Cerpen

The Introvert Love Life

Rafi adalah seorang siswa SMA biasa yang tidak banyak bicara. Ini adalah tahun pertamanya di bangku SMA. Saat penempatan kelas, Rafi masuk di kelas 10.3 bersama dengan Toni, Kevin, Maria dan Angel yang sudah menjadi temannya semenjak masih di bangku SMP. Dia merasa cukup bahagia karena bisa satu kelas dengan mereka. Saat masih orientasi siswa Rafi lumayan menjadi pusat perhatian para perempuan karena wajahnya yang tampan. Rafi tidak menyadari hal tersebut karena dia memang tidak peka dalam membaca suasana dan cenderung mengabaikan hal-hal yang menurutnya tidak penting. Namun, ada satu orang perempuan di kelas yang membuat Rafi tertarik sejak saat pertama melihatnya. Nama perempuan itu adalah Rallin, ia memang terlihat cantik dengan hidungnya yang mancung, matanya yang besar, kulitnya yang putih, dan rambutnya yang lurus dan panjang bagai putri Rapunzel di cerita dongeng. Jika dibayangkan, mereka akan menjadi pasangan yang ideal karena Rafi memiliki wajah yang tampan dan Rallin memilki wajah yang cantik. Namun hal itu hanya baru ada dibenak Rafi. Sifatnya yang pendiam membuat dia tidak dapat melakukan hal yang bisa menarik perhatian Rallin. Dia hanya bisa mengagumi keindahan Rallin dari kejauhan.
Saat hari Selasa pada mata pelajaran sosiologi, Ibu Endang memberikan tugas kelompok yang beranggotakan empat orang. Dalam hati Rafi berkata “semoga satu kelompok sama Rallin...semoga satu kelompok sama Rallin...” dan setelah mendengar Ibu Endang membagikan kelompok, Rafi merasa gemetar sekaligus gembira karena keinginannya terkabul yaitu satu kelompok dengan Rallin. Anggota kelompok Rafi yang lain adalah Toni dan Angel. Pada hari Sabtu mereka berencana mengerjakan tugas tersebut di rumah Angel. Karena Rallin tidak ada yang mengantar, pada hari itu Rafi merasa semangat karena dia menjemput Rallin untuk mengerjakan tugas di rumah Angel. Sesampainya di rumah Rallin, Rafi memanggil “Rallin..Rallin..” Rallin pun menjawab “iya tunggu sebentar Raf” dan saat Rallin keluar dari pintu, angin menghembuskan perlahan rambut panjang Rallin, lalu Rafi sejenak terdiam seperti patung memandangi Rallin dengan mata kosong yang terlihat bodoh. Karena bingung, Rallin bertanya “Kamu kenapa Raf?” Rafi tetap terdiam, hal itu membuat Rallin merasa semakin bingung lalu dia memegang bahu Rafi dan kembali bertanya “Raf..Raf kamu gapapa kan?” saat itu Rafi baru terbangun dari imajinasi yang sempat menguasainya beberapa saat dan menjawab dengan gugup “ah..hm..gapapa kok Lin” dan Rallin hanya membalasnya dengan senyuman dan tawa kecil seolah sudah tahu apa yang ada dipikiran Rafi. Di perjalanan, Rafi ingin sekali berbincang dengan Rallin tetapi dia terlalu takut untuk memulai sebuah percakapan. Akhirnya merekapun hanya terdiam hingga sampai di rumah Angel.
Sesampainya dirumah Angel mereka duduk sebentar dan tidak lama kemudian Toni datang. Mereka semua langsung mengerjakan tugas mereka dan saat sedang mengerjakan tugas tiba-tiba toni berbicara dengan nada bercanda “Rafi sama Rallin pacaran ya?” lalu Rallin menjawab “haha enggak Ton” dan Rafi hanya terihat malu dan salah tingkah mendengar candaan Toni. Rallin melihat kearah Rafi dan sedikit tertawa melihat tingkah lucu Rafi yang sedang salah tingkah. Setelah selesai mengerjakan tugas, Rafi, Rallin, dan Toni pulang ke rumah mereka. Rafi mengatar Rallin pulang dengan sepeda motornya. Di perjalanan, Rafi memberanikan diri untuk berbincang dengan Rallin, Rallin pun meladeni omongan Rafi dengan senang. Sampai di rumah Rallin, Rallin mengatakan “terima kasih ya Raf” Rafi menjawab sambil tersenyum “iya sama-sama Lin”. Terlihat mata mereka berdua berbinar, nampaknya Rallin juga sudah mulai menyukai Rafi. Setelah itu, karena rumah Rafi dan Rallin tidak terlalu jauh, mereka sering berangkat menuju sekolah bersama. Rafi merasa sangat senang karena sudah mulai bisa mendekati Rallin. Begitupun dengan Rallin, dia juga terlihat bahagia.
Seiring berjalannya waktu, Rallin sudah mulai memiliki rasa yang sama seperti dengan yang Rafi rasakan terhadap dirinya. Rallin sering merasa terhibur dengan tingkah laku Rafi yang lucu ketika berbincang atau sekedar melihat dirinya, dia juga merasa senang dengan sifat baik dan peduli Rafi terhadapnya. Namun, dengan sifat Rafi yang pendiam dan tertutup, dia tidak berani menunjukan perasaan sebenarnya kepada Rallin, dia justru memendam perasaannya itu. Rafi hanya berani mendekati Rallin seperti teman secara umum. Dia tidak berjuang dengan maksimal untuk mengejar Rallin. Disamping itu, karena kecantikan dan kebaikan Rallin, sudah sewajarnya jika banyak pria yang mendekatinya. Tetapi Rallin tidak memperdulikan pria lain yang mendekatinya, dia hanya berharap kepada Rafi. Karena Rallin seorang perempuan, dia tidak bisa melakukan apapun selain menunggu Rafi untuk mengatakan cinta kepadanya.
Saat ini mereka sudah berada di kelas 11. Rafi masuk kelas 11 IPA 2 dan Rallin masuk 11 IPS 3. Dengan berbeda kelas, hubungan mereka pun menjadi merenggang. Rafi tetap dengan sifatnya yang pesimis belum berani mengatakan perasaanya kepada Rallin walau semua temannya telah memberi motivasi untuk segera mengatakan cintanya. Rafi terlalu takut mendapat jawaban yang tidak diinginkannya dari Rallin. Lalu karena sudah terlalu lama menunggu, akhirnya Rallin mencoba untuk membuka hatinya kepada pria lain. Dia telah lelah dan bosan menunggu Rafi, menurutnya selama ini Rafi hanya bisa memberi ketidakpastian dan menggantungkan perasaannya.
Akhirnya Rallin telah memiliki pria lain. Pria itu bernama Lucky. Sesuai dengan namanya, pria itu sungguh beruntung bisa mendapatkan perempuan secantik Rallin. Mengetahui hal itu, Rafi merasa sangat terpukul dan dia hanya bisa menyesali kesalahan yang ia buat. Perasaan Rafi seakan jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan tidak bisa memanjat keluar dari lubang tersebut, hanya kegelapan dan keheningan yang bisa ia rasakan. Dilain sisi sesungguhnya Rallin masih memiliki perasaan ke Rafi, tidak mudah bagi Rallin untuk dapat sepenuhnya melupakan Rafi. Rallin menyadari jika ia telah membuat Rafi sakit hati, lalu karena merasa tidak tega, Rallin berusaha untuk menghibur Rafi dengan segala cara. Rafi selalu mencoba untuk tersenyum ketika berbicara atau sekedar berpapapasan dengan Rallin. Rafi selalu berusaha untuk terlihat baik-baik saja ke semua orang walau di dalam hatinya ia merasakan kepedihan.
Hari demi hari, Rallin bersama Lucky, namun Rafi tetap sendiri. Saat ini mereka sudah berada di kelas 12. Sudah lumayan lama semenjak Rallin bersama dengan Lucky, namun perasaan Rafi kepada Rallin sama sekali belum berubah. Sesungguhnya Rafi disukai oleh banyak perempuan di sekolahnya, namun karena sifatnya yang sering mengabaikan berbagai hal, ia sama sekali tidak menyadari akan hal itu. Rafi terlalu fokus kepada Rallin dan mengabaikan perempuan-perempuan lain yang suka kepadanya. Dia setia menunggu Rallin walau itu merupakan hal yang tidak pasti.
 Suatu hari di sekolah, Rafi tidak sengaja melihat Rallin dan Lucky sedang berbincang. Ada yang aneh dengan perbincangan mereka, mereka terlihat sedang berkelahi karena suatu hal. Hal itu ditegaskan karena Rafi melihat Rallin sedang menangis. Melihat hal tersebut, Rafi bingung harus merasa kasihan atau justru senang. Kasihan karena melihat Rallin menangis dan senang karena sepertinya hubungan mereka akan berakhir. Karena penasaran, malam harinya Rafi memberanikan diri datang kerumah Rallin untuk bertanya apa yang terjadi dengan hubungan dia dan Lucky. Rafi bertanya “Lin sebenarnya bagaimana hubungan kamu dengan Lucky?” secara mengejutkan Rallin menjawab dengan mata yang berkaca-kaca “kita putus Raf” mendengar jawaban itu, dalam hati Rafi merasa senang bercampur dengan rasa kasihan. Lalu Rafi berusaha untuk menghibur Rallin yang sedang bersedih dan perbincangan mereka berlanjut hingga malam.
Melihat kesempatan untuk mendapatkan Rallin terbuka, Rafi mulai mendekati Rallin kembali. Saat ini Rafi terlihat lebih berani mendekati Rallin karena ia telah banyak belajar dari pengalamannya. Rafi tidak ingin mengulangi kesalahanya pada masa lalu yang terlalu takut untuk menyampaikan perasaannya. Rafi menjadi lebih sering berbincang dengan Rallin dan berhubungan melalui handphone. Rallin merespon pendekatan Rafi dengan baik karena ia juga masih memiliki perasaan dengan Rafi. Namun sekarang mereka sudah kelas 12 yang berarti sudah tidak ada banyak waktu lagi bagi Rafi untuk mengungkapkan perasaannya. Mereka telah selesai menghadapi ujian nasional, dengan demikian kesempatan terbaik Rafi untuk mengungkapkan perasaannya adalah saat acara perpisahan.
Menjelang acara perpisahan, Rafi telah membulatkan tekad untuk segera mengungkapkan perasaannya yang telah lama ia pendam itu. Dia telah menyiapkan kata-kata manis agar dapat mengetuk pintu hati Rallin. Di acara perpisahan, perasaan Rafi sangat tidak menentu. Perasaan tegang yang luar biasa menyelimuti dirinya dan membuat Rafi bertingkah seperti bukandirinya sendiri. Dia menunggu waktu yang tepat untuk berbiara dengan Rallin. Setelah acara pemberian medali, Rafi merasa ini adalah waktu yang tepat baginya. Dia menghampiri Rallin dengan kaki yang sedikit gemetar. Tiba-tiba dia lupa dengan seluruh kata-kata yang ia telah persiapkan untuk Rallin, dan secara spontan Rafi akhirnya berbicara “Rallin, selama ini sebenarnya aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu, aku selalu mikirin kamu dan aku mau kamu selalu ada disisi aku”  setelah menghela nafas Rafi meneruskan “kamu mau ga jadi pacar aku?” Rallin terdiam sejenak karena merasa sangat tidak percaya, dan sambil menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh dia menjawab “kenapa beru sekarang Raf? Aku udah nunggu kamu! Aku udah nunggu kamu dari kelas 10 untuk bilang gini!” emosi Rallin menguasai dirinya sampai ia menangis sedih dengan hebatnya. Dengan perasaan amat bersalah Rafi menjawab “maaf Lin, aku emang egois, aku terlalu takut untuk bilang ini ke kamu dari dulu, maafin aku Lin. Kamu jangan sedih ya”. Dengan lantang Rallin menjawab “telat Raf!! Kamu telat! Aku sayang sama kamu... aku sayang banget sama kamu! Tapi....aku gabisa, setelah lulus aku bakal kuliah di luar negeri. Papa aku udah ngurus semuanya, aku bakal kuliah dan tinggal di Jerman, maaf Raf” mendengar jawaban yang tidak disangka itu, Rafi merasa sangat terpukul. Saking terpukulnya, ia hanya bisa diam tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Kemudian Rallin mendekat ke Rafi dan memeluknya dengan penuh kasih sayang dan dengan air mata yang berlinang.

Pelukan itu merupakan pelukan yang pertama dan terakhir untuk mereka. Di dalam pelukannya, Rallin membisikan sesuatu ke telinga Rafi dan langsung pergi meninggalkan Rafi dengan perasaan sedih yang luar biasa. Rafi pun merasakan hal yang sama, ditambah Rafi tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri yang terlalu takut untuk mengatakan perasaan sebenarnya kepada Rallin sejak awal. Dia hanya bisa terlarut dalam kesedihan dan kesalahnannya sendiri, dan ia selalu teringat kalimat terakhir yang dibisikan Rallin satt memeluknya, yaitu “cinta bisa melakukan apa saja, tetapi ada satu hal yang tidak bisa cinta lakukan, yaitu menunggu”

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment