Dia dan Dunianya
Pagi
pertamaku di desa Sawarna ini disambut oleh angin yang berhembus begitu lembut,
serta aroma sawah segar yang memenuhi indra penciumanku. Di sini sepertinya
pohon bukan sesuatu yang langka seperti di Jakarta dan yang jelas di sini aku
bebas menghirup udara sesukaku tanpa takut terkena polusi udara. Aku duduk di
sebuah rumah panggung penginapan ibu Enda yang terbuat dari gedhek (bambu),
yang lokasinya berada tepat di pinggir sawah luas dan hijau. Namun entah kenapa,
semua suasana keindahan ini sama untukku.
“Dek, aku
berangkat observasi dulu yaa,” pamit kakakku yang tidak bertanggung jawab ini
sambil mengelus kepalaku “Hhmm,” jawabku dengan anggukan kepala, kemudian aku
melihatnya pergi dan berpikir, sepertinya aku salah untuk ikut ke tempat ini
bersama dia dan teman-temannya itu. Aku tetap sendirian, lalu apa bedanya
dengan di rumah. Jujur aku merasa lebih nyaman di rumah, jika saja kakak tidak
memaksa mungkin aku tidak akan ikut ke sini. Bagiku, rumah, terutama kamar
tidurku adalah tempat terindah di seluruh dunia. Karena di sana aku tidak harus
bertemu dengan banyak orang, apalagi mengobrol dengan orang yang yang baru kukenal.
Semua hal itu membuatku merasa tidak nyaman.
Setelah aku
benar-benar tidak melihat kakakku yang pergi itu, aku kembali ke kamar
penginapanku untuk tetap di sana sampai kakak laki-lakiku itu kembali. Aku
bangun dari posisi dudukku dan berjalan menuju kamar.
“Neng, ntos
sarapan ncan?” Sapa bu Enda ramah.
Aku hanya
membalasnya dengan anggukan kepala namun tidak menatap matanya, bukan karena
tidak sopan tapi lebih pada perasaan tidak nyamanku jika menatapnya, kemudian
mengangguk sekali lagi untuk berpamitan karena aku akan kembali ke kamar.
Setibanya di kamar, kuhempaskan tubuhku ke kasur yang lumayan nyaman ini,
meskipun tidak terbuat dari busa yang empuk, tapi kasur ini lumayan nyaman dan
tidak sakit seperti kasur tanpa busa lainnya.
Lama berpikir
tapi aku belum tahu harus menghabiskan waktu di sini dengan apa, laptopku dibawa
kakak dan hanya ada hanphone yang
sudah kumainkan dari satu jam yang lalu. Aku melihat ke arah jam bulat tua
dengan warna emasnya yang sudah usang, yang berada tepat di depan atas arah tempat
tidur. Dan terlihat waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.
“Mengapa
waktunya berjalan begitu lama...?” Gerutuku.
Aku ingin
keluar tapi aku tidak ingin bertemu dengan banyak orang, sedangkan di kamar
yang ukurannya tidak terlalu luas ini aku juga tidak bisa melakukan apapun.
Akhirnya kupaksakan diriku bangun dan membuka setengah pintu, untuk memastikan
tidak ada orang. Kemudian aku melangkah keluar karena kurasa tidak ada orang di
sini dan berpikir sejenak, kemana tempat yang tidak terlalu banyak orang namun
tidak membosankan.
Aku berjalan
diantara sawah-sawah yang tadi aku lihat, ternyata lebih indah bila dilihat
dari dekat, kemudian kubentangkan tanganku untuk menyentuh padi-padi itu. Aku
ingat perkataan kakakku semalam bahwa setelah melewati sawah ini, kurang lebih
lima sampai sepuluh menit aku bisa melihat pantai pasir putih dan aku
memutuskan untuk pergi ke pantai itu.
Aku melihat
banyak penginapan sebelum sampai di pantai itu, serta pohon kelapa yang tumbuh
berjajar rapi di pinggir pantai, seolah menandakan bahwa aku sudah sampai di
pantai yang aku tuju. Deburan ombak yang besar membiusku sesampainya aku di
sana, angin yang tadi menyapaku lembut kali ini sedikit lebih tidak ramah.
Tapi aku menyukai suasana ini, matahari di pantai ini lebih menyengat dan
hangat. Aku berjalan menyusuri pantai ini dengan melepas alas kaki yang
kukenakan, sebab dengan kaki yang langsung menyentuh pasir membuatku
benar-benar merasakan suasana pantainya. Di sini lumayan sepi, mungkin karena
bukan waktunya liburan dan ini membuatku merasa nyaman untuk menikmati suasana
sendiri. Aku berjalan menuju deburan ombak agar aku bisa terkena hempasan
airnya dan ketika kakiku terkena hempasan air ombak itu, aku begitu senang,
karena baru pertama kali ini aku bisa benar-benar keluar dari rumah dengan
suasana yang berbeda. Saat aku menyentuh hempasan air ombak itu dengan tanganku,
alas kakiku terjatuh dan terbawa airnya. Aku mencoba mengambilnya tapi aku
bahkan tidak bisa berenang, jadi aku hanya bisa menyesali apa yang telah kulakukan.
“Sekedap, ”
suara seorang laki-laki membuyarkan lamunanku, kemudian dia berlari ke arah
alas kakiku dan mengambilkannya.
Aku ingin
mencegahnya karena kupikir itu tidak terlalu penting, kubuka mulutku untuk
memanggilnya “Jangan, tidak usah, tidak apa-apa..” Tapi, tidak ada suara
sedikit pun yang keluar. Aku hanya bisa menggigit bibirku, sambil melihatnya
dengan khawatir, bagaimana jika dia terbawa ombak besar itu. Tapi, dia kembali,
dengan pakaian yang basah kuyup kemudian tersenyum dan melambai dengan tangan
yang menggenggam sebuah alas kaki. Yaaa, alas kakiku. Laki-laki yang nekad
pikirku.
Dia
menghampiriku, tersenyum dan berkata “Iye, basah nte kunaon pan?” Menyodorkan
alas kaki kepadaku. Apa yang dia pikirkan sebenarnya, bagaimana jika dia
terbawa ombak dan menghilang, apa yang harus kulakukan. Apa aku harus jadi
seorang pembunuh hanya karena sebuah alas kaki.
“Orang mana?”
Sambungnya dengan logat Sunda yang kental namun masih dengan posisi yang sama,
menyodorkan alas kaki yang belum aku terima, aku bingung harus bagaimana. Jadi
aku menerima alas kaki itu kemudian menganggukan kepala, membalikan badanku dan
pergi meninggalkannya. Aku tidak berani menengok ke arahnya, aku hanya berpikir
harus kembali ke penginapan segera.
“Sama-sama..” Teriaknya padaku, yang membuatku merasa bersalah karena tidak mengucapkan
terima kasih.
Kenapa ada orang seaneh itu, membuat dirinya
basah kuyup hanya karena sebuah alas kaki dan membuatku jadi merasa bersalah
sekarang. Aku berpikir sepanjang jalan, mungkin baginya aku juga orang yang
aneh, tidak tahu berterima kasih dan langsung pergi begitu saja.
***
“Bu Enda bilang
kamu keluar tadi pagi, kemana?” Tanya kakak padaku sambil menyendokkan
nasi ke piring, kemudian menyodorkannya
padaku “Aku hanya melihat pantai,” jawabku singkat sambil menerima piring
berisi nasi itu.
“Hhmm, yasudah
besok kalau bosan pergi lagi saja kesana. Cari teman, kita di sinikan masih
beberapa hari lagi, nanti bisa mati kebosanan baru tahu rasa... Oyaa, tadi
dapat teman baru tidak?” Aku tersedak mendengar pertanyaan kakakku itu, karena mengingat
kejadian tadi pagi “Iisssthh, pelan-pelan makannya,” sambungnya.
***
Hari
berikutnya aku memutuskan untuk ke pantai itu lagi, namun dengan sedikit
harapan untuk kali ini tidak bertemu dengan siapapun, apalagi laki-laki
kemarin. Sebab, pantai itu begitu indah. Setiap deburan ombak yang kulihat seakan membawa pergi semua sepi yang
setiap saat aku rasakan. Hangatnya sinar matahari pagi di pantai itu juga
membuatku seakan menjadi manusia seutuhnya, sebab entah kapan terakhir kali aku
keluar dari rumah dan menikmati sinar matahari pagi. Yaaa, sepertinya sejak
kejadian itu.
Aku duduk di
pantai pasir putih Ciantir ini, menikmati suasana pantai yang kemarin baru
sedikit bisa kunikmati. Pantai ini di latar belakangi oleh perbukitan dan
persawahan di pesisir pantainya, ombaknya juga tinggi, sepertinya cocok untuk
para peselancar. Di sekitar pantai ini juga banyak saung kecil maupun besar, di
saung-saung kecil sepertinya hanya menjual makanan maupun minuman ringan dan
yang paling banyak dijual sepertinya adalah es kelapa, kemudian saung-saung
besar itu sepertinya tempat untuk makan atau menginap entahlah, dari tempatku
duduk saat ini tidak begitu jelas.
“Maneh kemari
duei, sukanya noongken laut?” Sapa seseorang yang sepertinya aku tahu siapa. Aku
hanya diam tidak menoleh. Tapi dia menghampiriku dan duduk di sampingku lalu
berkata “Maaf, kemarin abdi teh anehnya? Tiba-tiba aja nongol, oyaa.. Abdi teh
Sultan, maneh?” Aku hanya diam dan berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari
sini, aku menoleh padanya dengan ragu tapi ketika aku menoleh aku justru
langsung menatap matanya. Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir,
aku menatap mata orang yang sedang bicara padaku, matanya coklat bersih, alis
matanya tebal dan bentuk matanya tidak terlalu besar. Tapi kenapa aku tidak
merasakan apa-apa, aku malah merasa tenang dan tidak gugup seperti biasanya.
“Maneh teh
saha namina?” Lanjutnya yang menyadarkan lamunanku, “Maa.. Maa.. Maaf.. ”
jawabku sambil memalingkan pandanganku ke arah laut lagi, tapi kenapa dia masih
memandangiku terus, apa yang dia pikirkan.
“Laisa,”
sambungku memecah suasana, “Hhmm?” Tanyanya bingung, sepertinya suaraku
terlalu kecil dibandingkan dengan deburan ombak itu “Nama.. Namaku Laisa, ”
jelasku “Ouh, dari Jakartanyaa?” Tanyanya lagi, kali ini aku menjawabnya
dengan kebiasaan lamaku yaitu anggukan kepala.
“Salam kenal
yaa,” sambungnya dengan logat yang tidak lagi Sunda, aku
menoleh padanya karena bingung “Aku juga dari Jakarta, aku menginap di sana, di
saung besar dekat dua kursi santai kayu itu,” jelasnya yang sepertinya mengerti
apa yang aku pikirkan, “Aku sering datang ke sini untuk melarikan diri, kau?”
Tanyanya, “Tidak jauh dari sini, saat malam hari biasanya terdapat pasar malam,
bukan pasar malam besar seperti kebanyakan di Jakarta tapi lumayan ko, ramai..
Mau kesana bersamaku?” Lanjutnya, kenapa dia mengajakku, padahal kita baru
saja bertemu dua kali, lagipula aku sudah pasti tidak akan ikut, alasannya
sangat jelas, ramai...
“Sepertinya
kau sangat pendiam, pertama aku melihatmu aku berpikir aku begitu menakutimu,
tiba-tiba muncul dan terjun ke laut mengambilkan alas kakimu.. ” Sambungnya
sambil menatap ke arah laut, aku menoleh untuk memperhatikan wajahnya. Wajahnya
putih bersih, hidungnya mancung dan bibirnya kecil, keseluruhan wajahnya oriental.
Seperti tahu diperhatikan dia menoleh padaku, membuatku cepat-cepat memalingkan
pandanganku ke arah yang lain. Aku sempat melihat dia tersenyum, sepertinya aku
tertangkap basah sedang memperhatikannya.
***
“Aku
menunggumu lumayan lama, aku kira kau tidak datang pagi ini,” sapanya hari
berikutnya padaku, kenapa dia terus menggangguku gerutuku dalam hati. Dia
menghentakan secara perlahan tangannya ke pasir
tepat di samping tempatnya duduk, mengisyaratkanku untuk duduk di sana. Jujur
aku ingin kembali ke penginapan jika dia tidak berkata “Ayolah, apa kau masih
takut padaku? Aku pikir kita seusia, aku bukan orang jahat percayalah..” Jadi
aku menurutinya untuk duduk, “Hari ini aku akan mengajakmu berkeliling Sawarna
ini, jadi kau hari ini adalah tahananku,” sambungnya, yang benar-benar
membuatku kaget. “Aa.. A.. ” Aku ingin menolaknya tapi aku bahkan tidak bisa
mengeluarkan satu katapun dan hanya bisa menggigit bibirku.
Dia melihatku
dan tersenyum, lalu berkata “Kau tidak boleh menolaknya, aku sudah meminta ijin
pada kakakmu dan dia mengijinkannya,” kata-kata itu mengagetkanku untuk kedua kalinya, bagaimana
bisa dia mengenal kakakku, aku masih menatapnya dengan wajah bingung. Tapi, dia
berdiri dan berkata “Ayo, bangunlah..” “Apa aku harus menyeret-nyeretmu?”
Sambungnya mengancamku, kemudian dia menarik perlahan tanganku yang tentu saja
membuatku bangun dari tempat dudukku. Dia memiringkan kepalanya seraya berkata
“Ayo,” aku memberanikan diri untuk menjawabnya “Aa.. Aa.. Aku tidak bisa pergi,”
akhirnya aku bisa mengeluarkan sebuah suara. Aku melihat sedikit rasa kecewa di
wajahnya, tapi aku benar-benar tidak ingin pergi. Tiba-tiba dia tersenyum dan
membuatku bingung kemudian berkata “Aku tahu kau pasti akan mengatakan itu, tapi
aku tidak akan menyerah,” kali ini dia menarik tanganku dengan lebih kuat, membuatku
terhempas ke arahnya dan dia menarikku pergi.
Sepanjang
perjalanan aku hanya menundukan pandanganku karena lumayan banyak orang di
sini, dia mengajakku berjalan begitu jauh, apa sebenarnya yang akan ia lakukan,
aku mencoba melepaskan genggamannya tapi ia justru menggenggam tanganku lebih
kuat, aku benar-benar menjadi tahanannya sekarang. Kita sudah melewati pematang
sawah, menyebrangi sebuah sungai irigasi, dan melewati perkampungan serta hamparan
sawah namun tidak juga berhenti. Kemudian kurang lebih 2 kilometer kita
berjalan dia berhenti dan menunjuk sebuah Goa, ternyata itu tempat yang ingin
ia tunjukkan padaku.
Kita memasuki
Goa itu dengan merundukkan sedikit badan karena mulut Goa ini kecil. Setelah di dalam aku merasakan air
setinggi lututku, dia mengeluarkan sebuah senter dari sakunya untuk memperjelas
keadaan Goa ini. Aku melihat stalagmite dan stalaktit yang indah, tapi ada
sesuatu yang membuatku penasaran sebab benda itu bergerak, setelah senter yang
dipegangnya mengarah pada benda itu, aku baru bisa melihat jelas bahwa itu
bukan benda melainkan kelelawar yang sedang menggantung, begitu banyak, mungkin
ratusan sampai ribuan.
“Bagus bukan?
Aku ingin mengajakmu ke dalam, tapi sepertinya tidak perlu karena di sana
sangat licin,” jelasnya “Terima kasih,”
jawabku yang membuatnya kaget dan menoleh padaku, aku tidak menoleh padanya
tapi aku bisa melihat ia tersenyum. Kenapa dia banyak sekali tersenyum,
sepertinya hidupnya begitu bahagia. “Ini Goa Lalay, karena di Goa ini banyak
dihuni oleh kelelawar, jadi warga menyebutnya seperti itu,” jelasnya lagi,
apakah orang ini sedang menjadi pemandu wisataku sekarang, kenapa dia terus
menerangkan ini dan itu, tapi aku menyukainya, paling tidak suasananya menjadi
tidak hening.
“Sudah siang,
aku akan mengajakmu ke saungku untuk salat dan makan siang,” katanya, “Tempat
wisata selanjutnya adalah saung Sultan, selamat menikmati,” sambungnya dengan
menirukan gaya seorang pemandu wisata yang membuatku tersenyum dan aku
melihatnya tersenyum pula memandangku. Kami makan ikan bakar dan es kelapa yang
segar karena kelapanya dipetik langsung dari pohonnya, serta angin pantai yang
tidak lupa menemani, karena saungnya juga tidak ramai aku jadi merasa nyaman, “Bagaimana?
Enak bukan?” Katanya sambil memegangi piring makannya, “Hhmm,” jawabku dengan
anggukan kepala dan aku melihat ia tersenyum lagi.
Setelah selesai
makan, dia mengantarku kembali ke penginapanku. Tapi, diperjalanan tiba-tiba
datang rombongan orang yang terlihat akan berlibur melewatiku, memaksaku
mengingat kejadian sepuluh tahun lalu, yang membuat badanku gemetar dan lemas,
keringat dingin keluar dan membasahi tubuhku, aku menarik lengannya dengan sisa
tenaga yang ada, karena aku sudah tidak bisa berdiri dengan seimbang. Dia menatapku
bingung, air mataku menetes, aku mencoba berkata padanya “Aa.. Aa.. aku, bawa
aku pergi,” dan aku tidak sadarkan diri.
***
Keesokan
paginya aku kembali ke pantai tempat biasa aku menghabiskan waktu pagiku, dan
untuk menemui seseorang tentunya. Dia melihatku datang, tapi kali ini terdapat
penyesalan di wajahnya. Aku duduk di sampingnya, aku ingin memulai pembicaraan
tapi aku tidak tahu bagaimana. “Maaf,” dia yang memulainya, kemudian menghela
nafas dan berkata lagi “Maaf, aku tidak tahu kalau kau begitu takut menghadapi
orang apalagi banyak orang, seharusnya aku bertanya, tapi..” “Bukan salahmu,”
potongku “Aku sudah seperti ini dari sepuluh tahun yang lalu, karena kejadian
itu, kejadian yang seharusnya aku lupakan, jadi bukan salahmu,” “Tetap saja,”
bantahnya, “Tetap saja bukan salahmu, awalnya aku ke sini karena sebuah paksaan,
tapi setelah sampai di sini, bertemu denganmu dan banyak melihat keindahan di
tempat ini, aku sadar aku harus mengakhiri semuanya di sini. Aku melihat banyak
keindahan yang tempat ini ingin tunjukan namun tempat ini begitu tersembunyi,
sepertiku, banyak yang ingin aku lakukan serta bicarakan tapi semua itu
tersembunyi, dalam sebuah dunia yang aku ciptakan sendiri tanpa siapapun,”
potongku lagi, karena memang dia tidak bersalah jadi aku tidak ingin dia merasa
bersalah.
“Oyaa, dari awal kita bertemu di sini
seharusnya aku mengatakan ini, terima kasih.. Untuk kemarin, terutama untuk
alas kakiku,” sambungku sambil menunjuk alas kakiku, kemudian dia tersenyum,
yaaa, sebuah senyuman yang selalu menghiasi wajahnya yang tampan. “Pertama kali
aku datang ke sini aku menyukai tempat ini tapi, setelah mendengar bahwa kau
berkata kau ini seperti tempat ini, aku jadi menyukai tempat ini untuk kedua
kalinya,” jawabnya sambil menatapku dan tersenyum, kemudian mengelus kepalaku
dan berkata “Jangan coba-coba bertanya apa artinya, tapi pikirkanlah sendiri,
hhmm?” Sambungnya dan tanpa mengerti apa maksudnya aku menganggukan kepalaku
kemudian kembali menikmati deburan ombak pagi, pantai pasir putih Ciantir
Sawarna ini.






0 comments:
Post a Comment