Si Gadis
Malang Berumur 6 Tahun
Di sebuah
daerah tepatnya di desa mawar, tinggallah keluarga kecil yang sangat sederhana.
Keluarga ini tinggal di rumah dengan ruangan seadanya. Sering kali saat hujan
tiba, rumah ini kebocoran, atap dan dindingnya tak kuat lagi menahan derasnya
air hujan. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri, suaminya bernama
Hadi dan istrinya bernama Yanti, sudah 11 tahun usia pernikahannya tetapi belum
juga dikaruniai seorang anak. Tapi mereka tidak pernah lelah berdoa agar bisa dikaruniai
seorang putra/putri dalam kehidupannya. Hari demi hari disetiap sujudnya mereka
tak henti-hentinya memohon, karena mereka yakin mereka bukan tidak dapat
memiliki seorang anak hanya saja waktunya lah yang belum tepat. Istri itu
pernah sesekali merasa lelah, ia berfikir kalau tuhan tidak sayang lagi
terhadap keluarganya karena sampai saat ini ia belum bisa mendapatkan seorang
anak yang sangat ia inginkan.
Hadi
mempunyai hati yang sabar, ia tidak akan meninggalkan istrinya dalam keadaan
apapun, senang maupun sedih. Ia sering mengingatkan istrinya saat fikirannya
lengah, apalagi saat Yanti mau mencoba bunuh diri, karena ia merasa dirinya tak
berguna lagi sebagai seorang istri. Sebelas tahun keluarga ini tinggal bersama
mulai dari mereka menikah.
Suatu Yanti
merasa tidak enak badan, pusing dan mual. Ia fikir itu hanya masuk angin biasa,
itu hanya minum obat lalu istirahat, agar esok harinya sudah membaik. Karena
kondisi Yanti belum juga membaik, akhirnya esok pagi nya Yanti dan Hadi pergi
ke puskesmas. “gimana keadaan istri saya dok?” Tanya Hadi kepada dokter.
“selamat pak Hadi… Allah telah diberikan
karunia yang besar untuk bapak dan istri bapak,” ujar dokter itu. “Maksudnya
apa dok?” kata Yanti dengan wajah yang bingung. “ibu sedang mengandung seorang
anak bu…” kata dokter itu
menyampaikannya dengan senang. Yanti dan Hadi merasa senang sekali, tak bisa
diungkapkan lagi dengan kata-kata, suami itu hanya bisa menangis bahagia,
akhirnya Allah SWT menjawab do’a nya selama ini. Suami itu langsung bersujud,
mengungkapkan rasa syukurnya.
Kebahagiaan
yang sangat indah dibandingkan dengan hal apapun, hari ini Yanti dan Hadi benar-benar
di kejutkan sekali dengan berita bahwa istrinya sedang mengandung seorang anak,
suami itu terus berdo’a dan bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada
keluarganya. Suami istri itu tidak akan menyia-nyiakan anugrah ini, Allah telah
memberikan kepercayaan kepada keluarga ini dengan menitipkan amanah yang besar.
Yanti dan Hadi berusaha menjaga calon bayi nya dengan hati-hati sekali, tak
lupa juga terus berdoa agar anaknya kelak akan menjadi anak yang sholehah. Keluarga
ini tak akan terasa sunyi lagi, bagaikan ada sebuah bintang yang akan terus
menghiasi hidupnya, dunia ini tak akan gelap lagi bagaikan ada cahaya yang
meneranginya. Begitu lah gambaran kebahagiaan hati Hadi danYanti. Anak itu
adalah dambaan nya yang selama ini ditunggu-tunggu selama 11 tahun.
Keseharian
Yanti dan Hadi menjadi sangat berarti dengan kehamilan Yanti, yang mereka
pikirkan sekarang adalah nama apa yang pantas untuk anaknya nanti, apa yang
akan diajarkan nya nanti, apa yang akan diberikan setiap hari ulang tahunnya.
Apapun akan diberikan untuk anaknya kelak. Tak sabar rasanya menunggu kelahiran
anak pertamanya, anak kepengenan kalau kata orang-orang desa mawar ini.
Diusia
kehamilan Yanti yang ke 7 bulan ia pergi ke puskesmas untuk USG. Diperkirakan
anaknya adalah kembar perempuan dan laki-laki, senang bukan kepalang, Allah
begitu banyak memberikan Anugrah yang luar biasa untuk keluarga ini, ternyata
akan ada 2 anak yang lahir dikehidupan keluarga ini, seorang putra dan putri
sekaligus. Dua bulan lagi anak kembar ini akan lahir ke dunia, tapi sayangnya
justru 2 bulan terakhir diusia kehamilannya tubuh Yanti semakin melemah, entah
kenapa hari demi hari Yanti merasa semakin lelah, kondisinya makin memburuk, ia
harus sering ke puskesmas, karena tubuhnya yang kurang sehat. Ternyata setelah
ke puskesmas, dokter bilang dengan tubuh Yanti yang semakin melemah akan
berakibat bagi kandungannya, kandungannya pun semakin lemah dan tidak sehat.
Yanti harus
menjalankan perawatan di puskesmas akhir-akhir ini, karena dihawatirkan jika
tidak diperhatikan kondisi Yanti dan kandungannya, akan berujung fatal.
Akhirnya suatu hari, Yanti melahirkan anak kembarnya, tapi dokterpun semakin
tak tega karena bayi laki-laki yang keluar lebih dahulu daripada bayi
perempuannya tidak lahir dengan normal, tubuhnya yang sangat kecil dan dalam
kondisi lemah, diperkirakan tidak akan bertahan hidup lebih lama, dokter
mengatakan usia nya tidak akan bertahan lebih dari 2 jam setelah kelahirannya.
Bagaimana dokter itu harus menyampaikan berita ini kepadaYanti dan Hadi,
sedangkan kondisi Yanti pun masih sangat lemah. Beberapa menit kemudian bayi perempuannya
dibawa kehadapanYanti dan Hadi, mereka terus bercucuran air mata bahagia dan
sedih, saat ini mereka hanya bisa melihat bayi perempuannya, karena bayi
laki-lakinya harus berada pada rawatan khusus. Akhirnya dokter pun harus
mengakatan ini, bahwa bayi laki-lakinya tidak mampu lagi bertahan lebih dari 2
jam.
Yanti
dan Hadi hanya bisa berserah diri kepada Allah SWT yang telat mengatur
segalanya, dokter pun hanya bisa berusaha semampunya. Kondisi bayi lak-lakinya
semakin tak berdaya, akhirnya 2 jam setelah kelahirannya, bayi laki-laki mungil
itu menghembuskan nafas terakhirnya. Hanya ada bayi perempuan nya sekarang, mereka
harus merelakan bayi laki-laki nya, inilah kenyataan yang harus diterima Yanti
dan Hadi. Semua masyarakat desa mawar merasa iba dan kagum atas ketabahan
kelurga ini. Dengan ketabahan dan keikhlasan akan membuahkan kebahagiaan,
mereka yakin itu. Allah tidak akan memberikan beban kepada umatnya diluar batas
kemampuannya. Nama yang telah disiapkan untuk bayi kembarnya adalah ocha dan
uchi. Sekarang hanya ada bayi perempuan cantik yang hidup, uchi namanya.
Keluarga
ini hidup bahagia, meskipun hidupnya dengan keterbatasan yang ada, tapi mereka
hidup dengan penuh rasa syukur, begitupun dengan anaknya. Sejak dini Uchi terus
diajarkan bagaimana cara mensyukuri apa yang ada dan hidup sederhana, agar
besarnya nanti Uchi bisa menjadi anak yang sholehah dan berguna bagi
masyarakat. Kini keluarga itu bahagia sekali, keluarganya telah dilengkapi
dengan kedatangan anak perempuannya yang biasa disapa dengan si geulis oleh
masyarakat desa. Uchi adalah anak yang sangat patuh pada orang tua nya, ia
tidak pernah menuntut apapun tentang keadaan nya. Kini Uchi sudah berumur 4
tahun, Uchi makin pintar dan cantik. Sejak umur 4 tahun Uchi suka ikut ke kebun
ayahnya, anak kecil seumur Uchi memang sedang ingin tau apapun.
Suatu
hari, Uchi diajak ke kebun lagi karena ayahnya tau betul Uchi sangat senang
kalau diajak ke kebun. “Nak… bangun sayang, Uchi mau ke kebun tidak?” Kata ayahnya,
“tidak Ayah, hari ini Uchi mau di rumah saja. Ayah… punggung Uchi ko sakit ya
yah, kenapa ya ayah? Kenapa?” Kata Uchi dengan muka polosnya sambil berbaring
di tempat tidurnya. “kamu kenapa Nak? Yaudah sekarang kita ke rumah sakit ya Nak…”
kata ayahnya sambil merasa panik. “Iya Ayah” kata Uchi. Hadi langsung membawa
Uchi ke puskesmas tanpa ditemani oleh Yanti.
“Pak
Hadi, anak Bapak mengidap penyakit kanker ganas di punggung belakangnya.
Diperkirakan umurnya tidak lama lagi, tubuh Uchi ini sangat lemah sekali,
ternyata malam tadi ia sedang merasakan sakit kankernya, kalau saja tidak
segera ditangani ini akan semakin parah, apalagi Uchi ini masih berumur 5
tahun, sangat kecil sekali.” Ujar dokter kepada Pak Hadi.
“Allah… apa yang harus aku lakukan” kata Hadi
sambil menangis. Tak kuat rasanya harus menutupi ini dari anak kesayangnya.
“Saya mohon lakukan apapun demi anak saya” kata Hadi kepada dokter.
“Ayah,
Uchi sakit apa yah?” Tanya Uchi.
“Anak
Ayah tidak sakit apa-apa ko. Anak Ayah kan anak sehat” kata Ayah berusaha
menutupi sakit yang diderita Uchi.
Hadi tak
tau bagaimana mengatakan ini ke anaknya, Uchi. Hadi takut Uchi tidak bisa
menerima nya, dan akan sedih. Hadi hanya ingin berusaha anaknya tetap bahagia.
Akhirnya
Hadi dan anaknya kembali ke rumah, hadi menyuruh Uchi untuk beristirahat. Hadi
langsung menceritakan pada Yanti apa yang terjadi pada Uchi. Bagaimana pun juga
Yanti dan Hadi harus mengatakan hal ini kepada anaknya, Uchi.
“Uchi….
Kesini Nak” panggil ayah dan ibunya.
“Iya
Ayah, iya Ibu” sahut Uchi.
“Uchi…
Ayah mau bicara, Uchi harus dengarkan dengan baik, tapi setelah Ayah selesai
bicara Uchi tidak boleh sedih, Uchi janji tidak boleh menangis, okee?” Kata
Ayah dengan hati deg-degan.
“Kemarin
dokter bilang ke Ayah, kalau Uchi harus jaga kesehatan Uchi. Uchi tidak boleh
bergerak terlalu sering. Karena nanti punggungnya bisa sakit” kata ayah dan ibu
Uchi.
“ooh
begitu ya Ayah Ibu… jadi yang waktu itu punggug Uchi sakit karena Uchi sering
bergerak ya Ibu? Bu berarti Uchi tidak
bisa ikut Ayah ke kebun lagi ya Bu?” Kata Uchi.
(Hadi tak
kuat lagi menahan air matanya, jangan sampai ia meneteskan air matanya
dihadapan anaknya). “Iya… Uchi sayang, sekarang Uchi mengerti kan kalau Uchi
harus banyak istirahat dan cek ke dokter” kata ayah dan Ibu.
“Iyaa
Ayah Bu, Uchi janji tidak nangis kalo punggung Uchi sakit” kata Uchi sambil
tersenyum cantik.
Yanti
terus menangis setiap kali ingat bahwa umur Uchi tidak akan lama lagi, Yanti
akan berusaha memenuhi segala keinginannya. Yanti tak tau harus berbuat
apalagi, ia hanya bisa berusaha dan berdoa menyerahkan semua urusannya kepada
Sang Khalik. Bagi Yanti Uchi adalah anugrah yang paling terindah dalam
hidupnya, ia tak akan menyia-nyiakan kehadirannya sebelum akhirnya penyakit itu
akan merenggut tubuhnya. Begitupun dengan Hadi ia tak akan pernah jauh dari
Uchi, ia akan selalu berusaha berada di sampingnya. Hari demi hari, dari minggu
ke minggu tubuh Uchi makin mengecil saja, sering Hadi dan Yanti perhatikan
punggung Uchi agak membengkak belakangan ini. Uchi tak pernah menyembunyikan
setiap ia mulai merasakan sakit dipunggungnya.
“Ibu… punggung
Uchi sakit Bu…. Sakiiiiiiit bangeeeet, Uchi boleh nangis ngga Ibu?” Kata Uchi
sambil menahan rasa sakit.
“Ibu
usap-usap ya sayang….. Uchi sambil baca sholawat yaa, nanti sakitnya ilang
sayang. Uchi jangan nangis” kata ibu sambil mengusap-usap punggung Uchi.
“Tapi
sekarang ko punggung Uchi sering sakit ya Ayah, Bu? Padahal sekarang Uchi bobo
terus Bu” kata Uchi sambil menahan sakit.
“Sudah
hampir sebelas bulan, dan punggung Uchi semakin memburuk saja. Sebulan lagi
Uchi akan merayakan ulang tahunnya yang ke 6 tahun” kata ibu dalam hati. “Uchi
sayang nanti pas hari ulang tahunnya mau Ibu dan Ayah kasih apa?” kata ibu
Uchi.
“ehmmmmm
Uchi mau apa yaah… Uchi jadi bingung nih hehe, kalo dari Ibu Uchi mau baju
ulang tahun warna putih Bu, naah kalo dari Ayah Uchi mau es krim yang
banyaaaaaaak bangeeeeet heheee” sahut Uchi dengan rasa gembira.
Dua hari
lagi adalah hari ulang tahun Uchi yang ke 6 tahun, Yanti sudah menyiapkan baju
ulang tahun berwarna putih sesuai keinginan Uchi, Hadi juga berjanji untuk
membelikan Uchi es krim yang ia suka.
Uchi juga sudah mengundang teman-temannya untuk datang ke rumah, ia tak
henti-hentinya berbicara tentang apa yang akan ia lakukan dihari ulang tahunnya
nanti. Tapi dua hari sebelum ulang tahunnya tubuhnya justru semakin lemah dan
sakit, kali ini sakit punggungnya membuat Uchi tidak bisa bergerak dari tempat
tidurnya, wajahnya terlihat pucat, obat yang harus ia minum pun ditolak oleh
tubuhnya. Ia lebih mau beristirahat saja di kamar dibandingkan harus makan dan
minum obat.
Malam
tidak seperti biasanya Uchi ingin ditemani oleh ayah dan ibunya, ayah dan
ibunya tidak boleh meninggalkan Uchi semenit pun. Ucgi terus berbicara tentang
rencana nya untuk hari ulang tahunnya besok, uchi tidak mengharapkan ulag tahun
yang mewah, tapi semua temannya harus datang. Uchi tidak mau ada balon besok,
karena sejak kecil Uchi sangat takut melihat balon. Ayah dan ibunya selalu
memeluk Uchi karena ia terus merasa kesakitan, kali ini ia tidak mau tidur
berbaring lagi, ia mau tidur layaknya seperti orang sedang sujud.
Pagi-pagi
ayah dan ibu Uchi mempersiapkan acara ulang tahun Uchi yang ke 6 tahun. Yanti
mempersiapkan baju ulang tahun Uchi yang berwarna putih, dan sudah ada es krim
yang Uchi mau, Yanti dan Hadi menuju kamar untuk memberikan kejutan buat Uchi.
“Uchi….
Anak Ibu dan Ayah yang cantiiiik, bangun sayang!” kata Yanti.
Sambil
mengucek-ngucek mata dalam posisi tidur terselungkur seperti orang sedang
sujud, ia membuka matanya dengan pelan. Yanti dan Hadi langsung memberikan
kejutannya. “Happy birthday Uchi…. Happy birthday Uchi…. Happy birthday
Happy birthday Happy birthday cantiiiik…..” Yanti dan Hadi menyanyikan lagu
ulang tahun untuk Uchi sambil menangis bahagia.
Uchi
tersenyum, senang sekali baju yang ia inginkan dan es krim yang ia mau telah
ada di depannya. Uchi berbicara dengan perlahan sambil berselungkur
“Ayah….Ibu…. terima kasih, Uchi senaaaang sekali sekarang Uchi sudah umur 6
tahun, Uchi senaaaaang sekali semalam Ayah sama Ibu pelu Uchi, Ayah…Ibu… Uchi
ngga kuat punggung Uchi sakit bangeeeeeet, biar Uchi ngga nangis lagi, punggung
Uchi mau di lepas aja aah Bu.” Sambil tersenyum manis Uchi menghembuskan
nafasnya yang terakhir. Dalam posisi bersujud Uchi memegang baju ulang tahunnya
yang berwarna putih. Yanti dan Hadi menangis dan terus memanggil nama Uchi,
anak perempuan yang sangat mereka sayangi telah meninggalkan Yanti dan Hadi,
tepat pada umurnya yang ke 6 tahun.






0 comments:
Post a Comment