Ujian Tengah Semester-Cerpen

Calista  Azalea   

         Hujan turun dengan derasnya, angin bertiup dengan kencang. Kau berteduh di sebuah halte seraya menunggu bus yang akan mengantarmu kembali ke rumah. Tiba-tiba ada seorang gadis kecil datang untuk ikut berteduh, gadis itu menarik perhatianmu. Ia datang dengan sebuah kotak berisi donat dagangannya, namun bukan itu yang menjadi perhatianmu. Gadis itu berkulit putih bersih, ia terlihat cantik dengan rambut panjangnya yang diikat kuncir kuda. Usianya mungkin sekitar delapan tahun. Gadis itu mengingatkanmu akan seseorang. Seseorang yang dulu berada begitu dekat denganmu, namun tidak pernah kau pedulikan,  dan kini kau merindukannya. Sangat merindukannya.
“Kakak mau donat?” Ujar gadis kecil itu seraya membuyarkan lamunanmu yang sedang memperhatikannya. Mungkin kau lebih terlihat lapar dan memerhatikan donat dagangannya daripada memerhatikannya.
“Eh? Iya boleh, berapa harganya?” Tanyamu pada gadis kecil itu.
“1.500 kak,” ujar gadis kecil itu singkat seraya membuka tutup tempat donat-donatnya. Kau pun melihat topping-topping yang ada pada donat dagangan gadis itu. Dan pilihanmu jatuh pada topping keju dan juga cokelat yang menjadi kesukaanmu.
“Aku mau yang keju dua, sama yang cokelat itu dua, ya dek,” ucapmu kepada sang gadis kecil. Kemudian gadis kecil itu memasukkan donat ke dalam kantong plastik dan kau pun membayarnya. “Terimakasih,” katamu seraya menerima kantong plastik berisi donat tersebut. Kau pun melanjutkan percakapan dengan bertanya, “nama kamu siapa?”  Dan nama gadis itu membuatmu tertegun, seketika benar-benar mengingatkanmu pada seseorang, mengingatkan kejadian beberapa tahun yang lalu. “Namaku Calista kak.”
***
                Sepuluh tahun silam, ibumu akhirnya melahirkan seorang bayi perempuan. Bayi yang tidak lain adalah adikmu. Bayi yang ditunggu-tunggu kelahirannya oleh semua anggota keluarga, terkecuali dirimu. Ya, tidak mudah bagimu untuk menerima kehadiran seorang adik ketika kau sudah terbiasa hidup menjadi anak satu-satunya selama lima belas tahun. Kau mungkin sudah berumur lima belas tahun, namun pemikiranmu layaknya anak berumur tujuh tahun. Terbiasa dimanja oleh ayah dan bundamu sebagai anak satu-satunya, segalanya hanyalah milikmu, membuatmu tidak dapat menerima kehadiran adikmu sendiri. Tidak perlu berbagi apapun dan dengan siapapun, membuatmu tumbuh menjadi anak yang egois. Namun sekarang, bayi itu sudah lahir, dan dia adalah adikmu. Kau sebagai kakak seharusnya menjaganya. Namun kau tidak pernah mengharapkan kehadirannya, kau tidak pernah siap untuk berbagi kasih sayang orangtuamu dengannya. Dengan Calista Azalea, bayi perempuan dengan berat 3,4kg dan panjang 50cm. Rambutnya hitam seperti bundanya, kulitnya putih, matanya sangat indah, dia adalah bayi yang cantik.
“Sama cantiknya seperti kamu ketika kamu lahir,” kata bunda kepadamu.
“Dia nggak cantik, dia berisik, aku nggak suka, aku nggak mau punya adik,” jawabmu ketus sambil meninggalkan kamar dimana ibumu di rawat pascamelahirkan. Kau adalah anak yang baik sebelumnya, tidak pernah sekalipun kau berani berkata ketus seperti itu kepada bundamu selama tujuh belas tahun. Namun sekarang kau berubah menjadi anak yang berani berkata kasar kepada orang tuamu. Kau menjadi pemberontak. Kau tidak pernah lagi mendengarkan apa yang ayah dan bundamu katakan. Kau cemburu, cemburu kepada adikmu sendiri, Calista. Kau merasa kau sudah tidak diperhatikan dan tidak disayang lagi oleh orang tuamu. Kau merasa sekarang mereka lebih memerhatikan bayi baru mereka. Ayah dan bundamu selalu meyakinkanmu, bahwa mereka tidak pernah berubah perhatian dan kasih sayangnya kepadamu, namun kau tidak merasa begitu.
                Calista tumbuh sebagai gadis kecil yang cerdas. Dia pintar, juga lucu. Dia genit, sama halnya ketika kau masih kecil. Cara bicaranya pun layaknya orang dewasa, dia pintar berbicara. Namun kau tidak pernah peduli dengan dirinya, kau acuhkan adikmu. Bahkan ketika Calista sudah berumur tujuh tahun, dan kau sudah menginjak kepala dua, selama itu kau tidak pernah sekalipun bermain dengannya.  Adikmu juga tidak jarang mempertanyakan,“bunda kenapa kakak galak banget sama aku ya bunda?” Dan kemudian bundamu hanya dapat menjawab, “iya tuh, kakak kenapa ya? Nanti kan bisa cepet tua yaa?”
Orang tuamu sedih melihat perubahan dalam sikapmu. Mereka ingin kau dapat menerima kehadiran adikmu, namun sepertinya hatimu begitu keras seperti batu. Mereka tidak tau apa yang harus mereka lakukan, sampai suatu ketika ayahmu ditugaskan untuk pergi ke luar negri karena urusan pekerjaan, dan bundamu harus menemaninya. Mau tidak mau kaulah yang harus menjaga dan mengurus adikmu.
“Bunda, tapi aku takut dimarahi kakak,” ucap Calista sebelum bundanya pergi.
“Tenang aja, kak Clarissa baik kok, dia nggak bakalan marahin kamu,” kata bundamu meyakinkan anaknya yang paling kecil itu.
Setelah mencium dan memeluk dirimu, juga Calista, orang tuamu berangkat untuk melaksanakan tugas yang sudah diberikan oleh kantor. Kau pun harus melewati hari-harimu dengan mengurus Calista, adik kecil yang tak pernah kau pedulikan.
                Namun ternyata, seiring dengan perginya orang tuamu, sedikit masalah datang kepadamu. Sedikit, sedikit-sedikit yang lama-lama membuatmu cukup pusing. Empat hari sudah ayah dan bundamu pergi, beberapa hal baik-baik saja karena ada asisten rumah tangga yang sudah dipercaya oleh bundamu untuk membantu segala kebutuhan dirimu dan adikmu. Bi Sidah, bibi yang senantiasa menolong dan membantu bundamu jika sedang repot atau ketika orang tuamu harus ke luar kota, bahkan ke luar negri.
Malam itu, ketika kau baru saja pulang dari kuliah, Bi Sidah menghampirimu dengan wajahnya yang kebingungan.
“Kak, Lista kan susah makan dari kemarin, dia nggak mau disuruh makan, sekarang badannya panas, bibi takut dia kenapa-kenapa,” ujar Bi Sidah.
Tanpa membalas ucapan Bi Sidah, kau segera menghampiri adik yang tidak pernah kau pedulikan itu. Kau menghampiri ke kamarnya. Terlihat sosok gadis kecil sedang berbaring di kasurnya, dengan selimut menutupi badannya dan selembar plester penurun panas ditempel di jidatnya. Kau menghampirinya, dan duduk di sebelah adikmu. Kau tidak tau apa yang terjadi dengan dirimu, kau ingin menangis ketika melihat adikmu berbaring seperti itu, tanpa bundanya, juga ayahnya. Kau tiba-tiba saja merasa sangat bersalah sudah mengacuhkan dirinya, selama tujuh tahun semenjak ia dilahirkan. “Apa yang udah gue lakuin.. Kenapa gue bisa se-nggak-peduli itu sama adik gue sendiri. Padahal dia nggak salah apa-apa,” batinmu, seraya mengelus kepala adikmu.
“Lis, kamu gimana rasanya? Apa yang dirasain dek?” Tanyamu kepada Lista sambil tetap mengelus kepalanya. Lista yang sepertinya memang tidak tertidur, membuka matanya dan tersenyum kepada Rissa, membuat hati Rissa merasa sangat bersalah.
“Aku pusing kak, lemes rasanya,” jawab Lista.
“Iya itu karena kamu nggak mau makan. Kata bibi kamu nggak mau makan, kenapa emangnya?”
“Aku nggak nafsu makan kak,” kata Lista singkat.
“Yaudah mau makan apa? Nanti kakak beliin, mau kakak suapin?” Kau mencoba merayu Lista. Dan dia terlihat senang, hal itu terpancar dari wajahnya. Semua itu karena kau, kakak yang tidak pernah memerhatikannya, kini sudah berubah. Kau berubah sejak malam itu, kau tidak tau ada apa dengan dirimu namun kau sangat ingin memanjakan adikmu. Kau ingin menebus kesalahan yang sudah kau perbuat selama tujuh tahun, selama mengacuhkannya.
                Namun keadaan berkata lain, meski Lista merasa senang karena perhatian yang kau berikan, namun keadaannya malah bertambah buruk. Keesokan harinya setelah malam itu, badan Lista semakin panas, bahkan kasurnya pun terasa panas. Makanan yang ia makan juga tidak bertahan lama, karena pasti akan langsung dikeluarkannya kembali. Dalam sehari, tak cukup satu kali ia memuntahkan makanannya. Lista bisa muntah hingga empat sampai tujuh kali. Wajahnya pucat pasi, ia terlihat sangat lemas. Ketika malam tiba, Lista juga tidak dapat tidur dan mengigau beberapa kali. Kau pun tidak merasakan kantuk sedikitpun dan terus menjaga Calista selama ia tertidur. Kau tak kuasa melihat keadaan adikmu, keesokan harinya kau bawa adikmu ke rumah sakit, tepatnya ke unit gawat darurat. Ternyata Calista terserang demam berdarah. Dan menurut dokter, Calista sudah memasuki fase kritis. Trombositnya sangat rendah, nadinya pun terasa sangat tipis ketika diraba. Mendengar pernyataan dokter, dadamu mulai terasa sesak, rasanya tak kuasa lagi kau menahan air matamu. Kau pun menangis dan merasa sangat menyesal, menyesal kenapa kau begitu tidak peduli dengan adikmu. Dadamu terasa semakin sesak. Kau bertekad dan berjanji akan merubah sikapmu ketika Calista sembuh. Kau ingin sekali mengajaknya pergi bermain dan jalan-jalan bersamamu. Ketika itu kau sangat merindukannya, merindukan dia ketika dia sedang dalam kondisi sehat. Mendengarnya tertawa, melihatnya bermain, meski dahulu kau menyebutnya sebagai ‘gangguan’. Kau sangat menyesal dan merasa bersalah, “kenapa gue gitu banget sama Calista... padahal dia nggak salah apa-apa sama gue. Kenapa gue egois banget.. Jahat banget.” Ucapmu dalam hati seraya memandangi Calista yang sedang tertidur. Terbaring lemah di rumah sakit dengan infus yang melekat di tangan kanannya. Kau menemaninya, tanpa ayah ataupun bunda. Batinmu bergejolak, dihantui rasa bersalah dan menyesal yang teramat mendalam. Air matamu kembali turun, Calista terbangun, “kakak kenapa nangis?” Tanya Lista dengan lirih.
“Nggak apa-apa, aku sedih tau liat kamu, cepet sembuh ya dek,” katamu sambil tersenyum paksa.
“Iya kak... Aku laper kak... Mau makan pizza...” Ucap Calista dengan susah payah. Bibirnya kering karena kurang minum.
“Pizza? Nanti ya dek kalau kamu udah sembuh, kita ke pizza ya?”
“Abis itu.... Aku mau... Main.. Di timezone kak..”
“Iyaa, nanti kita jalan-jalan, kita main, kita pergi kemana kamu mau pergi. Nanti kita pergi sama ayah sama bunda. Nanti kita beli baju baru buat kamu tapi kakak yang milih ya?”
Calista hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tampak bahagia, meski kondisinya sedang sangat lemah. Kemudian ia terdiam, memandangi langit-langit kamar rumah sakit, dan ia kembali bertanya kepada kakaknya, “kak Rissa kenapa nggak suka sih sama aku?”
Kau terdiam mendengara pertanyaan Calista, hatimu bagaikan dicabik-cabik, kau semakin merasa bersalah kepada adik kecilmu.
“Aku suka sama kamu dek, masa iya aku nggak suka sama kamu. Aku cuman sebel abis kamu suka nangis,” ucapmu lirih. Kau tak kuasa menahan air matamu yang turun dengan perlahan.
“Ooh.. maaf ya kak kalau aku bersiki, aku janji nggak berisik lagi biar kakak sayang sama aku,” jawab Calista. Jawabannya semakin menyakiti hatimu. Dadamu terasa semakin sesak.
“Nggak apa-apa dek, sekarang aku udah nggak sebel lagi kok sama Calista, aku kan sayang sama kamu,” kau pun menggenggam tangan adikmu, kau mengelus kepalanya dengan perlahan. Malam itu kau lalui dengan membuat berbagai rencana yang akan kau lakukan bersama Calista ketika ia sembuh nanti. Malam penuh kasih sayang antara adik dan kakak, yang selama tujuh tahun semenjak dia lahir tidak pernah kau rasakan. Kau tidak pernah sebahagia itu, namun kau juga tidak pernah merasa bersalah sedalam itu. Malam itu kau saling bercerita hingga adikmu tertidur, terbangun, dan tertidur lagi. Calista susah untuk benar-benar tertidur lelap malam itu. Malam itu menjadi malam paling mengharukan bagimu, tapi mungkin paling membahagiakan bagi Calista. Ketika ia mendapat perhatian penuh yang selama ini dia cari dari seorang kakak.
***
         Hujan masih turun dengan deras. Kau terdiam cukup lama ketika gadis itu memberitau siapa namanya. Hingga akhirnya suara gadis kecil itu menyadarkan kau dari lamunanmu.
“Kak? Kok diem? Kakak namanya siapa?” Tanya gadis kecil itu.
“Eh iya maaf ya dek. Nama aku Clarissa. Oh iya, aku punya adik namanya Calista juga loh.”
“Oh kak Clarissa punya adik namanya Calista?”
“Iyaa, sama kayak kamu, putih, cantik, rambutnya hitam. Ini aku abis nengokin dia.”
“Nengokin kemana kak?”
“Nengokin ke situ tuh...” Kau menunjuk ke suatu tempat yang berada tidak jauh dari halte tempat kau berteduh.

“Tempat Pemakaman Umum, kak?”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment