Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang
memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan
gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat
dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena
terpikat,Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik
salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan
dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan
selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh
kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarublalu
muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu
bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja.
Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.
Nawangwulan bergabung kembali bersama bidadari lain.
Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung. Betapa kagetnya Nawangwulan melihat selendang berwarna merah jambunya berada di dalam lumbung padi. Nawangwulan pun tidak langsung menanyakan kepada Jaka Tarub tentang selendangnya itu. Ketika Jaka Tarub pulang dari ladang seperti biasa Nawangwulan menyiapkan secangkir kopi untuknya. Mereka pun berbincang sebentar. Nawangwulan bertanya kepada Jaka Tarbu apakah ada yang disembunyikannya selama mereka menikah. Tetapi Jaka Tarub hanya balik bertanya apa maksud dari pertanyaan Nawangwulan. Nawangwulan pergi ke kamar dan mengambil selendangnya. Betapa terkejutnya Jaka Tarub melihat Nawangwulan menemukan selendangnya yang telah ia sembunyikan bertahun tahun. Nawangwulan menangis, ia tidak menyangka bahwa lelaki yang dicintainya selama ini tega melakukan sebuah kebohongan dari awal. Jaka Tarbu meminta maaf kepada Nawangwulan. Ia menjelaskan bahwa ia melakukan itu karena ia sudah lama hidup sebatang kara, dan ketika melihat Nawangwulan ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Jaka Tarub memohon kepada Nawangwulan agar ia tidak meninggalkan Jaka Tarub. Tetapi Nawangwulan terlalu sakit hati mengetahui kenyataan ini. Nawangwulan meminta maaf kepada Jaka Tarub bahwa ia akan kembali ke istana untuk menenangkan diri, dan Nwangwulan akan membawa Nawangsih pergi bersamanya. Jaka Tarub tetap memohon kepada Nawangwulan agar tidak meninggalkannya sendiri. Ia terus menerus meminta maaf. Tetapi keputusan Nawangwulan sudah bulat. Nawangwulan pun pergi ke istana dengan menggunakan selendang merah jambunya dan membawa Nawangsih bersamanya.
Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.
Nawangwulan bergabung kembali bersama bidadari lain.
Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung. Betapa kagetnya Nawangwulan melihat selendang berwarna merah jambunya berada di dalam lumbung padi. Nawangwulan pun tidak langsung menanyakan kepada Jaka Tarub tentang selendangnya itu. Ketika Jaka Tarub pulang dari ladang seperti biasa Nawangwulan menyiapkan secangkir kopi untuknya. Mereka pun berbincang sebentar. Nawangwulan bertanya kepada Jaka Tarbu apakah ada yang disembunyikannya selama mereka menikah. Tetapi Jaka Tarub hanya balik bertanya apa maksud dari pertanyaan Nawangwulan. Nawangwulan pergi ke kamar dan mengambil selendangnya. Betapa terkejutnya Jaka Tarub melihat Nawangwulan menemukan selendangnya yang telah ia sembunyikan bertahun tahun. Nawangwulan menangis, ia tidak menyangka bahwa lelaki yang dicintainya selama ini tega melakukan sebuah kebohongan dari awal. Jaka Tarbu meminta maaf kepada Nawangwulan. Ia menjelaskan bahwa ia melakukan itu karena ia sudah lama hidup sebatang kara, dan ketika melihat Nawangwulan ia sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Jaka Tarub memohon kepada Nawangwulan agar ia tidak meninggalkan Jaka Tarub. Tetapi Nawangwulan terlalu sakit hati mengetahui kenyataan ini. Nawangwulan meminta maaf kepada Jaka Tarub bahwa ia akan kembali ke istana untuk menenangkan diri, dan Nwangwulan akan membawa Nawangsih pergi bersamanya. Jaka Tarub tetap memohon kepada Nawangwulan agar tidak meninggalkannya sendiri. Ia terus menerus meminta maaf. Tetapi keputusan Nawangwulan sudah bulat. Nawangwulan pun pergi ke istana dengan menggunakan selendang merah jambunya dan membawa Nawangsih bersamanya.
Setibanya di Istana
Langit bernuansa biru muda dan dikelilingi oleh awan, Nawangwulan disambut
keenam saudara perempuannya. yaitu: kakak pertamanya adalah Nawangi, dia
menggunakan selendang berwarna hijau. Nawangi adalah sesosok kakak yang
bijaksana dan penyayang terhadap adik-adiknya. Kakak kedua dari Nawangwulan
adalah Nawangdu. Nawangsri mempunyai selendang berwarna merah, dan ia sangat
pemalu diantara 6 lainnya. Yang ketiga adalah Nawangtri yang mempunyai
selendang berwarna putih. Nawangtri sangat suka membersihkan rumah dan sangat
rajin. Yang keempat adalah Nawangsri dengan seledangnya berwarna kuning,
Nawangpat merupakan perempuan yang sangat pintar, dengan kepintaran ia dapat
membuat obat-obat tradisional yang bahannya dari bumi. Yang kelima adalah
Nawangli dengan selendangya berwarna ungu. Nawangli mempunyai sifat iri
terhadap saudara-saudara perempuannya, terutama kepada Nawangwulan. Nawangwulan
adalah bidadari yang paling cantik diantara ke enam bidadari lainnya, mempunyai
kulit yang sangat halus dan wajah yang cantik. Tak heran banyak pangeran langit
yang melamarnya. Tetapi karena kakak – kakaknya yang lain belum menikah maka ia
tolak semua lamaran pangeran langit itu. Dan yang terakhir adalah Nawangtu
dengan selendang berwarna biru, merupakan anak bungsu yang sangat manja. Mereka
hidup bertujuh dengan hanya seorang ayah. Ibu mereka meninggal karena sakit.
Tetapi ke enam saudara
perempuan Nawangwulan terkejut melihat Nawangwulan pulang membawa seorang putri
yang berumur 6 bulan. Nawangi sebagai kakak pertama bertanya kepada Nawangwulan
apa yang sebenarnya terjadi selama ia di bumi, mengapa ia pulang menangis dan
membawa seorang putri mungil?. Tangis Nawangwulan bertambah kencang. Ke enam
saudaranya pun mencoba untuk menenangkan Nawangwulan. Setelah tenang,
Nawangwulan menceritakan yang sebenarnya terjadi. Sewaktu mereka bertujuh mandi
di sungai yang berada di bumi, selendangnya hilang. Saat itu ke enam saudraanya
sudah kembali ke istana. Lalu ia bertemu dengan seorang pria yang sangat tampan
dan menikah dengannya lalu memiliki seorang putri. Ke enam bidadari kaget
mendengarkan cerita Nawangwulan. Lalu Nawangtri bertanya dimana Nawangwulan
menemukan selendangnya. Nawangwulan menjelaskan bahwa ternyata suaminya lah
yang menyembunyikannya. Nawangwulan meminta maaf kepada 6 saudaranya, bahwa ia
telah menikah terlebih dahulu dibandingkan ke lima kakaknya. Tangis Nawangwulan
pun bertambah kencang. Dan ke lima saudaranya mencoba menenangkan Nawangwulan
dan membawa Nawangwulan ke dalam istana untuk menemui ayahnya yang sedang sakit
sejak Nwangwulan tidak kembali ke istana. Ayah Nawangwulan begitu senang
melihat putrinya sudah pulang. Nawangwulan meminta maaf dan menceritakan
kejadian sebenarnya. Ayah Nawangwulan pun memaafkan. Kebahagian ayahnya
bertambah ketika melihat seorang putri yang di bawa Nawangwulan ternyata adalah
anaknya. Nawangli begitu kesal melihat Nawangwulan kembali ke istana. Dengan
adanya Nawangwulan di istana, maka yang akan menjadi pusat perhatian adalah
Nawangwulan bukannya dia. Selama ini Nawangli berpura-pura manis dan baik di
depan Nawangwulan tetapi sebenarnya ia sangat iri dengan Nawangwulan yang
mempunyai wajah yang begitu cantik. Sebelumnya yang menyembunyikan selendang
Nawangwulan adalah dia sebelum ditemukan oleh Jaka Tarub, agar ia tidak kembali
ke istana.
Jaka Tarub kembali hidup
sebatang kara. Ia sangat kesepian semenjak ditinggal Nawangwulan dan putrinya.
Jaka Tarub sudah tidak berladang berhari-hari karena galau ditinggal Jaka
Tarub. Hidupnya kini bagaikan tak berguna ditinggal oleh wanita yang ia cintai.
Di dalam dirinya ada sebuah penyelasan, andai saja ia mengaku bahwa ia
menemukan selendangnya ketika ia sedang dalam perjalanan pulang selesai
berburu. Dengan menggunakan kesaktian Jaka Tarub pun, Jaka Tarub tidak bisa
mengembalikan Nawangwulan yang sudah pergi. Disisi lain, Nawangwulan pun sangat
merindukan Jaka Tarub, tetapi kalau ia ingat kebohongan yang dilakukan Jaka
Tarub ia sungguh sangat membencinya. Nawangwulan sangat mencintai Jaka Tarub.
Melihat Nawangwulan yang sudah tidak seceria dulu karena seorang pria, Nawangli
memanfaatkan suasan tersebut untuk menyingkirkan Nawangwulan. Nawangli
mendekati Nawangwulan dan mecoba untuk menenangkan Nawangwulan. Nawangwulan
menceritakan perasaannya meninggalkan suaminya sebatang kara, dia juga
menceritakan bahwa ia sangat mencintai suaminya. Nawangli menyarankan agar
Nawangwulan menulis surat untuk Jaka Tarub agar Jaka Tarub mengetahui perasaan
Nawangwulan sekarang, dan Nawangli bersedia untuk mengirimkan surat itu kepada
Jaka Tarub. Nawangwulan pun menyetujui saran dari kakaknya itu. Nawangwulan
menulis surat untuk Jaka Tarub yang berisi bahwa ia sangat merindukan Jaka
Tarub, dan jika Jaka Tarub ingin Nawangwulan kembali, maka jemputlah dia di
Istana Langit. Ia bisa pergi bersama kakak kelimanya Nawangli.
Setelah memberikan
suratnya kepada Nawangli, Nawangwulan mengatakan sesampainya di bumi kakaknya
hanya perlu bertanya dimana rumah Jaka Tarub di sebuah pasar, karena seluruh
penduduk desa kenal Jaka Tarub karena kesaktiannya. Betapa kesalnya Nawangli
mendengar ucapan adiknya. Bagi Nawangli, Nawangwulan hanya sedang pamer
kepadanya bahwa suaminya adalah orang sakti dibumi. Nawangli pun meminta izin
kepada sang ayah untuk pergi ke bumi. Sang ayah bertanya, untuk apa Nawangli
turun kebumi, bukankah Nawangwulan baru saja pulang. Ayahnya meminta agar
Nawangli tetap diistana , karena dia tidak kehilangan anaknya lagi. Tetapi
Nawangli teteap bersikeras untuk pergi kebumi. Akhirnya sang ayah pun
mengizinkan. Sesampainya di bumi Nawangli bersemangat mencari dimana rumah
seorang pria yang bernama Jaka Tarub. Nawangli berfikir, bahwa Jaka Tarub akan
menjemput Nawangwulan di istana, dan Nawangwulan pergi untuk selamanya dari
istana.
Nawangli tiba di sebuah
pasar dan bertanya, pada penjual di pasar dimana rumah Jaka Tarub. setelah
mengetahui rumah Jaka Tarub, Nawangli bergegas menuju rumah Jaka Tarub. Rumah
minimalis dan dikelilingi kebun bunga yang cantik, Nawangli pun mengetuk pintu,
Nawangli terkejut ketika pintu dibuka dilihatnya pria tampan gagah berani.
Ketika melihat Jaka TArub yang begitu tampan, Nawangli mengurungkan niatnya
untuk tidak memberikan surat Nawangwulan kepada Jaka Tarub. Jaka Tarub mempersilahkan
Nawangli untuk duduk dan menawarkan segelas air minum. Ketika Jaka Tarub sedang
mengambilkan air untuk Nawangli, Nawangli membuka surat dari Nawangwulan dan
meremasnya sehingga menjadi lecak. Nawangli tidak akan pernah memberikan surat
dari Nawangwulan kepada Jaka Tarub. Ketika sedang meremas- remas surat
tersebut, Jaka Tarub datang dan surat itu jatuh kelantai dan berada di kolong
kursi tempat Nawangli duduk. Jaka Tarub memberikan minuman kepada Nawangli.
Nawangli bertanya apakah Jaka Tarub tinggal dirumah ini sendiri. Jaka Tarub
mengatakan bahwa ia baru saja ditinggal istri dan putrinya ke kampong halaman
istrinya. Dia juga mengatakan bahwa dia sangat merindukan istri dan putrinya.
Mendengar perkataan Jaka Tarub Nawangli bertambah benci dengan Nawangwulan. Dia
kesal mengapa Nawangwulan memiliki semua apa yang dia mau. Setelah berbincang
bincang cukup lama. Nawangli pamit untuk pulang karena matahari akan segera
tenggelam. Jaka Tarub mengajukan jasa untuk mengantarnya pulang, karena takut
bahwa Nawangli akan bertemu dengan perampok ditengah hutan nanti. Tetapi
Nawangli menolak. Akhirnya Nawangli pun kembali ke istana langit.
Di Istana Langit
Nawangli sudah ditunggu kehadirannya oleh ke enam saudara perempuannya terutama
Nawangwulan. Mereka ingin mendengarkan cerita dan melihat apakah Nawangli
datang bersama pria yang bernama Jaka Tarub. Tetapi betapa sedihnya Nawangwulan
melihat kakak perempunya itu datang hanya seorang diri. Nawangwulan bertanya
mengapa Nawangli tidak pulang bersama Jaka Tarub. Nawangli hanya terdiam dan
mulai mengarang cerita bahwa Jaka Tarub sudah menikah lagi dengan perempuan
yang sangat cantik. Awalnya Nawangwulan tidak percaya dengan apa yang dikatakan
Nawangli, tetapi Nawangli meyakinkan Nawangwulan bahwa Jaka Tarub sudah hidup
bahagia dengan wanita cantik itu dan Nawangwulan harus melupakan Jaka
Tarub. Nawangwulan bertambah sedih, dia tidak menyangka bahwa ayah
dari putrinya sudah menikah lagi setelah ditinggalnya hanya beberapa hari saja.
Beberapa hari setelah
Nawangli mengatakan bahwa Jaka Tarub sudah menikah lagi dengan wanita lain,
Nawangli bertambah sedih. Dia tidak ingin makan dan minum. Dia hanya memeluk
putrinya dan megurus putrinya sesekali menangis. Berbeda dengan Nawangli yang
hampir setiap hari tersenyum dan turun ke bumi untuk menemui Jaka Tarub. Dia
izin dengan ayahnya hanya untuk jalan jalan saja kebumi. Ini membuat Nawangi
curiga dengan apa yang terjadi. Lalu ia merundingkan ini kepada keempat
saudaranya yang lain. Mengapa setelah Nawangli turun kebumi untuk bertemu
dengan Jaka Tarub, nawangli menjadi suka turun kebumi. Padahal Nawangli adalah
bidadari yang sangat benci dengan orang bumi. Nawangtri mengatakan mungkin saja
Nawangli bertemu dengan pria yang ia sukai di bumi. Tetapi Nawangsri merasakan
adanya hal yang aneh, ia pun memutuskan untuk mengikuti Nawangli ketika ia
hendak turun ke bumi. Mereka berlima pun sepakat.
Suatu hari, Nawangli
ingin turun kebumi. Saat itu penampilan Nawangli sangat cantik sekali.
Nawangsri bertanya akan kemana Nawangli pergi. Nawangli bilang ia hendak
kebumi. Nawangsri bertanya mengapa akhir-akhir ini Nawangli sering sekali turun
kebumi padahal ia tidak suka dengan orang – orang bumi. Nawangli marah
mendengar pertanyaan Nawangli dan meminta Nawangsri tidak mnegurusi urusannya. Ketika
Nawangli turun kebumi, Nawangsri mengikutinya. Nawangli memasuki pasar dan
bertemu dengan seorang dengan wajah tampan dan gagah. Nawangsri bertanya dengan
orang yang berada di pasar siapa pria itu. Orang tersebut menjawab bahwa ia
adalah Jaka Tarub. Nawangsri bertanya apakah Jaka Tarub sudah menikah. Orang
tersebut menjawab lagi, dahulu ia menikah dengan seorang wanita yang sangat
cantik dan mempunyai seorang putri. Tapi ia ditinggal istrinya pulang ke
kampung halamannya, dan sampai sekarang Jaka Tarub sangat sedih dan
tidak bisa melupakan istrinya. Nawangsri bertanya lagi, tentang Nawangli.
penjual tersebut menjawab bahwa perempuan yang bersama Jaka Tarub adalah
Nawangli yang sudah beberapa hari ini terus bersama Jaka Ta
Di Istana, Nawangsri
menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada 4 saudaranya. Ke empat saudaranya
terkejut mendengar cerita Nawangsri. Mereka tak menyangka bahwa Nawangli setega
itu terhadap Nawangwulan. Tak berlama kemudian Nawangli datang, ia heran
melihat Nawangi, Nawangdu, Nawangsri,Nawangtri, dan Nawangtu menghadangnya
dengan wajah marah. Mereka bertanya apa yang dilakukan nawangli di bumi,
Nawangli hanya mengatakan itu bukan urusan mereka. Mereka mengatakan bahwa
mereka sudah mengetahui yang sebenarnya, bahwa Nawangli turun kebumi untuk
menemui Jaka Tarub yang sebenarnya belum menikah. Nawangli hanya tertawa dan
membenarkan semua ucapan saudaranya. Dia memberikan alasalannya bahwa ia
melakukan itu semua karena iri dengan Nawangwulan yang mendapatkan semuanya,
bahkan membuang selendangnya pun membuat dia mendapatkan pria yang tampan.
Mengetahui itu ke lima saudaranya kaget bahwa Nawangli lah yang membuang
selendang Nawangwulan sebelum ditemukan Jaka Tarub. Betapa marahnya Nawangi
melihat tingkah laku adik kelimanya itu. Dan hampir memukul Nawangli tetapi
ditahan adiknya yang lain. Tak lama Nawangwulan datang, dan menanyakan apa yang
terjadi, Nawangli menjawab bahwa ini semua terjadi karena Nawangwulan dan
berlalu meninggalkan mereka. Nawangwulan pun bingung, dan bertanya kepada saudaranya
yang lain. Mereka mengatakan ini semua bukan karena Nawangwulan dan Nawanwulan
tidak perlu bersedih lagi karena mereka akan mengembalikan kebahagiaan yang
seharusnya menjadi milik Nawangwulan.
Dirumahnya, Jaka Tarub
masih bersedih dengan kepergian Nawangwulan dan masih berharap Nawangwulan
dapat kembali kesisinya. Jaka Tarub berbaring dikursi untuk menanangkan
pikirannya, mata Jakat Tarub tertuju pada kertas yang ada di kolong bangku
tempat dimana nawangli menjatuhkan surat dari Nawangwulan. Jaka Tarub pun
mengambil surat tersebut, dan betapa terkejut Jaka Tarub mengetahui bahwa surat
itu dari Nawangwulan yang berisi meminta bahwa Jaka Tarub datang keistana
bersama kakak perempuannya yang bernama Nawangli untuk menjemputnya kembali.
Setelah terdiam begitu lama Jaka Tarub baru menyadari bahwa nama mereka berdua
hampir sama dan ketika Nawangli datang pertama kali kesini adalah untuk
memberikan surat ini kepadanya. Tapi Jaka Tarub masih bingung, mengapa Nawangli
tidak memberikan surat dari Nawangwulan kepadanya.
Keesokan harinya
Nawangli datang kembali kerumah Jaka Tarub. Tetapi hari itu, jaka Tarub sudah
menunggu kedatangan nawangli di depan pintu rumahnya. Senangnya Nawangli
mengetahui bahwa kedatangannya telah ditunggu oleh Jaka Tarub. Tetapi semakin
mendekat Nawangli melihat wajah Jaka Tarub yang marah. Nawangli bertanya
mengapa hari ini Jaka Tarub kelihatan begitu marah. Jaka Tarub menunjukkan
surat yang ditemukannya semalam. Nawangli terkejut bahwa Jaka Tarub bisa
menemukan surat dari Nawangwulan, Nawnagli sangat ketakutan dan menangis.
Dengan nada keras Jaka Tarub bertanya mengapa Nawangli tidak menyampaikan surat
ini kepadanyapadahal dia begitu tahu bahwa Jaka Tarub sangat merindukan
Nawangwulan. Nwanglipun menjawab sambil menangis, bahwa ia sangat mencintai
Jaka Tarub semenjak Jaka Tarub menolongnya dihutan dan dia juga kesal karena
Nawangwulan sudah mendapatkan apa yang dia mau. Kecantikan, perhatian sang
ayah, dan juga Jaka Tarub. Dia sangat kesal dengan Nawangwulan sehingga dia
hampir punya niat untuk membunuh Nawangwulan. Nawangli juga mengatakan bahwa
dialah yang membuang selendang Nawangwulan sehingga dia tidak bisa kembali ke
istana. Jaka Tarub hanya terdiam, lalu mengatakan dia sangat mencintai
Nawangwulan.
Nawangwulan dan kelima
saudaranya yang lain sedari tadi berada di samping rumah Jaka Tarub.
Nawangwulan menangis mengetahui yang sebenarnya.Nawangwulan keluar dari
persembunyiannya untuk menemui Jaka Tarub dan Nawangli. mereka berdua kaget
melihat Nawangwulan dan kelima saudara perempuannya datang tiba-tiba.
Nawangwulan meminta maaf kepada Nawangli kalau selama ini dia telah membuat
Nawangli membenci dirinya. Tetapi Nawangwulan sangat menyayangi Nawangli, maka
dari itu ia merelakan Jaka Tarub kepada Nawangli. Mereka semua kaget, Nawangli
juga terdiam. Nawangi menyuruh Nawangli berfikir, Nawangwulan yang sudah
diperlakukan jahat oleh Nawangli dapat merelakan orang yang dicintainya untuk
orang yang sudah dijahatinya. Nawangli kembali terdiam. Jaka Tarub yang
dikelilingi 7 bidadari cantik sangat bingung, dan mengatakan bahwa ia tidak
ingin bersama siapapun kecuali Nawangwulan.
Setelah suasana tegang
bebrapa lama, akhirnya Nawangli meminta maaf kepada Nawangwulan atas apa yang
telah dilakukannya sembari memeluk Nawangwulan. Mereka pun menangis. Nawangli
mengatakan bahwa Jaka Tarub sangat mencintai adiknya itu, dan dia tidak mungkin
menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Nawangwulan bertatap mata oleh
Jaka Tarub, Jaka Tarub mengulurkan tangannya dan disambut oleh tangan
Nawangwulan. Jaka Tarub diminta untuk ikut mereka ke Istana Langit bertemu
dengan ayahnya. Jaka Tarub pun menyetujuinya. Setibanya di Istana, Jaka
Tarub di sambut ayah dari ketujuh bidadari yang sedang mengendong putrinya
Nawangsih. Mereka semua berkumpul di meja makan yang sangat luas, dan diatas
meja tersbut sudah ada beberapa makanan yang sangat lezat. Sang ayah bertanya
apakah Jaka Tarub benar-benar mencintai Nawangwulan. Jaka Tarub pun mengiyakan.
Sang ayah memberi syarat untuk Jaka Tarub, kalau ia ingin kembali dengan
Nawangwulan maka Jaka Tarub harus menemukan pria untuk dinikahkan oleh ke enam
saudara Nawangwulan dalam seminggu. Jaka Tarub pun setuju.
Seminggu berlalu Jaka
Tarub kembali dengan membawa enam pria yang tampan dan gagah berani. Setelah
semua berkumpul keenam pria mengenalkan diri mereka masing-masing. Pria yang
akan dijodohkan dengan Nawangi adalah Jaka Tingkir pria yang gagah berani.
Lalu, pria yang dijodohkan dengan Nawangdu adalah Kabayan pria dari tanah sunda
yang suka berbanyol. Kemudian, pria yang dijodohkan Nawangtri adalah Pitung
dari tanah betawi, jago silat dan pembela kebenaran. Lalu, Pria untuk Nawangsri
adalah Sangkuriang pembuat cand sangat kuat. Untuk Nawangli adalah Panji
seorang pahlawan kebenaran. Dan yang terakhir adalah Nawangtu, yang dijodohkan
oleh Lutung Kasarung yang setelah menikah dia akan berubah menjadi pria yang
sangat tampan. Betapa senangnya Sang ayah, bahwa putrinya telah mendapat jodoh.
Pesta pernikahan pun
dilangsungkan sangat meriah. Jaka Tarub dan Nawangwulan pun hidup bahagia
bersama putrinya Nawangsih. Kebahagiaan mereka bertambah dengan adanya
pernikahan keenam saudara perempuan Nawangwulan. Dan mereka semua hidup bahagia
untuk selamanya bersama.






0 comments:
Post a Comment