Kamar Di Kampung
Halaman
Sebelah selatan dari ruang tamu, kulihat kalimat bertuliskan
“ annadzafatu minaliman” diukirkan dalam literatur arab khat naskhi
yang cukup apik beralaskan kayu menempel pada pintu coklat politur jati
berwarna coklat tua. Tak lain adalah kamar kedua orangtuaku.
Aku pegang gagang pintu berwarna kekuningan itu, aku buka
perlahan terdengar suara ciit bunyi engsel yang sudah tua dan karatan. Di balik
pintu terdapat baju dan celana yang di gantung pada cantolan panjang, di atas
pintu terpampang indah gambar walisongo.
Sebelah kanan pintu terdapat kasur berwarna merah terbuat
dari kapuk berbalut sprei motif bunga-bunga. Di atasnya terdapat dua buah
bantal dan sebuah bantalguling beserta selembar selimut berwarna hijau daun
terlipat rapi di atas kasur.
Sebelah kiri pintu terdapat meja rias berbentuk persegi
panjang berukirkan ukiran khas jawa kuno beralaskan kaca bening yang terlihat
mengkilap.
Tepat dihadapanku berdiri tegak lemari besar dengan empat
pintuu berukirkan ukiran khas bali terbuat dari kayu kamper berisikan pakaian.
Di depan pintu lemari tergantung sebuah jubbah putih halus beraromakan hajar
aswad. Dinding kamar terbuat dari batu bata halus, di gantung di atas dinding
itu ukiran ayat kursi berlapiskan bingkai kaca.
Di pojok kanan kamar terdapat sebuah lemari kaca kecil
berukuran 1x1 dengan tiga tingkat. Di dalamnya terdapat kitab Fiqih pada
tingkat pertama, kitab Hadits pada tingkat kedua dan kitab Bahasa Arab pada
tingkat ketiga atau paling bawah
Aku ambil sebuah kitab Hadits tebal berwarna hitam merah,
lalu aku bergegas meninggalkan ruangan.






0 comments:
Post a Comment