AKHIR DARI SEBUAH KESETIAAN
Aku menatap
laki-laki yang berada tepat di depanku. Nino namanya. Dia laki-laki yang berbeda. Cara dia berbicara yang membuatku selalu yakin dengan apa yang dikatakan.
Genggaman tanggannya yang selalu menggenggam erat jemariku. Dekapannya yang
selalu membuatku merasa nyaman. Aku melabuhkan hatiku pada seorang kelahiran
Malang itu. “Kamu ngapain ngeliatin aku kaya gitu Na?”Tanyanya. Dan aku
terkejut saat Nino tiba-tiba berbicara “memangnya kenapa aku nggak boleh nih
ngeliatin kamu?” Kataku. Nino hanya membalasnya dengan senyuman sambil
mengelus-elus kepalaku.
Aku
dan Nino memang sudah cukup lama menjalin hubungan ini. Kurang lebih sudah satu
setengah tahun aku dan Nino bersama. Tentu aku sangat bahagia mengetahui bahwa
Nino tidak memberikan aku harapan palsu seperti kebanyakan orang biasanya. Nino
bisa dibilang laki-laki yang bisa membuat aku Move on dari masa laluku yang bisa dibilang cukup tidak
menyenangkan. Hanya Nino yang bisa membuatku lepas dari angan yang tidak pernah
aku capai dahulu. Mungkin Nino adalah jawaban dari segala Do’a ku. Aku dan Nino
memang termasuk pasangan yang jarang bertengkar meskipun terkadang setiap Nino
emosi selalu melampiaskannya kepadaku.
Aku
dan Nino kini sudah kelas XII SMA. Sebentar lagi aku, Nino dan lainnya akan
mengahadapi Ujian Nasional. Aku dan Nino sama-sama berjuang agar kita bisa
lulus dengan hasil yang terbaik. Tidak terasa hari yang ditunggu tunggu datang,
hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional. “Good Luck ya sayang jangan lupa berdoa dulu sebelum kamu ngerjain
soalnya” kata Nino sambil mengelus kepalaku. “Iya No, kamu juga ya. Jangan
buru-buru ngerjainnya” jawabku. Nino hanya mengangguk lalu dia mengantarkanku
ke kelas sebelah, karna aku dan Nino beda ruangan. 2 jam berlalu, Nino sudah
keluar kelas duluan dan menungguku didepan kelas. Tidak lama kemudian aku
keluar kelas dan menghampiri Nino. “Gimana? Bisa kan? Tanyanya. Aku hanya
menganggukan kepala. Lalu Nino mengajakku pulang cepat agar bisa berisitirahat
untuk hari -hari berikutnya.
Tidak
terasa sudah memasuki hari terakhir Ujian Nasional. Aku dan Nino berencana
untuk pergi sepulang sekolah hari ini. Nino mengajakku ke Taman yang sering
kita kunjungi untuk hanya sekedar bercerita-cerita atau hanya untuk duduk
santai menikmati udara sejuk di Taman ini. “No, jadi kamu mau ngelanjutin
kuliah dimana? Tanyaku. “Belum tau Na aku masih bingung. Aku rencananya mau diluar
Kota” Katanya. Aku hanya terdiam mendengar jawaban Nino. Sebenarnya aku sangat
berharap Nino masih terus bersama denganku, satu Universitas tetapi aku tahu
semua itu haknya dan aku nggak bisa memaksakan kehendaknya. “Na kok kamu diam?”
Tanya Nino. Aku terbangun dari lamunan ku, “eh iya No yaudah kamu fikirkan aja
dulu” kataku.
Keesokan
harinya di Taman, Nino menceritakan bahwa dia dan keluarganya akan pindah ke
Malang. Nino berniat ingin melanjutkan kuliahnya di UNBRAW, Malang. Aku sangat
terkejut mendengar cerita Nino. Ini sangat tiba-tiba. Kaget, sedih semuanya
bercampur jadi satu. Aku nggak bisa melarang Nino untuk pindah ke Malang tetapi
disisi lain aku juga nggak mau kehilangan Nino. Aku berusaha tegar menerima
kenyataan pahit ini. “Aku tau Na, kamu sulit terima semua ini tapi percaya
semua akan baik-baik saja Na. Mungkin memang kita akan LDR tapi Teknologi kan
udah canggih Na. Kita bisa telfonan setiap hari, kalau masih kangen juga kita
bisa Skype-an kan?” Katanya
menenangkan. "Tapi No, kamu tau sendiri kan kita setiap hari sama-sama.
Sekarang kamu jauh No" kataku. Air mataku pun tidak bisa ditahan lagi.
Nino menarikku kepelukannya "Aku ngerti Na mungkin ini sulit awalnya tapi
aku percaya kita bisa. Kita sama-sama sayang kan Na, saling percaya ya. Insya
Allah kita bisa ngelewatin semuanya. Kita satu Na, inget komitmen kita diawal
ya sayang. Kamu cuma punya aku dan aku cuma punya kamu. Jangan sedih lagi ya
sayang. Aku sayang kamu banget Na" katanya menenangkanku. Akupun hanya
terdiam di dalam pelukan hangatnya.
Tepat
hari ini Nino akan berangkat ke Malang bersama kedua orang tuanya. Aku
mengantarkan Nino dan keluarganya ke Stasiun Kereta. Tidak lama kemudian,
Kereta menuju Malang akan tiba. Aku berusaha tegar menghadapi semua ini “Ya
Allah kuatkan Aku” Kataku dalam hati. “Na sebentar lagi aku jalan. Kamu jaga
diri baik-baik di sini ya Na” Kata Nino. “Iya No, kamu juga jaga kesehatan ya.
Sholatnya No jangan ditinggalin. Jagain Ibu sama Ayah ya. Jaga kita juga ya”
kataku lirih. Nino langsung memelukku, “Aku janji Na aku akan jaga kita. Kita
pasti bisa Na, aku pasti ke Jakarta kalau ada waktu luang”. Katanya. Air mataku
benar-benar tidak dapat ditahan lagi, aku menangis sesegukan dalam dekapannya.
Lalu Nino melepaskan dekapannya dengan perlahan. Aku masih sangat butuh Nino
tapi aku sadar ada waktu yang memisahkan kita. Lalu mereka semua berpamitan dan
mereka masuk kedalam kereta. Aku menatap kepergian Nino yang begitu cepat,
handphoneku tiba-tiba berbunyi. Aku melihat pesan masuk yang ada di Inbox handphoneku, dari Nino ternyata. “Aku Sayang Kamu Una, tunggu aku. Jaga diri
baik-baik. I LOVE YOU” kurang lebih seperti itulah isi pesan singkat yang
aku terima dari Nino, tidak disangka air mataku jatuh perlahan. Dan aku segera
meninggalkan tempat ini. “Aku akan terus menunggumu No” kataku dalam hati.
Tidak
terasa sudah satu tahun aku dan Nino berpisah dalam jarak. Aku sekarang sudah menjadi
salah satu Mahasiswi di IPB, Bogor. Banyak hal baru yang aku rasakan di sini.
Aku bertemu dengan seorang peremuan yang bernama Talita yang sekarang menjadi
teman baikku. Ada salah satu teman kelasku, yang sepertinya dia berusaha
mendekatiku. Ravi namanya. Dia cukup rajin mengirimkan pesan singkat. Ravi tahu
kalau aku sudah punya kekasih tetapi dia tetap berusaha mendekatiku. “Andai
kamu masih disini No di dekatku, mungkin nggak akan ada orang yang berani
mendekatiku sekarang. Aku kangen kamu No” kataku dalam hati.
Ku harap ku yang terakhir dalam hidupmu yang
slalu bahagiakan mu. Suara ringtone handphoneku
berbunyi, aku langsung segera mengambil handphoneku diatas meja belajar. Aku
begitu terkejut campur bahagia saat aku melihat nama Nino muncul dilayar
handphoneku. Aku langsung sesegera mungkin mengangkat telfonnya.
“Sayang, lagi ngapain?” Kata nino disebrang sana.
Aku terdiam saat mendengar suara
Nino yang sedikit berbeda, sedikit serak kali ini. Lalu aku menjawab telfonnya
“Lagi nungguin telfon kamu No. Suara kamu
kok beda sih? Kamu sakit?” Tanyaku.
“Pas dong ya aku telfon kamu sekarang hehe iya Na aku lagi kurang enak
badan nih tapi nggak usah khawatir aku baik-baik aja cuma sedikit kecapean kok
sayang” katanya.
Aku menghela nafas, “syukurlah, aku kira kamu sakit parah.
Biasanya kalau kamu sakit sedikit, aku kan nganter kamu kedokter ya No hehe
sekarang aku udah nggak bisa anter kamu ke dokter lagi deh. Aku kangen kamu No”
kataku lirih. Nino menelfonku cukup lama. Mungkin kita sama-sama sedang
merasakan rindu yang teramat dalam. Aku sempat menceritakan kalau ada teman
sekelasku yang mencoba mendekatiku. Awalnya Nino agak cemas saat aku
menceritakan itu, tapi aku coba buat tenangin Nino “Tenang aja Sayang. Aku selalu berusaha menjaga Mata, Hati sama Perasaan
aku. Karna aku tau, hanya Kamu yang seharusnya ada bukan yang lain. Meskipun
aku tau sekarang kamu jauh dan nggak bisa terus ada di samping aku tapi aku
pasti jaga komitmen kita No” kataku mencoba menenangkan Nino.
Tidak
terasa kita sudah memasuki semester 5, di sini kita bisa dibilang jarang
berkomunikasi lewat telfon karna sibuk dengan tugas masing-masing. Aku mencoba
untuk memahaminya tetapi ini juga yang membuat kita terkadang berselisih. Aku
termasuk perempuan manja, ingin selalu diberi kabar tetapi Nino yang jauh lebih
cuek. Baginya komunikasi yang tidak terlalu intens
itu tidak masalah. Sudah seminggu ini Nino mungkin hanya mengirim pesan singkat
beberapa kali saja, awalnya aku mencoba mengerti tetapi ternyata aku nggak bisa
terus kaya gini. "Aku kangen No" batinku. Aku mencoba untuk menelfon
Nino. Aku menunggu beberapa menit tapi tidak ada jawaban dari Nino. Berkali
kali aku coba telfon tapi tidak juga mendapatkan jawaban. Aku mulai putus asa
dan berhenti menelfonnya. "Mungkin Nino lagi tidur" kataku menghibur.
Satu minggu
sudah terlewati, Nino benar-benar tidak ada kabar. Kemarin dia hanya bilang
kalo lagi sibuk mengurusi acara inagurasi angkatannya. Dia tidak menelfonku,
dia hanya mengirim pesan singkat satu kali hanya untuk memberi kabar kepadaku.
Hari ini mungkin aku sedikit nggak semangat kuliah, aku menjadi sangat pendiam
hari ini. "Kamu kenapa Na?" Tanya Talita. "Nggak apa-apa
Ta" kataku. "Kamu sakit?" Tanya Talita sambil memegang keningku,
"ya ampun Na badan kamu panas banget. Kita ke dokter yuk" ajak
Talita. Aku tidak menjawabnya lalu tiba-tiba Ravi menghampiri kami "Una
kenapa ta?" Tanyanya. "Badannya panas Rav, gua nggak bawa motor lagi
hari ini" ujar Talita. "Yaudah biar gua yang nganter Una aja Ta"
Ravi menawarkan untuk menemaniku ke dokter. "Na, dianter Ravi ya ke dokter"
kata Talita membujukku. "Biasanya kamu No yang anter aku kalau aku sakit
tapi sekarang kamu pasti nggak tau aku sakit" batinku. Aku mencoba
memikirkan tawaran Ravi, dan aku menerima tawarannya. "Yaudah Rav"
kataku singkat. Aku langsung diantar Ravi ke dokter. Dalam perjalanan ke dokter
aku dan Ravi nggak banyak bicara tetapi Ravi sempat beberapa kali menanyakan
Nino. "No aku kangen kamu. Kamu kemana No? Aku sakit No. Maafin aku terima
tawaran Ravi kali ini karna cuma Ravi yang ada sekarang" batinku lirih.
Tidak lama kemudian kami sudah sampai dokter dan menunggu giliran namaku
dipanggil. Setelah namaku dipanggil aku menunggu resep dokter dan tidak lama
kemudian aku langsung mengajak Ravi pulang.
Sesampainya
dirumah aku langsung istirahat. "Semoga nanti kamu kabarin aku No"
kataku. Aku mencoba untuk berisitirahat dan akupun tertidur pulas. Kurang lebih
satu setengah jam aku tertidur, aku terbangun setelah menyadari handphoneku
berbunyi dan ternyata Nino menelfonku dari tadi.
"Hallo, kamu kemana aja sih Na? Aku telfonin dari tadi susah banget.
Sibuk banget emangnya sampai nggak bisa angkat telfonku?" Kata Nino dengan
suara nada tinggi.
"Aku tidur tadi No, aku sakit tadi abis dari dokter" kataku
lembut
"Ka... Kamu sakit Na? Kamu sakit apa? Terus kamu udah makan sama minum
obatnya belum? Kamu ke dokter sama siapa tadi Na? Terus apa kata
dokternya?" Kata Nino menanyakan dengan nada khawatir.
Aku tersenyum mendengar Nino
khawatir seperti ini kepadaku. Lalu aku menjelaskannya satu persatu, aku juga
bilang kalau hari ini yang mengantar aku Ravi. Nino langsung kaget saat aku
menyebutkan nama Ravi. "Kamu dianter
Ravi? Kenapa bisa sama dia? Kenapa nggak sama Talita aja sih Na? Katanya kamu
ngga mau terima ajakan dia sekalipun" katanya dengan nada yang
meninggi. "Bukannya gitu No, hari
ini Talita nggak bawa motor jadi mau nggak mau aku terima ajakan Ravi. Tenang
aja No, aku ngga ngapa-ngapain kok Ravi juga ngga bertingkah apapun. Tadi cuma
Ravi yang ada No" kataku menjelaskan dengan nada yang lembut. Tapi
Nino langsung memutuskan telfonku. Aku kaget tapi aku ngerti mungkin Nino
khawatir. Aku mencoba menelfonnya kembali tapi telfonku di reject berkali-kali.
Keesokan
harinya, aku mencoba untuk mencairkan suasana semalam. Hari ini aku mau coba
hubungi dia lewat Skype, aku mencoba
menghubunginya duluan karna aku tahu dia sedang Online. Aku sedikit terkejut ketika melihat perubahan Nino, dia
terlihat kurusan. Aku sangat merindukan saat saat aku bercanda tawa bersama
Nino saat dia masih berada dekat denganku. "Na aku mau ngomong penting sama kamu" kata Nino tiba-tiba
dengan nada serius. "Iya mau ngomong
apa No" kataku. "Hm... Ini
Na, a...aku rasa kita break aja dulu" sungguh hatiku hancur mendengar
pernyataan Nino "Aku kasian Na sama
kamu. Aku tau kamu selalu ingin komunikasi yang lancar tapi akunya sibuk
sendiri. Aku juga sekarang nggak bisa terus selalu disamping kamu. Nggak bisa
jagain kamu terus. Aku juga nggak pernah ada saat kamu butuh aku kaya kemarin
pas kamu sakit, aku nggak ada Na buat kamu justru orang lain yang ada buat kamu
bukan aku Na. Mungkin Ravi orang yang tepat karna dia selalu ada untuk kamu"
katanya lirih. Tiba-tiba air mataku jatuh, seketika aku langsung nangis. Aku
nggak jawab apapun pernyataan Nino "Sayang
jangan nangis. Aku ngelakuin ini buat kebaikan kamu " katanya. Dan aku
coba menjawabnya dengan lirih "A..
Aku nggak butuh kamu terus ada disaat aku butuh No, aku ngerti karna kita jauh
aku. Aku selalu jaga kita No, mungkin terkadang jujur aku memang butuh kamu
tapi aku coba ngertiin keadaan kita " jawabku sambil menghela nafas.
Nino terdiam sesaat "iya aku ngerti
Na tapi aku nggak tega sama kamu. Kamu terus nunggu aku tapi aku kadang nggak
peka. Aku berbuat ini karna aku sayang sama kamu Na aku nggak mau buat kamu
sedih terus, aku nggak mau kamu terus nahan kangen yang nggak ada ujungnya"
katanya dengan suara agak merendah. "Kalau
kamu sayang sama aku nggak gini caranya No. Kalau kamu sayang aku, kita sama
sama lewatin semua ini. Kamu yang bilang sama aku kalau kita akan baik-baik aja
kan? Tapi kenapa sekarang kamu berubah fikiran apa karna ada yang lain?"
Tanyaku. "Nggak Na sama sekali nggak
ada yang lain, aku cuma sayang kamu dari dulu sampai sekarang Na. Aku cuma
kadang kefikiran kamu disana tanpa aku gimana. Aku nggak selalu bisa jagain
kamu, nggak selalu ada buat kamu atau lainnya" kata Nino. Aku hanya
terdiam mendengar semua ini, air mataku sudah berjatuhan. Akhirnya kita sepakat
untuk break sejenak, kita nggak pisah
tapi kita hanya break untuk intropeksi
diri masing-masing.
Aku berusaha
terlihat baik-baik saja menerima keputusan ini. Aku dan Nino jadi lebih jarang
berkomunikasi. Sepertinya dia benar-benar mencoba untuk intropeksi diri dan
menghindariku. Tetapi sesekali Nino menghubungiku saat dia lelah. Seperti
kebiasaannya, dia selalu meluapkan emosinya ke aku jika dia sedang lelah. Aku
berusaha selalu menjadi Una yang dulu, yang selalu bersedia menerima keluh
kesah dia walaupun sekarang aku dan Nino sedang break. Nino selalu datang saat dia sedang butuh aku saja sampai
seketika aku mulai lelah dengan sikapnya. “Cukup No, aku capek. Kamu datang
saat kamu lagi nggak stabil. Marah-marahnya ke aku, senang-senangnya ke yang
lain. Aku capek No kamu nggak pernah berubah dan ngehargain aku” kataku. Nino
hanya terdiam mendengar keluhanku, “yaudah Na. Memang sepertinya kita harus
sendiri-sendiri dulu” katanya lalu dia langsung menutup telfonnya.
Waktu berjalan
sangat cepat, tidak terasa aku sudah lulus S1 dan begitu pula Nino. Aku dan
Nino masih berhubungan baik meskipun kita sekarang sudah resmi berpisah. Hari
ini Nino akan pulang ke Jakarta dan aku janji mau menjemputnya di Stasiun
Kereta. Aku menunggu kedatangan kereta yang membawa Nino. Aku menatap laki-laki
yang berada tepat di depanku itu. Sosok yang sangat aku rindukan. Dia masih
seperti dulu saat aku menatap wajahnya. Mungkin perbedaannya sekarang Nino
terlihat lebih rapi. Aku terus menatapnya. “Una, apa kabar? Kamu tambah cantik
ya. Kamu juga lebih gemukan ya hehe" Sapanya. "Baik No, kamu gimana?
Kamu juga tambah rapih ya" kataku. Nino hanya membalasnya dengan senyuman
sambil mengelus kepalaku seperti kebiasaannya dahulu. Aku dan Nino berjalan
menuju Taman yang biasa kita kunjungi. "Nggak banyak berubah ya Na"
katanya. Aku hanya menganggukan kepalaku. Kita duduk dibangku yang biasa kita
duduki, bangku ini keliatan lebih rapuh karna termakan usia. Kita banyak
menghabiskan cerita bersama.
"Na 4 tahun yang lalu di sini
aku cerita sama kamu mau pindah ke Malang. Dan sekarang aku sudah disini lagi
dekat kamu. Aku bahagia Na aku masih bisa ketemu kamu setelah sekian lama kita
ngga ketemu. Aku kangen banget sama kamu Na. Kangen jalan bareng, makan bareng,
hujan-hujanan bareng, neduh bareng kamu pokoknya aku kangen semua Na"
katanya sambil mengenggam erat jemariku.
"Maafin aku ya Na dulu aku
sempet ngajakin kamu break dan kita
harus sampai berpisah, aku benar-benar udah ngga tau lagi harus gimana waktu
itu. Aku cuma mikirin kamu Na tapi ternyata aku nggak bisa Na, aku butuh kamu
untuk menemani aku. Kamu yang selalu ada Na buat aku. Kamu mau kan terima aku
lagi Na?" Katanya dengan nada rendah penuh penyesalan.
Aku balik menggenggam jemarinya
dengan erat "aku ngerti No, sudahlah lupain semuanya. Iya No aku pasti
terima kamu lagi kan aku janji akan terus setia nunggu kamu. Aku juga cuma
butuh kamu No, kamu yang selalu buat aku lebih berarti dari siapapun"
kataku.
"Terima kasih Na, masih
terus nunggu aku sampai aku kembali lagi. Terima kasih segalanya. Terima kasih
atas kesetiaan yang begitu dalam untukku. Aku janji aku nggak akan ninggalin
kamu lagi. Aku akan terus ada di samping kamu Na. Aku sayang banget sama kamu
Na" katanya sambil menarikku ke dekapannya.
"Aku juga No, aku jauh lebih
sayang sama kamu. Kamu nggak tergantikan No. Aku cuma mau kamu bukan yang
lain" kataku. Aku dan Nino terlarut dalam suasana sore yang mampu menjadi
sore terindah untukku. Tidak akan ada yang sia-sia kalau kita percaya. Namanya
semua hubungan pasti ada lika-likunya tapi bagaimana cara kita menghadapinya
itu yang akan membawa kita ke akhir yang bahagia atau sebaliknya. Dan kesetian
yang aku dan Nino miliki, membawa kita kepada kebahagia yang sesungguhnya.






0 comments:
Post a Comment