Tema: Lokalitas

Rambu Solo
Di sebuah kampung tepatnya di daerah Tana Toraja, upacara kematian selalu dirayakan dengan biaya yang terbilang cukup besar. Upacara ini dilakukan untuk menghormati dan mengantarkan mayat ke tempat peristirahatan terakhir. Semakin kaya dan berkuasa seseorang akan semakin besar pula biaya upacara kematiannya atau di sana biasa disebut dengan rambu solo.
Doni adalah seorang pelancong yang sedang menyusuri keindahan Tana Toraja. Sore itu awan semakin gelap, ia sudah tidak tahu akan bermalam di mana. Ketika melewati sebuah komplek tongkonan ia memutuskan untuk menumpang di sebuah tongkonan yang cukup besar.
                                                                  ***           
Di dalam sebuah tongkonan, Andi dan keluarganya sedang berbicang-bincang. Mereka terdengar asyik bersenda gurau. Tiba-tiba.
“Tok....tok...tok...permisi,” terdengar suara dari luar.
“Iya tunggu sebentar,” Andi langsung keluar menghampiri suara tersebut.
“Maaf bolehkah saya bermalam di sini?”tanya Doni kepada pemilik rumah itu.
“Anda siapa? Dan bermaksud apa datang ke sini?” jawab Andi.
“Saya seorang pelancong, awan sudah semakin pekat, saya tidak mungkin meneruskan perjalanan dan tak tahu harus berteduh di mana ,” ujar Doni.
“Kalau begitu silahkan masuk,”sambut Andi dengan ramah.
Di desa itu keluarga Andi terkenal sebagai keluarga yang kaya raya, ramah dan terpandang. tongkonan keluarganya pun termasuk yang paling besar. Maklum saja bapaknya Andi adalah seorang kepala desa di daerah tersebut. Namun karena Andi terlena dengan kekayaan Ambe-nya(panggilan Bapak dalam bahasa Toraja) itu, ia tumbuh menjadi pemuda yang malas dan tidak mau bekerja. Sedangkan kakanya si Rantedoping adalah sesorang yang rajin. Memang bagai bumi dan langit mereka itu.
***
Udara pagi masih menyisakan dingin, terdengar pula suara burung-burung nan indah yang berkicauan. Alunan musik khas Tana Toraja terdengar dari tongkonan sebelah. Ambe telah pergi ke kantor kepala Desa untuk bekerja seperti biasanya. Rantedoping pun telah pergi ke peternakan. Doni yang kala itu telah terbangun dari tidurnya mendengar perbincangan antara Indo (ibu Andi=panggilan ibu di suku Toraja) dan Andi yang sedang berada di teras tongkongan.
“Andi.....kamu ini setiap hari kerjaannya hanya duduk-duduk saja,”teriak indo yang sudah geram dengan kelakuan Andi.
“Aduh Indo, untuk apa aku bekerja, toh uang ambe banyak ,kerbau dan babi juga masih banyak di peternakan, cukuplah itu untuk membiayai upacara rambu solo untuk kita sekeluarga,” ujar Andi tenang.
“Kamu ini kalau diberitahu tidak pernah mau mendengar, kamu pikir kita bekerja mencari uang hanya untuk membiayai rambu solo saja!” Sahut indo semakin geram.
“Lalu? untuk apa Indo?”jawab Andi.
“Sudahlah kamu belum terlalu mengerti semua ini, cepat sana kamu bantu Rantedoping urus sapi dan babi yang ada di peternakan!”Indo memerintah.
Dengan wajah yang kusut Andi memasuki rumah untuk bersiap-siap menuju peternakan. Doni yang keluar dari kamarnya melihat Andi dengan wajah kusutnya karena disuruh Indo-nya. Doni hanya terdiam melihat Andi yang pergi dengan raut muka seperti itu. Dengan memberanikan diri Doni bertanya kepada indo tentang rambu solo tersebut.
“Indo, mohon maaf sebelumnya, tadi ketika aku ingin keluar dari kamarku , aku mendengar perbincangan Indo dengan Andi tentang rambu solo, kalau boleh aku tahu apa itu rambu solo ?” Tanya Doni sedikit takut.
“Oh tidak apa-apa nak memang begitu watak Andi dari dulu, dia memang sangat berbeda dengan kakaknya Rantedoping yang rajin. Memangnya kenapa kamu bertanya mengenai hal itu?”
“Tidak apa-apa, aku hanya penasaran saja, sebenarnya aku datang jauh-jauh dari kota ingin melihat keindahan alam Tanah toraja ini, sekalian aku ingin mencari tahu sedikit budaya yang ada di sini, bolehkan Indo?”
“Jelas tidak apa-apa nak, jadi begini ceritanya.”
Rambu solo adalah salah satu kebudayaan yang berasal dari Tana Toraja. Jika rambu tuka merupakan upacara yang berhubungan dengan syukuran, maka rambu solo adalah kebalikannya yaitu upacara yang berhubungan dengan kedukaan. Upacara ini bertujuan untuk menghormati arwah leluhur kami. Selain itu kami percaya rambu solo akan menyempurnakan kematian seseorang karena rambu solo ini adalah siklus hidup masyarakat Toraja.
“Lalu Indo, kalau keluarga yang ditinggalkan tidak mempunyai biaya untuk Rambu Solo bagaimana?
“Kami juga beranggapan jika seseorang meninggal dan belum melaksanakan upacara Rambu Solo maka kami anggap ia masih sakit karena arwahnya belum sampai ke Puya (Dunia Arwah). Kami berikan ia makan, minum dan kami ajak ngobrol kalau perlu. Selain itu keluarganya harus tetap mengumpulkan uang untuk acara Rambu Solo tersebut, waktunya tidak dibatasi  , tegas indo.
“Oh jadi begitu, tetapi mengapa biaya untuk rambu solo sangat mahal?” Sahut Doni dengan wajah penuh kebingungan.
“Yang menyebabkan biayanya cukup besar karena anggota keluarga yang ditinggalkan harus membeli kerbau dan babi sebagai persembahan kepada arwah dan biasanya jumlahnya sepuluh sampai duapuluh kerbau dan babi,”indo menjelaskan.
“Tetapi apakah biaya itu sepenuhnya tanggung jawab keluarga yang ditinggalkan?”
“Tidak juga, justru lebih baik jika seseorang yang sebelum meninggal mengumpulkan uang yang banyak agar tidak merepotkan anak cucu nya ketika ia meninggal nanti.”
“Baiklah Indo, sekarang aku mengerti mengapa Indo berbicara seperti tadi kepada Andi.”

“Iya nak, sebab kalau Andi hanya bersantai-santai sekarang, nanti siapa yang akan membiayai upacara rambu solo nya, Indo hanya tidak ingin arwah anak-anak Indo menjadi tidak tenang karena belum sampai ke Puya. Indo juga tahu untuk sekarang memang harta ambe (bapaknya Andi dan Rantedoping) memang terbilang berlimpah, yaaa....cukup memang untuk membiayai upacara rambu solo kami semua, tetapi kami tidak tahu sampai kapan harta itu akan tetap berada di tangan kami, lagipula harta itu juga akan habis jika tidak dikelola dengan baik,” ujar indo kepada Doni.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment