My
Guardian Angel
Siang hari di kostan, Salsa masih menatap ke arah layar
ponselnya dengan wajah yang gelisah. Berharap orang yang tidak diharapkan untuk
tidak mengubunginya lagi. Tiba-tiba ponselnya pun bordering, sontak membuat
Salsa terkejut. Ketika melihat layar ponsel, ternyata salah satu sahabatnya
yang menelpon, dengan cepat ia mengangkat panggilan dari sahabatnya tersebut.
“Halo, Maura, kapan kamu dan Natasha ke kostan? Aku benar-benar takut berada
disini sendirian?” Kata Salsa dengan suara gemetaran. “Kamu kenapa Salsa?
Mungkin nanti malam kami akan berangkat dari rumah. Apa kau baik-baik saja? Apa
orang sinting itu menghubungimu lagi?” Tanya Maura. “Hari ini sudah belasan
kali dia menghubungiku, tapi tak sekalipun aku menjawab. Aku benar-benar
ketakutan sekarang,” kata Salsa. “Oke kalau begitu aku dan Natasha sejam lagi
akan berangkat, kami tak tega mendengar suaramu yang seperti itu. Tunggu kami
dan jangan sekalipun kau menjawab telepon darinya, kalau perlu kau non aktifkan
saja ponselmu itu,” kata Maura. “Iya aku mengerti,” jawab Salsa.
Salsa pun meng-non-aktifkan ponselnya, menutup jendela
kostannya, sehingga orang lain akan mengira bahwa tak seorang pun yang berada
di kamar kostan tersebut. Salsa berbaring di atas kasurnya, sambil menunggu
kedatangan para sahabatnya dan tanpa sadar ia tertidur. Hingga sekitar 2
jam kemudian terdengar suara ketukan
pintu, seketika Salsa terbangun dari tidurnya. Akhirnya mereka datang juga,
pikir Salsa. Tetapi ketika hendak membukakan pintu, tanpa mengintip dari
jendela. Tiba-tiba terdengar suara lelaki, “Halo Salsabila sayaaaang, aku
dataaang. Aku tahu jika kau ada di dalam sana.” Dengan cepat Salsa mengambil
dan mengaktifkan ponselnya. Ia menuju kamar mandi dan menguncinya, sambil
menahan tangis, ia segera menghubungi temannya. “Ha..ha..loo Maura, dia kesini,
lelaki itu datang Maura, dia sekarang berada di depan pintu kostan, Maura,
Nathasa, kalian dimana, aku takut, aku benar-benar takut. Ku mohon cepatlah
datang,” kata Salsa dengan air mata yang mulai mengalir. “Apa? Orang sinting
itu ada di depan pintu kostan kita? Dasar lelaki gila. Aku dan Nathasa sudah
berjarak 40 meter dari kostan, sabar ya. Jika kami melihatnya, kami pastikan
dia tidak akan bisa melihat dunia ini lagi,” kata Maura.
Tak lama, terdengar suara Maura dan Nathasa dari depan pintu
kamar kostan, “Salsa, Salsa… Ini kami, cepat buka pintunya. Apa kau baik-baik
saja Salsa?” Kata Nathasa sambil mengetuk pintu. Salsa pun menghapus air
matanya dan keluar dari kamar mandi, dengan segera ia membuka pintu kamar
kostan dan langsung memeluk kedua sabahatnya itu. “Dia disini, tadi dia disini,
memanggil namaku. Aku benar-benar ketakutan,” kata Salsa dengan terisak-isak.
“Tenang Salsa, kami sudah ada disini,” kata Natasha. Mereka bertiga masuk ke
dalam kamar kostan yang berukuran 4x6.5
meter, dengan kasur tingkat dan satu kasur lainnya berada di bawah. “Aku tidak
habis pikir, bagaimana bisa dia mengetahui kau tinggal disini. Siapa yang
memberitahunya atau apa jangan-jangan dia pernah mengikuti kita sampai sini?”
Kata Maura. “Entahlah, rasanya aku tidak ingin memikirkan hal itu, karna bisa
membuat kepalaku makin sakit,” kata Salsa, “Dan sekarang aku harus meningkatkan
tingkat kewaspadaanku.”
Keesokan harinya, ketika di kampus.
Salsa, Maura dan Natasha melakukan aktivitas di kampus dengan
biasanya. Pada saat jam makan siang, mereka pergi ke kantin. “Salsa, apa Rama sudah
tahu mengenai lelaki itu?” Tanya Maura. “Oh, Rama? Tentu, dia orang yang pertama
tahu tentang hal tersebut,” kata Salsa. “Lalu, bagaimana reaksinya?” Tanya
Natasha. “Kalian pasti sudah mampu menebak, ketika aku bercerita tentangnya,
dia seperti ingin segera mengasah kapak dan membuat lelaki tersebut tak
berdetak lagi jantungnya, ” kata Salsa. “Ya Tuhan,” kata Maura sambil
menggeleng-gelengkan kepala. “Ada apa Maura?” Tanya Salsa. “Kau sungguh
beruntung memiliki malaikat seperti dia. Padahal kalian ini hanya bersahabat,
tapi dia memperlakukan dirimu layaknya seorang kekasih,” kata Maura. “Aku sih
tidak heran, karena kalian sudah saling mengenal sejak kalian TK, jadi wajar
saja jika dia bersikap seperti itu,” kata Natasha.
“Hai semua, bolehkah lelaki yang tampan ini bergabung untuk
makan dengan para gadis?” Kata Rama yang baru saja datang. Dan mereka pun
berbincang mengenai apa yang dialami Salsa kemarin. Tentu saja itu membuat Rama
cukup geram. “Mulai sekarang, kalian harus selalu berada di sisi Salsa, aku
tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya,” kata Rama.
“Bagaimana denganmu? Apa kau tidak ingin menjaganya juga? Apa
kau tidak ingin berada di sisinya?” Tanya Natasha. Mendengar pertanyaan
Natasha, membuat Salsa menundukkan kepala. “Jelas saja aku ingin selalu
melindunginya, hanya saja…” tiba-tiba kalimat Rama terputus. “Hanya saja apa?”
lanjut Maura. “Dalam seminggu ini ayahku meminta untuk menggantikannya mengahadiri
sebuah pertemuan di luar kota,” jelas Rama. “Rama, kau kan tau bahwa lusa itu
adalah hari ulang tahun Salsa, bagaimana bisa kau meninggalkannya dan tidak
ikut merayakannya dengan kami. Haish, teganya,” kata Maura.
“Seminggu? Haruskah selama itu? Rama, kau tau lusa adalah
hari jadiku yang ke 20 tahun,” sekarang Salsa yang mulai memberanikan diri
untuk berbicara. Raut di wajahnya terlihat jelas bahwa dia takut untuk ditinggal
Rama, walau itu hanya sehari. “Hanya seminggu, aku jamin itu tidak akan lebih,
lagipula sudah ada Natasha dan Maura. Tenang saja, aku sudah menyiapkan
segalanya untukmu. Walau aku tidak ada di hari ulang tahunmu, tapi aku juga
masih bisa menghubungimu. Asalkan ponselmu selalu aktifmu dan jangan sampai
sedetikpun kau mengnonaktifkan dan meninggalkan ponselmu. Karna sewaktu-waktu
bisa saja kau butuh untuk mengubungiku, Maura ataupun Natasha,” kata Rama.
“Hai Salsa, sedang menikmati makan siangmu?” Tiba-tiba datang
Ka Revand dan Salsa pun menjawab dengan senyuman serta sedikit anggukan. “Apa
dia memiliki kelainan pada matanya? Padahal ada kau, aku dan Rama disini, tapi
mengapa dia hanya menyapa Salsa saja?” Bisik Natasha pada Maura. “Jadi kau
ingin disapa juga olehku?” Kata ka Rivandi. “Oh My God, apa dia mendengar apa
yang kita bicarakan? Padahal aku suaraku sudah sangat pelan, bahkan semut saja
pun tak bisa menguping,” kata Natasha tercengang. Ka Revand pun ikut bergabung
dengan mereka, kedatangannya membuat Rama sedikit risih karena dia terus saja
memandangi Salsa.
“Salsa, ayo kita pergi, bukankah kau sedang ingin makan es
krim? Aku akan membelikanmu. Maura, Natasha daaan …. Ka Revand, maaf kami harus
pergi terlebih dahulu,” kata Rama sambil menarik Salsa dan membawanya keluar
dari kantin. “Kapan aku mengatakan bahwa aku ingin makan es krim?” Tanya Salsa.
“Itu hanya alasanku saja. Tidakkah kau melihat ka Revand? Tatapannya yang
mengerikan terhadapmu, seakan kau akan dilamarnya saat itu juga. Itu membuatku
merasa terganggu,” kata Rama. “Apa? Mengerikan? Dilamar? Oh God, apa kau sedang
cemburu karenanya, karena dia memandangiku seperti itu?” Kata Salsa. “Cemburu? Apa
yang kau bicarakan? Ah sudahlah, jangan dibahas lagi,” kata Rama.
Ketika mereka sedang berjalan bersama menuju toko, ponsel Salsa
bordering karena ada yang menelponnya. [Nomor tidak dikenal] “Halo, maaf ini siapa?”
Tanya Salsa. “Hai Salsa sayang, apa kau menginginkan es krim? Ayo kita
membelinya bersama.” kata lelaki tersebut. Seketika Salsa menjatuhkan
ponselnya, dan sambil menggenggam lengan Rama dengan gemetaran “Dia, dia
menelpon ku…”. Dengan cepat Rama meraih ponsel yang dijatuhkan Salsa, “Dasar
lelaki sinting, jangan pernah mengganggu Salsa ku lagi,” kata Rama dengan penuh
emosi. “Haha, Salsa ku? Yang benar saja, jangan mengkhayal bung, karna tak
lama lagi dia akan menjadi milikku…” kata lelaki tersebut dan teleponnya
pun terputus. “Halo, halo, halo, dasar lelaki gila, PSIKOPAT!!! Jangan pernah
mengubungi Salsa lagi!” Kata Rama dengan nada tinggi.
“Rama, darimana dia tau?” Tanya Salsa. “Apa maksudmu?” Tanya
Rama tak mengerti. “Bagaimana dia tau bahwa aku sedang ingin es krim, apa
sebenarnya dia ada di sekitar kita, tapi kita tak pernah tau?” Kata Salsa masih
dengan nada yang gemetar. “Dia tau bahwa kita ingin membeli es krim?” Tanya
Rama dan Salsa menjawab dengan anggukan. Dengan segera Rama menggandeng tangan
Salsa dan membawanya kembali ke kantin. Rama menghampiri Ka Revand dan
membangunkannya dari duduknya dengan cara menarik kerah bajunya, hal ini
membuat mata yang berada di kantin tertuju ada mereka, “Aku tak peduli apa kau
ini senior kami, tapi satu hal yang ingin ku tanyakan, apa kau yang memberi tau
ada lelaki gila itu, bahwa Salsa menginginkan es krim?” Tanya Rama. “Apa yang
sedang kau bicarakan? Lelaki gila?” Ka Revand yang bingung dengan pertanyaan
Rama. “Jawab pertanyaanku! Apa itu kau?” Kata Rama. “Rama, sudahlah, tak
mungkin Ka Revand melakukan hal itu,” lerai Salsa. “Lalu, kalau bukan dia siapa
lagi?” Nada Rama yang masih meninggi. Setelah menenangkan Rama, Salsa
menceritakan semuanya pada Ka Revand. Sulit bagi Rama untuk memercayainya, tapi
dia sudah cukup lama mengenal Ka Revand dan sudah lama pula Ka Revand cukup
mengganggu bagi Rama, karena ia yang selalu saja mengejar Salsa.
Mereka bersepakat menjaga Salsa untuk seminggu ke depan,
dikarenakan Rama yang harus pergi. Sebenarnya sulit bagi Rama untuk menaruh
kepercayaan pada pesaingnya. Tapi ini demi kebaikan Salsa, maka Ka Revand,
Maura dan Nathasa bersama-sama menjaga Salsa dari lelaki tersebut. Ka Revand
menyarankan agar Salsa segera mengganti nomor ponselnya dan hanya orang-orang
tertentu yang mengetahui nomornya, agar lelaki tersebut tidak bisa menghubungi
Salsa lagi.
Keesokan harinya, dimana hari keberangkatan Rama ke luar
kota. Rama menunda waktu keberangkatannya, yang seharusnya dia berangkat pagi,
dia menundanya untuk berangkat lebih siang dari jadwal yang sudah ditentukan.
Dia pergi ke kampus hanya untuk memastikan keadaan Salsa. “Hati-hati di jalan
ya Rama, pastikan kau akan kembali,” kata Salsa pada Rama. “Huuuh, seperti
ingin melepas kepergian suaminya saja, padahal mereka berpacaran pun tidak,”
bisik Maura pada Nathasa. “Mungkin sedang zamannya manusia lebih menyukai
hubungan tanpa status, Maura,” bisik Nathasa pada Maura.
“Hai, si kembar, aku nitip Salsa ku ya, jangan sampai lelaki
manapun menyentuhnya, walaupun itu Ka Revand,” pinta Rama pada Maura dan
Nathasa sambil melirik ke arah Ka Revand. “Memangnya kau ini siapanya Salsa,
seenaknya menyebutnya Salsa ku, melarang aku menyentuhnya, ingat, kalian ini
belum resmi berhubungan, hanya sahabat dan aku tidak akan menyerah begitu
saja,” kata Ka Revand. Setelah
berbincang sedikit dan Rama hendak berangkat dari kampus ke bandara, Angel
tiba-tiba datang, “Ramaaa, kau mau pergi tanpa berpamitan denganku?” Tanya
Angel dengan centilnya. “Memangnya kau siapa, aku harus berpamitan denganmu?”
Kata Rama dengan dingin dan diikuti dengan senyum ejek dari Maura dan Nathasa.
“Haish, kau ini, selalu saja membuatku malu di hadapan
teman-temanmu. Ohya Salsa, aku ingin mengubungimu, tapi sepertinya nomormu
diganti ya? Boleh aku meminta nomormu yang baru?” Kata Angel dan Salsa pun
memberikan nomor barunya. “Oke, thank you Salsa, bye bye Rama,” kata Angel dan
pergi begitu saja. “Sebenarnya hantu mana yang merasuki dia, tidak seperti
biasanya dia bersikap manis pada Salsa,” kata Maura sambil menggeleng-gelengkan
kepala. Sebenarnya dalam benak Rama, dia memiliki firasat buruk, namun ia tidak
menghiraukannya, karena dia berpikir sudah cukup banyak orang yang menjaga
Salsa.
Selang sejam Rama menuju bandara. Ka Revand, Salsa, Maura dan
Nathasa mengobrol di taman kampus. Ponsel Salsa berdering karena ada sms masuk
[Ada bom di mobil Rama, sewaktu-waktu bisa saja aku menekan tombol dan
BOOOOM mobilnya akan meledak, jika kau
ingin dia selamat, maka datanglah ke gudang tua di Jalan Mawar. Ingat ! Jangan
sampai teman-temanmu mengetahui hal ini. Datanglah sendiri, dalam waktu 30
menit]. Membaca pesan tersebut, tangan Salsa gemetaran dan berkeringat. Ka
Revand, Maura dan Nathasa mulai menyadari keanehan pada Salsa.
“Kamu kenapa? Siapa yang sms kamu?” Tanya Ka Revand. “Ah,
tidak ada apa-apa, hanya operator. Biasa, aku kan pelanggan baru, banyak sms
promo,” kata Salsa. “Tapi kenapa tangan kamu gemetaran?” Tanya Nathasa. “Oh,
ini karena aku tadi pagi belum sarapan. Maaf permisi, aku ingin ke toilet,”
kata Salsa terburu-buru. “Kalau begitu ayo,” kata Maura. “Jangan! Tidak usah,
kalian disini saja. Aku tidak apa-apa,” kata Salsa sambil lari
terburu-buru.”Ada apa dengannya?” Tanya Ka Revand.
Salsa segera menuju ke gudang yang telah disebutkan dalam
sms. Tanpa berpikir apa yang akan terjadinya padanya, asalkan orang yang dalam
sms tersebut tidak menekan tombol sehingga bom pada mobil Rama meledak. Ketika
ia menemukan gudang tersebut dan masuk. Dia hendak menghubungi orang yang tak
lama mengirimnya sms. Ketika ia hendak mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba ada
seseorang dari belakang yang mendekap mulutnya dengan sapu tangan dan
membuatnya hingga pingsan karena obat tidur.
Orang misterius tersebut menghubungi Rama yang hendak menaiki
pesawat. Orang tersebut mengatakan bahwa Salsa sedang bersamanya dan ia
memerintahkan Rama untuk datang ke gudang seorang diri, bila ia ingin Salsa
selamat. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menuju gudang. Dengan mobilnya, ia
melaju sangat cepat.
Ketika ia sampai di gudang, ia langsung berteriak memanggil
nama Salsa. Ia memasuki ruangan yang di dalamnya terdapat Salsa yang telah
terikat di atas kursi. “Salsa, Salsa, apa kau baik-baik saja?” Kata Rama pada
Salsa dengan keadaannya yang masih pingsan. “Akhirnya kau datang juga,”
tiba-tiba sosok lelaki datang dari arah belakang Rama dengan membawa pisau di
belakang tubuhnya. “Apa yang kau lakukan pada Salsa?” Kata Rama dengan geram.
“Apa kau tidak bertanya-tanya siapakah diriku? Apa kau tidak penasaran siapa
namaku? Mengapa aku memintamu ke sini? Mengapa setiap aku mengetahui setiap
pergerakan Salsa, apa yang dilakukan Salsa? Dan mengapa setiap Salsa mengganti
nomornya, aku bisa mengetahui nomornya yang baru?” Tanya lelaki tersebut. “Apa
yang kau bicarakan?”
“Perkenalkan, aku Frans, orang yang sudah lama menyukai Salsa
sejak ia SMA,” kata lelaki tersebut. “SMA? Apa kami pernah mengenalmu? Aku tak
pernah ingat bahwa aku pernah melihatmu,” kata Rama. “Haha, karna kita berbeda
sekolah, tetapi aku selalu memandangi dia ketika ia pulang sekolah dan sejak saat
itu aku selalu berusaha agar dapat memilikinya. Tapi karna kau, karna kau yang
selalu berada di sampingnya, sehingga tak ada ruang bagiku untuk dapat
mendekatinya,” kata lelaki itu dengan nada tinggi.
“Lalu siapa yang memberikan informasi padamu tentang Salsa?”
Tanya Rama. “Jadi selama ini kau tidak menyadarinya? Hahaha, Angel, mengapa kau
tidak pernah curiga padanya? Padahal dia yang selalu menjadi mata-mataku. Dia
selalu memberitahu semua yang dilakukan Salsa. Dan sekarang aku membawamu ke
sini, karna aku ingin menjadikan Salsa milikku, tanpa seorang pun yang
menghalangi, termasuk dirimu,” kata lelaki itu dengan mulai menyerang Rama
dengan pisau yang di balik tubuhnya. Namun Rama mampu menghindarinya dan mereka
mulai bertikai. Perkelahian itu semakin sengit, sehingga membuat Salsa
terbangun dari pingsannya.
“Ramaaaa, Ramaaa,” teriak Salsa. Suara Salsa membuat Rama
beralih pada Salsa, hingga ia menjadi lengah. Kesempatan ini digunakan Frans
untuk menyerang Rama. Pisau yang sempat terlepas dari tangan Frans, ia mencoba
untuk mengambilnya kembali. Ketika Rama menghampiri Salsa, tepat di belakang Rama
Frans sedang mencoba untuk menikam Rama. Tetapi Salsa berteriak dan Rama mampu
menangkisnya kembali. Tak lama kemudian, pintu gudang terbuka dan sudah ada Ka
Revand, Maura dan Nathasa. Mereka datang berkat GPS yang aktif dari ponsel
Salsa, jadi mereka bisa mengetahui jejak Salsa. Hal tersebut membuat Frans
terkejut dan mencoba untuk kabur. Namun, Ka Revand mengejar dan mereka sempat
bertikai hingga salah satu dari mereka tertusuk oleh pisau.
Tepat di perut, Ka Revand tertusuk, melihat hal itu Salsa,
Maura dan Nathasa sontak berteriak. Setelah menikam Frans lantas pergi begitu
saja. Tetapi ternyata di luar gudang sudah menunggu para polisi untuk menangkap
Frans. Rama langsung melepaskan ikatan pada Salsa. Salsa pun langsung lari
menghampiri Ka Revand, menangisinya dan berharap bahwa Ka Revand dapat bertahan
hidup. Namun sayangnya, karena darah yang terlalu banyak keluar dari tubuh Ka
Revand, membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama lagi. “Ka Revand banguuuun,
besok hari ulang tahunku, kakak sudah berjanji untuk memberikan hadiah dan
kejutan, jadi kakak sekarang harus bangun,” kata Salsa dengan air mata yang
mengalir deras.
Keesokan harinya, setelah memakamkan Ka Revand dengan layak. Rencana
untuk merayakan ulang tahun Salsa dibatalkan. Walaupun Rama tidak jadi
menggantikan ayahnya ke luar kota, tetapi Rama berencana untuk tetap merayakan
dengan sederhana. “Salsa, mungkin sekarang bukanlah waktu yang tepat, tetapi
sudah lama aku merencanakan ini semua. Selama ini aku ingin mengatakan hal ini
sejak dulu tetapi aku rasa inilah saat yang tepat, saat umurmu genap 20 tahun,”
kata Rama. “Apa itu Rama?” Tanya Salsa. Rama mengeluarkan gelang yang
berhiaskan dengan bintang dan bulan. Dia memperlihatkan pada Salsa. “Jika kau
ingin menerima gelang ini, itu berarti kau menerima perasaanku. Jika kau membuangnya,
yaa itu aku mengerti maksudmu,” kata Rama.
Dengan sedikit berpikir, akhirnya Salsa menerima gelang tersebut
dengan senyuman. Rama menyambutnya dengan suka cita. Rama merangkul bahu Salsa,
“Terima kasih karena sudah menerimaku dan maaf karena aku terlambat
mengatakannya,” kata Rama. “Huhft, akhirnya,” Salsa menghela nafas. “Mengapa
kau menghela nafas seperti itu? Akhirnya? Apa?” Tanya Rama. “Akhirnya kau
mengatakannya, sudah lama aku menunggumu mengatakan hal tersebut,” kata Salsa. “Maaf
sudah membuatmu menunggu lama, kekasihku … Salsa” kata Rama dengan senyuman
lebarnya.
“Tidak apa-apa, aku hanya ingin berterima kasih pada Tuhan
karena telah mengirimmu dan sahabat-sahabatku, Maura, Nathasa dan Ka Revand ke
dunia ini, aku berterima kasih ibumu karna telah melahirkanmu, dan yang paling aku syukuri adalah karena ada
kau, karena selama ini telah menjagaku, melindungi dan selalu membelaku, terima
kasih karena telah menjadi My Guardian Angel,” kata Salsa.






1 comments:
Masih tema cerita remaja, coba buat cerita cinta yang lebih kompleks lagi. Lanjutkan!
Post a Comment