanku sekarang juga. Atau aku akan teriak maling agar semua warga
menghajarmu!!” Gertak pak Ageng, yang tidak lain adalah ayah Mirah.
“Saya
minta maaf pak, saya sangat menyesali perbuatan saya ini. Saya akan pergi dari
rumah ini seperti perintah bapak. Sekali lagi maafkan saya pak,” jawab Golan.
Terlihat jelas dari raut wajahnya dia sangat tulus meminta maaf dan menyesali
perbuatannya. Dengan langkah yang tertatih-tatih Golan akhirnya meninggalkan
rumah pak Ageng.
****
Sementara
itu dari kampung sebelah, Golan terus saja memikirkan Mirah. Dalam benak
hatinya dia selalu ingat akan kecantikan Mirah. Waktu terus berjalan, Golan
tidak seperti biasanya, kemana saja tidak pernah pisah dengan ayam jago kesayangannya.
Setelah apa yang di alaminya itu, Golan selalu mengurungkan diri di dalam
rumah, sering melamun karena dalam hatinya selalu teringat Mirah, wanita yang
kini menjadi pujaannya.
Keadaan
yang seperti ini akhirnya diketahui oleh Ayah Golan, pak Honggolono. Setiap
hari pak Honggolono melihat putera kesayangannya mempunyai sikap yang berbeda
dari biasanya, dia sering melamun, termenung, menyendiri, tidak makan dan yang
paling merisaukan dia tidak mau mendekati ayam jago kegemarannya. Maka terus
didesaknyalah, apa sebenarnya yang terjadi pada anaknya itu.
Dengan desakan dari ayahnya tersebut, akhirnya Golan mau mengaku
apa sebenarnya yang terjadi. Golan menyampaikan kepada ayahnya bahwa dirinya
sedang jatuh hati pada seorang wanita yang cantik jelita sebagai pujaannya yaitu
Mirah, putri dari pak Ageng. Mendengar apa yang dialami oleh puteranya, pak
Honggolono sangat kaget. Karena Golan merupakan satu-satunya putra yang
disayanginya, maka tidak merasa keberatan apa yang menjadi keinginan puteranya
itu. Segeralah pak Honggolono datang ke rumah pak Ageng untuk melamar Mirah.
****
Kedatangan pak Honggolono ke rumah Mirah disambut dengan baik oleh
ayah Mirah, yaitu pak Ageng. Namun setelah pak Honggolono mengutarakan niatnya
melamar Mirah, untuk anak semata wayangnya Golan. Pak Ageng begitu sangat
terkejut akan hal itu. Sebenarnya ia tidak sudi mempunyai calon menantu seorang
penjudi sabung ayam. Karena itu pak Ageng
tidak menerima lamaran pak
Honggolono untuk putranya itu, namun dengan cara baik-baik.
Penolakan lamaran yang dilakukan oleh keluarga Mirah, ternyata
membuat pak Honggolono begitu kecewa dan marah. Ia tidak menyangka kalau keluarga
Mirah berani menolak lamaran Golan yang disampaikannya. Ia bertanya-tanya apa
yang kurang dari anaknya itu, sehingga membuat keluarga Mirah menolaknya.
Akhirnya pak Honggolono pulang dengan perasaan kecewa, ia tidak sanggup menyampaikan
hal tadi kepada anaknya, Golan. . . .
Mirah yang dari tadi
menguping pembicaraan ayahnya dan ayah Golan dari balik pintu kamar, sangat
sedih. Suara tangisnya terdengar sampai keluar kamar. Ayah dan ibunya yang
mendengar hal itu juga ikut sedih. Dalam hati mereka, sebenarnya mereka juga
tidak mau melihat anak gadisnya sedih yang teramat dalam, namun di satu sisi mereka
tidak mau melihat Mirah hidup dengan seorang laki-laki yang tidak baik.
****
Golan yang menunggu di rumah sudah sangat tidak sabar, mendengar
berita baik dari ayahnya. Sesampainya di rumah raut wajah pak Honggolono
terlihat murung, ia tidak kuasa menceritakan hal itu kepada anaknya. Melihat
wajah anaknya saja ia tidak kuat. Golan yang melihat ayahnya terlihat murung
semakin penasaran saja. Didesaklah pak Honggolono oleh Golan, akhirnya pak
Honggolono menyampaikan hal itu juga. Golan yang mendengar lamarannya ditolak
hatinya bagaikan hancur berkeping-keping. Ia bertanya-tanya, apa yang salah dari
dirinya. Sehingga membuat Mirah menolak
lamarannya.
Semenjak lamarannya ditolak oleh Mirah. Kelakuan Golan semakin meresahkan,
selain judi sabung ayam, ia mulai suka mabuk-mabukan, dan main wanita. Hal itu
ia lakukan semata-mata hanya untuk melupakan Mirah, cinta pertamanya. Walaupun
dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak bisa menghilangkan sosok Mirah
yang sangat ia cintai.
Sedangkan Mirah mulai bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai
menata hidupnya kembali. Sosok Golan yang dulu selalu hadir dalam hidupnya, ia
buang jauh-jauh. Mirah sudah kembali menjadi diri Mirah yang sebenarnya,
seorang gadis yang baik dan periang. Hal itu membuat orang tuanya senang. Tidak
ada kekhawatiran lagi dalam hati mereka, yang ada hanya harapan agar anaknya
bisa menemukan jodoh terbaiknya.






0 comments:
Post a Comment