Mukjizat
Cinta
Namaku Agung Wahyu , Biasa di panggil
Agung oleh teman temanku . saat ini aku duduk di kelas 2 SMA tepatnya di SMA 6
Jakarta Selatan. Aku mempunyai seorang
sahabat namanya Iqlima Fauziah, biasa di panggil soimah olehteman teman
sebayanya haha.. nama yang lucu tetapi aku biasa memanggilnya Ima.
Ima dua tingkat di bawah aku , kami adalah
sahabat sejak kecil, rumah kami berdekatan satu komplek perumahan, hanya saja
berbeda blok . dia adalah gadis yang baik , perhatian , cantik pula namanya mengingatkanku
kepada anak Nabi Adam yang paling cantik, Siapa lagi kalau bukan Iqlima.Dia
pandai menyanyi suaranya merdu tidak
kalah dengan Rossa he..he... aku
tidak pandai menyanyi tapi aku ahli dalam bermain gitar, kalau tiba waktu malam
kami sering sekali menyanyi bersama sambil mengerjakan pekerjaan rumah di kediaman
Ima. Apabila sudah larut malam maka aku bergegas pulang ke rumah. Sejak kecil kami mempunyai kebiasaan main
surat- suratan dan kebiasaan itu terus kami lakukan sampai saat ini karena menurut
kami surat suratan adalah hal yang mengasyikan dan membuat penasaran hati
ketika membacanya. Semakin sering aku curhat dengan Ima aku semakin merasa
dekat denganya, semakin memahaminya. Dan tanpa aku mengerti aku jatuh cinta
kepadanya , entah dari mana perasaan itu datang aku tak memahaminya, tak seperti biasanya ketika aku dekat dengan
Ima jantungku berdegup kencang aku grogi dan salah tingkah. Ya Tuhan apakah
cinta adalah asma’mu yang keseratus?, sehingga tiada satupun hambamu yang mampu
menahan dahsyatnya rasa cinta.
Malam itu aku menulis surat untuknya, untuk
esok hari aku berikan kepada Ima. Selesai
ku menulis surat di bagian depan surat itu aku tulis sebuah kalimat
“Afalaa
ta’lami? Aynama kunti kuntu ma’aki ..”
“Kukuruyuuukkk.. kukuruyuuukkk..”
Suara ayam berkokok menunjukkan hari
sudah pagi aku bergegas shalat subuh setelah itu aku mandi dan siap-siap
berangkat ke sekolah . aku ingin mampir terlebih dahulu kerumah Ima , berangkat
sekolah bersama dan memberi surat kepadanya . waahh Ima sudah di depan
rumahnya, kesempatan nihh. Yaa ampun..
suratku tertinggal di meja belajar ! .
malahan Ima lebih dulu memberi surat ke aku .
Sesegera mungkin aku buka surat
darinya karena aku sangat penasaran . Ternyata Ima sedang jatuh cinta dengan kakak kelasnya, namanya Faizal. Dia ingin
sekali menjadi pacarnya Faizal, Ima juga minta tolong kepadaku untuk
mengenalkannya pada Faizal. Faizal itu
teman aku main Futsal , kami sering main bersama setiap hari jumat jam 3 sore .
setelah membaca surat itu seakan seribu panah menusuk jantungku , aku sedih ,
kecewa , tidak percaya. Aku bingung bagaimana menjalani ini semua . Ima tidak
mencintaiku, aku tau itu. Tapi Ima tidak tahu bahwa aku sangat mencintainya.
Aku masih tidak percaya dengan semua
ini, aku merasa lemah dan hilang semangat dalam menjalani hari-hariku. ini kali
pertama aku jatuh cinta, Ima adalah cinta pertamaku tapi sayang aku bukan cinta
pertamanya. Surat cinta untuk Ima aku simpan, tidak aku buang atau aku
sobek-sobek. Surat itu aku simpan dengan harapan suatu saat aku bisa memberikan
surat ini kepada Ima . Aku coba tabah menghadapi ini semua, aku berserah diri
kepada Tuhan. dalam hati kuberdoa
“ Ya Allah jika Ima adalah jodoh yang kau berikan kepadaku maka
persatukanlah aku denganya. Tapi jika dia bukan jodohku, maka, atas ridhomu
berikanlah ia jodoh yang baik dan shaleh .” Aaamiiin.
Belum sempat aku balas surat Ima ,
tetapi dia sudah mengirim surat untukku. Dia memohon kepadaku untuk membantunya
agar bisa dekat dengan faizal. Tapi aku malas membalas surat dari Ima , mana
mungkin aku mempersatukan mereka berdua , sama saja aku menyakiti hatiku
sendiri.
Sore itu Ima datang kerumahku . “ Gung… kenapa kamu nggak bales surat dariku??? Gung..
kamu mau kan bantuin aku??? yah
mau yaahh? Please.. Gung,
Faizal cinta pertama aku, aku suka sama
dia, aku jatuh cinta sama dia,” ” Kamu nggak mau kan liat aku sedih Gung..?? “ Aku masih terdiam memikirkan beberapa saat apakah
aku harus membantunya ? ” ya sudahlah
Gung kalau kamu nggak mau bantuin yaa
gapapa aku pulang .“ karena melihat
raut wajah yang sedih dari Imam aka aku putuskan untuk membantunya. “Aku mau bantu tapi ada satu syarat.” “syarat apa gung??” “bingung yaa, yaudah deh besok aku buatin
lagu untukmu , atau ada perempuan yang kamu suka?? Nanti aku bantuin kenalan
deh !! “ kalau perempuan yang aku suka kamu gimana???“ Ima bingung,
wajahnya memerah. “Maksudmu??” “tidak,
aku hanya bercanda ma ha..ha..”
seandainya dia tau bahwa aku mencintainya.
Keesokan harinya pada hari jum’at, di
sekolah aku mendatangi Faizal dan aku
bertanya-tanya mengenai dirinya. Dan ternyata dia belum punya pacar dan yang
mengejutkan lagi ternyata dia mencintai sahabatku Iqlima. Hatiku terasa remuk dan pupus
harapanku untuk bersama Ima . padahal aku berharap Faizal sudah punya pacar
karena wajahnya yang tampan ditambah dia adalah ketua osis dan ketua tim futsal
sekolah, perempuan mana yang tidak tertarik kepadanya .
Tibalah waktuku untuk latihan futsal
dan aku mengajak Ima untuk melihat kami latihan agar dia dapat melihat Faizal,
kemudian berkenalan seusai latihan selesai. Setelah beberapa saat , latihan pun
selesai, semua orang sudah pulang, tinggal aku, Faizal dan Ima. Saat itu juga
aku memperkenalkan Ima kepada Faizal . Aku tau hati mereka senang tapi mereka
tak akan tau kalau hatiku hancur. Aku lakukan semua ini karena aku sayang
terhadap Ima , Ima bahagia akupun turut
bahagia. Dalam hati aku berdoa
“ Ya Allah jika Ima adalah jodoh yang kau berikan kepadaku maka
persatukanlah aku denganya. Tapi jika dia bukan jodohku, maka, atas ridhomu
berikanlah ia jodoh yang baik dan shaleh .”
Aaamiiin.
Setelah mereka berkenalan, aku sudah tidak
tahu lagi berita mereka. Ima jarang
mengabariku akhir-akhir ini. Dia lebih sering bersama Faizal dan hubunganya
semakin dekat. Aku menulis surat untuk sahabatku Ima, aku bertanya mengenai
hubunganya dengan Faizal apakah mereka sudah resmi jadian atau belum.
Satu minggu kemudian, baru suratku dibalas oleh Ima , dia
berkata bahwa mereka sudah resmi jadian pada waktu acara perpisahanku beberapa
hari yang lalu. Tahun ini aku lulus SMA , Faizal kelas 2 SMA, sedangkan Ima
kelas 1 SMA.
Air mataku jatuh membahasi pipi, tak
kuasa menahan sakitnya perasaan ini.Walau
hatiku sakit mendengar berita ini, namun aku berusaha untuk ikhlas, aku
percaya dan yakin bahwa Ima adalah jodohku dan suatu saat kita akan bersama.
Aku mulai kuliah dan tidak lagi bersama sama.
Hari terus berlalu aku semakin jarang
bertemu dengan Ima , tapi kita masih suka surat-suratan. Walau sebenarnya
Faizal cemburu tetapi Ima berusaha menjelaskan ke faizal bahwa aku adalah
sahabatnya sejak kecil. Faizal sudah lulus dan ternyata dia juga kuliah di
kampus yang sama denganku yaitu UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sejak itu aku
jadi sering ketemu dengan Ima, waktu Ima menjemput Faizal,dan melihat Faizal
main futsal. Ima sempat bercerita kepadaku bahwa ia ingin kuliah di kampus yang
sama denganku dan Faizal agar dapat mengulang masa-masa SMA waktu dulu.
Aku tak menyangka bahwa Ima diterima
di kampus ini. Hanya jurusan kami saja yang berbeda, Aku ambil Asuransi Syariah, Faizal IT
(komputer) dan Ima Ekonomi Bisnis.
Aku dengar Faizal sudah bekerja di
salah satu perusahaan swasta, dia ambil freelance.
Lalu aku bertanya pada Ima, Dan ternyata benar, Faizal bekerja karena jika
sudah lulus nanti dia sudah punya tabungan dan mudah untuk diterima kerja
sehingga bisa segera menikahi Ima.
Ima mengirim surat padaku bahwa lusa
orang tua Faizal akan datang untuk melamarku.berita ini bagaikan tamparan hebat
dihidupku. Aku benar-benar akan kehilangan Ima. Aku marah terhadap Ima. Dia
pernah berjani kepadaku bahwa akan menikah jika sudah lulus kuliah. Tetapi dia
mengingkari janji ini, Mau dikata apalagi semua sudah terlanjur, bubur tidak
bisa menjadi nasi.
Aku berfikir seperti ada yang aneh,
tunangan ini terkesan buru-buru bahkan rencana pernikahanya pun buru-buru. Dan
tiba-tiba aku dengar berita bahwa rencana tunangan dilakukan sekaligus
pernikahan. Aku bingung dan mulai bertanya-tanya kenapa juga orangtua mereka
mengizinkan menikah.
Aku mulai curiga bahwa ada kebenaran
yang disembunyikan oleh Ima dariku, terlebih sudah 2 minggu dia tidak masuk
kuliah, maka aku putuskan untuk mendatangi rumah Ima sepulang kuliah.
Ternyata Ima sakit, aku Tanya sakit
apa, dia bilang hanya pusing biasa. Aku tak percaya kemudian aku tanyakan
kepada mamanya Ima. Awalnya mama Ima tak mau jujur kepadaku, tapi aku terus
mendesaknya agar dia mengatakan yang
sebenarnya. Akhirnya mama Ima jujur kepadaku, dia bercerita bahwa Ima telah
hamil dan Faizal yang menghamilinya . saat ini usia kandunganya hampir 3 bulan.
Mendengar itu semua aku langsung lemas, seakan ruh ini keluar dari tubuhku, aku
tidak bisa berucap apa-apa lagi, mulutku tertutup rapat , badanku panas dingin,
wajahku pucat seperti mayat. Mama Ima menangis, Ima juga menangis sambil
memeluk tubuhku dan mengucapkan kata maaf yang terdalam. Aku tak percaya Ima
tega menodai kesucian cinta mereka.
Tepat
hari ini sabtu pagi, pernikahan antara Faizal dan Iqlima di langsungkan.
Aku bahagia sekaligus sedih menyaksikan ini semua. Aku bahagia karena sahabatku
menikah. Dan aku sedih karena bukan aku yang menikahinya melainkan Faizal.
Pernikahan ini sederhana hanya keluarga Faizal dan Iqlima yang datang. Setelah selesai acaranya, Ima menghampiriku
dan menangis, dia takut kalau setelah pernikahan ini Faizal akan terbang ke
Roma untuk mengambil beasiswa yang di dapatnya.
“ Gung.. aku takut jika Faizal pergi.
Aku takut menghadapi ini semua tanpa Faizal disisiku.” “sudahlah ma tak apa kan
masih ada aku.” aku mengatakan itu hanya untuk menghibur sahabatku, aku tidak
mau dia sedih. .
Faizal benar benar berangkat, walaupun Ima ,
keluarganya bahkan kedua orangtuanya melarang. Tetapi tetap saja Faizal
bersikukuh untuk tetap terbang ke Roma. Dia minta maaf dan memeluk Ima. Dia
menitipkan Ima kepadaku.
Aku semakin sering berkunjung kerumah
Ima bukan untuk apa apa aku hanya ingin menemaninya, menghiburnya agar ia dapat
semangat menjalani hidup tanpa Faizal disisinya . Aku mulai sibuk mengerjakan
skripsiku agar aku cepat wisuda. Aku iseng membaca berita di detik, di
halaman pertama aku membaca berita pesawat jatuh dan menewaskan seluruh
penumpang. Awalnya aku biasa saja tapi setelah aku baca nama-nama korban,
mengapa ada nama Faizal? Aku lihat jenis pesawat dan tanggal keberangkatanya
pun sama , aku terkejut dengan hebat. Dari kampus aku langsung bergegas kerumah
Ima.
Sesampainya dirumah Ima semua sudah
berkumpul mengenakan pakaian hitam. Aku melihat Ima duduk di sudut ruangan.
Tatapanya kosong seakan dia tidak mampu untuk melanjutkan hidup. “ma.. aku
turut berduka cita dengan kejadian ini” Ima langsung datang kehadapanku dan
menangis dipelukanku.
Tak lama kemudian mayat Faizal datang.
Semua berdiri, hanya Ima yang terdiam tak mampu berdiri dan pingsan . Aku
membawanya ke kamar kemudian aku tinggal untuk memakamkan mayat Faizal. Aku
khawatir dengan Ima, maka aku putuskan untuk menemaninya hingga ia sadar.
Esok hari ia sadar, “Gung.. Faizal
mana Gung ?, semua baik-baik saja kan?, mengapa semua orang menangis Gung..?
Gung ada apa ini sebenarnya?” aku tak
tega membohongi Ima maka aku katakana
sejujurnya. “Ima, Faizal sudah meninggalkan kita semua untuk selamanya, kamu
tabah ya, kemarin dia dimakamkan , kamu pingsan sehingga tidak bisa ikut ke
pemakaman. ”
Ima tidak percaya dengan ini semua,
dia terlihat depresi dan tertekan dan meminta semua yang ada diruangan untuk
keluar. Aku sangat khawatir terhadap Ima, apalagi dia sedang hamil. Sudah 2 hari Ima mengurung dirinya di kamar,
tak mau keluar kamar, tak mau makan. Aku semakin khawatir terhadapnya. Kedua
orangtuanya pun semakin khawatir dan takut terjadi sesuatu. Maka tanpa pikir
panjang aku dobrak pintu kamarnya.Astahfirullah..!!,kenapa ini terjadi, Ima
mencoba bunuh diri dengan memotong urat nadinya dengan silet. Aku langsung
memanggil ambulan dan membawanya kerumah sakit. Sambil menangis kuberdoa. “ya
Allah selamatkan sahabat hamba, tunjukanlah kebesaranmu ya Allah, aku sangat
mencintainya, jagalah ia untukku.”
Sebelum aku meninggalkan rumah aku
menemukan surat di kamar Ima. Aku mulai membuka dan membacanya.
“ Agung
, mama, papa, semua, maafin aku. Aku sudah mengecewakan kalian semua. Aku hanya
tak sanggup melihat anak ini lahir tanpa ada ayahnya. Ini dosaku, aku sudah
menodai cintaku. Faizal selalu merayu aku hingga semua ini terjadi. Maafin aku
ma..,pa.. maafin aku Gung karena aku tidak berterus terang padamu maafin aku…
maafin aku semua.. selamat tinggal…”
Aku menunggu dengan cemas, aku berdoa
semoga Ima bisa selamat. Aku terus berdoa sepanjang siang dan malam. Hanya satu
doaku dalam setiap munajatku, aku hanya ingin Ima selamat.
Alhamdulillah kabar baik dari rumah
sakit bahwa Ima telah pulih. Aku bersiap menjenguknya dengan membawa surat yang
dulu aku simpan. Sungguh di luar dugaan surat ini akhirnya bisa aku berikan ke
Ima.
Ima tersenyum melihat kedatanganku. Ia
bercerita bahwa kandunganya baik baik
saja. “ma.., baca suratku!” belum
sempat Ima berkomentar aku langsung memotong “ jika kamu bersedia aku ingin
menjadi ayah untuk bayimu, imam atas dirimu.” Tatt tapp..i Gung..” “ Aku mencintaimu Ima.., uhibbuki fillah” “Aku akan melamarmu besok.”
Ima menangis , ia mengangguk, memberi
isyarat bahwa ia mau menikah denganku. Aku peluk ia dengan pelukan penuh kasih
sayang dan cinta.
Aku memang bukan cinta pertama Iqlima,
tapi aku adalah cinta terakhirnya.
Akhirnya kami menikah dan lahirlah
anak kami dengan sempurna. Aku memberi nama anakku “Faizal”






0 comments:
Post a Comment