Kasih Tak Sampai
Hari
ini Fira terlihat sangat cantik dengan rambut lurusnya yang ia gerai begitu
saja dengan menggunakan bando berwarna merah muda yang terlihat sangat cocok
digunakannya. Dia mengalihkan pandanganku diantara banyaknya orang di sekelilingku.
Fira, dia adalah sahabatku. Aku dan dia bersahabat sejak duduk dibangku SMA
kelas X. Awal pertemuanku dengannya hanya biasa saja tepatnya berawal dari kejadian di mana aku menolongnya
saat dia dihadang oleh sekelompok laki-laki yang berniat ingin melukainya
tepatnya di gang samping sekolah. Ini awal pertamaku mengenal Fira. Mulai dari
kejadian itu, aku dan Fira menjadi sahabat dekat sampai sekarang tepatnya
disaat kita duduk dibangku kelas SMA XII.
Tidak terasa waktu berjalan
sangat cepat, hingga kita berdua lupa bahwa 1 Bulan lagi kita akan menghadapi
Ujian Nasional, tapi semua itu aku hadapi dengan santai tanpa ada beban, yang
terfikir dalam benakku hanyalah bagaimana setelah aku lulus nanti masih bisa
melihat wajah cantik nya Fira kapan pun dan dimana pun. Aku dan Fira menghadapi
semua ini dengan santai dan tentunya kita sering belajar bersama. “Dim, belajar
bareng yuk nanti di rumah aku. Mau ngga?” Ajak Fira. Aku hanya mengganguk tanda
mengiyakan ajakan Fira. Sepulang sekolah aku dan Fira belajar bersama dirumah Fira
yang rumahnya tidak begitu jauh dari sekolah. Seperti biasanya disela-sela
belajar, aku dan Fira meluangkan waktu untuk sharing satu sama lain baik masalah di sekolah sampai masalah hati
yaitu cinta. Tidak kerasa waktu sudah larut malam dan aku berpamitan pulang.
Kriiiiiiiing bel hari ini berbunyi dan menandakan bahwa Ujian Nasional
hari pertama akan dimulai. “Dim, semangat UN-nya. Jangan lupa baca bismillah
dulu sebelum ngerjain” kata Fira. “Iya Fir kamu juga ya semangat. Jangan lupa
juga berdoa” kataku. Fira hanya menganggukan kepala. Aku dan Fira satu ruangan.
Di dalam ruangan, kami terkadang melirik satu sama lain untuk memastikan
semuanya berjalan lancar. Hari demi hari berlalu, tanpa terasa hari ini sudah
hari terakhir ujian nasional. Aku dan Fira terlihat santai dihari terakhir
Ujian Nasional hari ini. Tetapi rasa bahagiaku tiba-tiba berubah menjadi rasa
kekhawatiran yang besar “mungkin hari ini adalah terakhir kalinya aku dan Fira
mengenakan seragam putih abu-abu dan mungkin ini terakhir kalinya aku bersama
dengan Fira” batinku.
Sebulan setelah Ujian Nasional
selesai. Tibalah pada saat penentuan kelulusan. Hari ini aku sudah janji akan
menjemput Fira untuk berangkat bareng kesekolah. Senin pagi ini cukup cerah dan
dengan cuaca yang lumayan sejuk. Aku sudah sampai di depan rumah Fira dan tidak
lama kemudian Fira keluar rumah hendak menghampiriku. “Dim maaf ya lama” kata
fira. “Iya nggak apa-apa Fir maklum cewek pasti dandannya lama hehehe” ledekku.
Fira hanya membalasnya dengan senyuman. “Yaudah yuk naik keburu siang Fir”
ajakku. Lalu kita berjalan menuju sekolah menggunakan sepeda motor dengan jarak
sekitar 45 menit dari rumah Fira. Sesampainya di sekolah, aku, Fira, dan
temanku yang lainnya menuju Auditorium sekolah untuk mengetahui hasil
kelulusan. Di dalam Auditorium ini suasanya panas bercampur dengan suara
gemuruh anak-anak yang menunggu keputusan hasil kelulusan. Tidak lama kemudian
kepala sekolah mengumumkan bahwa semua siswa kelas XII lulus 100%. Seketika kami
semua sangat bahagia dan tanpa disadari Fira langsung memelukku “Dim kita
lulus” katanya. Akupun terkejut mengetahui Fira sedang berada dalam pelukanku,
dengan rasa bahagia dan sedikit gerogi “iya Fir aku juga suka sama kamu” kataku
. “Lho kok kamu ngga nyambung Dim” ujar Fira.”Maaf Fir aku salah ngomong
sangking senengnya hehehe” kataku. “Hahaha iya gapapa kok Dim masih kaku aja
kan kita sahabatan udah lama “ ujar Fira. Aku mulai mengelus dada dan mengambil
nafas dalam-dalam akibat perkataanku yang keluar tidak sengaja tadi.
Dimalam yang turun hujan cukup
deras kali ini, aku duduk diteras rumahku. Memikirkan apa yang akan terjadi
kedepannya setelah lulus SMA. Aku bisa saja tidak bertemu lagi dengan Fira
karena beda Universitas. Semakin hari aku menyadari bahwa aku semakin mencintai
Fira. Aku mencintai Fira dalam diam di dalam hubungan persahabatan kami. Aku
berniat untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya tetapi aku takut jika aku
mengungkapkan apa yang aku rasakan, Fira justru akan pergi meninggalkanku. Aku
mengubur dalam dalam niatku untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. “Mungkin
belum tepat waktunya kalau aku bilang sekarang” ujarku dalam hati. Aku
memutuskan untuk masuk kedalam kamar dan beristirahat. Akupun terlelap dalam
tidurku.
Sampai akhirnya kita sudah mau masuk
perguruan tinggi. Aku dan Fira punya pilihan Universitas yang berbeda.
Sesungguhnya aku sangat khawatir apabila aku berbeda Universitas dengan Fira.
“Dim, nanti kalo seandainya kita beda kulaih kamu jangan lupain aku ya” kata Fira.
“Iya Fir aku ngga bakalan lupain kamu. Lagipula kita masih bisa ketemu kan
walaupun kita beda kuliah” kataku. “Aku takut Dim, aku ngga tau gimana esok
hari kalo aku ngga sama kamu. Aku kan kemana-mana sama kamu, aku takut juga
ngga ada yang bisa jagain aku kaya kamu ngejagain aku” katanya lirih. “Aku
pasti bakalan terus ngejagain kamu Fir meskipun aku ngga selalu ada didekat
kamu” kataku. Fira terlihat sangat sedih, dan aku berusaha untuk meyakinkan dia
kalau aku pasti akan selalu ada untuknya. Hari demi hari pun berlalu. Tiba
saatnya aku dan Fira harus benar-benar menerima kenyataan bahwa kita akan beda
Perguruan Tinggi. Aku melanjutkan kuliah di UIN dan Fira melanjutkan kuliahnya
di UP.
Aku memulai hari pertama ku
menjadi salah satu Mahasiswa di Universitas Islam Negeri , Jakarta. Dengan
lingkungan yang baru, teman baru dan suasana baru aku lewati tanpa kehadiran Fira
di sampingku. Diawal semester ini aku mulai sibuk dengan segala kegiatan kampus
baik kegiatan eksternal maupun internal. Tugas dan kegiatan di kampus
membuatku berfikir semakin kritis dan dewasa. Terkadang aku merasa sangat rindu
kepada Fira, itu juga yang membuatku terkadang sering melamun tapi semua itu
tidak jadi penghalang bagiku aku harus tetap focus mengejar gelar Strata 1 demi masa depanku.
Tugas yang
begitu banyak membuatku merasa lelah. “Biasanya kalo lagi ngga semangat gini
ada Fira yang nyemangatin aku tapi sekarang semua udah berbeda. Apa kabar ya Fira
di sana” kataku dalam hati. Aku berniat menelfon Fira malam ini untuk
menanyakan bagaimana kabarnya di sana. Tiba-tiba suara handphoneku berbunyi dan
kulihat nama Fira dilayar handphone ku. Aku langsung segera mengangkat
telfonnya. “Kebetulan sekali” kataku
“Assalamualaikum,
Dimas apa kabar?” Kata Fira dari sebrang sana
“Wa’alaikumsallam
Fir baik Alhamdulillah, kamu sendiri gimana kabarnya? Sehat sehat aja kan?” Jawabku
“Sehat Dim
aku juga. Gimana kuliah kamu? Besok kamu ada waktu buat ketemu aku ngga? Aku
punya banyak cerita nih. Aku juga kangen Dim sama kamu” katanya
“Yaudah Fir
aku besok bisa kok. Aku juga mau ketemu kamu,
kangen sama kamu udah lama ngga ngobrol bareng. Kebetulan ada sesuatu Fir
yang mau aku omongin sama kamu” jawabku
“Yaudah
besok ketemu ya Dim di tempat biasa jam 4 sore. Oke?” Kata Fira
“Oke Fir sampai
ketemu besok ya” kataku. Dan aku langsung mengakhiri percakapanku dengan Fira.
Sepertinya besok akan menjadi hari yang bahagia buat ku karena aku akan bertemu
dengan Fira, orang yang aku cintai. “Apa besok waktu yang tepat untukku
mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini sama Fira ya?” Kataku dalam hati.
Setelah memikirkan matang-matang, “Aku harus berani bilang sama Fira semuanya
besok sebelum semuanya terlambat” katanya tegas.
Hari yang ditunggu akhirnya
datang. Aku sudah menunggu Fira disebuah Cafe
yang biasa aku kunjungi dengannya semasa SMA. Aku sudah tidak sabar menunggu
kedatangan Fira. “Gimana ya Fira sekarang? Pasti dia tambah cantik” kataku
dalam hati. Sambil sesekali aku melirik jam tangan yang kugunakan ternyata
sudah 1 jam lamanya aku menunggu tetapi Fira tidak kunjung datang. Aku memesan
minuman terlebih dahulu sambil menunggu kedatangan Fira. Tidak lama kemudian
ada yang menepuk bahuku dari belakang seketika aku menoleh ke belakang ternyata
itu Fira. “Dim…… Maaf ya aku telat tadi macet banget di jalan soalnya tadi ada
yang kecelakaan diperempatan dekat sekolah “ ujar Fira. “Iya ngga apa-apa kok Fir
mau nunggu berapa lama pun aku bakal tungguin kamu kok aku kangen sama kamu Fir”
kataku. Lalu Fira duduk didepanku. “Kamu tambah cantik ya Fir” kataku. “Ah kamu
Dim, bisa aja. Kamu juga terlihat rapihan ya sekarang” katanya sedikit memujiku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Fira banyak cerita tentang kuliahnya,
lingkungan barunya dan hampir semuanya ia ceritakan dengan lengkap kepadaku.
Aku mendengarkan cerita Fira dengan setia seperti aku mencintainya dengan rasa
kesetiaan pula. Tak terasa sudah kurang lebih 2 jam kita bertukar cerita.
Akupun berniat untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya seperti yang sudah ku
pikirkan matang-matang semalam.
“Fir, ada
yang mau aku omongin sama kamu” kataku serius.
“Aku juga
mau ada yang aku omongin Dim” katanya.
Aku pun
menyuruh Fira duluan untuk ngomong. “Hm… gini Dim, a…aku udah punya pacar”
katanya.
Rasanya aku
ngga percaya sama apa yang aku dengar. Ini sangat menyakitkan. Baru saja aku
mau mengungkapkan apa yang aku rasakan selama ini kepada Fira tapi aku
terlambat, Fira sudah menjadi milik orang lain. Hatiku sangat hancur mendengar
semua kenyataan pait ini.
“Oh ya? Aku
ikut senang Fir. Kok baru cerita sekarang sih? Kapan kamu jadiannya?” Kataku
dengan berusaha terlihat baik-baik saja. Akhirnya Fira menceritakan bagaimana
dan kapan Fira dan laki-laki yang bernama Rangga itu menjalin hubungan.
Ternyata Rangga adalah senior Fira di kampusnya. Mereka kenal saat Rangga
menjadi salah satu panitia Ospeknya. Kurang lebih 3 bulan mereka dekat dan
akhirnya Rangga menyatakan cintanya kepada Fira dan Fira menerimanya. “Kamu mau
aku kenalin sama Rangga ngga Dim? Biar nanti dia kesini sekalian jemput aku”
kata Fira. Aku terdiam sebentar, aku masih benar-benar kaget dengan kenyataan
ini. “Dim. Kok kamu bengong?” Fira membangunkan lamunanku. “Eh, i…iya Fir
boleh” kataku singkat. Lalu Fira mengambil handphonenya dan menelfon Rangga
untuk menjemputnya disini. 1 jam kemudian, Rangga sudah sampai disini. “Rangga
sini” panggil Fira kepada Rangga yang sedang mencari cari Fira. Lalu Rangga pun
menghampiri kita berdua. “Dim, kenalin ini Rangga pacarku. Ga ini Dimas
sahabatku yang sering aku ceritain sama kamu” kata Fira sambil mengenalkan kami
berdua. Akhirnya kami pun berkenalan, Rangga duduk d isamping Fira. Kita
bertiga mengobrol cukup lama dan tidak terasa hari sudah larut. Aku, Fira dan Rangga
berniat untuk pulang. “Dim aku pulang ya. Makasih udah sempetin waktu buat
ketemu sama aku. Kita harus sering ketemu ya Dim jangan sombong kamu ya. Oh iya
kalau bisa pas kita ketemu lagi kamu udah bawa pacar kamu ya biar kita bisa
sekalian double date hehehe” kata Fira.
“Iya Fir sama-sama. Makasih juga ya waktunya. Kamu jaga diri baik-baik Fir
jangan telat makan ya inget kamu punya penyakit maag lho Fir pokoknya jaga
kesehatan kamu ya. Sekarang kan kamu udah punya Rangga yang bisa selalu ingetin
kamu jangan telat makan. Aku udah tergantikan nih? Hehehe” kataku meledek. “Ngga
Dim kamu ngga tergantikan sama siapapun. Kamu selalu dihati aku Dim. Kamu
sahabat terbaikku” katanya dengan lembut. Aku hanya membalasnya dengan
senyuman.
“Ga jaga Fira
baik-baik ya. Jangan pernah kecewain dia. Kalo lu sakitin dia, lu berhadapan
sama gua. Ingetin Fira terus supaya dia ngga telat makan Ga dia suka
nunda-nunda makan tuh” kataku memberi pesan ke Rangga sebelum mereka pergi. “Pasti
Dim, gua pasti bakalan selalu jagain Fira kaya lu dulu yang selalu jagain Fira”
kata Rangga dengan yakin. Dan mereka pun berpamitan pulang duluan, aku
mengantar mereka sampai parkiran. “Dim telfon aku kalo udah dirumah ya” kata
Fira, aku hanya mengangguk dan Fira bergegas pergi menggunakan mobil BMW putih
milik Rangga.
Dimalam yang terasa sangat
dingin tidak seperti biasanya ini, aku mengendari sepeda motorku dengan
kecepatan yang tidak normal. Aku masih shock
dengan apa yang aku dapat hari ini. Sebuah penyesalan yang sekarang sudah
benar-benar tidak bisa aku rubah. Gadis yang sangat aku cintai sudah memiliki
pujaan hati. Aku terlambat untuk mendapatkan cintanya. Aku menyesal dahulu
selalu menyia-nyiakan waktu yang aku punya bersama Fira. Dulu waktuku dengannya
sangat banyak dan aku tidak pernah berani untuk mengungkapkan apa yang aku
rasakan. Namun sekarang, setelah aku fikir ini waktunya. Semuanya terlambat, Fira
sudah menjadi milik orang lain. Penyesalan itu memang datang terakhir. Mungkin
kalau penyesalan itu datang diawal, semua orang didunia sudah bahagia. Kasih
ini pun tak sampai. Aku dan Fira tetap menjadi sahabat untuk selamanya.






1 comments:
Nah, lagi-lagi saya seperti membaca cerita pribadi. Coba tambahkan konflik yang lebih menantang. Perhatikan penulisan di- masih ada yang kurang tepat.
Post a Comment