AROMA SIANG HARI
Oleh : Naila Rahma
Siang
ini menunjukan pukul 11;30, tepat dimana semua mahasiswa/i keluar dari ruangan
kelasnya usai perkuliahan menuju tempat istirahat siang, ada yang pergi ke
warteg untuk makan siang, sholat Duha, ada juga yang kongko-kongko sambil
merokok. Begitupun juga denganku, siang ini aku memutuskan untuk menghabiskan
istirahat siangku di Gazebo UIN, tempat paling pewe bagi mahasiswa/i untuk
menghilangkan penat. Aku berjalan kearah Gazebo UIN yang tepat di depan
Perpustakaan Utama. Dari kejauhan terlihat bangunan yang terbuat dari kayu Mahoni
dengan arsitektur rumah panggung modern, guratan-guratan alami yang ditimbulkan
dari serat kayu memperlihatkan futuristik bangunan dan menambah kesan cantik
pada bangunan. Warna bangunannya sama dengan warna kesukaanku “merah
kecoklatan” menambah kesan alami, yang seakan-akan setiap orang yang duduk
disana serasa berada di Hutan, rindang, nyaman, dan menyenangkan.
Sesampainya
di sana, aku menemukan beberapa pasang sepatu tersusun berantakan dan kotor.
Kunaiki anak tangga yang kecil sebagai jalan masuk ke dalam ruangan terbuka
gazebo itu. Patahan – patahan kayu yang tersusun rapi serta tiang kayu yang
besar membuat kokoh bangunan yang kududuki bersama yang lain. Aku memilih duduk
di pojok sebelah kanan dekat stop kontak, karena dapat memudahkanku mencharger
hp. Kubuka tas usangku untuk mengambil sebuah buku yang baru saja kubeli di
book fair untuk menemani istirahatku di Gazebo dan segelas Jus Mangga untuk
pelepas dahaga. Buku yang masih tersampul rapi langsung kubuka dan perlahan
kubaca.
Lembaran-lembaran
buku baru yang kaku baru saja terbaca. Tiba-tiba segerombolan mahasiswi masuk
ke dalam Gazebo, membuat suasana ramai dan berisik sehingga membuyarkanku dalam
membaca. Kumpulan 3 orang mahasiswi itu menambah sumpek singgahsana sesaatku.
Mereka sebagai tamu baru di Gazebo ini tapi seakan mengambil alih seluruh
ruangan yang hanya seluas 3x4 M ini. Wangi
parfum yang bercampur dengan aroma keringat, galak tawa yang mereka
keluarkan lantas membuat suasana tidak nyaman. Terlebih barang bawaan mereka,
tas-tas besar, laptop, buku-buku yang di jinjing, minuman kemasan plastik, dan
semangkuk soto ayam yang diberi bumbu dan tetesan jeruk nipis sebagai makanan
khas siang hari yang aromanya sedap semerbak memenuhi ruangan Gazebo ini,
membuat aku menjadi lapar saja.
Akupun
berusaha fokus pada buku bacaanku tapi aroma lain datang mengganggu
konsentrasiku. Aroma yang dikeluarkan dari seorang cowok gondrong ikal dengan
pakaian kemeja kotak-kotak yang lusuh dan berasal dari mulutnya, sebatang rokok
kretek baru saja ia nyalakan tetapi asapnya sudah memenuhi ruangan Gazebo ini
ditambah bau keteknya yang seperti orang 3 hari belum mandi ikut tertutupi dari
bau asap rokoknya sendiri. Akupun mulai penat dan tak terasa bajuku basah,
keringatku bercucuran karena terik panas matahari yang mencapai 34° C.
Kusandarkan tubuhku di sekat kayu Gazebo, seketika angin berhembus membawa
wangi dari aroma khas kayu Mahoni yang
cukup membuatku rileks dan membuat mataku terpejam sesaat. Akupun tersadar
karena mendengar suara adzan Dzuhur yang telah menandakan jam 12;15 siang dan
aku beranjak meninggalkan Gazebo dan berbagai macam aroma yang diciptakan oleh
pengunjungnya sambil membayangkan betapa air wudu dapat menghilangkan rasa
gerah, panas, dan keringat yang menempel di tubuhku.
Ruang
ada, 1: 48 PM Fri, 4-4-2014






0 comments:
Post a Comment