Cerpen Kemanusiaan

Mimpi Tole

Aku Amanda, aku lahir di Bandung tanggal 17 Juni. Saat ini aku sedang merantau di Jakarta. Aku bekerja sebagai wartawan di suatu media surat kabar. Selain itu aku juga mengajar di suatu pemukiman kumuh yang padat penduduk. Aku mengajar secara sukarela disana. Disana terdapat anak-anak yang putus sekolah karena faktor ekonomi orangtua mereka. Sehingga mereka dituntut untuk bekerja mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan keluarga mereka. Rata-rata dari mereka berumur dari 9 sampai 10 tahun. Aku sangat senang dengan pekerjaanku saat ini.

Tempat mengajarku adalah sebuah Masallah kecil. Jumlah anak-anak yang mengikuti sekolahku berjumlah 15 anak. Kegiatan sehari-hari mereka adalah menjadi pengamen jalanan, joki 3 in 1, dan pedagang asongan. Mereka sangat semangat sekali mengikuti pelajaran. Rasa lelahku hilang ketika melihat senyum mereka yang menyambutku datang. Salah satu mereka ada yang bernama Tole. dia berumur mereka 9 tahun. Sehari-hari Tole bekerja sebagai pengamen jalanan. Dia salah satu muridku yang cukup pintar. Dia bercita-cita ingin sepertiku. Menjadi seorang wartawan. Karena dia suka menulis dan ingin sekali berkeliling Dunia.

Tole memiliki seorang ayah dan ibu tiri serta 1 adik tiri. Ibu kandungnya meninggal ketika melahirkan dia. Ayahnya bekerja sebagai tukang sapu jalanan. Tetapi, seminggu yang lalu ayahnya meninggal dunia karena tertabrak mobil ketika ia sedang bekerja. Dan semenjak saat itu Tole tidak pernah lagi datang ke sekolah. Aku merasa khawatir kepadanya. Ketika aku bertanya kepada teman-temannya yang mengikuti sekolah, mereka hanya menggeleng tidak tahu. Kecuali teman terdekat Tole, Rizki.

Kuputuskan untuk bertanya kepada Rizki tentang keadaan Tole seusai pelajaran selesai. Awalnya dia hanya terdiam, dan ketika aku mendesaknya dia pun menjawab dengan menatap wajahku secara dalam
“Tole sudah tidak boleh sekolah lagi ka, karena ia harus mencari uang sebagai ganti Ayahnya. Dia pagi harus mengamen di jalanan hingga siang, selesai itu dia harus menjadi kuli panggul di pasar. Saat aku kerumahnya untuk mengajak dia ke sekolah, aku malah di marahi oleh Ibunya. Kata Ibunya, Tole sudah nggak sekolah dan aku dilarang buat ketemu sama Tole” cerita Rizki panjang. Ternyata benar dugaanku. Tole dilarang sekolah oleh ibu tirinya karena harus menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga.

Keesokan harinya aku meminta Rizki untuk menemaniku ke rumah Tole. Awalnya Rizki tidak bersedia karena dia takut kepada Ibunya Tole, tetapi setelah kubujuk akhirnya dia mau menemaniku. Rumah Tole berjarak kurang lebih 200 meter dari Masallah. Untuk menuju rumahnya aku harus menaiki sebuah perahu yang disebut getek untuk menyebrangi sungai. Berjalan di sebuah gang kecil yang sangat becek. Terlihat sebuah rumah yang terbuat dari seng berukuran sangat kecil di ujung gang ini. Yang ada dibenakku saat itu, apakah masih ada orang yang tinggal di gubuk seperti itu, saat di Jakarta ini banyak sekali apartemen yang dibangun?.

Kuketuk pintunya dan mengucapkan salam terdengar suara yang mengatakan “Tunggu sebentar” dari dalam rumah tersebut. Rizki sembunyi di balik tubuhku. Ketika pintu dibuka, kulihat ibu setengah baya yang sedang menggendong anak berumur 5 bulan.
“Siapa yah? Ada perlu apa?” Tanya ibu itu, yang ternyata ibunya Tole. Aku mengatakan bahwa aku adalah Pengajar disekolah Tole dan datang kesini untuk mengetahui keadaan Tole. Ibu itu terkejut, dan tak lama kemudian terlihat raut marah diwajahnya
“Tole sudah tidak akan kesekolah lagi, karena dia harus menafkahi adik-adiknya. Jadi jangan pernah datang kesini untuk mencari Tole” dan “Brak” ibu Tole membanting pintu rumahnya yang terbuat dari seng. Aku dan Rizki terkejut. Setelah itu aku pulang dengan Rizki. Dan setelah mengantar Rizki pulang, aku menuju pasar untuk mencari Tole.

Keadaan pasar saat itu sangat ramai padahal waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 WIB. Aku mencari Tole. Akhirnya kutemukan Tole. Tubuh kecil yang sedang mengangkat karung berisi wortel dari mobil truck menuju salah satu kios pasar. Setelah dia menaruh karung itu di depan kios, Tole mendapatkan upah dari pemilik kios. Kulihat ekspersi senang dari wajah kecil yang penuh dengan keringat. Air mataku serasa ingin menetes saat itu. Aku menghampiri dia, dan menepuk pundaknya. Ketika menoleh dia terkejut melihatku. Aku mengajaknya untuk makan.

Di warung kopi yang berada di sebrang pasar aku mengajak Tole makan. Dia memakan mie sangat lahap saat itu. Selesai makan aku mulai menanyakan alasan dia tidak datang kesekolah akhir-akhir ini. Dia terdiam dan mulai menangis
“Maafkan aku ka, sebenarnya aku ingin sekali datang kesekolah tetapi keadaan yang tidak memungkinkan. Ibuku melarang aku untuk tidak datang kesekolah dan menyuruhku untuk mencari uang demi menghidupi keluargaku” Kata Tole, dan dia menangis. Aku memeluk dia. Dan saat itu aku berjanji kepadanya akan membujuk ibunya supaya dia diizinkan kesekolah.

Aku mengantarkan Tole pulang kerumah. Ketika tiba dirumahnya, ibu Tole terkejut ketika melihat Tole datang bersamaku. Langsung saja dia menarik Tole dari genggamanku.
“Bukankah sudah saya katakan, bahwa Tole tidak akan pernah datang lagi kesekolah. Dia harus mencari uang untuk kami. Kalau dia tidak mencari uang, mau makan apa kami?” Teriak Ibu Tole, yang membuat tetangga di sekitar rumahnya keluar. Tole pun menangis dan mencoba menenangkan Ibunya
“Maaf Bu, bukannya saya lancang. Tapi Tole masih kecil untuk bekerja keras seperti itu. Dia masih butuh sekolah untuk pendidikannya. Jika Ibu ingin uang, akan saya berikan Bu. Dengan satu syarat, Tole harus tetap sekolah” Kataku membuat Ibu Tole terdiam. Tole hanya bisa menangis. Tetapi ibunya tetap tidak mengizinkan Tole untuk sekolah. Ibu Tole kembali mengusirku.

Esoknya aku pergi mengajar seperti biasa. Betapa terkejutnya aku ketika melihat Tole di kerumunan murid-muridku. Aku langsung memeluknya dan bertanya alasan apa yang membuat ibunya mengizinkan dia untuk sekolah. Dia hanya tersenyum dan mengatakan terima kasih. Ini semua berkat kakak. Aku memeluknya kembali. Kumulai pelajaran seperti biasa. Aku memberikan tugas mereka untuk menulis surat kepada orang yang sangat mereka sayangi. Mereka sangat senang sekali mendapatkan tugas itu. Dan pada suatu hari aku menemukan memar di lengan kanan Tole ketika aku coba menepuknya. Aku bertanya kepada Tole apa yang terjadi? Dia mengatakan, bahwa dia terjatuh di pasar ketika membawa sayuran. Ternyata dia masih melakukan pekerjaan itu ketika pulang sekolah.

Tiba suatu hari, dimana Rizki mengabarkanku bahwa Tole berada dirumah sakit. Aku langsung menuju rumah sakit yang dimaksud Rizki. Rasa panik menyelimutiku. Sesampainya disana, ternyata Tole masih di ruang UGD (Unit Gawat Darurat) dan saat ini sedang dalam keadaan kritis. Air mata yang sedari tadi aku tahan, akhirnya jatuh. “Ya Tuhan, tolong selamatkan Tole” Doaku. Aku bertanya kepada seorang Bapak yang bernama Bapak Sumiadi yang membawa Tole kerumah sakit, bapak tersebut berkata
“Semalam saya mendengar Tole menangis sangat kencang dan suara benturan keras sekali. Saya langsung datang kerumahnya, betapa kagetnya saya ketika melihat Tole sudah dalam keadaan lemah. Kepala belakangnya berdarah, makanya langsung saya bawa kerumah sakit. Memang sudah beberapa hari ini dia terus dipukuli oleh Ibu tirinya, tetangga tidak ada yang berani datang untuk meleari” Kata Bapak Sumiadi.
Rizki juga menjelaskan, bahwa luka memar yang aku lihat itu adalah bekas pukulan gagang sapu. Karena, uang yang diberikan Tole sedikit. Tole tidak mengatakan yang sebenarnya, karena dia takut. Tole juga tidak mengatakan bahwa ia kembali ke sekolah. Aku bertanya, kemana Ibunya sekarang? Bapak Sumiadi mengatakan bahwa Ibunya Tole sudah diamankan kepolisian dan adiknya sekarang telah diasuh oleh Istrinya Bapak Sumiadi.

Aku sangat panik, air mataku terus keluar, dan bibirku tiada hentinya berdoa untuk Tole. 45 menit menunggu akhirnya dokter keluar. Dan betapa terkejutnya aku, ketika dokter mengatakan bahwa nyawa Tole tidak dapat terselamatkan. Ya Tuhan, saat itu rasanya kakiku tidak menapak ditanah. Aku bingung dan sedih. Ketika aku masuk ke ruang UGD, Kulihat Tubuh Tole yang telah kaku dan membiru dan masih tersirat senyum diwajahnya. Rasanya ingin kubangunkan dia, dan berkata “Tole bangun dan kejarlah mimpimu”. Hari ini aku kehilangan malaikat kecilku. Tubuh Tole terkubur bersama impiannya.

Setelah pemakaman Tole, aku pulang kerumah. Aku terbaring di kasurku. Masih terbayang senyum Tole dipikiranku. Dan seketika aku ingat tugas yang kuberikan kepada anak-anak didikku. Langsung aku cari tumpukan buku mereka. Aku mencari buku Tole dan ada. Ku baca tulisannya
Terima kasih adalah suatu ungkapan balasan untuk seseorang yang telah menolong atau memberikan kita sesuatu. Karena dari itu aku ingin mengucapakn kata terima kasih kepada Ka Manda yang telah mengajarkanku berbagai macam ilmu. Aku jadi ingin seperti Ka Manda, yang meliput setiap kejadian. Sepertinya seru !! semoga Tuhan mengizinkan aku untuk hidup lebih lama dan menjadi seorang wartawan, agar aku bisa membahagiakan Ibu dan adik-adikku. Terima kasih Ka Amanda, aku sangat menyayangimu

Isi tulisan Tole membuatku menangis, dan dibalik tulisan tersebut ada sebuah gambar yang sepertinya itu aku dan anak-anak di sekolah kecilku. Kini Tole sudah tiada, aku berjanji kepada diriku sendiri. Tidak akan ada lagi anak yang bernasib sama dengan Tole. Semua anak Indonesia harus mengejar impiannya apapun itu. Karena dengan mimpi anak-anak Indonesia, mereka dapat mengubah nasib Indonesia dan mereka juga dapat mengubah dunia. Selamat jalan Tole semoga engkau selalu disisi-Nya. Amin

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment