Kue Klepon
Perempuan bertubuh kurus dengan wajah
pucat yang membukakan pintu untukku terlihat terkejut. Dengan tatapan yang
dalam, ia mencoba mengingat-ingat orang yang telah berdiri di hadapannya.
Sesaat akhirnya, senyum tipis di bibirnya kian mengembang. Kami pun saling
berpeluk melepas rindu yang selama ini telah tertahan oleh waktu. Pastinya, ia
tak akan pernah menyangka akan kehadiranku yang tiba-tiba.
Dengan ramahnya ia segera
mempersilakanku masuk. Tata letak yang tak berubah seperti 8 tahun silam tak
membuatku kesulitan untuk segera duduk di balai yang beralaskan tikar di dekat
jendela, tempat yang sejak dulu menjadi favoritku. Dengan wajah yang dipenuhi
senyuman disertai butiran air yang terlihat di sudut mata, ia tak pernah
menyangka akan kehadiranku saat itu. Ia melepaskan tatapannya pada jalan di
depan rumah yang sekaligus menjadi tempat usaha keluarganya sejak dulu. Tatapan
kosong yang diisi sejuta kenangan saat ia membantuku dari jurang kematian. Ya,
mungkin dia perlu waktu sejenak sebelum akhirnya ia menyadari akan keberadaanku
saat ini yang tiba-tiba hadir.
“Setelah sekian lama, kukira kau telah ditelan
bumi, masih ingat juga kau denganku ?” tuturnya mencairkan suasana.
Aku mencoba memahami perkataannya.
Perkataan seorang sahabat yang selama bertahun-tahun kehilangan tempat berbagi
suka cita.
“Maafkan aku, ayah mendapat pekerjaan
baru di Jepang yang mengharuskan aku harus pindah bersamanya. Tak ada pilihan
lain bagiku”. Jawabku memberikan pengertian.
Dia adalah Nina, sahabat kecilku.
Pertemuan pertama kami mungkin tak seperti perkenalan pada umumnya. Berawal
dari sebuah tragedi yang menurutku hampir merenggut nyawaku. Tubuhnya mungkin
terlihat kecil, namun tubuh itulah yang mampu memapahku waktu itu.
Saat itu, matahari yang diselimuti
gelapnya awan tak dapat menghalangi butiran-butiran air yang jatuh ke bumi.
Biasanya, aku selalu diantar jemput ke sekolah. Namun hari itu, bunda yang
terlalu sibuk dengan pekerjaannya mungkin lupa menjemputku. Aku yang tak pernah
pulang hanya dengan bayangan, kini harus mencoba hal itu. Aku bersiap pulang
dengan menghiraukan segala ketakutan dalam hati. Akhirnya, aku menyeberang
jalan tepat di depan rumah Nina. Saat itu, jalanan dipenuhi kendaraan yang lalu
lalang. Tiba-tiba, terdengar suara klakson
yang amat keras. Aku yang terlalu takut membuka mata, merasakan tubuhku telah
terhempas di aspal jalanan yang begitu keras. Tanpa melihat siapa yang
menarikku, aku hanya mendengar suara yang menyuruhku segera berdiri. Namun,
kakiku sangat sulit digerakkan karena terbentur aspal. Ternyata, seorang
perempuan bertubuh kecil yang mampu memapahku hingga sampai di rumahnya yang
terletak di tepi jalan.
Hujan yang tak pernah mengalah dengan
keadaan telah membuat pakaian kami pun basah. Dan luka akibat hempasan tubuhku
di aspal membuatku semakit meringis kesakitan. Dilihatnya lukaku yang memar dan
hampir di temui di setiap tubuhku. Darah segar tak henti-hentinya mengalir
deras dari kaki serta tanganku. Di balai yang beralaskan tikar inilah Nina yang
dibantu dengan si Mbok, ibu Nina, membantuku membersihkan dan mengobati luka
yang kudapati. Meski Nina juga ikut terluka atas kejadian itu.
“Sebentar ya Nduk, biar si mbok bantu
bersihkan lukanya”,tutur si mbok dengan lembut. Dengan obat seadanya, air
hangat, handuk kecil dan minyak goreng, si mbok dan Nina mengobati lukaku.
“Sini biar si mbok pakaikan minyak
supaya lukanya cepat kering”, sahutnya sambil membalurkan minyak di semua
lukaku. Nina yang datang dari dapur memberiku segelas air putih hangat dan
beberapa potong kue klepon.
“Minum dulu Nduk biar tenang”,
sahutnya lagi.
Dengan tubuh dingin, sakit dan
gemetar, kuturuti semua saran si mbok. Air hangat yang kuminum terasa membasuh
semua rasa takutku saat itu, ditambah manisnya kue klepon yang membuatku merasa
lebih baik.
“Siapa nama kamu Nduk ? dan dimana
rumahmu ?”, Tanya si mbok padaku.
“Aku Rena, rumahku sangat jauh dari
sini”, jawabku seadanya.
Tiba-tiba, ada sebuah mobil yang
berhenti tepat di depan rumah. Aku baru tersadar ternyata itu mobil ayah.
Dengan agak terseok-seok aku menghampirinya. Ayah yang terkejut melihatku penuh
luka langsung segera membawaku pergi tanpa berkata apapun kepada si mbok dan
Nina. Ayah terlihat sangat panik saat itu, ditambah aku yang sudah tak ada di
sekolah saat ayah menjemputku. Mobil ayah pun segera melaju dengan cepat
menembus rintikan hujan yang tak henti-hentinya turun sangat deras.
Namun, saat kejadian itulah aku
sering bertemu Nina. Si mbok dan Nina menerimaku dengan sangat baik di
rumahnya. Tentu aku sangat berhutang budi pada mereka yang menolongku, sehingga
selalu kusempatkan menemui Nina setelah pulang sekolah. Keadaan ekonomi
keluarga Nina mengharuskan Nina harus putus sekolah. Aku yang masih berhutang
budi pada Nina berinisiatif mengajarkan pengetahuan yang aku dapat dari
sekolah.
Nina dan si mbok menjual kue klepon
untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Setiap kali aku bermain ke rumah mereka
selalu tercium harumnya adonan tepung beras yang berisikan gula merah dan tak
lupa taburan kelapa parut yang membuat sensasi gurih saat di mulut. Sayangnya,
manisnya kue klepon tidak semanis kehidupan mereka. Mereka harus menjual klepon
untuk menyambung hidup. Aku selalu ingin membantu Nina menjual kue klepon si
mbok. Meski selalu dilarang tapi kali ini Nina memperbolehkanku untuk ikut.
Akhirnya di bawah matahari yang siang
itu sangat panas, aku membantu Nina menjual kue klepon. Nina menjajahkan kue
klepon keliling dari mobil satu ke mobil lainnya. Meski panas, aku menikmati
kegiatanku membantu Nina saat itu. Aku semakin bersemangat membantu Nina,
karena kue klepon yang tersisa masih banyak. Aku yang terlalu bersemangat saat
itu melupakan lampu lalu lintas yang merah telah berganti hijau. Sehingga,
seorang pengendara mobil keluar dan memakiku hingga menimbulkan kemacetan. Aku
yang tertunduk takut dan merasa bersalah hanya bisa terdiam. Tiba-tiba, sebuah
mobil lain berhenti tepat di sampingku.
“Ayah ?”, aku terkejut dengan
keberadaan ayah waktu itu. Meski ia membantuku dari orang yang memakiku, ayah terlihat sangat
marah. Ayah menarik lengan Nina dan membawanya ke tepi jalan. Ayah yang
melihatku berjualan kue klepon di jalanan memaki-maki Nina. Sehingga tempat
yang berisikan kue klepon terlempar dan membuat semua kue habis berjatuhan tak
bersisa. Kemudian, ayah membawaku masuk ke mobil dan segera pergi.
Semua kenangan itu masih tersimpan
dalam benak kami. Betapa berharganya kue klepon itu bagi Nina dan si mbok,
karena hanya itulah satu-satunya penghidupan mereka. Si mbok yang melihat Nina
dimaki-maki ayah tak mampu berbicara apapun. Sejak saat itu, rumah Nina
terlihat sepi. Mungkin Nina dan si mbok mencari usaha lain untuk bertahan
hidup. Tak ada lagi penjual klepon yang kulihat saat melewati jalan itu. Aku
pun terus dijaga ayah. Ayah tidak pernah menyukai Nina dan dia melarangku untuk
berteman dengannya. Meski sepulang sekolah kadang kumelihat Nina, aku tak lagi
bisa menyapa bahkan bermain dengannya. Sampai akhirnya, ayah mendapat pekerjaan
baru di Jepang dan kami semua pindah ke sana.
“Mengapa dulu kau tak meminta ganti
rugi atas kue kleponmu ?”, tanyaku sambil mengingat-ingat cerita itu.
“Salahku mengajakmu ikut berjualan
waktu itu, jadi tak mungkinlah aku meminta ganti rugi kepada ayahmu”, jawab
Nina menjelaskan perasaannya waktu itu.
Semua itu tak akan pernah kami
lupakan. Nina yang kini hidup sendiri tanpa keberadaan si mbok yang telah lama
meninggal tetap harus bertahan dengan kue kleponnya. Aku yang ketika itu
berpamitan pulang mengurungkan niatku untuk memberikan masakan jepang buatanku.
Batinku, sebungkus kue klepon itu lebih berharga daripada masakan jepang yang
kubuat. Apalagi restoran jepang yang akan ayah dirikan untukku ternyata harus
menggusur rumah Nina.






1 comments:
Saya suka endingnya, menarik! Tapi saat ayahnya menarik dan memaki Nina itu tipikal sekali (maksudnya udah biasa hehehe)
Post a Comment