Cerpen UTS

GAUN ANGGUN
Malam itu aku terbangun dari tidurku yang lelap. Kulihat di samping kiriku, suamiku masih tertidur lelap. Masih jelas ingatanku, kalau saat itu aku memimpikan Anggun. Anggun adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Dia orang yang rela melakukan apa pun dan memberikan yang terbaik untukku. Rasanya aku tak sanggup menahan air mata jika mengingat kembali kisah persahabatan kami. 
***
Kisah ini bermula saat aku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Saat itu aku adalah seorang gadis yang agak pendiam. Hingga suatu hari disaat jam istirahat, kami mengeluarkan bekal makanan masing-masing kecuali Anggun.
“Kamu tidak makan?” Tanyaku, tapi dia hanya menggelengkan kepalanya. “Kenapa? Kamu tidak membawa bekal?” Lanjutku dan dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya lagi.
Saat itu juga dengan segera kubuka bekalku yang berisi tiga potong sandwitch yang cukup besar dan memberikan satu potong untuknya.
“Ini, kamu pasti lapar?” Tanyaku sambil menyodorkan sepotong sandwitch kepadanya.
“Terima kasih banyak.” Ucap Anggun sambil tersenyum lalu mengambil potongan sandwitch itu dari tanganku, dan memakannya dengan lahap.
“Ini, makan saja! Aku sudah kenyang, tadi pagi aku sudah menghabiskan dua potong sandwitch dan segelas susu di rumah.”
Dengan malu-malu dia mengambil lagi sepotong sandwitch yang ada.
“Terima kasih banyak, Mentari.” Ucap Anggun dan kemudian memakan sandwitch itu. Mulai saat itu kami selalu bersama-sama setiap hari di Sekolah Dasar.
Hingga saat ini kami sama-sama duduk di bangku SMP kelas 1. Siang itu kami melewati sebuah toko boneka dan di sana aku melihat sebuah boneka Teddy Bear yang lucu. Aku begitu menyukainya, sampai-sampai aku tidak menyadari kalau Anggun berjalan meninggalkanku.
“Mentari? Apa yang kamu lihat?” Tanya Anggun penasaran sambil menghampiriku.
“Eh, tidak ada. Ayo kita pulang, saja?” Ajakku dengan masih memikirkan boneka Teddy Bear itu.
Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada bulan Maret tanggal 27, yaitu hari ulang tahunku. Siang itu ibuku memberitahu kalau ada seorang gadis kumel menunggu di luar gerbang. Dengan penuh rasa penasaran aku segera berlari ke luar. Betapa terkejutnya, ternyata gadis itu adalah Anggun. Dia membawa boneka Teddy Bear yang dibungkus rapi dengan plastik hias, di tangannya.
“Ini untuk kamu Mentari! Aku tahu kamu sangat menyukai boneka ini.” Ucap Anggun sambil menyerahkan boneka itu padaku. “Selamat ulang tahun, ya?” Lanjutnya sambil tersenyum.
Setelah menerima boneka itu, air mataku menetes karena terharu dan dia pun memelukku sambil menepuk-nepuk punggungku dengan lembut.
“Bagaimana kamu bisa membeli boneka ini?” Tanyaku dengan rasa penasaran.
“Aku bekerja sebagai pencuci piring di sebuah rumah makan.” Jawab Anggun sambil tersenyum. (dia memang sudah terbiasa bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya)
“Ayo, masuklah!” Ajakku sambil menggandeng tangannya.
“Tidak usah, aku tidak ingin membuatmu malu karena memiliki seorang teman yang kumel.”
“Tapi kamu adalah sahabatku!”
“Iya, tapi sebaiknya sekarang kamu masuk ke dalam dan berkumpul bersama mereka. Lain kali aku akan datang ke sini dengan penampilan yang lebih bersih.”
Air mata pun kembali mengalir di pipiku mendengar ucapannya yang begitu sedih.
Waktu terus berjalan. Kini aku dan Anggun sudah berusia 16 tahun, dan kami sama-sama duduk di bangku SMA kelas 1. Pagi itu aku membongkar isi tasku, mencari handphone-ku yang berada di dalam tas, namun tidak kutemukan. Firasatku mengatakan handphone itu pasti terjatuh ketika aku terburu-buru memasukkannya ke dalam tas saat perjalanan tadi. Aku tidak berani memberitahu Anggun, aku takut membuatnya cemas. Namun dia melihat wajahku yang agak kebingungan dan akhirnya dia mengetahui setelah aku menceritakan kepadanya. Aku pun tidak berani berkata jujur kepada orang tuaku tentang hal yang sebenarnya.
Setelah seminggu berlalu, aku masih bingung memikirkan bagaimana jalan keluarnya. Keesokan paginya di kelas, tiba-tiba Anggun menghampiri dan memberiku sebuah handphone second yang masih berfungsi. Betapa terkejutnya aku.
“Untuk apa ini, Anggun?” Tanyaku bingung.
“Pakailah, anggap saja itu pinjaman. Aku tidak ingin kamu dimarahi orang tuamu kalau mengetahui hal yang sebenarnya.” Ucap Anggun dengan senyum manis.
“Tapi dari mana kamu mendapatkan handphone, ini?” Tanyaku sambil meneteskan air mata, mengingat betapa baiknya sahabatku itu.
“Setiap pulang sekolah aku bekerja sebagai kurir di toko bangunan, dan aku membeli handphone second itu di pasar loak. Mungkin aku akan terus bekerja di sana, Mentari.” Jawab Anggun dengan senyum yang lembut.
Dan saat itu juga aku segera memeluknya erat, air mata haru menetes bercucuran di pipiku. Aku sangat terharu karena pengorbanan dia untuk menolongku.
Waktu pun kembali berjalan, saat itu usia kami 20 tahun. Siang itu aku berdiri di samping Anggun sambil merangkul pundaknya, menyaksikan pemakaman kedua orang tuanya. Mereka meninggal karena sakit keras yang sudah lama dideritanya. Tapi anehnya tak setetes pun air mata keluar dari mata Anggun, dia terus memandangi kuburan itu sambil berkata sendiri, “aku ikhlas ya Allah. Dengan begini, mereka tidak perlu lagi harus merintih kesakitan, karena semuanya sudah berakhir. Sekarang mereka bisa tidur dengan tenang.”
Mendengar dia mengucapkan hal seperti itu, air mata pun kembali mengalir di wajahku, tidak kusangka dia adalah wanita sekaligus sahabat yang begitu tegar.  Setelah kejadian itu setiap ada kesempatan, aku selalu mengunjunginya dan membawakan makanan untuknya. Saat-saat seperti inilah yang membuat persahabatan kami semakin dekat. Bulan demi bulan berlalu, aku yang masih single, akan dilamar dan segera menikah oleh pria pilihan orang tuaku.
Sehari sebelum acara pernikahanku berlangsung, ibu memberitahuku kalau ada seorang wanita yang berpakaian kotor mencariku dan menungguku di luar gerbang. Betapa terkejutnya aku melihat Anggun dengan pakaian yang begitu kotor dan wajah yang penuh debu, sambil membawa tas kotak yang besar dan cantik. Saat aku menemuinya, dia segera memberikan tas yang dia bawa kepadaku.
“Apa ini?” Tanyaku tanpa melihat isi tas itu.
“Bukan apa-apa. Tapi aku mohon kenakanlah disaat pernikahanmu, aku ingin melihatmu mengenakannya.” Ucap Anggun dengan senyum. Tanpa pamit dia segera pergi dari hadapanku.
Aku segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarku, aku membuka tas itu dan mengeluarkan isinya. Seketika itu juga air mataku mengalir deras, ketika kulihat gaun pengantin putih yang begitu indah dan bercahaya, pemberian Anggun.
Akhirnya hari pernikahanku tiba, aku begitu bahagia mengenakan gaun pengantin yang diberikan Anggun. Aku tak sabar menanti kehadirannya. Sebelum acara dimulai, tiba-tiba seorang penjaga pintu memberitahuku kalau ada seorang gadis yang menungguku di luar dan sangat ingin bertemu denganku. Saat itu juga aku tahu kalau itu pasti Anggun. Dengan segera aku melangkah ke luar dan ternyata benar itu adalah Anggun. Dia sahabatku yang sangat kusayangi dan kasihi. Saat itu dia mengenakan pakaian yang kotor dan wajahnya penuh debu.
“Kenapa kamu berpakaian seperti ini?” Tanyaku terheran.
“Aku meminta ijin sebentar kepada bosku untuk datang kemari melihatmu mengenakan gaun ini. Dan ternyata benar, kamu terlihat begitu cantik mengenakannya!” Ucap Anggun dengan senyum.
Aku mengeluarkan sapu tanganku dan membersihkan wajahnya dari debu, mataku mulai berkaca-kaca, aku ingin sekali menangis.
“Jangan menangis! Aku tidak ingin melihatmu menangis dihari bahagiamu ini.” Ucap Anggun.
Mendengar perkataannya yang tulus, aku langsung memeluk tubuhnya yang penuh debu.
“Anggun, bukan hari ini yang membuatku bahagia. Tapi yang membuatku sangat bahagia adalah karena aku memiliki seorang sahabat seperti kamu.”
“Terima kasih, Mentari. Masuklah ke dalam! Aku tidak mau keluarga suamimu mengetahui kalau mereka mempunyai menantu yang berteman dengan seseorang yang kumel, itu akan membuat suamimu malu.” Ucap Anggun dengan cemas, sambil membersihkan gaunku dari debu yang berasal dari tubuhnya.
“Tapi aku ingin sekali kamu masuk dan melihatku. Aku mohon Anggun, setelah ini aku akan tinggal bersama suamiku di luar kota. Jadi kita pasti akan jarang bertemu.” Ucapku sambil mengenggam erat tangannya.
“Jangan takut Mentari, aku akan tetap berada di sini. Kamu bisa mengunjungiku kapan saja, kan?” Ucap Anggun menenangkan dengan senyum yang lembut di wajahnya, setelah itu dia memelukku erat, kemudian dia pergi dari hadapanku untuk kembali ke tempat kerjanya.
Setelah acara pernikahanku selesai, aku dan suamiku pergi meninggalkan kota kelahiranku, menuju kota kelahiran suamiku.
***
Aku tak dasar kalau air mataku sudah mengalir membasahi pipiku, mengenang kisah persahabatanku dengan Anggun. Suara tangisku membuat suamiku terbangun.
“Sayang, kenapa kamu menangis?” Tanya suamiku penasaran.
“Tidak ada apa-apa.” Ucapku sambil menghapus air mataku.
“Tidak ada, apanya? Ayo cerita, kenapa kamu menangis?”
“Aku teringat pada, Anggun.” Jawabku.
“Anggun?” Tanya suamiku dengan terheran.
“Iya, dia sahabat terbaikku. Dialah orang yang telah memberikan gaun pengantin yang aku kenakan saat itu. Dia sangat menyayangiku, begitu juga aku. Dia sudah seperti saudara kandung bagiku. Aku tidak tahu mengapa dia begitu baik kepadaku.” Penjelasanku kepada suamiku.
“Lantas, di mana dia saat pernikahan kita berlangsung?” Tanya suamiku.
“Saat itu dia berpenampilan begitu kotor, dia tidak mau masuk ke dalam meski aku sudah memaksanya, dia takut membuatmu malu di hadapan keluargamu, karena memiliki istri yang berteman dengan seseorang yang kumel.” Jawabku dengan sedih.
“Ya Tuhan! Kenapa kamu tidak pernah bercerita kepadaku? Di mana dia sekarang?” Tanya suamiku kebingungan.
“Dia sekarang berada di kota asalku.” Jawabku sambil meneteskan air mata.
“Besok kita akan menjemputnya. Kita akan memberikan rumah kosong kita yang ada di sebelah untuknya ya. Sayang, kamu harus tahu, betapa sulitnya untuk mendapatkan seorang sahabat sejati dan kamu harus menjaga itu. Jika aku menjadi kamu, aku tidak akan meninggalkannya hidup sendiri dalam kesusahan.” Nasehat suamiku, kepadaku.
Saat itu juga aku langsung memeluk suamiku dan menangis di pundaknya, sambil berkata dalam hati, “aku ingin dia berada di sisiku. Anggun orang yang telah mengajarkanku arti dari persahabatan dan kasih sayang. Aku akan membawanya ke sini. Aku berjanji tidak akan meninggalkannya sendiri lagi!”
Keesokannya, aku dan suamiku segera pergi menuju kota asalku. Bergegas menuju tempat Anggun bekerja. Setelah tiba di sana, aku langsung turun dari mobil. Aku tak sanggup lagi menahan air mataku, dan segera berlari memeluknya erat sambil menangis di pundaknya.
“Anggun, ini aku Mentari. Maaf aku tidak pernah mengunjungimu.” Ucapku setelah melepas pelukanku.
“Mentari, aku sangat merindukanmu!” Ucap Anggun sambil menghapus air mataku dengan tangannya yang kasar.
Sambil menggenggam erat tangannya aku memohon supaya dia bisa ikut bersamaku. Dengan senyuman lembut, dia menganggukan kepalanya. Dan dengan segera aku membawa Anggun pergi menuju kota asal suamiku. Setelah sampai di rumahku, aku langsung membawanya menuju rumah yang akan kami berikan kepadanya.
“Anggun, sekarang kamu dan keluargamu nantinya akan tinggal di rumah ini. Anggap saja ini sebagai hadiah ulang tahun yang selama ini tidak sempat kuberikan padamu, dan kamu tidak boleh menolaknya!” Ucapku sambil menggandeng tangannya.
“Kalau begitu, apa lagi yang bisa kuucapkan selain, terima kasih banyak?” Ucap Anggun sambil tersenyum bahagia.
Diusianya yang ke 25 tahun, akhirnya dia mendapatkan seorang pria yang tulus mencintainya. Dan tibalah di hari pernikahannya. Aku mengambilkan gaun pengantin yang dulu pernah dia berikan padaku.
“Kali ini, akulah yang akan melihatmu mengenakan gaun ini.” Ucapku sambil tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya aku melihat dia meneteskan air mata, dan memelukku dengan erat.
“Kamu adalah sahabat yang paling berarti untukku.” Ucap Anggun.

Di acara pernikahannya, dia diminta untuk mengatakan siapa orang yang paling dikasihinya. Dia menjawab, “orang yang paling kukasihi adalah sahabatku sendiri yaitu, Mentari. Aku tidak tahu dia masih mengingat kejadian ini atau tidak, saat itu kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Siang itu aku sangat lapar, aku tidak makan hampir dua hari agar ayah dan ibuku yang sedang sakit bisa makan. Disaat itulah dia memberiku dua potong sandwitch yang cukup besar dan begitu enak, sehingga laparku berkurang. Mungkin itu tidaklah berarti untuknya, tapi tidak denganku yang saat itu hampir mati kelaparan. Dan untuk membalas kebaikannya aku berjanji, selama aku masih hidup dan sehat, aku akan berusaha untuk membuatnya bahagia. Terima kasih banyak sahabatku, Mentari.” Ucapnya dengan senyum manis sambil memandang ke arahku, dan saat itu juga ruangan dipenuhi dengan tepuk tangan dan air mata haru termasuk juga diriku. 
***
SEKIAN

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment