CERPEN

Mengejar Cinta Mas Zahar

“Pagi Mba Cikaa, ayo bangun Mba nanti telat kuliah loh, ayodong Mba Cika bangun,” kata Mbok Iyem sambil mengguncang pelan tubuhku. Aku terbangun dari tidurku “Pagi Mbok, hm aku ngantuk banget Mbok, bangunkan aku lima menit lagi yah,” kataku dengan nada mengantuk sambil menarik selimutku kembali.
Mbok Iyem menarik selimutku kembali.“Mba Cikaa ini sudah jam delapan loh, Mba nanti bisa telat, ”katanya. Mataku tertutup sambil berfikir “Hah!!! Jam delapan Mbok?? Haduh kenapa Mbok nggak ngebangunin aku dari tadi sih,” kataku sambil berlari terbirit birit ke toilet. Mbok Iyem yang melihatku berlari hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya.
Selesai aku mandi, cepat cepat aku bersiap siap, lalu berlari kearah tangga. Di ruang makan kulihat ada kedua orang tuaku yang sedang sarapan “Pagi Maa, Pa aku langsung ke kampus yaah muah,” kataku sambil mencium pipi Mama dan Papa. “Cika kamu sarapan dulu dong, nanti perut kamu kosong nggak bisa konsen belajar loh,” sahut ibuku. “Nanti aja Ma di kampus aku sekalian makan siang yah, aku buru buru nih bye semuanya,”Kataku sambil berlari keluar.
Setibanya aku dikampus, aku berlari masuk, dan kulihat lift dipenuhi banyak orang, akhirnya aku putuskan untuk menaiki tangga dengan berlari, ditengah tengah aku berlari tiba tiba sesosok pria menabrakku dan membuat semua buku yang aku pegang akhirnya berjatuhan, “Ah gimana sih, kalau jalan tuh pake matanya dong, nggak tau apa ini lagi buru buru,” kataku sambil membereskan bukuku yang terjatuh. Pria yang menabrakku itu ikut membantuku membereskan buku buku ku yang  terjatuh. “Maaf ya Cikaa aku nggak lihat tadi,” katanya. “Iyaa nggak apa apa deh, tapi lain kali hati hati yaa, loh, tapi ko kamu tau nama aku?” kataku sambil melirik orang itu. Dan tidak ku sangka yang menabrak aku adalah Mas Zahar. Orang yang dulu aku kagumi. “Mas zahar,” kataku sambil terperangah melihatnya. Mas zahar yang melihatku terdiam langsung menepuk tanganya. “Hei Cika…, kamu gapapakan?” katanya. “Ah iyaa nggak apa apa ko Mas,” kataku sambil tersipu malu. “Mas Zahar ko bisa ada disini?” tanyaku. “Hm iya aku baru aja pindah kampus disini, nggak nyangka bisa ketemu kamu lagi,” katanya sambil mentapku. Akhirnya kami bercakap cakap sebentar, tidak lama kemudian kamipun menyudahi percakapan kami. “Hm yaudah Mas Zahar masuk kelas dulu yaah,” katanya sambil tersenyum. “Oh iya iya Mas, aku juga mau masuk kelas,” sahutku sambil membalas senyumnya.
Aku tidak menyangka bisa bertemu dia lagi, ya bertemu Mas Zahar. Mas zahar adalah temanku dulu diwaktu aku SMA di Jogja, dia sangat pintar dan baik, dia juga sangat dewasa. Sudah pasti setiap wanita menyukainya, begitupun aku. Tapi aku tidak pernah menyatakan persaanku ini, bagaimana tidak, aku kan hanya gadis yang tidak terlalu pintar, tomboy, bahkan aku ceroboh. Bagaimana mungkin seorang Mas Zahar bisa menyukai gadis seperti aku.
Waktu jam belajar di kampus pun sudah selesai, aku bergegas keluar dan pergi ke perpustakaan, berniat untuk mengerjakan tugas tugasku disana. Aku mencari buku refrensi untuk tugasku, dan buku itu ada di rak yang paling atas, aku mencoba mengambilnya dengan berjinjit, ternyata tak sampai juga. Tiba tiba ada seseorang yang membantuku mengambilkan buku itu dari belakangku. “Sini aku bantuin,” katanya. Dan ternyata yang membantuku adalah Mas Zahar. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Aku yang melihat Mas Zahar terperangah kembali. “Makasih ya Mas,” kataku sambil tersenyum tersipu malu. “Iya sama sama Cika, kamu ada tugas apa emang? Nanti aku bantuin deh, siapa tau aku ngerti,“ katanya. Aku yang mendengarnya agak sedikit kaget, dan spontan aku menjawab, “Iya mas boleh banget, aku emang nggak ngerti semuanya bantuin aku yah,” kataku dengan muka gembira. “Iya iya yaudah kita duduk yuk disana,” sahutnya sambil menunjuk bangku. Akhirnya kami mengerjakan tugas itu, hm tidak aku sangka hari ini aku bisa bertemu Mas Zahar dan mengerjakan tugas bersama, ini nyata.
Selesai kami mengerjakan tugas, Mas Zahar menawarkan diri untuk mengantarku pulang, ini benar benar hari yang sangat indah, tanpa berfikir panjang aku pun mengiyakan tawarannya. Akhirnya kami berjalan ke arah parkiran bersama. Tapi tiba tiba ada seorang wanita yang berteriak memanggil Mas Zahar, “ZAHAR, tunggu aku,” kata wanita itu sambil berjalan kearah kami. “Zahar kamu mau pulang? Aku mau bareng boleh kan? Aku bingung nih pulang naik apa,” katanya dengan muka melas. Mas Zahar dengan muka tidak enak akhirnya membolehkan wanita itu pulang bersama kami, kemudian Mas Zahar mengenalkan kami berdua. “Cika kenalin, ini temen aku namanya Siksa,” katanya. “Cika,” kataku sambil menjabat tangan Siska.
Di dalam mobil Siska begitu genit, merayu rayu Mas Zaharku dengan suara manjanya, hatiku kesal sekali melihatnya, dia sangat mengganggu. Di mobil kamipun bercakap cakap panjang. Mas Zahar bercerita tentang Siska, katanya Siska itu adalah mahasiswa teladan dikelasnya, dia sangat mahir dalam berbagai mata kuliah, Siska pun tersenyum tersipu malu. Aku yang mendengar cerita itu agak sedikit kesal, namun aku tutupi dengan senyuman diwajahku, ya namanya juga wanita pasti paling bisa menutupi persaannya.
Semenjak aku dan Mas Zahar bertemu, kami saling berkomunikasi, Mas Zahar sangat baik, dia selalu mengingatkan aku untuk belajar, solat dan lain lain. Aku begitu menyukai sikapnya yang begitu perhatian, namun setiap kali aku melihat Mas Zahar bersama Siska aku sangat sedih, bagaimana tidak, Siska adalah wanita yang sangat pintar, dia cerdas ramah dan sangat cantik, tidak seperti aku.
Keesokan harinya dikampus. Mas Zahar mengajak aku bertemu setelah pulang kuliah, akhirnya kami pun bertemu. Di kantin kampus kami bertemu dan makan siang bersama, kami bercanda canda dan tertawa riang. Namun ditengah tengah candaan kami, datanglah Siska mengganggu kami, “Hei Zahar, Cika , aku boleh gabung kan sama kalian?” katanya sambil tersenyum. Mas Zahar dan aku akhirnya mengizinkan Siska untuk bergabung dimeja kami. Selalu begini, Siska selalu mengganggu aku dan Mas Zahar, aku mengerti sepertinya Siska menyukai Mas Zahar. Tapi bagaimana dengan Mas Zahar? Apakah dia menyukai siska? Tapi kenapa dia selalu memberi perhatian kepadaku? Apakah dia hanya menganggap aku sebatas adiknya? Pikirku panjang.
Aku selalu berfikir bagaimana caranya agar Mas Zahar menyukai aku, wanita yang tidak terlalu pintar, tidak begitu cantik, ditambah lagi dandanan ku yang sangat tomboy. Sempat aku berfikir apakah aku harus mengubah penampilan ku seperti Siska, hm mungkin aku harus mencobanya.
Keesokannya. Aku berpenampilan sangat berbeda, dengan baju berwana ungu dan rok hitam yang membuat penampilanku sangat berbeda, dan rambut yang terurai sangat rapi. Semua laki laki yang ada di sekelilingku memandangiku. Sebenarnya aku tak biasa berpenampilan seperti ini, karna aku tidak menjadi diriku sendiri, tapi bagaimana lagi, mungkin ini yang bisa membuat Mas Zahar menyukaiku. Dengan mengubah penampilanku seperti siska.
Dari kejauhan aku melihat Mas Zahar, aku lekas memanggilnya,”Mas Zahar.. siniiii,” kataku sambil berteriak. Mas Zahar hanya terdiam seakan dia tidak mengenaliku. Akhirnya akupun mengejarnya,”Mas Zahar ko tega banget si, Cika panggil malah diem aja,” kataku. “Kamu Cika?,”sahut Mas Zahar sambil terheran melihatku. “Iya Mas aku Cika, siapa lagi coba, masa aku Siska,” kataku dengan muka cemberut. Mas Zahar menggeleng gelengkan kepalanya, seperti bingung melihat penampilan baruku. “Cika, kenapa kamu berubah kaya gini? Aku hampir aja nggak ngenalin kamu,”katanya. “Yaah, Cika lagi kepengen aja kaya gini, emangnya Mas Zahar nggak suka ya sama penampilan baru Cika? Cika kaya gini buat Mas Zahar,” kataku dengan nada pelan. Mas Zahar tiba tiba memegang tangaku. “Cika, dengerin Mas Zahar ya, Mas suka kamu yang apa adanya, kamu nggak perlu jadi orang lain, Mas suka kamu yang dulu,” katanya sambil menatapku. Aku hanya terdiam sambil menganggukan kepalaku.
Mungkin Mas Zahar tidak menyukai penampilan baruku, tapi kenapa? Apa sebenernya tipe wanita yang dia suka? Dibuat bingung aku olehnya. Mungkin dia tidak tertarik dengan penampilan baruku, apa mungkin dia lebih tertarik pada wanita yang pintar? Hm sepertinya aku harus tunjukan kepada Mas Zahar kalo aku bisa jadi wanita yang pintar, sepertinya dia akan tertarik. Mungkin aku harus mencobanya.
Keesokan harinya. Aku menemui Mas Zahar yang sedang berada di perpustakaan, tapi aku lihat di perpustakaan Mas Zahar sedang bersama Siska. “Hei Mas zahar, Siska, kalian sedang apa? Aku boleh ikutan gabung kan? Hehe,” tanyaku. “Apasih kamu Cika, kita kan udah janjian ketemuan disini, tadi nggak sengaja ketemu Siska, dia ternyata mau bantuin aku. Yaudah sini duduk di samping aku,” sahut Mas Zahar. Lalu aku duduk disampingnya. Aku memperhatiakan Mas Zahar yang sedang mengerjakan tugas dan Siska yang membantunya. Kebetulan, mungkin ini waktunya aku untuk tunjukan kepada Mas Zahar kalo aku bisa jadi wanita yang pintar seperti Siska. “Mas, aku mau bantuin yah,” kataku. “Hm boleh sini bantuin Mas” sahut Mas Zahar dengan lembut. Tiba tiba siska menarik tugas yang diberikan Mas Zahar kepadaku. “Jangan jangan nanti dia malah bikin berantakan tugas kamu Zahar!” sahut Siska dengan kasar. Aku yang tidak terima dengan ucapan Siska lantas mengambil tugas Mas Zahar yang diberikan kepadaku. “Kamu meremehkan aku? Siska aku bisa ko soal kaya gini aja!” kataku. “kamu ngerti apa sih Cika? Kamu nggak akan bisa!” sahut Siska sambil menarik kembali tugas itu dari tanganku. Akhirnya kami saling tarik menarik tugas, dan tanpa disengaja tugas tersebut robek oleh kami. “Astaga Cika! Apa yang kamu lakukan!,” kata Siska dengan nada tinggi. “Bukan aku tapi kamu yang merobeknya!,” sahut aku dengan nada yang tidak kalah tinggi. Mas Zahar yang melihat kami bertengkar segera memisahkan kami, “Kalian apa apaan sih, seperti anak kecil, lihat di sekeliling kalian! Semua memperhatikan kalian! Cika udah kamu ngalah aja ya,” kata Mas Zahar. Aku yang mendengar ucapan Mas Zahar tidak terima, dia seperti membela Siska, aku putuskan untuk keluar dari perpustakaan. “Oh iya Mas emang aku juga ko yang salah, aku nggak akan ganggu Mas Zahar lagi ko!” sahut ku sambil menangis.
Mas Zahar yang melihat aku berlari keluar dari perpustakaan segera mengejar aku keluar. “Cika tunggu, Cika maafin Mas Zahar. Mas nggak maksud menyalahkan kamu,” kata Mas Zahar sambil menarik tanganku. “Mas Zahar coba sekali aja lihat Cika, Cika selalu berusaha menjadi apa yang Mas Zahar suka, Cika ubah penampilan Cika, Cika belajar ini itu semuanya. Tapi apa? Mas Zahar nggak pernah lihat Cika!” sahutku sambil menangis. “Cika, Mas Zahar sudah pernah bilang, Mas Zahar suka kamu apa adanya, nggak perlu kamu merubah tabiat mu,” katanya. Mas Zahar menatapku sangat dalam, “Kamu perlu tau Cika,  Mas Zahar sudah menyukai Cika dari dulu, sejak kita satu SMA dulu, hanya saja Mas Zahar malu mengungkapkannya”.

*SELESAI*










  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment