Bayang-Bayang Catur
Warna
Hhhh…
letih terlambat menggeliat didesahku. Malam itu hujan turun begitu deras
membasahi tubuh ini, rintik hujan tak mampu menghentikan langkah kecil seorang
wanita yang berjalan menuju sebuah keyakinan, dinginnya udara perlahan memberontak
masuk seperti menyusup kedalam pori-pori kulit. Diam, terpaku, entah apa yang harus kulakukan rasanya tubuh ini sudah kaku
dan terasa lagi, untuk merasakan detak nadikupun aku tak sanggup. Hanya air
mata yang setia menemani perjalanan ini. Aku seperti sedang berlari jauh
sekali, tanpa arah tampa tujuan. Ya, seperti tengah mencoba berdiri tanpa menggunakan
kaki, mencoba melihat tanpa menggunakan mata dan mencoba mendengar tanpa
menggunakan telinga. BODOH!
”Luh!..Luh.. banguuuun Luh bangun!” Kriiiing..kriiing..kriing..
suara keras itu memecah suasana. Jam wekerku memuntahkan suaranya. Waktu tepat
menunjukan pukul enam WITA . Aku tersentak dan sadar. Mimpi itu, ”Luh cepat mandi
sudah siang!” Panggil ibu. ”Ya mbok aku sudah bangun,” jawabku. Aku bergegas
bangun dan merapikan tempat tidur. Mentari pagi ini begitu cerah memancarkan
sinarnya. Seperti biasa, setiap pagi aku harus menyiapkan sesajen berupa bunga
dan makanan untuk Sang Hyang Widhi. Namaku Anak Agung Putu Widyana, Luh begitu
mereka biasa memanggilku, panggilan untuk anak perempuan di desa kami.
”Luh, Ibu masuk ke kamarku, dengan memakai
kemben songket dan kancrik sehelai selendang sebagai penutup tubuh, dengan
sabuk prada dan sanggul lengkap dengan tiara di rambutnya.” Nampaknya ibu sudah
siap untuk bersembahyang di Pura, ”Ya mbok, jawabku.” ”Cepat nak, apa kau sudah
siapkan sesajen?” tanyanya ibu. ”Sudah mbok, akan kubawa sesajen ini ke halaman
rumah,” jawabku. Sambil menuju ke halaman rumah. ”Luh, Bli sudah menuggu kita
di Pura, Kau akan pergi bersama si mbok tidak Luh?” ”Tidak usah menungguku mbok
aku akan segera menyusul kesana.” Sebelum melaksanakan segala aktifitas kami
terbiasa melaksanakan sembahyang di Pura Penataran.
Sesampainya di Pura, semua terlihat sangat
hikmat, satu persatu orang-orang memanjatkan doa dan memberi sesembahan kepada
Sang Hyang Widhi, tidak ada suara bising kendaraan yang terdengar. Ya, karena
desa kami jauh dari keramain dan hiruk pikuk kota, Desa Panglipuran, Kabupaten
Bangli. Yang terasa disini hanya udara sejuk dan asri, terlihat rumput yang
berbaris di kanan dan kiri jalan, rumah-rumah bepagar bambu dan jalan utama
yang berbatu membagi desa menjadi tiga bagian seperti konsep Tri Hita.
Selesai sembahyang, aku duduk di teras
Pura menikmati suasana pagi, kualihkan pandanganku pada seorang pria yang
tengah berdiri disudut Pura, ”Wayan, panggilku.” ”Widya, Wayan berjalan
menghampiriku, sudah lama sekali kita tidak bertemu, selepas SMA tiga tahun
lalu, bukan? Apa kabar kau sekarang Widya?” tanyanya padaku. ”Aku baik, kemana
saja kau Wayan?” katanya kau pindah untuk melanjutkan study ke Universitas Udayana ya? ”Ah.. itu hanya wacana awalku saja
Widya,” mungkin kau salah dengar bukan Univesitas Udayana tapi UGD, Universitas
Gadjah Duduk. ”Ya aku diterima di Fakultas Kedokteran Hewan, sayangnya,”
jurusan spesialis penyakit Bagong. Jadi, tak kuambil, sekarang aku hanya bisa mengambil
hikmahnya saja Widya.
”Hahahaha... tawaku, ah kau ini tak pernah berubah
Wayan, masih sama seperti dulu dengan kekonyolanmu,” ”Jelas aku tidak pernah
berubah, aku bukan power ranger,” perasaanku padamupun tak pernah berubah masih
sama seperti dulu.
”Ah, bicara apa kau ini. lalu, kemana saja kau
selama ini Wayan?”
”Aku pindah ke kintamani, membantu ibuku berjualan
minuman Cem-ceman dan Selombotan.”
Tidak lama, Ibu datang dan menyuruhku pulang,
”Luh, Cepat pulang! bantu ibu memasak di rumah!” ”Ya mbok, Jawabku dengan nada
gugup.”
”Ibumu masih sama seperti dulu ya Widya, selalu
menatapku dengan penuh geram, seperti ingin menelanku saja.” ”Sudah dulu ya
Wayan, kalau ada waktu mampir kerumahku,” ucapku sambil tersenyum mengakhiri
pembicaraan.
Seperti teringat kembali akan
bayang-bayang catur warna yang pernah melekat dalam ingatan, semua memori yang
seharusnya sudah tersimpan rapi. Bayang-bayang Catur Warna itu kembali menyayat
hati dan fikiranku. Dulu, dalam tidur malamku selalu sesak dipenuhi oleh
bayangmu, pertemuan yang tak terjamah, ratap perih menggema dalam benakku .
Ingin pergi ingin lewati ingin rasanya ku akhiri namun aku hanya terkurung dalam perasaan hampa
berkecamuk rindu.
Sewaktu selepas SMA dulu, aku pernah
menyimpan rasa pada Wayan, Aku dan Wayan pernah bersama dalam satu cerita.
Dulu, aku menaruh harapan pada Wayan, kami saling mencintai, namun catur warna
kami berbeda, aku terlahir dari keluarga berkasta Ksatria sedangkan Wayan hanya
berkasta Sudra. Dalam adat kami, seorang perempuan setelah menikah maka
Kastanya akan bergabung dengan suaminya. Jika aku menikah denga Wayan maka aku
akan turun Kasta. Ibuku tak pernah menyetujui hubungan kami, namun rasa cinta
ini terlalu dalam.
Wayan pernah berkata padaku sebelum ia
pergi dan menetap di Kintamani, ”Widya, kau mencintai namun aku bukan cinta,
jika kau ragukan sudah jangan kau paksakan, terlalu banyak ruang tertutup yang
tak bisa kubuka dan kebersamaan hanya memperbanyak ruang tertutup.” Mungkin kita
memang tidak pernah ditakdirkan untuk saling berdampingan. Seperti membirukan
senja yang merah semua tak kan mungkin terjadi.
”Aku mencintaimu Wayan, aku tak peduli dengan
perbedaan diantara kita, mengapa kau membiarkanku berjuang sendiri? Tak
ingatkahkau akan semua kata-kata manismu, janji suci yang akan kau ucapkan
padaku? Kau Wayan, Kau yang akan dengan sabar mengingatkanku tentang semua
memori indah kita saat aku sudah menua dan lupa nanti, dan aku Wayan yang akan
tetap membuatkan masakan kesukaanmu walau aku sudah tak mampu membuatnya.” ”Aku
tahu diri Widya, semua tak akan mungkin,” sudahlah lupakan saja semua itu,
biarkan saja semua menjadi kenangan yang mungkin tak kan terlupa sampai aku
menua. ”Aku ini hanya manusia jalang dari keluarga Sudra dan kau gadis
terhormat dari para Ksatria.”
Widya meneteskan air mata, ”Ya dewata, mengapa
catur warna kami berbeda? Bukankah dimatamu kami semua sama?” Ingin sekali
rasanya kuhancurkan sekat itu, karena rasa ketidakadilan bukanlah lembaran baru
yang harus mulai aku tulis untuk pertama kalinya. Namun semua itu sudah ada
mejadi catatan indah di masa yang lalu.
”Widya, aku juga mencintaimu, Wayan
mencoba menenangkan perasaan Widya, dengarkan aku Widya, apapun kebahagiaanmu
adalah sebaik-baiknya bahagiaku. Kelak, saat tangaku tak lagi mampu memelukmu,
kakiku tak lagi sejalan denganmu, mataku tak lagi mampu menatap matamu ketika
tubuh ini tak bisa lagi menjagamu. Percayalah doaku akan tetap setia mengiringi
setiap langkahmu dan di saat kau terbangun di pagi yang tampa aku lagi,
ingatlah saja bahwa matahari akan tetap bersinar menerangi jalanmu dalam
melangkah, berjanjilah padaku untuk selalu ada senyum itu disetiap hari-harimu.
”
Malam yang bisu seaka menjadi sanksi perpisahan
diantara kami, Tampa pelukan juga tampa lambaian tangan.






0 comments:
Post a Comment