KU INGIN KALIAN
TAHU!!
Namaku Dini usiaku 16
tahun, aku memiliki kakak yang bernama Nayla sedangkan usianya 17 tahun
dan aku memiliki adik bernama Gina yang
usianya 4 tahun. Aku memiliki keluarga yang aku sayangi, dan keluargaku sangat
sayang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi itu semua sudah tinggal kenangan
saja. Tepat hari ini adalah hari dimana aku menyaksikan sidang perceraian kedua
orang tuaku. Hari yang sangat tidak aku inginkan dalam hidupku. Bagaimana
tidak, kedua orang tua yang sangat aku sayangai saling menuntut cerai dengan
alasan sudah tidak bisa bersama lagi. Sungguh menurutku itu alasan yang sangat
klasikdan itu sangat berdampak besar dalam hidupku walaupun aku belum pernah
sekalipun melihat atau mendengar ayah dan ibu bertengkar.
Setelah hakim memukul
palu tiga kali, ayah dan ibu resmi bercerai. Hari demi haripun berlalu. Keadaan
dirumahpun kini sangat dingin. Tidak ada kehangatan dalam berkeluarga layaknya
keluarga-keluarga sempurna lainnya.
Sempurna karena ada Ayah, Ibu, dan anak.
Ayah: “tidak ada satupun anak-anak ayah
yang boleh ikut dengan ibu!”
Aku: “memang kenapa yah, sedangkan gina
masih usia 4 tahun dan butuh perhatian seorang ibu?” jawabku heran
Ayah: “karena kalian itu masih tanggung
jawab ayah!”
Betapa malangnya nasib adik kecilku ini
yang harus menjadi korban perceraian antara ayah dan ibu. Dan menurut ayah,
ialah yang berkewajiban membiayai segala kebutuhan hidup kami hingga kami sudah
dewasa dan lulus S1.
Untungnya
ayah tidak pernah melarang kami untuk bertemu bahkan menginap dirumah ibu. Tak
jarang Gina menginap dirumah ibu karena ayah tak tega melihatnya yang selalu
menanyakan keberadaan ibu.
Gina: “ayah, ibu kemana? Kok jarang
bersama kita sih?”
Ayah: “ibu sedang dirumah baru gin,
sedang membereskan rumah baru yang nanti bisa dipakai buat bermain Gina dan
teman-teman.”
Gina: “benar tuh yah?, asiiiiiik.”
Dengan wajah yang ceria
Setahun
setelah perceraian kedua orang tuaku, ayah memutuskan untuk menikah kembali
dengan seorang wanita yang bernama Lina.
Ayah: “ayah butuh teman untuk menjaga
ayah dan kalian, apakah kalian setuju?”
Aku dan Kak Nayla: “dengan siapa ayah
akan menikah?”
Ayah: “dengan Lina, teman ayah semasa
ayah dikampus dulu.”
Kak Nayla: “bagaimana dengan orangnya
yah, apakah dia bisa sayang dengan kita? Terutama dengan Gina?”
Aku: “iya yah, terutama yang bisa
sayang setulus hati dengan Gina.”
Ayah: “iya, sepengetahuan ayah dia
sangat menyukai anak kecil dan baik.”
Kak Nayla: “tapi yah, belum tentu
menyukai anak kecil itu bisa menerima Gina juga.”
Aku: “yaudahlah kak, yang penting kita
sudah meyakinkan ayah, dan ayah yakin dengan keputusannya, kita pun tidak ada
hak untuk melarang ayah.”
Kak Nayla: “ya, mudah-mudahan saja ayah
gak salah ambil keputusan, dan pilihan ayah tidak salah dan yang terpenting
Gina bisa menerima istri baru ayah.”
Dan atas persetujuan aku dan kak Nayla
akhirnya ayah menikah dengan Tante Lina.
Tante
Lina kini menjadi ibu tiriku. Aku dan Kak nayla memanggilnya dengan sebutan
Mama, tetapi aku tidak benar-benar menemukan menganggapnya mama, karena
menurutku ia tidak sebaik mama yang seharusnya. Dua bulan pertama sudah
pernikahan ayah dan mama, mama selalu memenuhi kebutuhanku, kebutuhan kak Nayla
dan kebutuhan Gina. Baik kebutuhan primer ataupun kebutuhan sekunder. Hal ini
justru menimbulkan pertanyaan dalam hatiku. “apakah mama akan selalu bersikap
seperti ini?, atau memang seperti ini sifat mama? Atau justru ini adalah sebuah
awal yang akan berujung buruk?”
Ternyata
dugaanku benar, mama selalu membenci aku dan kak Nayla karena tidak nurut akan
perintahnya. Karena menurutku mama itu baik di depan ayah saja, saat ayah pergi
kerja aku dan kak Nayla selalu dimarahi karena pekerjaan rumah tidak dikerjakan
semua. Bagaimana tidak sepulang sekolah aku selalu mengerjakan tugas dari
sekolah dan mengurusi Gina, sedangkan ka Nayla sibuk les karena sebentar lagi
akan menghadapi Ujian Nasional. Sedangkan mama selalu kerjaannya menonton infotiment, Gina ditelantarkan begitu saja.
Ayah:”sering
berkata padaku dan kak Nayla bahwa aku dan kak Nayla harus menghargai mama
seperti aku menghargai ibu. Ayah bilang, mama menerima pinangan ayah karena
mama sudah menganggap anak-anak ayah seperti anak-anaknya sendiri.”
Aku: “ayah belum tau yang sebenarnya
mama itu seperti apa sifatnya.” Jawabku dalam hati
Aku hanya bisa terdiam dan menjawab
“iya” dengan perkataan ayah menatap fokus satu titik yang entah dimana itu.
Hingga
tiba pada suatu malam dimana aku hatus mendengar mama dan ayah bertengkar. Aku
berusaha untuk tegar dengan semua cobaan yang menimpa keluarganya dan
berpura-pura tidak mendengarnya.
Aku: “kak, aku sudah tak sanggup lagio
dengan cobaan yang menimpa keluarga kita.” Dengan muka sedih
Kak Nayla: “sama din, kakak juga gak kuat
dengan keadaan ini, ya tapi ini hidup harus kita jalani walaupun cobaan datang
terus menghampiri keluarga kita.”
Kak Nayla: “yang terpenting, kita harus
kuat dan selalu berdoa juga jangan sampai Gina dan Ibu tau soal kejadian ini.”
Aku: “iya kak “
Tapi pertengkaran ayah dan mama begitu
bersuara kencang walaupun aku sudanh menutup telinga dan menutup pintu kamar.
Akhirnya aku coba untuk tidur, berharap agar akuy tidak terlibat dalam
pertengkatan orang tuaku. Tapi ayah malah memanggilku.
Ayah: “Dini, sini sayang ayah mau
bicara.”
Aku: membuka pintu kamar dan
menghampiti ayah “iya yah, ada apa?”
Ayah: “coba tolong jelaskan sama mama,
apakah tadi ibu datang kerumah dan bermesra-mesraan dengan ayah?”
Belum sempat aku menjawab pertanyaan
ayah, mama sudah terlebih dalu berbucara.
Mama: “halah, sudahlah gak usah bohong
saya tahu kok semua yang kamu lakuin dibelakang saya saat tidak ada dirumah.”
Cetusnya kasar
Aku
begitu kaget mendengar perkataan yang mama lontarkan, teganya mama memfitnah
ayah seperti itu. Ingin sekali aku pergi sejauh mungkin agar aku tidak terlibat
dalam semua ini. Dengan sekuat tenaga aku berupaya menjelaskan bahwa apa yang
dikatakan mama tidak benar, tapi ayah selalu tidak percaya.
Ayah: “silakan kamu telepon Sarah untuk
meminta penjelasan.” Bentak ayah seraya menyodorkan telepon rumah
Mama: “tidak usah, saya gak mau
berhubungan dengan mantan kamu itu. Jijik saya!” ucap mama sambil memindahkan
jauh-jauh telepon rumah itu dari hadapannya.
Sungguh
aku tang sanggup lagi menahan air mata yang dari tadi membendungku. Tapi aku
tidak bisa menahannya lagi saat mendengar perkataan mama tadi dan selalu
memojokan ibu. Aku pergi meninggalkan mereka dan mengunci diri di kamar dan
menangis, untung saja Gina sudah tidur. Aku memeluk erat Gina, hingga tanpa sadar
akupun terlelap.
Hari
ini adalah hari Jumat, kami sekeluarga pindah rumah ke daerah Cibubur. Aku dan
kak Nayla terpaksa pindah sekolah karena jarak sekolah kami dulu dan rumah dulu
kami sangat jauh hingga memakan waktu perjalanan 3 jam. Keluargaku pindah
karena ayah dipindah tugaskan untuk menjalani sebuah perusahaan di kawasan
Cibubur. Aku dan kak Nayla pindah ke sekolah yang sama. Tiga bulan setelah aku
pindah ke sekolah baruku, aku memiliki seorang kekasih yang bernama Aldo. Ia
tampan, pintar dan soleh, tak ku sangka Aldo memilihku menjadi pacarnya dan
bisa mememaniku saat aku sedang butuh teman dan cerita selain kakakku sendiri.
Padahal banyak perempuan lain yang sangat menginginkan Aldo untuk menjadi
pacarnya.
Aldo
sangat akrab dengan ayah dan Gina, Aldo sering mengajak Gina pergi ke tempat
rekreasi untuk mengibur Ginatiap kali Gina teringat oleh ibu. Ayah dan Gina
sangat menyukai Aldo, menurut ayah Aldo beda dengan lelaki lain. Ia begitu
penyayang dan setiap malam minggu Aldo selalu menemani ayah bermain catur
hingga larut malam.
Aku: “duh...betah anteng banget nih
yang main catur, sampai gak sadar kalau sekarang sudah malam.”
Ayah: “waduh...gak terasa yaa udah jam
12 do.”
Aldo: “iya nih om, ga terasa.”
Ayah: “udah larut malam nih do, gimana
kalau kamu menginap saja dirumah.”
Aldo: “gak usah om, merepotkan.”
Ayah: “gak usah merasa direpotkan do,
ga baik pulang jam segini loh.”
Aku: “iya do, bener apa kata ayah gak
apa-apa kok.”
Dan akhirnya Aldo menginap dirumahku
Setelah
beberapa hari kemudian aku harus kembali mendengar pertengkaran ayah dan mama.
Seperti malam itu aku tak sanggup membendung air mata. Untungnya Gina diajak
menginap dirumah teman kak Nayla, sehingga Gina tak perlu mendengar
pertengkaran tersebut. Aku coba menghubungi Aldo, berharap Aldo bisa
menghiburku, dan aku sengaja merahasiakan ini semua dari ibu. Aku tidak ingin
ibu menjadi kepikiran dengan kejadian ini semua, karena ibu sudah hidup dengan
nyaman dan tenang tanpa adaya gangguan yang bisa membuat ibu menjadi sakit.
Hingga
aku bertemu dengan Aldo dan menceritakan semua ke Aldo, dan Aldo bisa
menenengkan aku. Sungguh sangat beruntung aku memiliki kekasih seperti Aldo.
Dan setibanya aku semua, ayah sudah mengetahui semua belang mama. Kak Nayla
menceritakan semua kepada ayah. Dan ayah sangat kecewa dengan mama, karena
selama ini mama selalu berbuat baik di depan ayah saja padahal setelah ayah
tidak ada dirumah mama selalu jahat dengan kami semua terutama Gina. Disaat
Gina menangis karena ingin dibelikan mainan mama malah mencubitnya dan
mengurungnya di kamar. Kejadian itu tak sengaja dipergoki oleh kak Nayla,
sungguh sangat memprihatinkan dan menggoreskan hatiku saat aku tau kejadian
tersebut.
Amarah
ayah semakin menjadi-jadi ketika kak Nayla membongkar semua ini, dan ayah
mengucapkan “aku ceraikan kamu” ayah sangat menyayangi anak-anaknya melebihih
apapun, dan ayah akan melakukan apapun demi kebahagiaan anak-anak ayah. Itu
perkataan yang pernah ayah ucapkan dihadapkan aku dan kak Nayla juga Gina. Dan
kini pun terbukti memang benar-benar ayah sayang terhadap anak-anaknya.
Beberapa
hari kemudian ayah pergi ke pengadilan untuk menindaklanjuti perceraian kedua
ayah dengan mama. Tak disangka ayah kembali lagi ke pengadilan untuk mengurusi
perceraian yang kedua kalinya, akan tetapi aku sangat senang karena ayah bebas
dengan beban semua ini dan keluar dari cobaan yang dihadapi. Aku dan kak Nayla
sangat bersyukur dengan kejaian semua ini, benar apa kata kak Nayla “semua ini
psti akan ada akhirnya kok, akhir yang indah”.
Setelah hakim mengetuk palu tiga kal
resmi ayah dan mama bercerai, aku menghempaskan nafas.
Aku: “Alhamdulillah, selama doaku
selama ini dijawab oleh-Mu ya Allah, terima kasih.”
Kak Nayla: “iya, din kakak sangat
lega.” Memeluk Dini dengan erat
Beberapa
hari setelah perceraian ayah dan mama selesai aku, kak nayla dan Gina pergi
untuk berlibur ke rumah ibu. Tak disangka ibu sudah memiliki tunangan dan kami
sangat senang dengan pemberitaan itu. Bagaimana tidak papa baru kami adalah sahabat
ibu semasa kuliah, dan ibu selalu menceritakan papa kepada kami. Dan kami
sangat mengenal papa itu seperti apa dan kami setuju dengan keputusan ibu untuk
menikah lagi.
Walaupun kami memiliki mama dan papa
tiri, kami sangat sayang dengan keluarga sesugguhnya, walaupun tidak bisa
bersama lagi ayah dan ibu, mereka selalu berhubungan baik dan berkomunikasi.
Ayah pun tidak melarang kami untuk tinggal dengan siapa, karena mereka berdua
adalah kedua orang tuanya yang berhak membesarkan mereka hingga dewasa nanti.
NAMA : IQLIMA FAUZIAH
KELAS : ASURANSI SYARIAH
SEMESTER : 4






0 comments:
Post a Comment