Cerpen Kasih Sayang




KADO DARI MAMA

Pada suatu senja kami tiba di tempat tujuan.  Tiba dimana nenekku tinggal di kota Purwokerto yang masyhur disebut kota satria namun ia tinggal di tempat yang jauh dari kota sangat pedalaman desa yaitu Karang Lewas. Sudah lama tidak berkunjung di tempat yang sangat sejuk, kicauan burung-burung terbang kesana kemari, rumput-rumput nan hijau, sawah yang luas,  dan  angin  sepoi-sepoi ketika pagi tiba. Alangkah indahnya desa ini. Lalu kudengar lantunan ayat suci Al Qur’an yang begitu indah dan membuat suasana kampung menjadi tentram dan damai. Usai sudah anak-anak bermain di halamannya dan memasuki rumahnya segera untuk mandi dan pergi ke mushala. Ingin segera aku mengikuti langkah-langkah mereka. Lalu suara adzan magrib berkumandang dan kudengarkan dengan sedikit menundukkan kepala. Tak biasanya aku mengamati kampung pedalaman yang nenekku tinggal. Yang biasanya ketika adzan magrib tiba, aku pergi dengan sendiri untuk mencari suasana malam yang ramai seperti di Jakarta. Entah kenapa di saat tersebut, aku duduk dan mendengarkan adzan dengan sangat khidmat. Hatiku sangat damai dan ingin mengikuti langkah anak-anak ke mushala. Mushala yang tidak jauh dari rumah nenekku sekitar 100 meter. Namaku Rista anak semata wayang, asal Jakarta dan hidupku banyak menghabiskan uang. Toh hidup ini Cuma sekali.
Selama ini aku memang anak yang susah diatur, berwatak keras dan belum bisa menghargai orang lain. Namun aku berprestasi di sekolah. Itu menjadi suatu kebanggaan bagi orang tuaku. Apapun yang ku inginkan asalkan aku berprestasi di sekolah.
“Rista … “ teriakan papah mengagetkanku.
“Apa sih pah teriak-teriak ga jelas, berisik deeeh.” Teriakanku dengan sangat kesal pula.
Aku melangkah keluar dari rumah nenek. Kulangkahkan kaki menuju suara teriakan anak-anak yang ternyata itu suara hafalan yang ada di mushala. Ada yang hafalan sambil duduk terdiam, ada yang hafalan sambil lari-larian, dan berbagai macam yang mereka lakukan. Lalu aku berdiri dan terdiam di depan mushala. Tak lama kemudian seorang nenek-nenek tua memakai mukena menyapaku dan mengagetkanku. “Nduuk … mboten enjing teng mushala?”[1] kutengok nenek dengan muka malas dan kubalas dengan senyuman yang cuek lalu kumeninggalkan nenek . Aku malas ngeladenin nenek tua itu dan apa lagi menggunakan bahasa Jawa. Jika nenekku sedang mengobrol denganku kami menggunakan bahasa Indonesia, dia sudah mengetahuinya kalau aku tidak bisa berbahasa Jawa.  Sebenarnya yang aku sukai di daerah pedalaman tersebut yaitu, angin yang sangat sejuk dan pemandangan yang penuh asri. Tetapi ketika ingin shoping di sana susah sekali untuk menemukan mall tidak seperti yang ada di Jakarta. Kesalku dalam hati.
Sesampainya di rumah nenek.
“Ristaa sayang ……” mama menyapa dan mendekatiku
Mama pribadi yang sangat lembut dan sabar menghadapiku yang begitu keras kepala. Kuberi senyuman yang malas.
“Makan dulu ya nak! Kalau Rista tidak mau makan, kita cari restoran aja yuuuk.” Bujuk mama
Lalu kuberlari ke ruang makan dan bergabung dengan keluarga untuk makan bersama dan kutolak bujukan mama. Sudah lama sekali kami tidak berkunjung dan makan bersama di tempat nenek. Hanya liburan sekolahku saja kami mengunjunginya. Canda tawa keluargaku di ruang makan membuatku mengerutkan jidat dan segera kuselesaikan makan malamku. Memang kalau sudah bertemu segala macam masalah akan hilang sejenak dan tawa mereka kadang menggelikanku akan bahasa Jawanya. Aku sungguh tidak mengerti bahasa percakapan mereka. Namun nenek segera mengalihkan pandangan ke arahku dan bertanya-tanya tentang prestasiku di sekolah.
“Rista cucu nenek yang paling cantik, setelah liburan ini usai. Kamu akan melanjutkan SMA dimana nak?” Tanya nenek dengan lembut seperti mama.
Memang aku belum memikirkan pendidikanku selanjutnya, entah kenapa mama dan papa terdiam soal ini dan entahlah apa yang mereka rencanakan. Teman-teman di sekolah pasti melanjutkan ke sekolah yang berakreditas A, sekolah yang elite dan termasyhur.
“Nek, aku mau sekolah di luar negri loh dan sebelum aku berlibur aku mendapatkan beasiswa ke luar negri dari sekolah.” Jawabku dengan senang
“Waaaah hebat sekali cucu nenek. Memang apa sih nak yang membuat kamu ingin sekolah di luar negri?” Tanya nenek dengan serius
“Aku ingin menjadi orang yang besar dan pintar oleh banyak pengetahuan nek.” Jawabku dengan tegas.
Lalu kami akhiri makan malamnya dan semua keluargaku melaksanakan shalat isya berjama’ah kecuali aku. Mama, papa, nenek, paman dan bibi semua mengajakku untuk segera mengambil air wudlu tapi kulangkahkan kaki ke ruang televisi.
Usai shalat berjama’ah, mama membawakan buah apel yang telah dikupas dan menghampiriku dengan senyuman yang membuat wajah mama lebih cantik. Kubalas senyumannya dan kuambil buah yang mama bawa. Tak lama kemudian papa mengambil buah apel juga.
“Mama pengen anak mama masuk ke pesantren dan setelah lulus dari pesantren mama janji akan menunaikan ibadah haji bersama keluarga.” Celetuk mama.
“ Loh mam ga harus juga kan anaknya masuk pesantren norak banget deh masuk pesantren! Kita kan bisa berangkat haji secepat ini mam. Kok ngajaknya lama banget deh.” Kesalku
Lalu papa segera memelukku, hening sekali ruangan televisi tersebut hanya volume televisi saja.
“Apa mungkin ini rencana mama dan papa yang sengaja dirahasiakan?” Gumamku dalam hati. Bergegaslah berbaring ke tempat tidur dan kumatikan lampu kamar yang sangat mungil ini.
Kicauan burung, terangnya matahari dari sudut jendela dan kurasakan hangatan pelukan mama yang sedang tidur di sampingku. Kupeluk erat tubuh mama dan kata-kata kesal yang terjadi semalam selalu ada dibenakku dan dipikiranku. Lalu papa datang untuk membangunkanku namun aku sudah bangun.
“Pagi mama pagi Rista sayang” sapaan papa yang lembut dengan gagahnya dan tak lupa cium kening kami.
Tiap hari kudengar lantunan ayat suci al qur’an dan adzan tiap waktu dari mushala, rasanya tentram dan damai sekali. Pernah sekali diam-diam aku pergi ke mushala dan mengikuti shalat berjama’ah dan sedikit mendengarkan khutbah dari kyai yang berisi “ Selama kau hidup di dunia ini jangan kau sia-siakan, berbuat baiklah kepada sesama, bersedekahlah dan jadikanlah shalat sebagai penolongmu kelak ………… ” lalu kulangkahkan kaki menuju rumah nenek dan sambil mengulang-ulang kata-kata khutbah kyai di mushala tadi.
2 minggu lamanya kami berlibur di rumah nenek, mama dan papa tidak merespond beasiswaku yang telah kudapat dari sekolah. Kesal, benci, marah, dan lain sebagainya. Teman-temanku sudah menentukkan pilihannya untuk melanjutkan pendidikannya. Aku sangat iri dengan mereka. Kuberanikan diri bertanya pada papah yang sedang mengaji di ruang shalat.
“Pap, teman-temanku sudah lulus ujian untuk melanjutkan sekolahnya dan berbagai macam sekolah yang mereka tentukkan. Apa aku berhenti sekolah? karena mama dan papa tidak punya uang untuk melanjutkan aku sekolah? Tanyaku pasrah sambil menundukkan kepala.
“Looh kok kamu bilang begitu nak, mama papa masih bertanggung jawab untuk menyekolahkan kamu. Cuma mama dan papa ingin kamu lebih memahami agama dan berbudi pekerti. Jangan sia siakan hidup kamu, bersikap dewasalah. Papa harap kamu mengerti ya sayang.” Jelasnya dengan tenang.
Tiba-tiba ingat khutbah kyai ketika shalat berjama’ah di mushala “jangan sia-siakan hidup ini dan berbuat baikklah.” Ku tak kuasa menahan air mata. Dan entahlah aku pasrah apa yang dijelaskan oleh papa. Lalu kupeluk papa dengan erat.
“Mungkin ini jalan yang terbaik untukku, aku akan menuruti kemauan mama dan papa asalkan aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Pap maafin Rista ya, Rista janji akan perbaiki sifat Rista dan mama papa selalu sayang Rista kan?” Tangisku
Lalu datanglah mama dan nenek menghampiri kami yang sedang di ruang mushala dan mendengarkan percakapan kami sambil terharu mendengarkan kata-kata barusan.  
Usai sudah liburan di rumah nenek dan aku melanjutkan sekolahku di pesantren Al Istiqomah yang jauh dari Jakarta yaitu di kota Purwokerto di kecamatan Banyumas lumayan jauh dari tempat nenek. Namun tidak masalah, aku niat untuk menuntut ilmu menjadi orang yang besar akan ilmu. Aku sudah yakin untuk melanjutkan sekolah di pesantren, walaupun banyak teman-temanku mengejutkan akan keputusanku. Aku banyak dapat nasehat dari orang-orang yang kusayangi.
Tibalah di pesantren, aku disambut oleh teman-teman baru yang sangat ramah namun aku tak peduli oleh mereka. Tak lama kemudian orang yang telah mengantarku ke pesantren berpamitan untuk pulang yaitu ada mama, papa, nenek, paman dan bibi merekalah orang yang sayang padaku dan sabar menghadapi sikapku. Mama selalu memelukku dan meneteskan air mata dan membuatku tidak optimis lagi untuk tinggal di pesantren. Papa segera menarik tangan mama dan mengusap air mata dengan tangannya.
“ Mama jangan nangis dong, Rista baik-baik saja kok sama temen-temen baru Rista di pesantren mam.” Jelasku
Semua keluargaku masuk ke dalam mobil untuk perjalanan pulang. Kulihat papa meneteskan air mata ketika memelukku erat. Dan kulambaikan tangan untuk berjumpa kembali. Tak lupa ku ucapkan
 “Assalamu’alaikum …. Semoga sampai tujuan ya” teriakku
Mereka menjawab serentak “Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh, iya sayang”
1 bulan telah berlalu banyak yang kurasakan. Tidak betah, bertengkar dengan teman sekamar ulah sikapku yang ceroboh, sakit demam, kangen keluarga. Rasanya ingin bebas dan kabur dari pesantren namun banyak perubahan yang aku alami. Suatu ketika mama menelpon dan mengobrol lewat handphone dari pembimbing kamarku.
“Rista kangen mama sayang? Tanyanya dengan melas
“Assalamu’alaikum mama? Sapaku untuk mengawalinya
“Wa’alaikumussalam wr wb Rista sayang, gimana kabar nak? Lagi ngapain? ………………………….” Tanya mama panjang lebar sampai aku tidak bisa menjawab pertanyaannya semua. Ku ceritakan semuanya apa yang aku dapatkan selama 1 bulan ini. Mama sangat bangga atas perubahanku. Lalu aku mengadu “mah aku tidak betah di pesantren. Jauh dari mama dan papa”
“Coba satu tahun dulu ya sayang, kalau kamu tidak betah kamu boleh keluar.” Obrolan kami berakhir dan aku melanjutkan kegiatan di pesantren.
1 tahun telah ku coba, aku mendapatkan prestasi di pesantren. Tidak lupa mereka menjengukku selama 1 tahun sekali dan aku mengadu kembali “Mam pap, Rista engga betah di pesantren”
“Kamu coba satu tahun lagi ya sayang” jelas papa dan mencium keningku
“kamu cantik nak dengan kerudung yang kamu pakai” mama memujiku
“Berarti mama lebih suka aku berpakaian yang tertutup lebih terlihat cantik” gumamku dalam hati
Kegiatan yang sangat padat di pesantren. Suatu ketika bell masuk kelas tiba. Aku tidak masuk kelas karena aku melakukan banyak kesalahan. Aku telah melanggar peraturan di pesantren yang membuat para pembimbing lelah menghadapiku, aku kabur, bolos sekolah, bolos kegiatan dan konflik sama teman-teman. Aku merindukkan keluarga.  Guru-guruku mengetahui sifat burukku dan menasehatiku. Tak lama kemudian mama menelponku dan aku mengadu padanya “Mam, Rista tidak betah di pesantren. Sekarang mama ke pesantren dan jemput aku ya.” Tangisku
“Iya sayang sabar ya, sebentar lagi loh kamu lulus nak. Jika kamu lulus dari pesantren mama janji akan menunaikan ibadah haji sekeluarga dengan kamu juga sayang.” Jelasnya dengan tenang.
Segera aku menutup telephone dari mama dan tak kuasa menangis mendengar kata-kata mama yang diucapkan ingin menunaikan ibadah haji ketika usai lulus dari pesantren. Sungguh mulia sekali mamaku. Aku semangat untuk berjihad di jalan Nya dan memberikan terbaik untuk mama dan papa yang selalu sayang Rista.
Tak terasa 3 tahun berakhir, aku lulus dari pesantren Al Istiqomah walaupun banyak godaan yang membuatku ingin berakhir dan tandas di tengah jalan. Tak lupa Mama dan papa menjemputku dan menghadiri wisudaku. Tiba di pesantren mereka orang yang kusayang memelukku dengan erat dan sangat bangga kepada diriku yang tetap berprestasi, memahami agama, budi pekerti dan lulus hingga 3 tahun lamanya. Acara wisuda lancar dan aku menjadi yang terbaik dari teman-temanku, senyuman dari teman-teman membuatku tidak rela berpisah dengan mereka karena tiap hari kami berjuang bersama-sama. Tiba keluar dari gedung pertemuan, mama mengejutkanku membawa kartu pendaftaran haji untukku yang akan berangkat bersama-sama sekeluarga. Aku tak kuasa menangis depan mama yang penuh harapan olehku.
“Makasih mama, ini adalah kado special dalam hidupku.” Ucapku dengan memeluk mama






[1] Bahasa Indonesia : Nak … tidak masuk ke mushala?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment