Pagi itu aku terbangun karena
aroma masakan yang sengat harum masuk ke dalam kamarku. Aku menghampiri wanita
cantik yang berada di ruangan yang tidak besar dan cukup bersih itu, dia ibuku
yang sedang membuat sarapan. Ibuku membuat makanan yang sangat nikmat yaitu macaroni schootle. Ia berdiri disebuah
meja makan bulat besar yang cukup untuk diduduki empat orang, ia sedang membuka
lemari es dua pintu yang berisi penuh dengan berbagai macam makanan. Aku membantu
ibuku mengupas bawang bombay disamping tempat cucui piring yang bersebelahan
dengan kompor yang menyala yang sedang merebus macroni.
Terdapat kitchen set berwarna coklat yang menhelilingi dinding atas ruangan
itu. Aku mengambil wadah piring tak terlalu besar untuk menganduk adonan yang
telah disiapkan ibuku didalam kitchen set
yang berada di atas tempat untuk mencuci piring. Aku merasa haus sekali
lalu aku minum air putih dari dispenser berwarna putih dan merah yang terdapat
di sebelah meja makan dan rice cooker.
Ibuku mengangkat macaroni yang sudah direbus menggunakan
saringan dan codet, lalu ia mematikan kompor dan mesin penghisap asap yang
berada di atas kompor gas. Setelah samua adonan telah siap lalu aku memasukkan
adonan ke dalam oven yang berwarna silver yang terletak di sebelah lemari es. Sambil
menunggu makananku matang aku menyiapkan minum, secangkir teh hangat. Aku mengambil
cangkir yang berada didalam kitchen set
di atau kulkas. Aku menyiapkan teh dan gula.
Aku membuat teh manis hangat di
meja makan lalu aku mengangkat macaroni
schootle yang telah matang. Aku membuka oven dan aromanya pun memanggil,
ayahku ke meja makan juga, lalu aku menyiapkan piring dan sendok garpu di meja
makan. Aku, ibu, dan ayahku telah siap untuk sarapan, satu bangku kosong di
meja makan itu, itu adalah kursi kakakku yang sekarang sedang berada di
Surabaya. Kami menikmati hidangan sarapan pagi itu dan tak lupa aku menyalakan
televisi yang berada di ruang makan. Sarapan pagi itu di ruang makan sangatlah
berkesan.






0 comments:
Post a Comment