Dia dan Dunianya (Sri lestari_1112046200012) tugas UTS


Dia dan Dunianya
                Pagi pertamaku di desa Sawarna ini disambut oleh angin yang berhembus begitu lembut, serta aroma sawah segar yang memenuhi indra penciumanku. Di sini sepertinya pohon bukan sesuatu yang langka seperti di Jakarta dan yang jelas di sini aku bebas menghirup udara sesukaku tanpa takut terkena polusi udara. Aku duduk di sebuah rumah panggung penginapan ibu Enda yang terbuat dari gedhek (bambu), yang lokasinya berada tepat di pinggir sawah luas dan hijau. Namun entah kenapa, semua suasana keindahan ini sama untukku.
“Dek, aku berangkat observasi dulu yaa,” pamit kakakku yang tidak bertanggung jawab ini sambil mengelus kepalaku “Hhmm,” jawabku dengan anggukan kepala, kemudian aku melihatnya pergi dan berpikir, sepertinya aku salah untuk ikut ke tempat ini bersama dia dan teman-temannya itu. Aku tetap sendirian, lalu apa bedanya dengan di rumah. Jujur aku merasa lebih nyaman di rumah, jika saja kakak tidak memaksa mungkin aku tidak akan ikut ke sini. Bagiku, rumah, terutama kamar tidurku adalah tempat terindah di seluruh dunia. Karena di sana aku tidak harus bertemu dengan banyak orang, apalagi mengobrol dengan orang yang yang baru kukenal. Semua hal itu membuatku merasa tidak nyaman.
Setelah aku benar-benar tidak melihat kakakku yang pergi itu, aku kembali ke kamar penginapanku untuk tetap di sana sampai kakak laki-lakiku itu kembali. Aku bangun dari posisi dudukku dan berjalan menuju kamar.
“Neng, ntos sarapan ncan?” Sapa bu Enda ramah.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan kepala namun tidak menatap matanya, bukan karena tidak sopan tapi lebih pada perasaan tidak nyamanku jika menatapnya, kemudian mengangguk sekali lagi untuk berpamitan karena aku akan kembali ke kamar. Setibanya di kamar, kuhempaskan tubuhku ke kasur yang lumayan nyaman ini, meskipun tidak terbuat dari busa yang empuk, tapi kasur ini lumayan nyaman dan tidak sakit seperti kasur tanpa busa lainnya.
Lama berpikir tapi aku belum tahu harus menghabiskan waktu di sini dengan apa, laptopku dibawa kakak dan hanya ada hanphone  yang sudah kumainkan dari satu jam yang lalu. Aku melihat ke arah jam bulat tua dengan warna emasnya yang sudah usang, yang berada tepat di depan atas arah tempat tidur. Dan terlihat waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.
“Mengapa waktunya berjalan begitu lama...?”  Gerutuku.
Aku ingin keluar tapi aku tidak ingin bertemu dengan banyak orang, sedangkan di kamar yang ukurannya tidak terlalu luas ini aku juga tidak bisa melakukan apapun. Akhirnya kupaksakan diriku bangun dan membuka setengah pintu, untuk memastikan tidak ada orang. Kemudian aku melangkah keluar karena kurasa tidak ada orang di sini dan berpikir sejenak, kemana tempat yang tidak terlalu banyak orang namun tidak membosankan.
Aku berjalan diantara sawah-sawah yang tadi aku lihat, ternyata lebih indah bila dilihat dari dekat, kemudian kubentangkan tanganku untuk menyentuh padi-padi itu. Aku ingat perkataan kakakku semalam bahwa setelah melewati sawah ini, kurang lebih lima sampai sepuluh menit aku bisa melihat pantai pasir putih dan aku memutuskan untuk pergi ke pantai itu.
Aku melihat banyak penginapan sebelum sampai di pantai itu, serta pohon kelapa yang tumbuh berjajar rapi di pinggir pantai, seolah menandakan bahwa aku sudah sampai di pantai yang aku tuju. Deburan ombak yang besar membiusku sesampainya aku di sana, angin yang tadi menyapaku lembut kali ini sedikit lebih tidak ramah. Tapi aku menyukai suasana ini, matahari di pantai ini lebih menyengat dan hangat. Aku berjalan menyusuri pantai ini dengan melepas alas kaki yang kukenakan, sebab dengan kaki yang langsung menyentuh pasir membuatku benar-benar merasakan suasana pantainya. Di sini lumayan sepi, mungkin karena bukan waktunya liburan dan ini membuatku merasa nyaman untuk menikmati suasana sendiri. Aku berjalan menuju deburan ombak agar aku bisa terkena hempasan airnya dan ketika kakiku terkena hempasan air ombak itu, aku begitu senang, karena baru pertama kali ini aku bisa benar-benar keluar dari rumah dengan suasana yang berbeda. Saat aku menyentuh hempasan air ombak itu dengan tanganku, alas kakiku terjatuh dan terbawa airnya. Aku mencoba mengambilnya tapi aku bahkan tidak bisa berenang, jadi aku hanya bisa menyesali apa yang telah kulakukan.
“Sekedap, ” suara seorang laki-laki membuyarkan lamunanku, kemudian dia berlari ke arah alas kakiku dan mengambilkannya.
Aku ingin mencegahnya karena kupikir itu tidak terlalu penting, kubuka mulutku untuk memanggilnya “Jangan, tidak usah, tidak apa-apa..” Tapi, tidak ada suara sedikit pun yang keluar. Aku hanya bisa menggigit bibirku, sambil melihatnya dengan khawatir, bagaimana jika dia terbawa ombak besar itu. Tapi, dia kembali, dengan pakaian yang basah kuyup kemudian tersenyum dan melambai dengan tangan yang menggenggam sebuah alas kaki. Yaaa, alas kakiku. Laki-laki yang nekad pikirku.
Dia menghampiriku, tersenyum dan berkata “Iye, basah nte kunaon pan?” Menyodorkan alas kaki kepadaku. Apa yang dia pikirkan sebenarnya, bagaimana jika dia terbawa ombak dan menghilang, apa yang harus kulakukan. Apa aku harus jadi seorang pembunuh hanya karena sebuah alas kaki.
“Orang mana?” Sambungnya dengan logat Sunda yang kental namun masih dengan posisi yang sama, menyodorkan alas kaki yang belum aku terima, aku bingung harus bagaimana. Jadi aku menerima alas kaki itu kemudian menganggukan kepala, membalikan badanku dan pergi meninggalkannya. Aku tidak berani menengok ke arahnya, aku hanya berpikir harus kembali ke penginapan segera.
“Sama-sama..” Teriaknya padaku, yang membuatku merasa bersalah karena tidak mengucapkan terima kasih.
 Kenapa ada orang seaneh itu, membuat dirinya basah kuyup hanya karena sebuah alas kaki dan membuatku jadi merasa bersalah sekarang. Aku berpikir sepanjang jalan, mungkin baginya aku juga orang yang aneh, tidak tahu berterima kasih dan langsung pergi begitu saja.
***
“Bu Enda bilang kamu keluar tadi pagi, kemana?” Tanya kakak padaku sambil menyendokkan nasi  ke piring, kemudian menyodorkannya padaku “Aku hanya melihat pantai,” jawabku singkat sambil menerima piring berisi nasi itu.
“Hhmm, yasudah besok kalau bosan pergi lagi saja kesana. Cari teman, kita di sinikan masih beberapa hari lagi, nanti bisa mati kebosanan baru tahu rasa... Oyaa, tadi dapat teman baru tidak?” Aku tersedak mendengar pertanyaan kakakku itu, karena mengingat kejadian tadi pagi “Iisssthh, pelan-pelan makannya,” sambungnya.
***
Hari berikutnya aku memutuskan untuk ke pantai itu lagi, namun dengan sedikit harapan untuk kali ini tidak bertemu dengan siapapun, apalagi laki-laki kemarin. Sebab, pantai itu begitu indah. Setiap deburan ombak yang  kulihat seakan membawa pergi semua sepi yang setiap saat aku rasakan. Hangatnya sinar matahari pagi di pantai itu juga membuatku seakan menjadi manusia seutuhnya, sebab entah kapan terakhir kali aku keluar dari rumah dan menikmati sinar matahari pagi. Yaaa, sepertinya sejak kejadian itu.
Aku duduk di pantai pasir putih Ciantir ini, menikmati suasana pantai yang kemarin baru sedikit bisa kunikmati. Pantai ini di latar belakangi oleh perbukitan dan persawahan di pesisir pantainya, ombaknya juga tinggi, sepertinya cocok untuk para peselancar. Di sekitar pantai ini juga banyak saung kecil maupun besar, di saung-saung kecil sepertinya hanya menjual makanan maupun minuman ringan dan yang paling banyak dijual sepertinya adalah es kelapa, kemudian saung-saung besar itu sepertinya tempat untuk makan atau menginap entahlah, dari tempatku duduk saat ini tidak begitu jelas.
“Maneh kemari duei, sukanya noongken laut?” Sapa seseorang yang sepertinya aku tahu siapa. Aku hanya diam tidak menoleh. Tapi dia menghampiriku dan duduk di sampingku lalu berkata “Maaf, kemarin abdi teh anehnya? Tiba-tiba aja nongol, oyaa.. Abdi teh Sultan, maneh?” Aku hanya diam dan berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari sini, aku menoleh padanya dengan ragu tapi ketika aku menoleh aku justru langsung menatap matanya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir, aku menatap mata orang yang sedang bicara padaku, matanya coklat bersih, alis matanya tebal dan bentuk matanya tidak terlalu besar. Tapi kenapa aku tidak merasakan apa-apa, aku malah merasa tenang dan tidak gugup seperti biasanya.
“Maneh teh saha namina?” Lanjutnya yang menyadarkan lamunanku, “Maa.. Maa.. Maaf.. ” jawabku sambil memalingkan pandanganku ke arah laut lagi, tapi kenapa dia masih memandangiku terus, apa yang dia pikirkan.
“Laisa,” sambungku memecah suasana, “Hhmm?” Tanyanya bingung, sepertinya suaraku terlalu kecil dibandingkan dengan deburan ombak itu “Nama.. Namaku Laisa, ” jelasku “Ouh, dari Jakartanyaa?” Tanyanya lagi, kali ini aku menjawabnya dengan kebiasaan lamaku yaitu anggukan kepala.
“Salam kenal yaa,” sambungnya dengan logat yang tidak lagi Sunda, aku menoleh padanya karena bingung “Aku juga dari Jakarta, aku menginap di sana, di saung besar dekat dua kursi santai kayu itu,” jelasnya yang sepertinya mengerti apa yang aku pikirkan, “Aku sering datang ke sini untuk melarikan diri, kau?” Tanyanya, “Tidak jauh dari sini, saat malam hari biasanya terdapat pasar malam, bukan pasar malam besar seperti kebanyakan di Jakarta tapi lumayan ko, ramai.. Mau kesana bersamaku?” Lanjutnya, kenapa dia mengajakku, padahal kita baru saja bertemu dua kali, lagipula aku sudah pasti tidak akan ikut, alasannya sangat jelas, ramai...
“Sepertinya kau sangat pendiam, pertama aku melihatmu aku berpikir aku begitu menakutimu, tiba-tiba muncul dan terjun ke laut mengambilkan alas kakimu.. ” Sambungnya sambil menatap ke arah laut, aku menoleh untuk memperhatikan wajahnya. Wajahnya putih bersih, hidungnya mancung dan bibirnya kecil, keseluruhan wajahnya oriental. Seperti tahu diperhatikan dia menoleh padaku, membuatku cepat-cepat memalingkan pandanganku ke arah yang lain. Aku sempat melihat dia tersenyum, sepertinya aku tertangkap basah sedang memperhatikannya.
***
“Aku menunggumu lumayan lama, aku kira kau tidak datang pagi ini,” sapanya hari berikutnya padaku, kenapa dia terus menggangguku gerutuku dalam hati. Dia menghentakan secara perlahan tangannya ke pasir  tepat di samping tempatnya duduk, mengisyaratkanku untuk duduk di sana. Jujur aku ingin kembali ke penginapan jika dia tidak berkata “Ayolah, apa kau masih takut padaku? Aku pikir kita seusia, aku bukan orang jahat percayalah..” Jadi aku menurutinya untuk duduk, “Hari ini aku akan mengajakmu berkeliling Sawarna ini, jadi kau hari ini adalah tahananku,” sambungnya, yang benar-benar membuatku kaget. “Aa.. A.. ” Aku ingin menolaknya tapi aku bahkan tidak bisa mengeluarkan satu katapun dan hanya bisa menggigit bibirku.
Dia melihatku dan tersenyum, lalu berkata “Kau tidak boleh menolaknya, aku sudah meminta ijin pada kakakmu dan dia mengijinkannya,” kata-kata itu mengagetkanku untuk kedua kalinya, bagaimana bisa dia mengenal kakakku, aku masih menatapnya dengan wajah bingung. Tapi, dia berdiri dan berkata “Ayo, bangunlah..” “Apa aku harus menyeret-nyeretmu?” Sambungnya mengancamku, kemudian dia menarik perlahan tanganku yang tentu saja membuatku bangun dari tempat dudukku. Dia memiringkan kepalanya seraya berkata “Ayo,” aku memberanikan diri untuk menjawabnya “Aa.. Aa.. Aku tidak bisa pergi,” akhirnya aku bisa mengeluarkan sebuah suara. Aku melihat sedikit rasa kecewa di wajahnya, tapi aku benar-benar tidak ingin pergi. Tiba-tiba dia tersenyum dan membuatku bingung kemudian berkata “Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu, tapi aku tidak akan menyerah,” kali ini dia menarik tanganku dengan lebih kuat, membuatku terhempas ke arahnya dan dia menarikku pergi.
Sepanjang perjalanan aku hanya menundukan pandanganku karena lumayan banyak orang di sini, dia mengajakku berjalan begitu jauh, apa sebenarnya yang akan ia lakukan, aku mencoba melepaskan genggamannya tapi ia justru menggenggam tanganku lebih kuat, aku benar-benar menjadi tahanannya sekarang. Kita sudah melewati pematang sawah, menyebrangi sebuah sungai irigasi, dan melewati perkampungan serta hamparan sawah namun tidak juga berhenti. Kemudian kurang lebih 2 kilometer kita berjalan dia berhenti dan menunjuk sebuah Goa, ternyata itu tempat yang ingin ia tunjukkan padaku.
Kita memasuki Goa itu dengan merundukkan sedikit badan karena mulut Goa ini  kecil. Setelah di dalam aku merasakan air setinggi lututku, dia mengeluarkan sebuah senter dari sakunya untuk memperjelas keadaan Goa ini. Aku melihat stalagmite dan stalaktit yang indah, tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran sebab benda itu bergerak, setelah senter yang dipegangnya mengarah pada benda itu, aku baru bisa melihat jelas bahwa itu bukan benda melainkan kelelawar yang sedang menggantung, begitu banyak, mungkin ratusan sampai ribuan.

“Bagus bukan? Aku ingin mengajakmu ke dalam, tapi sepertinya tidak perlu karena di sana sangat licin,”  jelasnya “Terima kasih,” jawabku yang membuatnya kaget dan menoleh padaku, aku tidak menoleh padanya tapi aku bisa melihat ia tersenyum. Kenapa dia banyak sekali tersenyum, sepertinya hidupnya begitu bahagia. “Ini Goa Lalay, karena di Goa ini banyak dihuni oleh kelelawar, jadi warga menyebutnya seperti itu,” jelasnya lagi, apakah orang ini sedang menjadi pemandu wisataku sekarang, kenapa dia terus menerangkan ini dan itu, tapi aku menyukainya, paling tidak suasananya menjadi tidak hening.
“Sudah siang, aku akan mengajakmu ke saungku untuk salat dan makan siang,” katanya, “Tempat wisata selanjutnya adalah saung Sultan, selamat menikmati,” sambungnya dengan menirukan gaya seorang pemandu wisata yang membuatku tersenyum dan aku melihatnya tersenyum pula memandangku. Kami makan ikan bakar dan es kelapa yang segar karena kelapanya dipetik langsung dari pohonnya, serta angin pantai yang tidak lupa menemani, karena saungnya juga tidak ramai aku jadi merasa nyaman, “Bagaimana? Enak bukan?” Katanya sambil memegangi piring makannya, “Hhmm,” jawabku dengan anggukan kepala dan aku melihat ia tersenyum lagi.
Setelah selesai makan, dia mengantarku kembali ke penginapanku. Tapi, diperjalanan tiba-tiba datang rombongan orang yang terlihat akan berlibur melewatiku, memaksaku mengingat kejadian sepuluh tahun lalu, yang membuat badanku gemetar dan lemas, keringat dingin keluar dan membasahi tubuhku, aku menarik lengannya dengan sisa tenaga yang ada, karena aku sudah tidak bisa berdiri dengan seimbang. Dia menatapku bingung, air mataku menetes, aku mencoba berkata padanya “Aa.. Aa.. aku, bawa aku pergi,” dan aku tidak sadarkan diri.
***
Keesokan paginya aku kembali ke pantai tempat biasa aku menghabiskan waktu pagiku, dan untuk menemui seseorang tentunya. Dia melihatku datang, tapi kali ini terdapat penyesalan di wajahnya. Aku duduk di sampingnya, aku ingin memulai pembicaraan tapi aku tidak tahu bagaimana. “Maaf,” dia yang memulainya, kemudian menghela nafas dan berkata lagi “Maaf, aku tidak tahu kalau kau begitu takut menghadapi orang apalagi banyak orang, seharusnya aku bertanya, tapi..” “Bukan salahmu,” potongku “Aku sudah seperti ini dari sepuluh tahun yang lalu, karena kejadian itu, kejadian yang seharusnya aku lupakan, jadi bukan salahmu,” “Tetap saja,” bantahnya, “Tetap saja bukan salahmu, awalnya aku ke sini karena sebuah paksaan, tapi setelah sampai di sini, bertemu denganmu dan banyak melihat keindahan di tempat ini, aku sadar aku harus mengakhiri semuanya di sini. Aku melihat banyak keindahan yang tempat ini ingin tunjukan namun tempat ini begitu tersembunyi, sepertiku, banyak yang ingin aku lakukan serta bicarakan tapi semua itu tersembunyi, dalam sebuah dunia yang aku ciptakan sendiri tanpa siapapun,” potongku lagi, karena memang dia tidak bersalah jadi aku tidak ingin dia merasa bersalah.
 “Oyaa, dari awal kita bertemu di sini seharusnya aku mengatakan ini, terima kasih.. Untuk kemarin, terutama untuk alas kakiku,” sambungku sambil menunjuk alas kakiku, kemudian dia tersenyum, yaaa, sebuah senyuman yang selalu menghiasi wajahnya yang tampan. “Pertama kali aku datang ke sini aku menyukai tempat ini tapi, setelah mendengar bahwa kau berkata kau ini seperti tempat ini, aku jadi menyukai tempat ini untuk kedua kalinya,” jawabnya sambil menatapku dan tersenyum, kemudian mengelus kepalaku dan berkata “Jangan coba-coba bertanya apa artinya, tapi pikirkanlah sendiri, hhmm?” Sambungnya dan tanpa mengerti apa maksudnya aku menganggukan kepalaku kemudian kembali menikmati deburan ombak pagi, pantai pasir putih Ciantir Sawarna ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment