Rumah Tua
Di
hari pertama kepemindahanku di daerah baru ini, hampir semua keadaan daerah ini
terlihat baik, tetangga yang ramah meyambut kami dengan hangat, dan pemandangan
yang lumayan tidak terlalu gersang karena ada beberapa pohon mangga disetiap halaman
rumah di daerah ini, meskipun halamannya tidak terlalu luas. Namun satu hal yang menganggu pemandanganku, yaitu
rumah tua yang berada seratus meter diseberang rumahku.
Rumah
tua itu seperti tidak terawat bertahun-tahun, halamannya dipenuhi dengan rumput
liar, sampah-sampah daun kering, ranting-ranting pohon yang patah, dan yang
paling banyak adalah sampah botol plastik, sampah-sampah bungkus makanan ringan
dan bungkus rokok. Saat aku masuk ke halaman rumah itu ternyata bukan hanya
sampah yang menyambutku tapi juga bau busuk dari bangkai tikus yang berada
diantara tumpukan sampah bekas makanan ringan.
Rumah
tua ini tidak terlalu luas hanya sekitar 30 meter, dengan fondasi rumah hampir
keseluruhan dari kayu kecuali dua bagian samping rumah ini yang sudah berupa
tembok namun tidak beraturan. Kemudian, terdapat pagar yang menyatu dengan
rumah yang bagian tengah dari pagar itu, yang juga searah menuju pintu rumah
seperti sengaja tidak dipagari sebagai pintu masuk. Rumah ini memiliki satu
jendela dan satu pintu yang berdampingan, terdapat pula kursi kayu berkaki
empat yang usang dan sangat kotor di sudut rumah. Jendela rumah ini berwarna
merah dibagian sisinya yang sudah tidak terlihat warnanya dari kejauhan karena
sangat berdebu, buram dan kotor, bahkan dari kacanya aku tidak bisa melihat
keadaan di dalam rumah itu. Lantai depan rumah ini juga terbuat dari kayu, yang
ketika aku menginjaknya terdengar bunyi kayu yang akan patah dan memang ada bagian
lantai ini yang sudah rusak seperti bekas injakan seseorang sebelumnya.
Pintu
rumah tua ini berwarna coklat tua dengan gagang pintu yang berkarat. Aku
mencoba membuka pintu itu, namun gagal. Aku mencobanya lagi, kali ini dengan
sedikit dorongan dan pintu itu terbuka. Setengah badanku terhempas masuk ke
dalam, aku benar-benar disambut sekali lagi dengan bau bangkai yang sangat menyengat.
Bagian dalam rumah ini tidak jauh berbeda dengan keadaan halamannya yang penuh
dengan sampah, namun di dalam, sampahnya bukan ranting atau daun kering, tapi
debu dan beberapa bungkus sisa makanan. Tidak banyak benda di dalam rumah tua
ini, hanya ada kursi kayu kecil dan mejanya disudut ruangan sebelah kiri pintu
masuk, kemudian ada kasur yang dibiarkan begitu saja dilantai dengan kondisi
rusak, dan banyak kayu-kayu yang bersebaran disisi-sisi ruangan. Rumah ini
justru terlihat seperti gudang tua dari pada rumah hunian di bagian dalamnya.
Tidak ada hiasan apapun di dindingnya, dan aku
melihat terdapat satu pintu dibagian kanan sudut rumah yang mungkin itu adalah
sebuah kamar mandi. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam meski sebagian
badanku sudah berada di dalam. Aku lebih memilih mengakhiri keingintahuanku ini
dari pada benar-benar masuk ke dalam, kamudian aku menarik pintu itu dan
kututup secara perlahan.






0 comments:
Post a Comment