Pagi ini aku bangun lebih siang dari biasanya karena sedang tidak
menjalankan kewajiban shalat. Saat membuka mata aku mencoba menyandarkan
punggungku kesandaran kasur yang terasa amat sangat empuk sambil mencoba
mengumpulkan nyawa yang masih berkeliaran dalam mimpi semalam. Saat aku terdiam
hidungku merasa mencium aroma sesuatu yang membuatku jadi penasaran. Aroma
harum itu sepertinya berasal dari sebuah masakan yang bersumber dari dapur
rumahku sendiri.
Aku mencoba memasuki ruang dapur yang berbentuk persegi panjang,
tidak terlalu luas namun tidak juga terlalu kecil karna penempatan
barang-barang perabotan yang cukup tepat sehingga membuat dapur tertata rapi. Aku
tepat berdiri di depan pintu dapur yang berada ditengah-tengah sisi panjang.
Tepat disamping kiri pintu terdapat kulkas 2 pintu setinggi tubuhku berwarna
silver yang masih berfungsi normal, kulkas pada bagian pintu atas tidak
terdapat bunga es atau biasa disebut (freezer). Dan disisi kanan terdapat mesin
cuci berbentuk kotak berwarna putih bersih yang mempunyai 2 pintu dan 2 fungsi,
yaitu untuk menggiling pakaian yang kotor dan satu lagi untuk mengeringkan
pakaian setelah digiling dan dibilas. Selang yang menyambung pada mesin cuci
untuk pembuangan airnya langsung menuju ke kamar mandi yang tepat berada
berdempetan dengan mesin cuci tersebut.
Tepat di depanku berdiri terdapat tempat cuci piring berkeramik
warna merah tua yang panjangnya ke arah kiri hingga membentuk sudut siku-siku
yang lebarnya sekitar 60cm dan memiliki 3 fungsi sekaligus. Fungsi pertama
yaitu untuk mencuci piring yang kotor sehabis digunakan. Di samping kanan
westafel terdapat sunlight dan spon yang ditempatkan disebuah mangkok tidak
terpakai, dan di samping kiri westafel terdapat rak berwarna putih tidak
terlalu tinggi yang hanya terdiri dari dua tingkat, tingkat pertama untuk
tempat menaruh gelas dan tingkat yang kedua untuk tempat menaruh piring yang
selesai dicuci. Fungsi yang kedua yaitu tepat di sudut sisi pojok untuk tempat
menaruh berbagai bumbu dapur yang selalu digunakan oleh mama. Bumbu dapur
tersebut diletakkan pada gelas-gelas kecil berwarna biru muda yang dikhususkan
untuk menempatkan seperti garam, gula, teh, kopi, lada, minyak dan lainnya. Lalu
di sudut sisi lebar digunakan untuk tempat menaruh kompor berwarna abu-abu tua
yang memiliki 2 lobang api untuk digunakan memasak. Tabung gasnya diletakkan
pada laci berwarna coklat tua yang berada tepat di bawah kompor tersebut. Semua
tempat itu sejajar setinggi pinggang orang dewasa.
Lalu di sudut kiri tepat di samping kulkas terdapat rak piring 4
pintu yang jika dibuka dari sudut tengah, 2 pintu diatas dan 2 pintu dibawah
yang berpintukan kaca tebal warna abu-abu muda agak burem yang terukir
bermotifkan bunga. Untuk pintu atas sengaja diisi oleh gelas-gelas beling,
palstik, botol minum dan tempat bekal makanan yang biasa digunakan untuk
sehari-hari. Lalu untuk pintu yang di bawah dikhususkan untuk menaruh piring
beling dan plastik yang biasa digunakan makan sehari-hari dan juga mangkok yang
terbuat dari beling dan plastik juga.
Ternyata benar aroma tersebut berasal dari arah dapurku, karena
kulihat mama sedang serius mengolah masakannya dan berdiri tepat di depan
kompor dan membelakangiku. Aku mencoba memperhatikan apa yang sedang ia lakukan
dan mencoba untuk membantunya.






0 comments:
Post a Comment