Kamis, 13 Februari 2014.
Sekitar pukul 23.40 aku merasa jantungku tak menjalankan tugasnya dengan baik. Tidak
kurasakan lagi detakan hebat seperti di menit sebelumnya. Aku seperti dikurung
diruangan yang sangat kecil tanpa ada oksigen. Sulit bagiku untuk mengambil
nafas. Sesak sekali rasanya. Ini kali pertama dalam seumur hidupku merasakan
seperti ini.
Di pagi hari yang cerah aku membuatkan secangkir
susu untuk bidadariku. Saat itu matanya masih terpejam. Kudekatkan kepalaku di
telinganya, lalu kupanggil namanya dengan suara lembut. Kukira ia masih terjaga
dalam tidurnya, tetapi ia memberiku respon. Mungkin karna pengaruh obat pereda
nyeri yang diberikan oleh suster semalam yang membuat matanya selalu terpejam
seperti tertidur. Aku memberitahunya bahwa aku sudah membuatkan susu hangat
untuknya. Lalu kusuapkan susu itu dengan
sangat hati-hati. Aku takut ia tersedak karna posisinya sedang berbaring. Sedih
sekali rasanya menyuapkan susu hanya dengan takaran seujung sendok. Mana mungkin
ia bisa merasa kenyang kalau beberapa hari ini asupan yang masuk hanyalah
secangkir susu. Itupun hanya seperempat dari yang kubuat. Tak kuasa aku menahan
air mata ini.
Salah satu perawat datang
untuk memeriksa kondisi bidadariku. Ketika ia sedang memeriksa tensi tubuh
bidadariku, aku bertanya kepadanya “Sus, ini gak papa kan aku suapin susu
sedikt-sedikit? Soalnya dari yang dikasih obat pereda nyeri jadi kayak tidur
terus, tapi pas aku suapin susu sedikit-sedikit bisa di telan”. “Jangan deh mba, takutnya nanti ibu malah
tersedak kan bahaya. Ini kan udah dibantu sama infus, jadi gak akan kekurangan
asupan” suster menjawab. “Oh yaudah kalau gitu aku mau infusannya diganti pake
aminofluid ya sus, supaya lebih banyak asupan yang masuk” aku menjawab dengan
tegas.
Aku sangat
mengkhawatirkan kondisi bidadariku. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi
kepadanya. Aku tidak ingin ia kekurangan asupan yang membuatnya semakin lemah
tak berdaya. Aku ingin melepas obat pereda nyeri yang menempel ditubuhnya supaya ia membuka mata
dan tersadar kembali. Aku ingin menyuapinya makanan. Namun, jika aku melepas
obat pereda nyeri itu ia akan merasakan sakit yang luar biasa. Ia tidak akan
mungkin bisa memejamnkan mata setenang ini. Aku tidak bisa melihatnya menahan
kesakitan, tetapi aku juga tidak bisa melihatnya seperti ini. Apa yang bisa aku
lakukan? Andai aku bisa menukar posisi ini, bidadariku.
Matahari sudah mulai bergeser menurunkan
posisinya ke arah Timur, tetapi bidadariku masih memejamkan matanya.
Kubangunkan dengan perlahan namun kali ini tak ada respon. Kekhawatiranku pun
semakin menjadi. Apa yang harus aku lakukan supaya bidadariku membuka mata
tanpa harus merasakan kesakitan. Aku ingin menyuapinya makan, tetapi kalau ia
masih memejamkan mata dan tidak meresponku bagaimana aku menyuapinya.
Sanak saudara berdatangan
menengok kondisi bidadariku. Mereka semua tak kuasa menahan kesedihan. Kemudian
kami menunaikan sholat Maghrib dan membacakan ayat suci Al-Quran serta doa
untuk kesembuhan bidadariku. Sampai saat ini bidadariku belum juga membuka
matanya. Aku duduk di samping bidadariku. Tak ingin sedetik pun aku beranjak
pergi meninggalkannya. Kubisikkan ayat-ayat suci Al-Quran sambil sesekali
memanggil namanya.
Adzan Isya berkumandang.
Selesai aku menunaikan sholat Isya, aku berdoa kepada Allah SWT. Aku memohon
kepada-Nya untuk memberikan kuasa-Nya kepada bidadariku. Jangan ambil
bidadariku. Aku belum siap dan aku tidak akan pernah siap. Jangan pisahkan
kami. Aku berjanji akan terus merawat dan menjaga bidadariku dengan sebaik-baiknya.
Tak peduli sampai kapan aku menemani dan merawatnya asalkan kami tidak
dipisahkan. Aku sangat menyayanginya.
Bagaimana bisa aku menjalani
hidup ini tanpa didampingin olehnya. Bagaimana bisa aku tidak menceritakan
semua yang aku alami kepadanya. Bagaimana bisa aku mengurus diriku sendiri yang
selalu diberi arahan dan bimbingan olehnya. Bagaimana bisa aku tidak menciumnya
sehari saja. Bagaimana bisa aku tidak menjaili dan bersenda gurau sehari saja
dengannya. Bagaimana bisa aku membuat keputusan sendiri. Bagaimana bisa aku
hidup tanpanya. Dia bidadariku. Dia pahlawanku. Dia sahabatku. Dia teman setia
berbagi ceritaku. Dia yang selalu menemaniku selama ini. Dia yang selalu
memarahiku jika aku melakukan kesalahan. Dia yang selalu menjagaku dari segala
macam bahaya. Dia yang melindungiku di saat aku sakit. Dia yang selalu ada
untukku. Dia segalanya bagiku.
Setelah selesai aku kembali
duduk di samping bidadariku. Kugenggam tangannya dan aku cium berkali-kali.
Terbesit dipikirannku apakah ini genggaman dan ciuman yang terakhir kalinya.
Bagaimana kalau aku tidak bisa menggenggam dan mencium tangannya lagi. Langsung
kualihkan pikiranku. Aku tidak boleh berfikiran yang tidak-tidak. Semua ini
akan berakhir. Bidadariku akan kembali seperti dulu lagi.
Tangannya masih berada di
genggamanku. Terasa begitu hangat. Namun tidak lama kemudian aku merasakan
dingin di jari-jarinya. Aku langsung memberitahu Ayahku yang berada
disampingku. Aku tanyakan kepadanya mengapa tangan bidadariku sekarang terasa
dingin. Ayahku mencoba menenangkanku. Namun tangisku semakin tak terkendali.
Dengan sangat erat aku menggenggam tangan bidadariku agar ia tidak merasa
kedinginan. Kemudian Ayahku mengucapkan sesuatu ditelinga bidadariku dengan
suara yang sangat lembut dan hati yang berat. Selesai Ayahku berbicara, dia
menyuruh kakakku untuk meminta maaf kepada bidadariku. Dan yang terakhir akupun
dimintanya seperti itu.
“Ayo de!”
“Gak bisa yah” terisak
tangis.
“Kasian mimihnya de,
ayo!”
“Mimih, maafin amel ya.
Amel belum maksimal ngurusin Mimih. Amel udah ikhlas kalau emang Mimih mau pergi.
Amel ngikhlasin bukan karna Amel gak sayang sama mimih. Bukan karna Amel gak
mau ngurusin dan ngerawat Mimih lagi. Amel sayang banget sama Mimih. Tapi Amel
gak tega liat Mimih kayak gini. Liat Mimih nahan sakit terus. Udah terlalu lama
Mimih ngerasain sakit yang orang lain belum tentu sekuat Mimih. Mimih gak usah
mikirin Amel. Masih ada Ayah sama Aa yang bakal jagain Amel.” tangisku semakin
meluap.
Tidak ada satu menit
setelah aku berucap seperti itu, bidadariku menghembuskan nafas terakhirnya.
Langsung kupeluk tubuhnya dan kucium wajahnya. Kulihat wajah cantiknya yang
terlihat cerah dengan ukiran senyum manis. Itulah yang membuat tangisku
terhenti dan membalas senyum ke wajahnya. Tidak ada yang menangis di ruangan
itu. Semua nangis terhenti dan tersenyum melihat senyum cantik bidadariku.
Aku sangat tidak
mempercayai apa yang telah terjadi saat itu. Aku menganggap semua ini adalah
mimpi buruk. Dan sampai detik ini pun aku masih menganggap bahwa semua ini
hanyalah sebuah mimpi. Tolong bangunkan aku agar mimpi buruk ini segera
berakhir.
![]() |







0 comments:
Post a Comment