Aku
tidak tau pukul berapa ketika itu. Matahari sudah memancarkan sinarnya, namun
angin yang berhembus tetap saja terasa dingin. Akupun masih mengenakan sarung
tangan pink-ku. Kacamata hitam juga masih menutupi mataku, melindungiku
dari pasir yang menari-nari ketika angin berhembus. Yaa.. usut punya usut,
sudah beberapa hari terakhir angin berhembus kencang di daerah ini.
Jalanan
menanjak itu membuatku lelah. Tak sanggup melanjutkan perjalanan dengan
berjalan kaki, akupun memilih untuk menunggang kuda. Berhenti di anak tangga
paling bawah, kulanjutkan perjalanan dengan mendaki 250 anak tangga yang akan
membawaku menuju kawah gunung Bromo. Dengan rasa lelah yang harus aku kalahkan,
aku terus menaiki anak tangga tersebut satu persatu. Aku berhenti beberapa
kali untuk mengistirahatkan betisku yang mulai nyut-nyutan. Dan hingga akhirnya, sampailah aku pada anak
tangga yang terakhir. Tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi ketika aku
mencapai kawah. Hanya ada empat orang yang sedang berfoto mengabadikan
keindahan alam yang ada. Mungkin karena hari mulai siang? Atau mungkin karena bau belerang yang cukup menyengat
membuat pengunjung enggan berlama-lama.
Yang
pertama kulihat adalah asap yang mengepul dari kawah gunung Bromo
disertai dengan bau belerang yang cukup menyengat. Baunya yang seperti kentut
agak sedikit mengganggu namun tidak mengurangi keindahan alam yang ada. Kawah gunung
Bromo inipun cukup menegangkan bagiku, karena jika tidak berhati-hati, dan jika kita salah mengenakan alas kaki, bisa saja kita tergelincir dan terjatuh. Pagar pembatas
bibir kawah pun hanya sebatas pinggang saja, tentu agak mengerikan jika kurang
berhati-hati. Terdapat sebuah gunung di samping kawah dan sebuah gunung
dikejauhan, hijau, memukau. Dengan langitnya yang biru sempurna, serta awan seputih
kapas. Matahari bersinar terang, angin yang berhembus perlahan memberikan kesejukan
yang berbeda. Rasa lelahku menaiki 250 anak tanggapun seolah ikut hilang
bersama dengan hembusan angin. Benar-benar menyempurnakan keindahan alam ketika
itu. Sebuah suasana yang mahal sekali. Sulit untuk di dapat di kota-kota besar
layaknya Jakarta. Terbayar sudah segala lika-liku perjalanan yang kualami demi untuk
mencapai puncak kawah ini. Sabtu, 15 Februari 2014, dua hari selang setelah
terjadinya erupsi pada Gunung Kelud, Jawa Timur.






0 comments:
Post a Comment