Ibu, Bapak, Orang Hebat dan Buku

      Udara malam ini dingin seperti malam-malam musim hujan tahun lalu. Hujan turun sejak sore tadi membuat balkon kamarku basah dan sejuk. Sekarang aku sedang berdiri merasakan kesejukan itu dengan mendongak ke arah rembulan. Seolah dalam hati, aku mengajaknya untuk bercakap-cakap. Mungkin menatapmu aku bisa menyembuhkan kerinduan dengan ibu. Mungkin Ibu juga sedang menatapmu sekarang.
      Aku dan Ibu memang dipisahkan oleh jarak beratus-ratus kilometer. Demi menutut ilmu, Ibu rela melepasku jauh dari kampung halaman. Semua anaknya harus merantau demi kesejahteraan masa depan. Aku dan ketiga kakakku menduduki bangku kuliah di perguruan tinggi yang berbeda-beda. Mas Sam di Semarang, Mba Mita di Padang,  Mas Willy di Malang dan aku di Jakarta. Sejak aku diterima di Univeristas Bangsa ini lah, tidak ada lagi kosakata “manja” antara aku dan Ibu.
      "Selamat malam Ibu. Sedang apa di sana? Apa Bapak sudah sehat hari ini?"
     Lama-lama udara dingin menusuk tubuhku. Angin malam yang  terus berhembus, sukses menyuruhku masuk ke dalam kamar. Sebenarnya aku masih ingin menikmati suasana damai ini. Udara Jakarta biasanya memang seringkali membuat aku rindu dengan suasana sejuk. Seperti di kampung halamanku. Ah, aku rindu sekali.
      Aku menoleh ke arah jam dinding. Jarum jam panjangnya menunjukkan angka lima dan jarum jam pendeknya berada di pertengahan angka sembilan dan sepuluh. Aku urung memejamkan mata. Novel yang berada di samping bantal seakan menawarkan diri untuk dibaca. Novel ini berjudul Hiroshima. Novel yang direkomendasikan dari seniorku seminggu lalu. Buku ini menceritakan kehidupan pasca hingga pra bom Hiroshima dijatuhkan. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan mudah dicerna, dua detik kemudian aku larut dalam imajinasi.
      Buku ini termasuk salah satu hasil karya jurnalisme sastrawi. Hiroshima seperti novel, namun ada perbedaan dengan novel lain pada penyajian alur cerita. Kalimat yang penulis rangkai sangat detail. Hal ini membuat pembaca membuat imajinasi yang lebih dibandingkan dengan cerita-cerita lainnya. Bagaimana tidak, Hiroshima memberikan keterangan yang teliti tentang waktu dan tempat setiap alurnya, seperti jarak suatu titik dengan pusat bom diledakkan.
     Sejak kecil aku menyukai buku-buku. Itu karena hobi membaca yang telah Ibu tanam kepadaku sejak aku mengenal huruf. Ibu seringkali mengenalkan buku bacaan yang aku sukai. Membelikan, menyampulnya, menyimpannya hingga bertanya tentang isi buku membuatku selalu menghargai buku. Kebiasaan Bapak mendongeng kepada anak-anaknya sebelum tidur dulu juga secara tidak sadar membuat kemampuan visualku terasah dengan baik. Malam ini aku sangat rindu Ibu dan Bapak.
      Mungkin hal ini lah yang membuatku berbeda dengan remaja pada umumnya. Aku sama sekali tidak tertarik untuk berada di tengah lingkungan teman-temanku. Gaya berpakaian, gaya berbicara, atau pernak-pernik yang mereka kenakan membuatku malas bergaul dengan mereka. Aku lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca novel ataupun buku filsafat. Berbeda dengan remaja lain yang hobi menghabiskan waktu untuk nongkrong di mana-mana. Buku adalah sahabatku. Bahkan sahabatku yang berwujud manusia masih kalah setia.
***
     Kebiasaan buruk bangun kesiangan memang sulit dihilangkan. Itu lah aku. Supaya pembaca cerita pendek ini mengenalku lebih dekat. Entahlah, ada apa gerangan yang membuat kebiasaan buruk ini sulit dilepaskan. Padahal alarm handphone setiap hari membangunkan. Seperti pagi ini, aku baru bangun tepat pukul 08:11.
     Hari ini aku berencana untuk pergi ke Indonesia Book Fair. Aku akan membeli sahabat-sahabat baru di Istora Senayan. Dengan ditemani Nabila, sepertinya mencari sahabat baru terasa lebih menyenangkan. Namun, bangun kesiangan sepertinya membuat Nabila akan badmood sepanjang hari ini.
     Aku reflek mengecek handphone. Nama “Nabila” terlihat di layar touchscreen hp dengan keterangan 15 misscalled dan 7 SMS. Aku segera menelponnya balik. Setelah tiga kali nada sambung terdengar, Nabila mengangakatnya.
    “Kamu dimana, Nabila? Sorry, sorry banget Nab, gue baru bangun,” kataku.
    “Hah, baru bangun? Aku di halte, nunggu udah dari tadi, tapi kamu nggak datang-datang juga. Kamu lupa kita janjian jam berapa?” protes Nabila.
     “Iya iya maaf. Gimana kalau kamu ke kosanku dulu sebentar. Belum sarapan kan?”
Sejurus kemudian, Nabila sampai di kamarku ia tidak lagi protes mengenai waktu kami yang sudah terbuang banyak di luar yang telah direncanakan. Sebagai teman yang baik, walaupun ia cerewet, dengan mudahnya ia memafkan temannya ini. Nabila telah mengerti akan kebiasaan burukku yang sulit sekali dihilangkan.
     Perkenalkan, namanya Nabila. Ia teman dekatku di kampus, Universitas Bangsa. Sejak semester satu hingga semester enam sekarang kami selalu bersama. Jangankan untuk mengerjakan tugas, pergi jalan-jalan pun tidak pernah lepas darinya. Aku dan Nabila berbeda sekali sifatnya. Aku tidak sabaran dan Nabila sangat lembut. Namun, satu-satunya persamaan yang dimiliki hanyalah satu yaitu membaca.
      Kebetulan hari ini tepat sekali dengan acara bedah buku penulis terkenal yang Nabila sukai. Ini lah alasan yang membuatnya good mood hari ini walaupun aku telah membuat kami telat untuk datang ke sana. Nabila bisa dihibur dengan sarapan pagi yang telah aku suguhkan. 
     Setelah sarapan singkat, kami berangkat ke Istora Senayan menggunakan bus APTB dari depan kampus. Lumayan, jaraknya jauh dan agak macet karena weekend. Aku dan Nabila mengobrol sepanjang perjalanan, membuat kami tidak terasa sampai. Daerah Jakarta Selatan memang menjadi daerah padat setiap hari.
     Tepat pukul 12:10 kami sampai di sana. Nabila langsung menarikku ke arah panggung utama. Panggung utama siang ini dijadikan tempat Rahardian Irfan, penulis kesukaan Nabila, untuk membedah novelnya yang berjudul Dengarlah Perkataan Sang Angin. Acara bedah novel belum mulai, tetapi sudah ramai dengan pengunjung lain. Nabila mengajakku untulk menduduki kursi paling depan. Supaya Rahardian terlihat lebih dekat, katanya. 
     “Akhirnya, waktu yang dinanti-nanti untuk bertemu Om Rahardian sampai juga,” ceplos Nabila.
    “Hahaha. Orang penting memang begitu, Nab. Sulit sekali ditemui. Bahkan fansnya yang satu ini ikhlas menunggu berbulan-bulan untuk menemuinya,” kataku menyindir.
     “Ya memang, tidak bisa dipungkiri sih kehebatannya. Novelnya selalu berbeda dengan penulis yang lain. Semua inner beauty-nya terlihat dari tulisan, apalagi sekarang aku akan melihatnya langsung,”
      “Ah kamu, ada-ada saja.”
     Aku dan Nabila menunaikan shalat zuhur bergantian, demi mengabarkan Rahardian Irfan sudah datang atau belum. Tepat setelah aku selesai sholat, acara bedah buku itu pun dimulai. Rahardian Irfan adalah seorang lelaki yang hebat memainkan diksi, ia mengenalkan dirinya sambil bercanda layaknya sudah kenal dekat dengan audiens.
    Aku kagum padanya. Kemampuan ia berbicara sangat baik di samping ia seorang penulis novel. Karyanya mencapai 18 buku hingga hari ini. Hampir setiap enam bulan sekali ia mengeluarkan buku. Sebenarnya bukan hanya Nabila, aku juga sangat kagum padanya. Apalagi ketika ia menceritakan pengalaman hidupnya sejak ia masih kecil. Sederhana namun bermakna.
      Terkadang setelah membaca karya-karyanya aku memikirkan hikmah yang bisa diambil dari cerita yang ia tulis. Berbeda dengan novel pada umumnya. Rahardian Irfan seorang muslim yang sangat sering menyiratkan nilai-nilai Islam pada karya-karyanya. Ia seorang penulis yang hebat. Bahkan, ketika ia membahas novel percintaan yang ia tulis, ia tidak pernah lupa dengan membubuhkan akan adanya nilai Islam seperti ikatan pernikahan.
      Ia tidak terlalu membahas isi novel Dengarlah Nyanyian Angin. Ia sebenarnya lebih menjelaskan tentang bagaimana ia menulis novel. Rahardian saat itu mengajarkan kepada seluruh audiens untuk menulis. “Ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad melalui malaikat jibril adalah bacalah. Selain baca, sebagai umat Islam yang baik, cobalah untuk belajar menulis,” katanya saat ia menyampaikan bedah novel.  
      Akhir kata ia membedah novel, ia mengingatkan kepada seluruh audiensnya, “Terima kasih untuk kalian semua yang telah membaca karya-karya saya. Kalau boleh mengingatkan, jangan jadikan novel-novel saya sebagi buku yang pertama harus anda baca. Novel harus berada di urutan terakhir dari sepuluh buku yang harus kalian baca. Tentu, buku pertama yang wajib kalian baca setiap hari adalah Al-Qur’an.”
    Usai mengikuti serangkaian acara Rahardian Irfan, aku dan Nabila berkeliling untuk mencari buku referensi kuliah dan buku bacaan ringan di setiap stand IBF. Aku kagum dengan acara yang digelar setiap tahun ini, setidaknya IBF menghidupakan masyarakat Indonesia dengan menjual buku murah agar masyarakat tidak lupa membaca buku.
   “Sudah berapa buku yang kau dapat hari ini, Nad?” tanya Nabila.
   “Alhamdulillah sudah enam buku,” kataku.
   “Temanku yang satu ini memang super sekali kemampuan membaca bukunya,” kata Nabila sambil tertawa.
Nabila, seorang sahabatku selain buku-buku, memang setia menemaniku untuk menambah koleksi buku. Ia tidak pernah bosan untuk aku ajak ke toko buku setiap seminggu sekali. Ia satu-satunya teman yang juga mempercayai akan “The Power of Book”. Aku dan Nabila seringkali menghabiskan waktu kami di perpustakaan setiap ada waktu kosong kuliah.
***
     Aku menganggap diriku mempunyai pemahaman yang berbeda tentang kekuatan membaca. Kebiasaanku membaca buku, selain hobi dari kecil, juga termotivasi oleh orang-orang hebat di dunia ini. Begitu banyak orang hebat dan sukses karena rajin membaca buku. Aku terkadang menyayangkan akan kebiasaan masyarakat Indonesia yang tidak memiliki hobi mulia ini. Kapan bangsa ini mau maju jika hampir seluruh masyarakatnya malas membaca.
    Untuk memahami hakikat kehidupan saja, telah aku dapatkan dari buku. Aku seringkali memperhatikan dinamika kampus, atau bahkan kehidupan politik di Indonesia dengan analisis seadanya. Mengapa orang banyak sekali yang curang demi mendaptkan kekuasaan, mengapa orang sering berbohong demi membela diri, dan mengapa mereka sering menggunakan kekerasan untuk orang-orang yang lebih lemah.
    Tentang kebingunganku terhadap isu politik atau permasalahan lain ini pun seringkali terbayarkan oleh membaca buku. Banyak sekali penulis hebat di dunia ini. Mereka tekun dari kegiatan penelitian hingga menulis hasilnya agar manusia-manusia memahami suatu teori penting. Aku pengagum semua penulis yang karyanya sudah mendunia. Mereka terlalu hebat dan kapan aku bisa menjadi salah satu dari mereka.
Aku teringat percakapanku dengan Ibu saat aku menginginkan menjadi salah satu dari orang-orang hebat. Ibu selalu sabar ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan yang setiap hari aku lontarkan karena sifat penasaranku.
    “Ibu, apa yang sejak kecil orang-orang hebat di dunia ini lakukan agar mereka bisa menjadi hebat seperti sekarang?” tanyaku polos ketika itu.
   “Mereka tidak pernah hidup santai, nak. Mereka memiliki pengalaman hidup yang keras, tidak seperti kebanyakan orang. Usaha keras akan membuahkan hasil yang bermanfaat bagi diri mereka sendiri dan orang lain,” jawab Ibu.
     “Maka apa yang harus aku lakukan sekarang?”
    Jawaban-jawaban Ibu setiap aku lontarkan selalu bijak. Malaikat tak bersayap ini adalah orang yang benar-benar melahirkanku dan mengenaliku dengan baik tentang dunia ini.  Orang yang kedua adalah Bapak. Lewat cerita dan candaan, ia menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang penting untuk anak-anaknya. Dan saat ini aku merindukan itu semua.
    Kasih sayang mereka sangat terasa walaupun ratusan kilometer ini memisahkan kami. Ibu, sosok yang selalu menjadi motivasiku, membuatku rajin dalam melakukan aktivitas harianku. Begitu pula dengan bapak, sosok yang selalu menjadi panutan. Bapak adalah orang yang hebat, ia disegani oleh banyak orang di kampung halaman karena kecerdasaanya sejak ia kecil. Ibu dan Bapak tidak pernah marah atau berlaku kasar pada anak-anaknya.
   Setiap malam aku berdoa. Agar Ibu dan Bapak selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang cukup. Kerinduan memang seringkali menguasai semuanya, namun apalah arti kerinduan itu jika aku tidak bisa membanggakan mereka. Paling tidak, merekalah yang membuatku menjadi salah satu orang hebat untuk masa depan.

***

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

1 comments:

Ruang Kata-kata said...

Gaya menulismu sudah mengalir, hanya saja saya tidak menemukan "konfliknya" apa. Setiap judul buku ditulis miring ya!

Post a Comment