DIBALIK BUNYI KLAKSON
“Hah serius?“ Ucap temanku Tania, ia terkejut
ketika aku menceritakan beberapa kisah
mistis yang terjadi di sungai Cisadane dekat rumahku. Aku mendapatkan cerita
itu dari pamanku. Kata paman, anak sungai Cisadane daerah rumahku banyak
menyimpan kisah mistis, salah satunya tentang siluman Buaya putih.
Sungai Cisadane merupakan salah satu sungai
terpanjang yang melintasi kota Tangerang. Salah satu anak sungainya berada di
desa Panunggangan Barat daerah rumahku. Tak jauh dari rumahku kira-kira 20
meter terdapat jembatan lama yang menghubungkan ke desa seberang. Jembatan itu
tepat berada di atas aliran sungai Cisadane. Di sekelilingnya terdapat beberapa
pohon Jati dan pohon Asem. Tidak jauh dari situ kira-kira 7 meter ada beberapa rumah warga. Aku pun mulai
menceritakan tentang mitos yang terjadi tentang siluman Buaya itu kepada Tania.
Suatu pagi seorang kakek pergi ke seberang
sungai menggunakan perahu bambu dengan membawa sayuran untuk dijual. Di tengah
perjalanan kakek itu dikejutkan oleh seekor anak Buaya yang tersangkut di
perahu bambunya. Dengan penuh rasa takut kakek itu menolong melepaskan ekornya
yang tersangkut di badan perahu. Sesampainya di seberang sungai,”Sayur...sayur”
Suara kakek setengah berteriak. Ketika ia merapikan sayurannya terlihat sepucuk
surat tepat di ujung badan perahu. “Kertas
naon ieu?“[1]
Gumamnya.
Perlahan ia membuka lipatan kertas itu, di dalam
surat itu tertuliskan ucapan ‘Terimakasih’. Kakek itu terdiam sejenak, “serat ti saha ieu ?“[2] Dalam
hatinya berkata. Sepanjang perjalanan pulang kakek itu terus memikirkan dari
mana datangnya surat itu. Sesampainya di rumah ia menceritakan kejadian yang ia
alami tadi pagi di sungai kepada istrinya.
***
Tok...tok...tok suara ketukan dari balik pintu luar.
“Saha deui
wengi-wengi kieu deuheus kerumah jalmi?
“[3] Gumam istrinya.
“Atos
bukakan wae heula”[4] Ucap
kakek.
Ketika nenek membukakan pintunya, tidak
terlihat seorang pun yang ada di luar.
“Saha Bu?”
Ucap kakek sambil menghampiri nenek.
“Teu terang Pak, jigana teu aya sasaha di luar, terus saha
atuh anu ngetok panto ?” Ucap nenek.
“Mereun ngan jalmi iseng Bu” Ucap kakek.
Ketika kakek dan nenek kembali masuk ke dalam
rumah, tiba-tiba terlihat banyak makanan yang ada di atas meja makan. Mereka
terkejut “Pak...” Gumam nenek. “Muhun Bu”
Ucap kakek dengan wajah tercengang dan masih memandang ke arah meja makan. Perlahan
mereka berjalan menghampiri meja makan. “Ieu
makanan asli Pak?” Tanya nenek sambil memegang beberapa buah-buahan yang ada di
hadapannya. “Muhun
Bu ieu awit nanging ti saha ieu? Di imah ieu pan ngan aya urang duaan”,
Ucap kakek dengan wajah yang bingung. Kakek itu terus memikirkannya, tiba-tiba
kakek mengingat surat yang ia temukan di perahunya. “Apa ieu aya hubunganana jeung serat anu abdi
panggihan isuk tadi?”Gumamnya dalam hati.
***
Esok harinya kakek kembali beraktifitas
seperti biasa berjualan sayur ke seberang sungai. Sesampainya di seberang
sungai kakek itu mendapatkan sepucuk surat lagi dan kali ini berisikan ”Makanlah
makanan dariku aku adalah ibu dari seekor anak Buaya yang kau tolong kemarin
pagi”. Dengan wajah yang terkejut kakek langsung menghampiri pinggir sungai dan
mencari Buaya. Tetapi sama sekali tidak terlihat ada buaya, yang terlihat
hanyalah air sungai yang begitu tenang. “Naon
ieu nyaan teu?”[5]
Gumam si kakek dalam hati dengan penuh rasa tidak percaya.
Semenjak kejadian kakek menolong anak Buaya
itu, hidup kakek dan nenek menjadi sejahtera. Sayuran yang ia jual sehari-hari
selalu habis terjual, setiap malam hari di meja makan selalu terdapat makanan. Namun
ada salah satu syarat dari siluman Buaya itu. Warga sekitar sungai setiap malam
jumat harus memberi sesajen sebagai
tanda penghormatan kepada siluman Buaya itu.
Sampai sekarang mitos itu masih dipercaya
warga sekitar, tetapi tak jarang juga
ada orang yang tidak mempercayai mitos itu. Namun mitos yang dipercaya saat ini
bukan dalam bentuk memberikan sesajen,
melainkan mengucapkan kata ‘permisi’ atau membunyikan klakson kendaraan ketika
melewati jembatan yang menghubungkan ke desa seberang sungai. Jika tidak, maka
akan terjadi kecelakaan. Sebenarnya hal ini mengganggu warga sekitar karena
jembatan itu dekat dengan pemukiman warga.
“Kamu sendiri percaya?” Tanya Tania.
“yaa kalo aku sih percaya ga percaya, karena pamanku
bilang kakek yang mengalami itu adalah kakekku sendiri. yaa walaupun aku tidak
pernah bertanya benar atau tidaknya mitos itu, karena aku tidak pernah melihat
kakekku” Jawabku.






0 comments:
Post a Comment