ODONG-ODONG PAK KARTO HILANG
Langit kuning keemasan mulai masuk lewat
jendela kamar, suara merdu adzan yang berasal dari musalah di sebrang jalan
sana membangunkan tidurnya. Ia kaget dan langsung bergegas pergi ke kamar
mandi. Nita adalah seorang gadis berusia 16 tahun, sekarang ia duduk di Sekolah
Menengah Atas kelas dua. Kebiasaannya adalah tidur sepulang sekolah. Nita
pulang dari sekolah jam setengah tiga, karna rumahnya tidak terlalu jauh dari
lokasi sekolah biasanya ia sudah sampai rumah sebelum jam tiga sore. Nita anak
tunggal, ia tinggal dirumah bersama kedua orang tuanya. Kedua orang tua Nita
adalah pembisnis, setiap hari mereka pulang sekitar jam 7 malam dan yang selalu
membangunkan Nita dari tidur sorenya adalah suara odong-odong yang biasa berada
di depan rumahnya setiap jam 5 sore. Nyanyian lagu anak-anak yang terdengar
dari speaker gerobak odong-odong itu selalu berhasil membangunkan Nita
tanpa sengaja.
Namun
sudah beberapa hari ini, Nita bangun setelah adzan magrib. Ia tidak mendengar
ada suara lagu anak-anak lagi yang membangunkannya. “Kemana yaa bapak itu.
Mungkin sakit. Atau mungkin sudah pensiun? Hmm mungkin ia sudah punya pekerjaan
lain, entahlah” ngumannya dalam hati.
“Nit, kamu di dalam?” teriak ibunya dari
luar kamar mandi yang membuyarkan lamunannya.
“iyaa bu” jawab Nita.
“Kamu baru bangun lagi? Gak baik loh nak
perawan kok magrib baru bangun”.
Tidak lama setelah itu Nita keluar dari kamar
mandi sambil mengeringkan rambutnya.
“Bu, kok tukang odong-odong yang biasa
mangkal di depan udah beberapa hari ini gak ada yaa”
“Mana ibu tau, makanya kamu keluar dong
nit, bergaul sama tetangga, jangan di dalam rumah aja. Main sana sama anak-anak
muda disini, masa udah hampir 10 tahun tinggal disini tapi keluar rumah kalau
pergi sama pulang sekolah aja. Gak enak loh nit sama tetangga nanti dikiranya
kamu sombong”
“Ibu nih, Nita cuma nanya sebaris ibu
jawabnya satu kalimat, gak nyambung lagi jawabannya. Udah ah Nita mau ke kamar
aja, mau ngerjain tugas” Jawab Nita dengan nada kesal seraya pergi meninggalkan
ibunya.
“Kamu yaa kalo dinasehatin selalu kabur”
lanjut ibu dengan nada kesal.
Keesokan harinya Nita sengaja tidak tidur setelah pulang sekolah, ia ingin mengamati apakah tukang odong-odong
itu benar sudah tidak mangkal di daerah rumahnya. Tepat jam lima sore dimana
biasanya tukang odong-odong itu mulai menjalankan perkerjaannya, Nita duduk di
depan teras rumahnya, namun setengah jam sudah ia duduk disitu tidak nampak
atau terdengar sedikitpun suara lagu anak-anak yang biasa ia dengar “mungkin
memang sudah tidak kesini lagi, tapi kenapa? Disini kan tempatnya sangat
strategis, banyak anak kecil dan orang tua mereka juga sangat royal” guman Nita
dengan sedikit nada kecewa, sebenarnya kekecewaannya itu bukan hanya tidak akan
ada lagi yang membangunkan tidur sorenya, namun yang lebih membuatnya kecewa
adalah keselestarian dari odong-odong itu sendiri. Anak Indonesia dijaman ini
sulit sekali mendengar lagu anak-anak. Ketika melihat TV atau dengar radio
jarang sekali lewat lantunan lagu anak, bahkan bisa dibilang tidak ada. Mungkin
sumber-sumber media sudah termakan oleh bisnis dan keuntungan yang berlipat
dengan perubahan zaman ini sehingga lagu anak Indonesia tidak terdengar lagi
dan tidak laku. Ketika berjalan di tempat umum termaksud tempat bermain anak
seperti mall, tidak terdengar
lantunannya, malah lagu asing dan lagu dewasa yang sering diputar.
Nita
memang bukan lagi anak kecil yang masih sering mendengarkan lagu anak-anak dan
bahkan ingin menaiki odong-odong itu, tapi ia sangat menyesali keadaan
negaranya saat ini. Belum lagi dengan semangat pak Karto untuk mengais rezeki
dari menarik odong-odong. Yaa nama orang yang sedang ia cari-cari adalah pak
Karto, Nita mengetahui namanya dari anak-anak atau ibu-ibu yang sering
memangilnya.
“Raniii…”
teriak Nita memanggil seorang anak kecil berusia kira-kira tiga setengah tahun.
Rani menghampiri Nita namun tetap sibuk menjilati lolipop ditangannya. “kamu
mau kemana? Kok gak naik odong-odong lagi?” tanya Nita dengan nada sangat ingin
tahu, berharap ia bisa menemukan jawabannya dari anak kecil ini. “Mau main ke lapangan, kan tukang odong-odong
udah gak kesini lagi kak…….” Belum sempat melanjutkan pembicaraannya, temannya
teriak memanggil “Rani, cepetaaan”. Rani langsung lari munuju temannya tanpa
basi-basi kepada Nita. “huft dasar anak kecil, untung masih kecil” Ujar Nita
dengan senyum tipis sambil menggelengkan kepalanya dan masuk ke dalam rumah.
Ke
esokan harinya sepulang sekolah, Nita melihat sesosok lelaki tua yang selama
ini ia cari. Pak Karto sedang duduk dibawah pohon dengan odong-odong
disampingnya, ada yg berbeda dari odong-odong yg ia lihat. bagian depan
odong-odong tersebut nampak rusak, tempat duduk untuk untuk penumpang yang
semula ada empat kini tinggal tiga, yang satunya sudah rusak dan sangat bahaya
jika dinaiki. Nita menghampiri pak karto yang sedang kelelahan dan duduk
disebelahnya seraya memberikan minum kepadanya dan memulai pembicaraan.
"Mau minum pak?"
"Gak usah neng, bapak bawa minum kok,
makasih" jawab pak Karto dengan lembut.
"pak, kok ga mangkal di Gang Permai
lagi? saya tinggal disitu, udah lama ga lihat bapak sekarang disana" Nita
bertanya tanpa basa-basi.
"Ohh neng ini warga sana yaa? iyaa
bapak udah ga kesana lagi. salam yaa buat rani, tole, ucup, mineh, dan semua
anak-anak sana yang langganan odong-odong pak Karto pokoknya" jawab pak
karto dengan senyum semeringah seakan kangen dengan mereka yang disebutkan.
Merasa belum memdapatkan jawabannya, Nita melanjutkan lagi pertanyaannya.
"Iyaa pak nanti kalau ketemu saya
sampein yaa. emang kenapa bapak ga mangkal disana laagi aja?"
"bapak diusir neng sama bu subarjo
dan suaminya, katanya bapak bikin berisik disana jadi ga boleh mangkal disana
lagi deh"
Bu subarjo? bu Subarjo kan tetangga baru
yg judes itu. Ih kok tega yaa. Nita kaget mendengar pernyataan dari pak Karto.
“Terus kenapa bapak ga minta izin aja sama RT disana pak?”
“ah bapak malas neng, udah kapok deh bapak
kesana. Terakhir bapak narik disana, gerobak bapak dirubuhin sama mereka, tuh
liat sampe pada rusak kaya gtu”
“pak, kenapa ga diurus aja ke kantor
polisi? Bapak kan ga salah, sebelum dia datang kesini juga warga lain ga ada
yang merasa terganggu kok, malah senang dengan kehadiran bapak”
“gakpapa neng, bapak ikhlas kok. Rezeki
mah ga akan ketuker kok neng, doain aja yaa semoga rejeki bapak tetep lancer.
“aminnn
pak”
Setelah selesai berbincang Nita pamit
untuk pulang duluan. Sewaktu sedang berjalan ia melewati rumah ibu subarjo dan
melihat ada serpihan kaca yang berserakan disana, tadinya ia berfikir bahwa
serpihan kaca itu bekas dari gerobak pak Karto yang dirusak oleh ibu subarjo
tapi ternyata salah dugaannya. Disamping rumah bu subarjo terdapat gerobak
bakso yang sudah rusak, ternyata serpihan kaca itu berasal dari gerobak bakso
tersebut. Karna terdengar ada yang ingin keluar dari rumah bu subarjo, Nita
segera pergi.
Keesokan harinya rumah bu subarjo sudah
tidak berpenghuni, tetangga baru itu sudah pindah rumah. Bu subarjo dan
keluarganya di usir oleh warga karna perlakuannya yang idak baik kepada warga
disana. Bu subarjo dan suaminya hanya hidup berdua, menurut gosip yang di dapat
dari ibu-ibu saat berbelanja sayuran, sudah 10 tahun bu subarjo dan suaminya
menikah namun belum dikaruniai anak. Mungkin oleh sebab itu ia tidak suka kalau
ada tukang odong-odong mangkal di depan rumahnya. Tidak hanya itu, gerobak
bakso yang kemarin Nita lihat rusak itu juga ulah dari mereka. “katanya saat
ingin beli bakso, tukang bakso itu malah ngelayanin anak kecil duluan dibanding
bu subarjo, jadi ia marah terus dirubuhin gerobaknya” cerita Ibu kepada Nita
sambil membereskan pakaian. “kok ada yaa bu orang kaya gitu, penuh drama yaa
hidupnya” Ucap Nita dengan nada kesal.
“dudidudidamdam dudidudidam dudidudidamdam
dudidudidam
Kamu makannya apa…..tempe!
Saya juru masaknya…..Oke!
Ada tempe goreng, ada ayam goreng, semuanya
di goreng, oseng-oseng-oseng”






0 comments:
Post a Comment