Siang hari matahari begitu panas,
mobil dan motor lalu lalang dengan cepat di hadapanku yang menungggu dengan
setia bus Kopaja datang. Hari ini jadwalku bekerja di daerah Harmoni. Entah
kenapa akhir-akhir ini beban kehidupanku semakin berat. Ibuku hanya bekerja
sebagai penjual kue basah keliling. Setiap pagi ia selalu bangun lebih dulu
untuk salat subuh dan mempersiapkan pekerjaannya, setelah itu ia baru
membangunkanku, ya secara tidak langsung itu adalah pekerjaan rutinnya seorang
ibu. Sekarang, ibuku suka mengeluh sakit dibagian dadanya. Entah penyakit apa
yang dideritanya, aku belum sempat membawanya berobat karena belum ada uang.
Hanya meminum obat warung saja dirasa tidak cukup. Sehari-hari aku hanya
bekerja sebagai pramusaji disebuah restoran, entah kapan uang gajiku cukup
untuk membawa ibu pergi berobat.
Aku bekerja sepanjang hari, demi ibu
dan adiku Han. Aku adalah wanita yang berumur 28 tahun, umur dimana perempuan
siap untuk menikah tapi tidak denganku. Adiku masih sekolah dibangku SMA dan
aku harus membiayai semua operasional
keluargaku lantaran akulah yang menjadi kepala keluarga sekarang, itu semua
karena ayahku pergi dengan wanita lain. Praaaanngggg... tiba-tiba piring yang
sedangku cuci jatuh dan pecah karena lamunanku tadi.
“Jun, kamu itu gimana sih! Kerja tuh
yang fokus. Kalo setiap hari kamu mecahin
piring saya bisa potong gaji kamu untuk meggantinya!” suara itu terdengar tidak
asing bagiku, suara Manajerku Pak Gun. “ Maaf pak, tangan saya licin karena terlalu
banyak busanya,” mendengar alasanku ia langsung pergi dari dapur dengan
menggerutu.
Hari ini kulalui dengan berat, tanpa
banyak bicara, dan teman. Aku menutup diri dari luar karena aku tidak suka
berinteraksi dengan orang secara langsung, itu akan membuatku tampak jelek di
hadapan mereka. Aku memiliki luka dibagian wajah sebelah kiri, hanya berusaha
menutupinya dengan rambut kusamku. Mereka menganggapku aneh dan menyebalkan,
karena aku hanya berbicara seperlunya. Ini semua karena aku korban kekerasan
dari ayahku sendiri, ia berkelahi dengan ibuku karena wanita lain dan mencoba
membunuh kami dengan berusaha membakar rumah ketika aku tertidur,
kejadiannyapun sudah lama dan itu menambah kebencianku terhadapnya. Aku
berjalan kaki melewati gang-gang kecil arah rumahku, tentu saja berjalan dengan
cepat. Aku takut orang-orang menyapaku dan berbicara yang bukan-bukan terhadapku,
menurutku tetangga itu jahat hanya bisa bergunjing tak dapat berbuat.
“Bu aku pulang,” salamku ternyata
tidak dijawabnya. Aku mengamati keadaan rumahku, entah mengapa terlihat
berantakan. Kupikir ibuku belum pulang bekerja, ternyata dirinya kutemukan
pingsan di depan kamarnya. Tangan dan bajunya penuh percikan darah, aku panik
sejadi-jadinya. Aku berteriak minta tolong tapi tak ada yang datang, Han tidak
ada ia terlambat pulang sekolah. Akhirnya aku membopong ibuku ke Puskesmas
terdekat. Membopongnya dengan tangan dan tenagaku, sungguh aku sangat menyayangi
ibuku apapun akan aku lakukan demi ibuku. Sesampainya di Puskesmas dokter
menanganinya dengan baik. Tak terpikir olehku biaya yang dikeluarkan. Aku
berusaha membayarnya dengan kartu sehat yang diberikan pemerintah, berharap
dapat keringanan.
“Ibu Anda teinfeksi TBC, sudah akut.
Kenapa baru dibawa berobat? Saya tidak bisa menjamin seberapa lama ibu Anda
dapat bertahan karena penyakit ini cepat menular Anda harus berhati-hati!”
Pernyataan itu bagaikan air garam yang menyiram lukaku, perih dan sakit. Aku
menangis tak henti. Ibuku masih berbaring di ruang periksa, aku tak tega
mengatakannya pada ibu. Aku membawanya pulang karena tak ada uang lagi untuk
rawat inap.
“Kamu gak apa-apa Jun? Apa yang
dikatakan dokter tadi? Kenapa matamu bengkak?” pertanyaan ibu membuatku tambah
sedih. “Dunia ini begitu jahat dan menakutkan jadi besok ibu tidak usah berangkat
kerja dulu. Istirahat saja di rumah untuk satu bulan ini dan jangan lupa minum
obatnya biar cepat tidur dan capeknya hilang, itu saja yang disuruh dokter bu,”
hanya itu yang kukatakan pada ibu, aku tak tega mengatakan yang sebenarnya. Di
kamarpun aku kembali menangis sejadi-jadinya, menyadari kelemahanku sebagai
manusia dengan ujian yang berat. Sungguh Tuhan tidak adil bagiku.
Aku banyak memutar otak untuk
mendapatkan uang lebih. Segala perusahaan yang menawari kerja paruh waktu aku
datangi. Hasilnya nihil, mereka tidak menerimaku lantaran cacat yang tertanam
di mukaku. Aku membeli banyak koran hari ini, berharap menemukan lowongan
pekerjaan yang cocok. Aku melihat layar Handphone,
hpnya bergetar tanda sms masuk.
“Apa kabar kamu? Aku kangen kamu,
Junita!” dengan membacanya membuatku teringat seseorang. Hanya dia yang
memanggilku dengan nama asliku, Junita. Belakangan ini dia sering mengirimkan
pesan. Menanyakan kabar dan memberi kata-kata penyemangat. Aldi namanya, aku
biasa memanggilnya Al. Sosok yang sangat perhatian terhadapku. Al menyukaiku
sejak SMA, sebelum wajahku dan diriku kututup. Aku tidak berani menanggapi
perasaannya, aku takut membuatnya terluka karna lukaku. Tapi tetap saja dia
baik.
Keesokan harinya aku bolos kerja
untuk menjaga ibuku. Semakin hari ia semakin kurus. Aku menggantikan seluruh
pekerjaan rumah yang biasa dikerjakan oleh ibu. Aku tak bisa meninggalkannya
sendiri di rumah, itu akan membuatnya tambah susah aku berusaha ada di sampingnya
untuk meringankan rasa sakitnya. Ibuku tidak banyak mengeluh, ia hanya
batuk-batuk dan menyuruhku mengambilkan minum sisanya ia kerjakan sendiri tanpa
mau dibantu. Menurutnya sisa hidupnya hanya menjadi beban hidupku saja, padahal
sisa hidupku hanya ingin kuhabiskan bersama ibuku yang malang dan kusayang.
Disela aku menjaga ibuku, Al datang.
Dia memberi salam dan menjenguk ibuku, tentu saja dia tahu kabar itu dariku. Al
sangat khawatir dan memaksa untuk datang kerumah, tapi tak hanya datang
menjenguk ia juga memintaku ikut keluar dengannya sebentar mencari udara segar.
“Tumpahkanlah bebanmu padaku, aku
tahu kau sangat berat menghadapi ini semua.” Al menggenggam tanganku hangat. Aku
hanya terdiam melihatnya. “Anggap saja aku ini sebuah dinding yang dapat kau
sandari,” aku menatapnya dalam. Belum pernah seorang laki-laki melakukan ini
terhadapku, begitu baik dan perhatian, Al sangat menyayangiku. Aku hanya bisa
menangis di hadapannya menumpahkan segala apa yang kurasakan hanya dengan air
mata. Dia sangat mengerti dan tetap menggenggam tanganku untuk membuatku tampak
kuat. Sepanjang sore kami berbicara di taman setelah itu kami pulang dengan
bergandeng tangan. Dia memberiku permen starbust,
permen kesukaanku saat SMA. Aku tersenyum menerimanya.
“Seharusnya kau sering-sering
tersenyum seperti itu, kau terlihat cantik. Lain kali jalan sore-sore seperti
ini denganku lagi yah. Aku pulang dulu,” kedatangannya memang sebuah angin
segar untuku dan kepulangannya membuatku harus kembali terhempas.
Aku masih menyunggingkan senyum
sambil masuk ke dalam rumah dan menuju kamar ibuku. “Ibu aku pulang,” lagi-lagi
aku menemukan ibuku terjatuh dari ranjangnya. Aku panik, teriakanku membangunkan
Han yang sedang tertidur di ruang tamu. Ibuku dirujuk kerumah sakit besar. Aku
bingung, yang aku pikirkan adalah keadaan ibuku. Aku tak ingin kehilangannya.
Kebingunganku bertambah tak kala dokter menyatakan ibuku harus dirawat,
keadaannya makin parah dan saat yang bersamaan aku tidak punya uang karena
habis untuk menebus obat ibu yang sebelumnya. Aku menyuruh Han untuk tetap
tinggal di rumah sakit sedangkan aku pulang mencari pinjaman uang.
Aku berlari ke arah rumah tetanggaku
berharap mereka dapat meminjamkanku uang. Aku mencoba menggedor pintu demi
pintu. Karna hari sudah malam, tak sedikit yang mengusirku lantaran aku
mengganggu tidur mereka. Aku pasrah, hanya satu pintu yang belum aku datangi,
rumah Al. Aku datang kerumahnya, tampak sepi. Ternyata berita kepergian Al ke
Singapur kudapat dari pembantu rumahnya, ia pindah dan tak ada kabar. Pandanganku
tentang Al berubah karena dia meninggalkanku tanpa alasan yang jelas sama
seperti ayahku yang meninggalkan keluarganya.
Berhari-hari aku mencoba mencari uang pinjaman,
dan akhirnya kudapatkan dari manajerku Pak Gun dengan syarat pembayaran
digantikan dengan waktu lemburku. Aku terima denga rela. Pikiranku hanyalah keselamatan
ibuku, bukan waktuku. Setiap hari aku melakukan lembur hingga hutangku lunas. Ternyata
itu membuatku tampak menyedihkan. Aku justru tidak dapat merawat langsung
ibuku, tidak dapat memperhatikannya lebih, tidak membantunya disaat ia mengeluh
kesakitan, bahkan tidak ada disisinya ketika ia pergi untuk selamanya.
Ibuku meninggal setelah 2 minggu
rawat inap. Aku sedih, taka ada yang bisa kulakukan selain melampiaskan
semuanya dengan menangis. Taka ada Al disampingku, tak ada yang menggenggam
tanganku untuk menguatkanku. Han tampak sedih tapi ia tidak menangis.
Tidak banyak yang datang ke pemakaman
ibuku, hanya sanak saudara dan beberapa tetangga. Setelah merapikan ruang tamu
yang berantakan, aku duduk di kursi. Hanya melamun, memikirkan masa depan yang
buram membuatku merasa kasihan kepada Han, ia tetap harus sekolah meski kami
sudah tidak memiliki orangtua.
Hari-hari sepeninggal ibu kulakukan
seperti biasa, tapi tidak dengan Han ia menjadi brutal. Aku suka memergokinya
membuka dompetku, ia memaksa mengambil uang yang ada di dalamnya. Sekarang Han
suka bolos sekolah dan pulang larut malam, entah apa yang ia lakukan di luar
sana tapi aku tidak dapat membiarkannya hancur begitu saja. Aku akan berjuang
agar kehidupan Han lebih baik dari kehidupanku.
“Han, kakak berangkat kerja dulu yah.
Kamu cepat bangun karena sudah siang, kamu harus pergi ke sekolah. Kamu harus
berjuang hidup bersama kakak, jangan hidup seperti ayahmu. “ aku bergegas
merapikan baju sambil berlari keluar. Tiba-tiba kepalaku berat, dadaku sesak,
semua tampak gelap. Aku mencoba meraba dinding untuk bersandar, entah kenapa
tenggorokankupun terasa gatal dan mencoba
membatukan dan menutupnya dengan tangan. Setengah tidak percaya dahakku keluar
bercampur darah. Tanda-tanda penyakit ibuku terjadi padaku, aku mencoba tegar. Kuhapus
dahaakku dan berusaha bangun untuk pergi kerja. Aku merasa menjadi manusia yang
sangat malang di dunia. Aku tertular penyakit ibuku sendiri. jika ibuku ingin
memberiku sebuah warisan kenapa ia memberiku sebuah penyakit, apakah ini
tandanya aku harus menyusulnya karena ia tidak ingin sendirian? Atau ini memang
sudah menjadi jalan hidupku. Aku harus mengasingkan diri dari dunia lantaran
wajah burukku dan penyakit menular itu dan itu membuatku mengasingkan diriku
sendiri.






0 comments:
Post a Comment