Tepat pukul lima lewat enam belas menit, jam
analog di depan kemudiku memanggil penglihatanku ke arahnya. Langit yang
terlihat duka dengan suasana yang cukup gelap. Awan kelabu terpancar dari
langit berwarna biru tua kehitaman, tak seperti biasanya senja di jalan raya
Cikokol Tangerang.
Pada saat
seperti sekarang ini, kebanyakan para pekerja berlalu lalang dengan bus antar
kota atau kendaraan pribadi miliknya memenuhi jalan ini. Banyak pula pedagang
yang berjalan menjajaki dagangan mereka dikala lampu lalu lintas berwarna
merah. Berbagai macam suara terdengar sangat bising, mulai dari suara para
pedagang, suara kendaraan yang berbagai macam, hingga bunyi klakson mobil dan
motor yang tak sabar untuk melaju.
Di sekelilingku
yang jelas terdengar adalah suara anak punk yang mengamen dari mobil yang satu
ke mobil yang lainnya, menyanyi yang lagunya pun tak jelas terdengar di telinga
dengan gaya mereka yang cukup aneh. Tiang lampu lalu lintas yang kira-kira
terletak tujuh meter dariku itu masih berwarna merah, lampu penghitung waktu
itu pun masih mengeluarkan angka seratus tiga puluh detik lagi. Setiap harinya
para pedagang, pengamen, anak punk, hingga pengemislah yang rutin berada dijaln
tersebut.
Sampah-sampah
gelas pelastik, bungkus makanan ringan, hingga puntung rokok betebaran diantara
trotoar jalan yang penuh debu. Tak terlihat petugas sapu jalanan yang
membersihkan jalan itu. Suara peluit polisi yang mengatur lalu lintas di
perempatan cikokol sudah mulai terdengar bising.
Tak terasa lampu
penghitung waktu lampu lalu lintas telah menunjukan hitungan mundur sepuluh
detik, aku pun bersiap mengendalikan kemudiku kembali menyusuri jalan lurus
yang dipenuhi dengan segelintir makhluk yang penuh dengan kekhilafan
disepanjang hidupnya yang berliku.






0 comments:
Post a Comment