Seuntai Harapan dalam Mimpi
Angin yang berderu-deru membuat
dedaunan pohon kelapa di ujung sana melambai-lambai seakan membelai wajahku.
Aroma khas air laut membuat aku terhanyut dalam kelembutan pasir pantai tempat
aku berpijak. Sejenak aku bersandar di bawah pohon kelapa memanjakan diri dari
teriknya panas matahari namun memberikan kesejukan tersendiri ketika
menikmatinya.
Aku
memejamkan mata, sedikit tertidur namun tak lelap. Ku dengar suara riang
anak-anak bermain permainan khas Banten itu. Mereka berlarian saling menyerang
dan menghindari satu sama lain. Membuat aku tersenyum sendiri menikmati tawa
mereka. Tepat di depan sebuah gubuk yang tua, terdengar para ibu sedang
bercengkrama sambil melantunkan nada-nada merdu dari angklung gubrag yang tidak
asing di telingaku.
Angklung gubrak memang alat musik
tradisional Banten yang telah langka. Padahal kesenian ini menurutku mempunyai
daya tarik yang luar biasa. Angklung gubrag memiliki ukuran yang lebih besar
dari pada angklung pada umumnya. Jumlah tabungnyapun ada tiga, berbeda dengan
angklung biasa yang umumnya memiliki dua tabung. Pada saat dilaksanakan
pertunjukan kesenian angklung gubrag, biasanya digunakan beberapa instrumen
seperti enam buah angklung menggunakan bambu hitam, seruling, dan terompet kendang pencak. Di atas angklung
dikaitkan kembang wiru yang diikat membentuk pita yang menurut kepercayaan
kembang wiru dan air yang berasal dari angklung dapat menjadi obat dan penyubur
tanaman. Semua pemain menari, kecuali penabuh dogdog (alat musik yang terbuat
dari batang kayu bulat) dan saat menari diiringi oleh beberapa penari perempuan
dengan kostum kain dan kebaya.
Ketika aku
mulai terlelap tiba-tiba ada sesuatu menghantam tengkukku, “Aw....”. Aku yang
terlelap langsung tersentak. Ku tatap sekelilingku tak ada seorangpun yang
berada dekat denganku. Ku tegaskan penglihatanku mencari asal serangan itu. Tak
perlu lama aku memendam rasa kesal, akhirnya aku menemukan seseorang di balik
pohon kelapa yang besar dan aku yakin pasti dia orangnya yang sudah
menyerangku. Aku berjalan menuju kearahnya dengan hati-hati. Aku juga
bersembunyi tepat di sisi depan pohon yang ia singgahi. Beberapa saat kemudian,
“Hoi…” aku pasang muka aneh di depan wajahnya. Ia tersentak dan jatuh. “Hahahaha
rasakan itu..” aku tertawa puas dengan tatapan licik.
“Emang enak!
Kaget nieeeh” kataku sambil menjulurkan tangan bermaksud menolong. Sayangnya,
lagi-lagi aku tertipu aku yang bermaksud menolong malah ditarik kencang
kearahnya sehingga terjatuh. “dasar dusun, berani tah kerjain aku..” kataku
kesal. Aku beranjak dan pergi meninggalkan adikku. Dia mengejarku dan membuat
banyolan yang selalu membuatku melupakan amarahku.
Namanya
Dilah, ya itu adik tersayangku. Adik satu-satunya yang kumiliki. Memang namanya
sedikit mirip perempuan tapi dia itu seorang laki-laki. Nama lengkapnya Abdilah
Ma’ruf. Orang tuaku menamai dia dengan nama tersebut karena berharap dia akan
menjadi seorang yang sukses namun tetap menjadi hamba Allah yang taat. Walau
dia itu dusun (nakal), tapi ia memiliki sisi yang sangat membuatku benar-benar
merindukannya ketika ia tidak berada dekat denganku. Aku bangga padanya, selain
tampan dia juga selalu ingat waktu di kala dia harus beribadah dan belajar.
“Teh, maafin
aku sih. Cuma ajak main pepletokan, tak boleh tah?” ia merayuku dengan tatapan
hangatnya yang khas. Ia berhasil, aku tergoda untuk ikut bermain pepletokan bersama dengannya. Sebelum
bermain kami menyiapkan bahan-bahan yang akan menjadi peluru dari senjata kami.
Karena tidak ada pentil jambu air di daerah kami, maka kami memutuskan untuk
memakai kertas yang dibasahkan dan beberapa kelopak bunga. Hampir setiap waktu
luang kami, kami gunakan untuk bermain pepletokan. Itu loh mainan tradisional
asal daerah kami yang menggunakan bahan dasar dari bambu. Mainan ini sangat
mudah dibuat, mainan ini mempunyai dua bagian. Satu untuk wadah pelurunya dan
satu lagi untuk menjadi pendorong peluru. Ketika dimainkan maka mainan ini akan
mengeluarkan bunyi pletok yang cukup kencang dan tembakannya bisa beberapa
meter. Sangat cocok untuk main perang-perangan.
Kami mulai
bermain, beberapa teman kami ikut bermain bersama kami. Hari itu menjadi hari
yang indah dan akan menjadikan kenangan masa kecil yang menyenangkan. Hari
mulai sore, Ayah dan Ibu sudah pulang dari pasar untuk menjual hasil berlayarnya.
Kami yang sedang asyik bermain langsung menyudahi permainan itu. Kami
membersihkan badan kami dan bersiap-siap untuk berangkat belajar di madrasah, istilah
yang selalu disebut di daerah kami untuk bersekolah agama di langgar. Banyak
orang di daerah kami menyekolahkan anaknya di pagi hari dan memasukkan anaknya
ke madrasah pada sore hari. Tak heran banyak dari kami yang pandai mengaji dan
memahami agama. Walaupun kami warga sederhana tapi kami mempunyai adab dan
tuntunan yang selalu membina kami. Tak seperti orang kota yang kaya dan
bermatabat tapi memiliki perilaku seperti binatang.
Setelah
pulang dari madrasah, kami langsung pulang dan langsung mengerjakan pr untuk
sekolah besok. Ayah yang seorang nelayan, harus berangkat berlayar untuk
menangkap ikan yang akan dijualnya di keesokan hari. Begitulah beban Ayah yang
harus bertahan untuk menghidupi dan memajukan kami. Ibu yang seorang guru di
sekolah dasar juga terkadang ikut berlayar membantu Ayah. Sedangkan aku dan
adikku hanya terus belajar dan berdoa untuk keselamatan Ayah yang sedang mencari
nafkah. Kami mengantar Ayah sampai ke pelabuhan. “Belajar yang pinter yah nak,
biar Ayah yang bodoh tapi kamu harus jadi orang pintar. Doakan Ayah agar diberi
keselamatan dan dapat melihat kalian bahagia kelak” itulah kata-kata yang
selalu diperdengarkan kepada kami setiap berangkat berlayar. Melihat harapan
yang sangat besar dalam mata Ayah kepada kami, semangat kamipun tak pernah
goyah meskipun banyak hal yang sering membuat kami terlena dan kepingin.
Begitulah
kehidupan kami yang berada di pesisir pantai yang jauh dari keramaian. Berusaha
dengan giat dan berharap ada keajaiban yang mampu membuat kami merasakan
kehidupan yang lebih bersahaja. Tentu saja kami terus berusaha dan berjuang. Kami
yakin Tuhan akan menilai kerja keras kami suatu hari nanti. Tak lama dari
harapanku beberapa waktu kemudian para nelayan di daerah kami mengalami panen.
Ikan berlimpah pada waktu panen, wargapun mendapatkan penghasilan lebih dari
biasanya.
“Ibu, kak,
dek.. ayah pulang kih.. panen besar bulan ini” Ayah bercerita dengan penuh
semangat. Keluarga kami dan warga lainnya berniat untuk mengadakan tasyakuran
agar Tuhan selalu memberkahi hidup kami walaupun serba pas-pasan.
Sate
bandeng, menu andalan kami yang selalu kami sajikan di hari-hari besar. Entah
sejak kapan makanan ini menjadi menu andalan khas banten tapi dikisahkan
makanan ini digagasi oleh Sultan Banten yang ingin menjamu tamunya dengan menu
ikan bandeng tanpa harus merepotkan tamunya dengan tulang-tulang ikan tersebut.
Di hari minggu pagi, kami warga pesisir Banten bersama-sama membuat makanan
khas Banten ini. Semua orang disibukkan untuk perayaan pada malam hari nanti. Kami
anak-anak ikut membantu mengeluarkan tulang dari daging bandeng. Tak sabar
ingin mencicipi lezatnya sate bandeng. Malam itu menjadi malam yang
menyenangkan bagi warga semua.
Berbagai
penampilan kebudayaan asal Banten kami tampilkan, menjadikan suasana malam itu
menjadi hangat dan ramai. Para laki-laki menampilkan debus yang membuat para
penonton merinding dibuatnya. Maklum, pertunjukan itu agak sedikit keras dan
tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak mempunyai ilmunya. Aku ikut
meramaikan malam itu dengan menampilkan angklung gubrag.
“Teh, kelak
aku ingin jadi seorang ilmuan, aku ingin dikenal banyak orang di seluruh
dunia!” Dilah bersemangat.
Aku gemetar mendengar harapan yang begitu
menggelisahkan hatiku. Aku ragu keadaan kita yang seperti ini dapat
menghancurkan impiannya. Pasalnya di daerah kami tidak sedikit anak-anak yang
putus sekolah dan akhirnya hanya menjadi nelayan atau pembantu rumah tangga di
kota.
“Baiklah, kalau begitu impianmu,
teteh akan berusaha dengan keras dan memenuhi semua impianmu” kataku.
“Engga teh aku juga akan berusaha demi kita”
sanggah Dilah sambil bersandar di bahuku dan tersenyum.
Entah impian itu akan terwujud atau
tidak, setidaknya kami mempunyai suatu tekad yang dapat mendorong semangat
hidup kami. Malam itu menjadikan awal dari perjuangan aku dan adikku yang
mendapatkan suatu dorongan agar nanti kami dapat memberikan keindahan kepada
orang tua kami dan memberikan air mata kasih sayang dalam akhir kehidupan. Malam
itu juga semua menjadi berubah.
Dua bulan setelah aku dan adikku
bertekad, kami lebih banyak menggunakan waktu luang kami untuk sedikit membaca,
walaupun kami tidak mempunyai persediaan buku yang banyak tapi kami tetap
berusaha untuk mendapatkan buku yang lebih banyak bagaimanapun caranya. Meminjam
dengan teman ataupun pinjam dari perpustakaan sekolah yang merupakan hasil
sumbangan dari orang kota.
Ketika aku membaca buku dari
perpustakaan, aku menemukan buku dimana aku dan adikku bisa bersekolah tinggi
tanpa mengeluarkan biaya. Aku berlari kegirangan menghampiri adikku.
“De, teteh punya cara buat kita
sekolah tinggi !” aku menyerukan.
“Beneran teh? Gimana caranya?” adikku
kegirangan.
“Beasiswa.. iya beasiswa..” aku
semakin bersemangat.
Kami tertawa dan bersyukur Tuhan
telah membuka mata kami pada hal yang ingin sekali kami capai. Aku dan adikku
bergegas pulang kerumah dan membaca lebih banyak lagi isi dari buku tersebut.
“Internet, itu apa yah?” kataku
bingung
“Oh.. internet teh? Kayanya aku
pernah baca. Itu tuh sebuah jaringan yang katanya kita bisa tau hal apa aja
yang kita cari.” Adikku menjelaskan
“Yah sayang sekali kita tidak
memiliki hal seperti itu” aku kecewa.
“Teh, sepertinya kita bisa mencoba
internet, teteh tau kan dermawan yang suka mengirimi sumbangan untuk kampung
kita ini?” dilah bersemangat.
“ Pak Holili?” aku menegaskan.
“Bukan, anaknya pak holily, memangnya
teteh ndak tau tah kalau pak holil itu suka bawa anaknya kemari ? aku rasa dia
dua tahun lebih tua dari teteh. Namanya kak Kaffi.”
Adikku memang suka bercerita tentang
dermawan yang bersedia memberikan rezeki lebihnya kepada kami. Tetapi aku belum
pernah menemui salah satu dari mereka. Semenjak dhillah bercerita tentang para
dermawan itu aku jadi ingin menemui mereka, mungkin saja mereka dapat
memberikan informasi lebih.
Semenjak itu aku bertemu dengan para
dermawan itu. Aku bertemu pak holil, pak ahmad, dan juga dengan kaffi. Kaffi lah
yang selalu bersedia memberikan informasi tentang bagaimana kita bisa mendapatkan
beasiswa dari pemerintah. Lagi pula sekarang sudah menjadi sahabatku yang
kebetulan mempunyai tekad yang sama denganku.
Setengah dari persiapanku membangun
masa depan, keluargaku tertimpa musibah. Ayahku sakit keras, ia tidak bisa lagi
berlayar. Keadaan yang seperti ini sangat membuatku terpukul. Aku tidak tega
melihat ibuku berjuang sendiri mencari nafkah menggantikan ayah. Konsentrasiku untuk
sekolah lebih tinggi lagi buyar. Aku ingin segera bekerja dan merubah
segalanya. Tetapi adikku yang bijaksana itu meyakinkanku untuk melanjutkan apa
yang aku ingin capai dan membiarkan ia menggantikan posisi ayah sementara
waktu. Ada goncangan yang berkecamuk di dalam diriku.
Tersadar, hal ini tidak luput dari
kebesaran Tuhan yang membuat aku semakin kuat. Tuhan yang memberi masalah, dan Tuhan
pula yang memudahkan. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengingatkanku agar selalu
bersyukur. Aku meminta padaNya agar diperlihatkan jalan yang harus ku tempuh.
Dengan kesabaran ayah, ibu, aku serta
adikku. Kami melalui hal itu dengan perlahan. Kabar gembirapun menyertai dalam
kesabaran kami. Aku diterima di Universitas yang memang sudah menjadi impianku.
Tentunya tak lepas dari kegigihanku dan bantuan dari sahabatku Kaffi. Aku senang
telah mengenal dia. Dan lebih menggembirakan kami diterima di Universitas yang
sama.
Sudah waktunya aku meninggalkan
kampungku. Sudah waktunya aku menggapai impiku. Memulai kehidupan baru, melalui
persoalan baru. Aku pergi meninggalkan air mata bahagia di pelupur keluargaku. Suasana
hening haru menyertai restu dan ridha orang tuaku akan kepergianku.
“merantaulah, gapailah setinggi-tingginya impianmu. Berpergianlah. Maka ada
lima keutamaan untukmu. Melipur duka dan memulai penghidupan baru. Memperkarya budi,
pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu.”( Bait syair Imam Syafi’i.)






0 comments:
Post a Comment