Sesalku
Oleh: Tika Sulistiani
Lelaki yang duduk di ruang tamu
rumahku, dia adalah satu-satunya orang yang aku miliki setelah ibu meninggal.
Aku sangat membencinya bagaimana tidak baru saja ibu meninggal satu bulan yang
lalu bahkan kuburannya pun belum kering ayah sudah memperkenalkanku dengan
wanita yang katanya akan dinikahinya bulan depan, aku sangat marah saat itu,
tak ku sangka ayah begitu cepat menemukan pengganti ibu. Ayah mencoba
memdekatkanku dengan wanita itu tetapi aku tak akan sedikitpun membukakan pintu
hatiku untuk menerimanya sebagai ibuku.
Tak seperti biasanya sekarang aku
selalu pulang larut malam, aku tak ingin melihat wajah ayahku apalagi melihat ayah
dengan wanita itu, sekarang rumah bagaikan neraka bagiku. Pada suatu malam ayah
memergokiku pulang larut, ayah memarahiku habis-habisan aku pun sudah tak
perduli lagi dengan apa pun kata yang keluar dari mulutnya, sepanjang apapun
dan sekeras apaapun usahanya akan sia-sia, membuang-buang waktu dan tenaganya
saja karna aku sudah tak menganggapnya sebagai ayahku lagi, kututup telingaku
rapat-rapat seolah tak ada yang berbicara denganku.
Entah apa yang merasuki diriku, hingga
aku sangat membencinya. Dia ayahku! Ayah kandungku! Ayah yang seharusnya aku
hormati, tapi apa dia pantas aku panggil ayah? Dia dengan secepat itu melupakan
ibu dan berniat menikah lagi dengan wanita yang lebih muda dan cantik dari ibu.
Dan yang bertambah kebencianku terhadap ayahku ternyata ayah sudah menjalin hubungan
dengan wanita itu saat ibu masih hidup dan ibupun mengetahuinya tapi ibu hanya
diam pasrah karna takut akan masa depanku jika ibu menceraikan ayah.
Puncak kebencianku kepadanya, saat
aku berusaha melunakkan hatiku, aku mengiyakan ajakkan ayahku untuk makan malam
berdua, aku mengiyakan hanya karna ingin mencoba menghargai sedikit usaha
kerasnya baik padaku, bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungku.
Suasana makan malam itu pun terasa
sunyi, aku pun tak berniat mengeluarkan sepatah katapun untuk memulai
pembicaraan dengan ayahku, tapi ayah memulai pembicaraan, dia menanyakan
tentang masa depanku karna bulan depan aku lulus SMA. Sontak aku langsung
bersemangat membicarakan tentang masa depanku, dengan raut wajah penuh semangat
aku menceritakan bahwa Band yang aku bangun dari SMP bersama teman-temanku sudah mulai masuk dapur rekaman dan aku
berniat masuk ke dunia hiburan tanah air menjadi vokalis Band terkenal.
Belum selesai aku menceritakan
kegembiraanku ayah memotongnya, “kamu enggak boleh ngeBand lagi, sudah waktunya
kamu kuliah!” Katanya. Ayah memaksaku untuk melanjutkan kuliah dan mengambil
jurusan manajement agar bisa meneruskan bisnisnya, ayah tak memperbolehkanku
terjun kedunia hiburan yang tidak jelas katanya. Dia tak pernah peka terhadap
keinginanku yang sejak kecil ingin menjadi seorang seniman. Lantas aku dengan
tegas menolak idenya, aku kekeh tehadap pendirianku untuk berkarya bersama
Bandku. Tapi apa yang ia perbuat, suasana yang begitu sunyi berubah dalam
seketika ketika ayah memarahiku habis-habisan, menghina pendapatku, mencaci
impianku sejak kecil itu, mengatakan kalau aku
bodoh dan masa depanku akan suram jika aku masuk ke dunia yang seperti
itu.
Aku mengatakan padanya setangah
membentak “aku sudah besar! Aku bisa menentukan masa depanku sendiri, aku bukan
robot yang hanya menurut apa yang diperintahkan untuk berjalan
kesana-kemari!!!”
Mendengar aku tetap kekeh pada
pendirianku, ia malah mengancam tak mau membantuku jika memerlukan uang untuk
Bandku saat aku sudah lulus SMA nanti. Ancaman yang ia berikanpun aku balas
dengan pergi dari rumah.
Aku pergi ke rumah sahabatku, untuk
sementara waktu aku tinggal di rumahnya sambil bantu-bantu di rumah dan
membantu bisnis bengkel Ayah sahabatku. Setelah beberapa hari aku pergi dari
rumah aku bertanya dalam hati “apa Ayah tak mencariku sampai saat ini tak ada
yang datang menjemputku untuk pulang?”. Bagaimana ayah datang menjemputku di
sini, karna bahkan ayah tak pernah tahu siapa-siapa sahabat dekatku yang
kemungkinan besar aku datangi saat aku sedang tak betah di rumah, apalagi
sekarang hati ayah sudah dirasuki oleh wanita itu.
Sampai aku telah lulus SMA aku masih
tinggal di rumah temanku, keluarga temanku sangat baik kepadaku, aku di
tawarkan bekerja di Perusahaan Sorum Mobil ayah sahabatku, aku sangat bersyukur
walaupun sekarang aku harus berkerja tetapi aku masih bisa berkarya bersama
Bandku. Karna aku merasa tak enak terhadap mereka sudah menumpang selama ini
akupun memutuskan untuk ngekost saja. Awalnya mereka menahanku untuk tetap tinggal,
tapi aku kekeh dengan pendirianku. Aku sangat berterima kasih atas kebaikan
yang mereka berikan kepadaku selama ini.
Kini aku hidup sendiri, berjuang
untuk menjalani hidup dan bebas menggaipai semua impianku yang sejak dulu
inginku capai. Sampai akhirnya 5 tahun telah berlalu usiaku 24 tahun, Band yang
aku bangun sudah mulai di kenal masyarakat, karna aku merasa penghasilan dari
Bandku sudah mencukupi untuk hidup aku pun keluar dari perusahaan ayah temanku.
tiba-tiba saat aku pulang setelah aku selesai manggung aku terkejut melihat ia
datang dan berdiri di depan kamar kostku.
Penampilan laki-laki itu sangat jauh
berbeda dengan ia 5 tahun yang lalu, dia telihat lemas matanya cekung karena
kurang tidur, badannya kurus dan mulai mengeriput, dan... dimana wajah angkuh
nan sombong yang biasa ia tampilkan itu? Hanya ekspresi sendu yang dapat kulihat
dari wajahnya saat itu. Ya dia ayahku, tapi rasa kesal dan amarahku masih amat
besar terhadapnya. Langsung ku usir dia dari rumahku, ternyata sifat keras
kepalanya sama sekali tak berubah. Ia tetap berdiri disana, tak bergeming
sedikitpun. Kesalku bertambah, kudorong badannya menjauhi pintu lalu aku masuk
dan mengunci kamar kostku aku biarkan dia di luar . Ya Tuhan, betapa keras
kepalanya ayahku ini. Dengan fisik rentanya ia masih mencoba menungguku.
Keesokan harinya saat aku akan pergi
manggung di luar kota, kulihat dari balik jendela ayah masih bertahan
menungguku dia tertidur di lantai, aku tak menyangka dia menungguku sampai pagi
dan tidur di luar tanpa memakai apapun hanya pakaian yang ia kenakan saja untuk
menghangatkan tubuhnya. Aku keluar dan ku usir kembali lelaki itu. “tak ada
guna Ayah seperti ini, pergi dan jangan temui aku lagi!!” Tapi ia tak
menjawabnya, akupun bertambah kesal karna dia tak mendengarkan ucapanku, ku
tarik tangannya dengan kasar.
Tangannya begitu dingin dan ia pun
tak menggerakkan tubuhnya sama sekali, hatikupun sontak terasa sesak aku
tersadar kalau lelaki yang ada di depan mataku dia adalah ayahku, ayah
kandungku kini sudah tak bernyawa lagi. Entah mengapa tangisku mengalir deras
tanpa bisa ditahan. Rasa takut kehilangan menjalari seluruh ragaku. Untuk
pertama kalinya, aku menyadari, aku menyayangi ayahku.
Setelah
kejadian itu, aku memutuskan untuk keluar dari industri hiburan karna sebagai
anak satu-satunya, jelaslah kalau hanya aku yang bisa meneruskan bisnis ayahku
ini. Dua hari setelah kematian ayah, aku langsung pergi ke kantor.
Setibanya di kantor aku melihat
wanita itu bergandengan dengan laki-laki lain, akupun bertanya pada sekertaris
kantor ayahku, “Mba bukannya wanita yang di depan itu istri ayah saya yah?”
Tanyaku, “awalnya ayah anda akan menikah dengan dia tapi itu tak pernah terjadi
sampai akupun kaget wanita itu menikah dengan orang lain, tapi denger-denger
sih maaf ya Pak?” kata sekertaris ayahku, “maaf kenapa?” Tanyaku heran, “ayah
anda tak pernah melanjutkan niatnya untuk menikah dengan wanita itu karna belum
mendapatkan restu dari Bapak.” Jawabnya dengan jelas. Penyesalanku makin
bertambah mendengar semua itu.
Aku masuk ke dalam ruangan kerja
ayahku untuk membereskan barang-barang peninggalannya. Ku pandangi sudut demi
sudut ruangan tempat ayahku bekerja, kududuki kursi yang biasa ayahku gunakan
selama ia bekerja, aku merasakan rindu dan khayalku andai bisa bekerja di
ruangan ini bersama dengan ayahku, sangat menyenangkan. aku menemukan sebuah
buku catatan yang menarik perhatian ku dalam laci mejanya. Kubuka dan Kubaca
catatan dari buku tersebut itu perlahan. Napasku tertahan membaca setiap
kalimat dalam catatan itu.
Bercak tetesan air mata ayah masih
tercetak jelas diatas kertas itu. Ditambah dengan air mataku yang membuat buku
itu semakin kisut. Aku makin menyadari kesalahan terbesarku. Yang telah membenci
Ayahku, seseorang yang dulu sangat kurindukan kehadirannya. Kunantikan kasih
sayang serta pelukannya. Kini semua telah terlambat. Aku benar-benar terlambat
menyadarinya, bahwa sebenarnya ayahku sangat menyayangiku dan akupun sayang Ayahku,
aku butuh perhatian dan kasih sayangnya, seperti anak-anak lainnya. Lantas aku
mengutuki diriku. “Tuhan, mengapa penyesalan selalu datang terlambat?” Aku
ingin ayahku kembali, aku ingin menebus segala kesalahanku dulu.
Tamat






0 comments:
Post a Comment