cerpen



Kehidupan di Kota
Kota Jakarta, ya itulah kota metropolitan dimana orang-orang menggantungkan harapan. Hampir setiap orang mengharapkan perubahan nasib pada diri mereka dengan berhijrah dari desa menuju ke kota. Banyaknya orang yang berhasil setelah pergi ke kota membuat sanak keluarga dan sahabat mereka seperti dijanjikan surga. Rumah yang mewah, mobil yang banyak serta harta yang beerlimpah merupakan dambaan setiap insan.
Di kota apapun tersedia, apapun dapat terjadi. Itulah yang menjadi dasar utama pemikiran orang untuk berhijrah ke kota. Namun jika semua orang pindah ke kota, siapa yang mengurus sektor pertanian, perkebunan serta perikanan? Pada dasarnya, perubahan dapat terjadi jika dalam diri setiap inssan mau melakukan perubahan tersebut seperti belajar sungguh-sungguh, bekerja keras dan disertai dengan doa.
Tak terkecuali Iwan dan Budi, seorang kakak beradik yang ingin merubah nasibnya di kota. Mulanya mereka tinggal di desa yang dapat dikatakan jauh dari keramaian. Bertempat tinggal di rumah yang sederhana dan penerangan seadanya membuat kakak beradik itu membulatkan tekad mereka untuk berhijrah ke kota. Berbekal pendidikan apa adanya, tak menyusutkan niat mereka.
Sampai suatu ketika saat mereka tiba di kota tepatnya di sebuah terminal, mereka merasakan sebuah perbedaan yang sangat nyata antara kehidupan orang-orang di kota dengan kehidupan orang-orang di desa. Ramainya kota membuat kakak beradik itu bingung ingin pergi kemana. Dilihat sekeliling terminal yang ramai itu hingga didapatinya seorang ibu yang dijambret, lantas si Iwan mengejar jambret tersebut dan disusul oleh Budi. Setelah Iwan dan Budi berhasil meringkus jambret tersebut, mereka mengembalikan apa saja yang sudah diambil oleh jambret tersebut terhadap sang ibu-ibu tersebut.
Iwan membuka pembicaraan “ini Bu barangnya yang tadi dijambret” lantas sang ibu tersebut menjawab “terima kasih Nak, betapa mulianya hati kalian berdua” Budi menjawab “tidak apa-apa Bu, ini memang sudah kewajiban kita untuk saling tolong-menolong”. “ngomong-ngomong, kalian baru tiba ya?” tanya sang ibu-ibu. Iwan menjawab “kami baru saja tiba dari desa namun setelah sampai disini, kami bingung ingin melanjutkan perjalanan kemana lagi”. Sang ibu tersebut terdiam dan kemudian menawarkan mereka untuk tinggal dan bekerja di rumahnya. Setelah Iwan dan Budi berunding, maka diterimalah tawaran ibu-ibu tersebut.
Setelah sampai di rumah sang ibu tersebut, mereka diperkenalkan apa saja yang ada di dalam rumahnya dan diberikan kamar untuk mereka berdua istirahat. Setelah itu, mereka dijelaskan apa saja pekerjaan yang nantinya harus mereka berdua kerjakan. Iwan ditugaskan menjadi supir pribadi, serta Budi yang ditugaskan menjaga rumah.
Hingga suatu hari saat Iwan sedang sakit dan tak dapat mengantar seperti biasa, namun sang tuan harus tetap pergi ke kantor tepat waktu. Akhirnya karena rasa kasih sayang Budi terhadap Iwan yang sedang sakit, maka si Budi menawarkan diri untuk mengantar sang tuan menuju ke kantor. Iwan sangat berterimakasih kepada Budi atas pertolongannya.
Hari berganti hari dari waktu ke waktu, Iwan dan Budi bekerja sangat giat di rumah tuannya. Hingga suatu saat terjadi pencurian di rumah tersebut, Budi habis-habisan dimarahi oleh tuannya karena dinilai tak mampu bekerja dengan baik. Iwan yang merasa kasihan terhadap Budi, memberikan alasan atas yang telah terjadi. Iwan berkata “maaf tuan, ini semua bukan salah Budi tetapi sayalah yang lebih bertanggungjawab atas apa yang telah terjadi. Karena pada saat itu saya yang sedang berjaga, sedangkan si Budi sedang ke dalam mengambilkan kopi”. Budi yang menyaksikan pembelaan kakaknya itu, diam tak berkata hanya merasa kasihan karena itu ulahnya bukan kakaknya.
Akhirnya setelah mendengar pengakuan dari Iwan, sang tuan tak segan-segan memecat Iwan. Kemudian Iwan pergi ke kamarnya menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa. Tak lama kemudian, sang adik pergi menyusul kakaknya ke kamar. Setelah tiba di kamar, Budi berkata “Maafkan aku karena ulahku, sampai-sampai kau berkorban untukku”. Iwan tersenyum dan berkata “Tak apa-apa, memang sudah menjadi kewajiban seorang kakak menjaga adiknya”. “Kalau begitu, marilah kita pulang ke desa bersama-sama” jawab sang adik. “Jangan! Kamu harus tetap bekerja untuk mendapatkan uang” balas Iwan. Namun rasa cinta seorang adik terhadap kakaknya, membuat Budi membulatkan tekad untuk pulang ke desa bersama-sama. Karena tekad Budi sudah bulat, Iwan tak mampu lagi melarangnya dan merekapun berangkat bersama-sama menuju terminal dan pulang ke desa dengan membawa hasil yang mereka dapat selama di kota.
Setibanya di desa, mereka kembali melaksanakan aktifitas seperti biasa. Hamparan sawah yang luas membuat kakak beradik tersebut rindu akan kampung halaman. Iwan membuka pembicaraan “lebih baik kita bekerja di desa menggarap sawah, tidak ada yang memarahi jika kita berbuat salah” dan mereka berdua pun tertawa.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment