Dapur Pondok
(Deskripsi Ruang)
Tiba
waktu makan siang, para santri bergegas mengambil peralatan makan yang mereka
miliki. Para santri berbondong-bondong menuju ruang makan tak sabar menyantap
lauk hari ini. Akupun ikut bergegas ingin mengambil bagian. Tertegun, antrean
sudah semakin panjang dengan berat hati aku mengantri di bagian paling
belakang.
Kini
giliranku mendapat jatah makanan. Sekali lagi aku tertegun, semua lauk habis. Aku
menghela napas dan bergegas ke dapur. Ternyata di sana hanya ada aku dan ibu
yang selalu menyiapkan makanan enak buat para santri.
Aku
memasuki dapur, kulihat di sebelah kiri pintu dapur terdapat pendopo besar
untuk menaruh bahan-bahan mentah panganan. Disana ada telur, berjejer karung
beras, kerupuk dan masih banyak lagi. Aku beralih pandangan ke sebelah pendopo
terdapat rak piring yang ukurannya kecil.
Aku
menelusuri lebih dalam lagi, ternyata inti dapur berada di luar halaman. Di sana
terdapat kuali, panci, dan alat masak lainnya yang berukuran sangat besar, yang
mungkin dapat memasak untuk kurang lebih 100 orang.
Di
tengah halaman seorang ibu sedang mempersiapkan masakan untuk makan malam. Di sebelah
halaman ada tempat untuk mencuci piring atau alat masak yang kotor terbuat
hanya dari semen saja.
Aku
beralih ke dalam dapur dan melihat di sebelah kanan pintu terdapat lemari tua
nan kokoh. Aku sedikit mengintip isi dari lemari tersebut. Ternyata di sana
terdapat kebutuhan pokok lainnya seperti garam, gula, dan teh.
Selagi
menunggu masakan untukku datang, aku duduk di kursi sambil memperhatikan pojok
demi pojok ruangan itu. Selang waktu, terdengar suara deheman seseorang
mengagetkanku. Ketika ku lihat ke belakang ternyata itu guruku yang ingin
memasuki dapur. Akupun hanya tersenyum dan ingin segera kembali ke asrama.
Oleh : Sabila Aufar
NIM : 1112046200016






0 comments:
Post a Comment