JODOH
TERBAIK
Namaku
Munaroh, aku anak keenam dari sepuluh bersaudara. Termasuk jumlah yang banyak,
inilah kami keluarga besar. Jarak antara satu dengan yang lainnya hanya satu
hingga dua tahun. Aku asli dari Jakarta, karna orangtuaku asli dari Jakarta dan
aku lahir di Jakarta. Ibuku berasal dari Jati Padang daerah Pasar Minggu
Jakarta Selatan sedangkan ayahku berasal dari Kampung Pedurenan yang berlokasi
di Jakarta Selatan juga.
Di
tempat tinggalku, Kampung Pedurenan (yang
lebih dikenal dengan Kemang) sudah sangat
modern terasa sekali arus globalisasi yang sangat kencang. Di sepanjang jalan
Kampung Pedurenan kita dapat melihat café,
club, restaurant dan tempat hiburan lainnya. Disiang hari yang dapat
dilihat hanyalah jalan raya yang lancar berbeda pada malam hari terlebih pada
malam hari libur, jalan raya berubah menjadi ramai cenderung padat dikarenakan
banyak mobil yang parkir di sisi jalan. Suara musik yang terdengar hingga jalan
raya dipadu dengan gemerlap cahaya lampu yang berwarna-warni. Penampilan
pengunjung pun bermacam-macam mulai dari yang sangat tertutup hingga yang
kekurangan bahan. Inilah suasana yang
aku lalui sesudah aku pulang dari tempat kerjaku. Aku bekerja di Rumah Makan pagi sore posisiku sebagai manager operational. Jam menujukan pukul delapan malam suasana
malam di jalan Kampung Peduranan memang sangat ramai berbeda sekali pada saat
aku mulai memasuki gang rumahku suasana sepi dan sunyi yang aku hadapi. Aku
mulai mempercepat laju kendaraanku hingga aku sampai di depan rumahku. “assalamu’alaikum, emak aye pulang.”
sambil kuketuk pintu, terdengar suara dari dalam “wa’alaiumsalam, Alhamdulillah
ude sampe lu neng.” Jawab ibuku. Masuklah
aku ke dalam rumah aku letakkan tas dan mengganti pakaian. “gimane kerjanye lancar kagak?”Tanya ibuku. “lancar mak Alhamdulillah, babeh mana mak?” aku
bertanya. “nape lu manggil-manggil gue?”
datanglah ayah dari kamarnya “ih babeh
ngagetin aje, orang aye nanya doang hahaha.” Aku menjawab “et dah nih bocah disangke ada paan, tadi si
Rojali ampir kemari nyariin elu.”kata ayah. “Rojali yang anaknye sepupu babe?” aku bertanya “iye,
kayaknye mau serius dia ama elu.”kata ayah. “udeh ah aye masuk kamar dulu ya
beh.” Kataku sambil jalan menuju ke kamar. Kututup pintu kamar tidurku,
kurebahkan badanku ada perlu apa Rojali hingga mencariku. Rojali nama yang
sering kudengar dari ayah namun aku belum pernah melihat dia secara langsung. Ponselku
berbunyi kulihat ternyata ada panggilan dari Ghaziel, seorang laki-laki yang
aku kenal enam tahun yang lalu. Aku mengenalnya ketika kami masih kuliah di
Akademi Pariwisata Paradise, saat ini dia menjadi kepala chef di kapal pesiar tubuhnya tinggi parasnya menarik ditambah lagi
sikapnya yang baik hati dan pengertian dialah lelaki yang berhasil mencuri
hatiku. Langsung aku angkat panggilan dari Ghaziel “hallo”kataku “halo, kamu
lagi ngapain?udah makan?”jawab Ghaziel dengan suara khasnya. “udah ko, kamu
gimana?”kataku. “udah juga dong hehehe”jawab Ghaziel “ih malah ketawa, gimana
kerjanya?kamu sekarang lagi di daerah mana?”tanyaku “aku baru selesai masak,
aku udah sampai di pelabuhan Marina, kamu lagi apa?” kata Ghaziel
“Alhamdulillah, aku lagi tiduran aja nih”jawab aku. “kapan aku bisa menemui
kamu?”Tanya Ghaziel “kalo aku sih besok free”
jawabku “yaudah besok aku jemput kamu ya jam sebelas pagi, see you”jawab Ghaziel “okedeh,
see you too” jawabku hpku pun
kumatikan. Tak sabar kumenunggu esok hari, aku akan menemui lelaki yang mencuri
hatiku sudah tiga bulan aku tidak menemui dirinya karna dirinya yang berlayar
mengarungi samudra.
Kukuruyukk.
Terdengar suara ayam jago peliharaan adikku. Kandangnya di letakkan tepat di
belakang kamarku sehingga suara ayam jago terdengar jelas dari kamarku. Jam di
dinding menunjukan pukul lima pagi , bangunlah aku dari tidurku. Beranjak aku
dari tempat tidurku segera aku mandi dan tak lupa berwudu untuk menunaikan salat
subuh. Kulihat ibuku sedang salat berjamaah bersama ayahku. Sehabis salat subuh, aku memasak sarapan untuk
keempat adikku dan kedua orangtuaku. Sarapan telah siap jam dinding menunjukan
jam tujuh pagi, bila hari aktif adik-adikku sudah rapih mengenakan pakaian
seragam siap untuk berangkat sekolah dan kuliah. Karna sekarang hari sabtu
adik-adikku sedang tertidur pulas di kamarnya masing-masing, bila hari libur
adik-adikku sehabis salat subuh langsung melanjutkan tidurnya kembali.
Kubangunkan mereka dan kami pun sarapan bersama.
Matahari
mulai menampakan diri langit pun berubah warna dari gelap menuju terang. Jam
menunjukkan jam 10 pagi segera kuganti pakaian . Aku menggunakan dress panjang bermotif bunga dan
kupadukan dengan jilbab berwarna merah muda. “assalamu’alaikum.” Suara Ghaziel “wa’alaikumsalam.”jawab
aku sambil membukakan pintu. “emak sama babeh mana?” Tanya Ghaziel
“duduk dulu, sebentar aku panggilin dulu ya” sambil jalan memasuki rumah aku
panggil ayah dan ibuku “beh, emak ada
Ghaziel mau ketemu babeh sama emak” kata aku. “gue ribet ni, emak lu aje noh.” Kata ayah sambil masuk ke kamarnya.
Seperti biasa ayah tidak mau menemui Ghaziel karna pekerjaan Ghaziel yang
memiliki kesan negatif ayah beranggapan bahwa kehidupan di kapal pesiar
dipenuhi dengan hal-hal yang negatif. Menurut ayah di kapal pesiar banyak
perempuan bayaran dan minuman beralkohol
aku tidak bisa membenarkan ataupun menyalahkan prasangka ayah karna di
kapal pesiar memang dipenuhi dengan hal-hal negatif tersebut namun aku percaya
dengan Ghaziel. “yaude sini emak aje yang
nemuin.” Jawab emak sambil melangkah menuju ruang tamu. “tante assalamu”alaikum” kata Ghaziel sambil
bersalaman dengan ibu “wa’alaikumsalam,
eh baru dateng yang tong”jawab emak
sambil duduk “iya tante saya baru sampai di Jakarta, tante gimana kabarnya?
Saya ada sedikit oleh-oleh buat keluarga sini tante.” Sambil memberikan dua paperbag yang bertuliskan Netherlands “bae alhamdulillah, eh makasih ya tong” sambil menerima pemberian
Ghaziel. “tante saya izin mau ngajak anak tante jalan-jalan,” kata Ghaziel “oh
yaudah silahkan tapi jangan pulang malem-malem ya maksimal jam delapan ude sampe rumah” kata ibu ku “iya siap
tante.” Kata Ghaziel “jalan dulu ya mak
“ sambil bersalaman dan beranjak keluar dari rumah. “ayuk naik.”sambil
membukakan pintu mobil Toyota Type Fortuner berwana putih susu. “makasih” kata
aku sambil menaiki kursi yang letaknya di depan. “kita langsung pergi ke tempat
makan langganan kita ya”kata Ghaziel “okedeh” sahutku. Aku menghabiskan waktu
bersama Ghaziel dengan canda dan tawa tidak terasa jam sudah menunjukan pukul
lima sore. Segera Ghaziel mengantarku pulang. Sesampainya di rumah Ghaziel
pamit kepada ibuku lalu pulang. Aku pun memasuki rumah ayah sedang duduk di
ruang keluarga bersama adik-adikku aku pun bersalaman dengan ayah. “munaroh babeh pengen ngomong ame lu,
ganti baju lu babe tunggu di ruang
tamu ye.” Kata ayah. “iya beh.” Sahut aku, jantung ini berdetak dengan cepat
tidak biasanya ayah mengajakku bicara hanya empat mata apakah ayah akan
membahas tentang Ghaziel.
Segera
aku mengganti baju dan menuju ruang tamu, di ruang tamu ayah sudah duduk di
kursi berwarna merah. Aku menduduki kursi yang tepat berada 180 derajat dari
tempat ayah duduk. “kenapa beh? tumben ngajak
aye ngobrol begini.”kataku membuka pembicaraan “gini neng, babeh kagak demen
kalo lu besukean ama si gojil. Tadi siang Rojali ampir kemari nyariin lu lagi, gue bilang ke dia klo besok lu
ade di rumah jangan kemana-mana lu.”
Kata ayah “apaan gojil si beh orang
Ghaziel, pan aye cuma demen ame Ghaziel
beh aye males ah ketemu Rojali.”
Jawabku “pokoknye besok lu kudu temuin
si Rojali, kagak pake becingcong lagi.”
Perintah ayah sambil berlalu keluar dari rumah. Aku hanya bisa terdiam. Apa
yang harus aku lakukan aku belum pernah bertemu Rojali sebelumya saat ini yang
aku inginkan hanya Ghaziel. Kring kring Hpku
berbunyi kulihat layar hpku ternyata dari
Ghaziel. Sengaja aku tidak mengangkat poselku. Jalanlah aku ke kamar dan ku
hempaskan badanku ke tempat tidurku jam dinding menunjukan jam sepuluh malam kututup
mataku.
Seperti
biasa ayam berkokok , kujalani aktivitas pagiku. Di meja makan “ntar siang Rojali kemari lu dandan sono biar cakep.”kata ayah “males ah beh.”jawabku “teserah lu
dah!.”kata ayah. Inilah kalimat yang
paling aku takuti karna itu berarti ayah sudah marah denganku yang kulakukan
hanya diam dan menuruti perintah ayah.
Matahari tepat berada di atas rumahku panas sudah mulai terasa hingga
dalam rumah. “assalamu’alaikum” terdengar suara laki-laki yang berasal dari
luar rumah. “wa’alaikumsalam, eh Rojali
duduk dah bentar ye babeh panggil si Munaroh dulu.”jawab ayah yang memang
sedang menunggu kedatangannya di ruang tamu derap langkah ayah terdengar
memasuki rumah. Ayah menghampiriku dan menyuruhku untuk keluar. Aku langkahkan
kakiku keluar rumah aku melihat seorang laki-laki yang lebih tinggi dariku
mukanya manis dan senyumnya menawan. Walaupun dia indah aku tetap mencintai
Ghaziel. Kami berbicara di ruang tamu aku hanya menjawab pertanyaan yang Rojali
berikan padaku tanpa memberikan pertanyaan kepada Rojali. Ayahlah yang lebih
aktif menanyakan aktivitas dan pekerjaan Rojali, ternyata Rojali merupakan seorang
pengajar di pesantren milik ayah Rojali. Dia anak semata wayang ternyata ayah
ingin aku dekat karna Rojali orang yang sangat agamis. Kedatangan selanjutnya
Rojali mengungkapkan maksud untuk serius denganku sudah lama dia mengenalku dari
ayah dan orangtunya sangat setuju dengan pernikahan ini. Aku hanya bisa diam,
sedangkan ayah dengan senang menerima maksud Rojali. Sepulangnya Rojali “beh aye ogah kawin ame die. Aye pengennya
Ghaziel.” Kataku sambil menitikkan air mata “babeh kagak mau tau lu mesti ame die, apaan si gojil kagak bener tuh.”bentak
ayah, langsung aku masuk kamar dan
menelepon Ghaziel “hallo” suara Ghaziel terdengar “aku dijodohin ziel sama
orang lain.”sambil terdesak aku katakana ke Ghaziel “apa!kok bisa?sebelum dia
lamar, aku lamar kamu duluan.” Suara Ghaziel dari sana “gak bisa zil, ayah udah
kasih lampu merah ke kamu.”jawabku langsung kututup telponku.
Rojali
dan keluargaya datang ke rumahku datang melamarku dengan membawa hantaran
sirih, pisang raja, roti tawar, bahan baju dan hadiah lainnya, keluargaku pun
bersuka ria sedangkan aku hanya bisa tersenyum dari luar dalam hatiku menangis.
Sesudah acara selesai aku masuk ke kamar suara hpku berdering aku angkat
panggilan dari Ghaziel. “zil, tadi aku habis dilamar sama Rojali, kamu udah di
Jakarta?”Tanyaku. “aku udah di Jakarta kok, yaudah kamu ikut aku berlayar, kalo begitu kan aku bisa bareng kamu
terus.”jawab Ghaziel “aku pikirin dulu ya”jawabku “aku tunggu jawaban
kamu”terdengar suara Ghaziel sambil menutup ponselnya.
Saat
keesokan harinya, aku duduk tepat di samping ayah “beh, aye kagak mau kawin ame
rojali.”aku mulai pembicaraan “kagak bisa, minggu depan keluarga Rojali mau
kemari Bawa Tande Putus (prosesi pengikatan dengan cincin).” Kata ayah “aye mau
kabur aje.” Kataku “aduh” teriakan ayah sambil memegang dadanya di sebelah
kiri. “emak” teriakan ku. Ibu langsung berlari menuju ayah dengan panik “cepat
telepon rumah sakit.” Teriak ibuku. Aku telepon ambulans sepuluh menit kemudian
ambulans membawa ayahku menuju rumah sakit terdekat. Ayah sekarang berada di
kamar rawat inap, ayah sedang tidur di kasur rumah sakit yang berwarna hijau
di dada ayah dipasangi alat untuk mengetahui detak jantung ayah yang
ditampilkan di monitor. Di hidungnya diberikan alat untuk membantu proses
pernapasan ayah di tangan kiri ayah tertancap infus. “kamu anaknya?” Tanya
dokter. “iya dok, ayah saya kenapa dok?” tanyaku. “ayah anda mengalami stroke jangan buat ayah kamu terkejut,
semoga keadaanya bisa stabil.”kata dokter. “tapi ayah saya akan membaik kan
dok?”tanyaku “semoga strokenya tidak
menyerang saraf, karna apabila terkena saraf jalan dan pembicaraanya bisa
terganggu, saya permisi dulu ya.”jawab dokter sambil pergi meninggalkan kamar
ayah. Akupun menjaga ayah di rumah sakit sedangkan ibuku pulang untuk mengurusi
adik-adikku. Keesokan harinya ayah sadar “beh
maafin aye, lupain yang semalem ya beh. Aye mau nikah sama Rojali.”kataku
sambil menangis, ayah mengusap air mata dipipiku sambil berkata “maafin babeh ye, babeh yakin Rojali jodoh
terbaik lu.”
Perbuatan
yang telah aku lakukan sangatlah bodoh aku hampir membunuh ayahku. Aku tidak
mau kehilangan ayahku karna keputusanku yang egois. Kupencet digit di ponselku
“hallo munaroh, gimana?aku jemput kamu ya.”kata Ghaziel “bukan itu, aku gak
bisa pergi sama kamu.” Jawabku “loh ?kamu uda gak cinta sama aku?”jawab Ghaziel
“aku cuma cinta kamu saat ini, tapi aku gak bisa, aku minta pengertiannya. Aku
harap kamu bahagia disana.” Sambil kututup telepon.
Inilah
keputusanku aku lebih memilih ayahku dibandingkan dengan lelaki yang aku cintai.
Semoga ini merupakan keputusan yang paling baik. Aku berhasil membahagiakan
keluargaku, Rojali dan keluarga Rojali disisi lain aku menyakiti lelaki yang kucintai
serta hatiku yang masih terluka. Setelah proses melamar selanjutnya proses Bawe Tande Putus yaitu keluarganya
rojali datang ke rumahku ibunya Rojali memakaikan aku cincin di jari manisku di
tangan kiri serta menentukan tanggal pernikahanku.
Sebelum
hari pernikahanku datang serankaian adat menyambutku terdapat masa dipiare dimana kegiatanku dikontrol
oleh tukang rias terdapat bagian acara
mandiin dimana aku akan dilulur dan berpuasa selama seminggu selain itu
juga ada acara ngerik yaitu acara
untukku memerahkan kuku kaki dengan kuku tangan dengan pacar. Tibalah hari yang
ditunggu aku sudah rapih didandani oleh tukang rias dengan menggunakan baju
kebaya warna putih dipadu dengan melati dan menggunakan kain bercorak batik
kerudungku di desain menyerupai konde yang tinggi. Suara petasan dan iringan marawis terdengar
hingga ke rumahku dilaksanakan adat palang pintu setelah itu dilakukanlah akad
nikah.
Aku
dan Rojali menempati rumah yang lokasinya tidak jauh dari rumahku. Rojali
merupakan suami yang penuh pehartian kepadaku, segala kebutuhanku dipenuhi
olehnya tidak hanya diriku keluargaku juga
diberikan perhatian berbentuk fisik maupun non fisik. Mungkin dia adalah jodoh
terbaik yang disiapkan oleh Allah untukku. Karna penasaran dengan kabar
Ghaziel, kubuka facebook dengan user Pu ji
dan syukur aku ucapkan alhamdulillah. Terima kasih ayah.
name Ghaziel Azdita kulihat foto-foto
terbaru betapa kagetnya aku, terdapat tato dibagian pundak Ghaziel dalam foto
itu Ghaziel di kelilingi wanita cantik memegang botol alkohol hal yang baru dia
tunjukkan setelah pernikahanku. 






0 comments:
Post a Comment