15 Februari 2014

            Aku tidak tau pukul berapa ketika itu. Matahari sudah memancarkan sinarnya, namun angin yang berhembus tetap saja terasa dingin. Akupun masih mengenakan sarung tangan pink-ku. Kacamata hitam juga masih menutupi mataku, melindungiku dari pasir yang menari-nari ketika angin berhembus. Yaa.. usut punya usut, sudah beberapa hari terakhir angin berhembus kencang di daerah ini.
            Jalanan menanjak itu membuatku lelah. Tak sanggup melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, akupun memilih untuk menunggang kuda. Berhenti di anak tangga paling bawah, kulanjutkan perjalanan dengan mendaki 250 anak tangga yang akan membawaku menuju kawah gunung Bromo. Dengan rasa lelah yang harus aku kalahkan, aku terus menaiki anak tangga tersebut satu persatu. Aku berhenti beberapa kali untuk mengistirahatkan betisku yang mulai nyut-nyutan. Dan hingga akhirnya, sampailah aku pada anak tangga yang terakhir. Tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi ketika aku mencapai kawah. Hanya ada empat orang yang sedang berfoto mengabadikan keindahan alam yang ada. Mungkin karena hari mulai siang? Atau mungkin karena bau belerang yang cukup menyengat membuat pengunjung enggan berlama-lama.

            Yang pertama kulihat adalah asap yang mengepul dari kawah gunung Bromo disertai dengan bau belerang yang cukup menyengat. Baunya yang seperti kentut agak sedikit mengganggu namun tidak mengurangi keindahan alam yang ada. Kawah gunung Bromo inipun cukup menegangkan bagiku, karena jika tidak berhati-hati, dan jika kita salah mengenakan alas kaki, bisa saja kita tergelincir dan terjatuh. Pagar pembatas bibir kawah pun hanya sebatas pinggang saja, tentu agak mengerikan jika kurang berhati-hati. Terdapat sebuah gunung di samping kawah dan sebuah gunung dikejauhan, hijau, memukau. Dengan langitnya yang biru sempurna, serta awan seputih kapas. Matahari bersinar terang, angin yang berhembus perlahan memberikan kesejukan yang berbeda. Rasa lelahku menaiki 250 anak tanggapun seolah ikut hilang bersama dengan hembusan angin. Benar-benar menyempurnakan keindahan alam ketika itu. Sebuah suasana yang mahal sekali. Sulit untuk di dapat di kota-kota besar layaknya Jakarta. Terbayar sudah segala lika-liku perjalanan yang kualami demi untuk mencapai puncak kawah ini. Sabtu, 15 Februari 2014, dua hari selang setelah terjadinya erupsi pada Gunung Kelud, Jawa Timur.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment