tugas dongeng- Ria Ariyani-1112046200024

Bawang Merah Bawang Putih

Awal kisah, hiduplah sebuah keluarga yang hidup dengan tenteram dan damai. Keluarga ini terdiri dari ayah, ibu, dan anak semata wayangnya bernama Bawang Putih. Namun, ketenteraman dan kedamaian ini terganggu lantaran si ibu jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Kejadian tersebut membuat keluarga kecil itu bersedih karena kehilangan orang yang dicintai.
Tak  jauh dari rumah mereka, tinggallah seorang janda dan putrinya bernama Bawang Merah. Ketika ibu Bawang Putih telah meninggal, kedua orang ini sering datang ke rumah Bawang Putih. Pada awalnya, antara ibu Bawang Merah dengan ayah Bawang Putih hanya saling berbincang saja. Namun, lama-kelamaan, timbul juga pemikiran di pikiran ayah Bawang Putih untuk mempersunting ibu Bawang Merah. Ayah Bawang Putih tidak ingin putri semata wayangnya tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu.
Setelah berdiskusi dengan Bawang Putih, keduanya pun melangsungkan pernikahan. Saat baru menikah, ibu tiri dan Bawang Merah sangat baik terhadap Bawang Putih. Akan tetapi, ternyata itu hanyalah kamuflase keduanya. Diam-diam, keduanya merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan Bawang Putih.
Maka, ibu tiri dan Bawang Merah menyuruh Bawang Putih melakukan banyak pekerjaan rumah yang berat-berat. Tentunya, semua beban ini tidak diceritakan Bawang Putih kepada ayahnya. Lagipula, setelah menikah dengan ibu Bawang Merah, ayahnya bukannya kunjung bahagia melainkan malah sakit-sakitan yang berujung pada kematiannya.

Bawang Putih yang sedih mengetahui dirinya sebatang kara tetap tak bisa berbuat apapun dihadapan ibu tiri dan Bawang Merah. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah mematuhi perintah ibu dan saudara tirinya. Bawang Putih berharap keduanya bisa berubah. Namun, mereka malah semakin menjadi-jadi.

Suatu hari, ketika Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci, baju kesayangan ibu tirinya hanyut terbawa arus sungai. Bawang Putih melapor kepada ibu tirinya. Namun, bukannya mengasihaninya, ibu tiri Bawang Putih malah menyuruh untuk mencarinya sampai ketemu. Jika tidak, Bawang Putih tidak diperbolehkan pulang.

Bawang Putih menyusuri sungai untuk mencari baju kesayangan ibu tirinya. Namun, sejauh kakinya melangkah tidak ditemukannya baju kesayangan ibunya. Padahal hari sudah malam. Bawang Putih hampir saja menangis jika tidak melihat lampu minyak di gubuk tepi sungai. Bawang Putih pun menghampirinya.
 
Tok tok tok..
Bawang putih mengetuk pintu gubuk itu. Sambil beberapa kali memberi salam tak kunjung ada tanda-tanda orang di dalam gubuk itu. Tiba- tiba “siapa..?!!” sahut seorang nenek tua. Bawang Putih pun kembali membalikkan badannya.  “ maaf nek mengganggu, saya Bawang Putih barusan tidak sengaja melihat lampu minyak menyala di gubuk ini..” ujar Bawang Putih. Nenek tua itu pun terdiam, setelah beberapa saat nenek tua itu kembali berujar “ masuklah nak.. hari sudah malam..”. Nenek tua itu pun mengajak Bawang Putih masuk ke dalam gubuk itu.
Di dalam gubuk itu bawang putih di hidangkan beraneka macam hidangan masakan. Bawang Putih dipersilahkan untuk memakannya.Tanpa berfikir panjang Bawang Putih segera memakannya, karena ia sudah sangat lapar dari pagi belum makan. Dengan sangat lahap, Bawang Putih memakannya sampai ia lupa akan ibu tirinya yang di rumah menunggunya.
Seketika Bawang Putih terdiam. Ia teringat ibu tirinya dan Bawang Merah yang pasti akan sangat marah jika ia tidak pulang ke rumah. Cepat-cepat Bawang Putih meminta ijin untuk pulang, namun nenek tua itu mencegah Bawang Putih untuk pulang. Nenek  tua itu meminta Bawang Putih untuk bermalam di gubuknya. Awalnya Bawang Putih menolak namun nenek tua itu pun memaksanya. Akhirnya luluh juga hati Bawang Putih. Ia memutuskan untuk bermalam di gubuk nenek itu.
Sepanjang malam ia tidak bisa tidur karena gelisah teringat ibu tirinya dan Bawang merah yang pastinya besok ketika ia pulang pasti akan dimarahi habis-habissan. Nenek tua itu pun mendekat, nenek tua tahu apa yang difikirkan oleh Bawang Putih. Sehingga nenek tua itu pun mengajak Bawang Putih untuk mengobrol di dipan.
“ Kenapa kamu sedih sekali nak?” tanya nenek tua itu.
“ Aku teringat ibu tiriku dan saudara tiriku nek.. meraka pasti marah jika tahu aku tidak pulang malam ini..” Bawang Putih tak kuasa menahan tangisnya.
Sang nenek pun memeluk Bawang Putih dan meminta Bawang Putih untuk menceritakan sebenarnya apa yang terjadi di kehidupan Bawang Putih. Bawang Putih menangis sampai tersedu-sedu.Dengan terbata-bata Bawang Putih pun menceritakan apa yang telah menimpa padanya dari mulai ibunya meninggal sampai dengan ayahnya. Nenek tua itu pun merasa iba. Dan akhirnya meminta Bawang Putih untuk tidak lagi pulang ke rumahnya. Nenek tua itu pun meminta Bawang Putih untuk hidup bersama nenek tua itu. Bawang Putih pun merasa nyaman dekat dengan nenek tua itu, kemudian ia pun mengiyakan untuk tinggal bersama nenek tua itu.
***
“ Kemana anak sialan itu, semalam tidak pulang kerjaan rumah tidak beres!!” sahut ibu tiri Bawang Putih dengan wajah geramnya. “ Mungkin bawang putih dimakan buaya kali bu.. hahaha” ujar Bawang Merah sambil melihat-lihat baju favoritnya. Ibu tiri Bawang Putih geram sekali dengan wajah merah padam ia mengajak Bawang Merah untuk menyusul Bawang Putih ke sungai. Awalnya Bawang Merah itu pun enggan untuk ikut dengan ibunya, namun karena ibunya memaksa Bawang Merah pun akhirnya mau. Dan mereka pun bergegas untuk menuju sungai itu.
Sesampainya di sungai mereka mencari di sekitar aliran sungai dan berkali-kali. Tak terlihat Bawang Putih di sekitar sungai. “ Mungkin benar bu, Bawang Putih dimakan buaya rawa..” ujar Bawang Merah. “Yasudahlah..!! kita kembali ke rumah semoga benar saja anak sialan itu dimakan buaya rawa ini” sahut ibu tiri Bawang Merah.
Dan mereka pun bergegas kembali untuk ke rumah.
*** 
Seminggu berlalu..
Tak terlihat lagi kesedihan di muka Bawang Putih, setiap hari ia lalui bersama nenek tua itu. Pagi-pagi ia membereskan rumah, dan pergi ke pasar untuk berjualan hasil ladang. Dan ketika senja telah tiba ia kembali ke gubuk itu memasak, bercanda tawa dengan nenek tua itu. Ia benyanyi dengan riang seperti melihat sosok ibunya yang telah lama meninggalnya di dalam diri nenek tua itu.
Pagi yang cerah..
Bawang Putih pun bergegas bangun dan segera untuk beranjak pergi ke pasar bersama nenek tua itu. Sepanjang perjalanan menuju pasar Bawang Putih dan nenek tua itu pun bersenda gurau tertawa riang. Sesampainya di pasar Bawang Putih segera menyiapkan tikar dan persiapan lahan ladang yang akan dijual di pasar.
Seketika Bawang Putih terkejut ketika dilihatnya dari kejauhan ibu tiri dan Bawang Merah sedang menatapnya pula. Dengan badan gemetaran Bawang Putih memanggil nenek tua itu dan mengajaknya untuk segera pergi. Namun belum sempat nenek tua itu mengiyakan ternyata Bawang Merah dan ibu tirinya sudah mendekat. Dengan wajah merah padam ibu tiri itu berteriak sambil memegang lengan Bawang Putih. “ Kemana saja kamu bawang putih? “ dengan teriakkan keras ibu tirinya itu membentak Bawang Putih. Bawang Merah dengan wajah bengisnya berkata “dasar kamu Bawang Putih, ku kira kamu sudah mati di makan buaya rawa!!”.  Seketika sekerumunan orang di pasar segera mengumpul, namun mereka tidak bisa berbuat pa-apa. Disamping ibu tiri Bawang Putih adalah juragan yang kaya raya hasil kekayaan dari bapak almarhum Bawang Putih. Nenek tua itu pun terdiam dan cuma menatap sedih melihat Bawang Putih yang dipaksa pulang oleh ibu tirinya.
Sesampai di rumah Bawang Putih dikurung di gudang. Ia menangis sejadi-jadinya membayangkan kebengisan Bawang Merah dan ibu tirinya. Ia menangis sejadi-jadinya teringat akan ibu dan ayahnya yang telah meninggal. Ia berdoa di dalam kesedihannya “ Dewata Agung ampuni hamba .. tunjukilah kebenaran sejatinya di dunia ini..” dengan isakkan tangis Bawang Putih berdoa. Namun di dalam tangisnya ia percaya suatu hari kebahagiaan sejati akan menghampirinya.
Esoknya Bawang Putih menjalani kembali rutinitasnya di rumah ibu tirinya, ia diperlakukan layaknya budak kembali oleh ibu tirinya dan Bawang Merah. Bawang putih teringat akan kebersamaan bersama nenek tua seandainya Sang Hyang Widi mempertemukannya kembali...
Teriakkan keras datang dari rumah, segera Bawang Putih yang sedang membersihkan ranting-ranting kayu bergegaas menghampiri ibu tirinya. Ternyata ibu tirinya Bawang Putih terkena penyakit aneh tubuhnya dipenuhi oleh bentol-bentol dan bercak-bercak nanah. Semakin hari keadaannya semakin parah. Bawang Putih selalu sabar dan berusaha mengobati penyakit ibu tirinya. Sementara Bawang Merah yang takut tertular penyakit ibunya seakan tidak peduli dengan apa yang dialami oleh ibunya. Semakin lama penyakit ibu tiri bawang putih semakin parah, tabib-tabib dari penjuru daerah telah di datangkan. Namun tidak ada yang berhasil mengobati penyakitnya. Sampai akhirnya ibu tirinya Bawang Putih meninggal dunia. Bawang Putih sedih melihat kenyataan ibu tirinya meninggal dunia, meskipun ibu tirinya selalu jahat Bawang Putih telah memaafkannya.
Bawang Merah sangat terpukul akan kepergian ibunya. Ia menangis tersedu-sedu, menyesali apa yang telah ia lakukan kepada ibunya. Sewaktu ibunya sakit ia tidak pernah berusaha mengobati ibunya. Sekarang ibunya telah tiada ia merasakan hidup sebatang kara. Ia sadar selama ini menjadi pribadi jahat.
“ Sudah Bawang Merah jangan menangis..” Bawang Putih berusaha menenagkan Bawang Merah.
“Bagaimana kamu masih bisa baik kepadaku? Selama ini aku dan ibu selalu jahat kepadamu..” ujar Bawang Merah menyesal. Bawang Putih hanya tersenyum dan memeluk Bawang Merah “ Aku sudah memaafkan kalian..”.Bawang Merah menangis dan meminta maaf kepada Bawang Putih ia berjanji akan menjadi saudara yang baik untuk Bawang Putih.
Setelah kejadian itu Bawang Merah dan Bawang Putih hidup damai dan berbahagia. Mereka bahu membahu dalam bekerja. Baik di ladang maupun di rumah. Mereka bersma-sama pergi ke hutan mencari kayu bakar.
Suatu hari Bawang Merah dan Bawang Putih pergi ke sungai untuk mencuci baju. Bawang Putih berharap bisa bertemu dengan nenek tua yang dulu menolongnya. Namun ketika sesampainya di sungai ia tidak melihat lagi gubuk itu. Puing-puing gubuknya pun seperti hilang rata dengan tanah. “Mungkin nenek tua itu sudah tidak tinggal lagi disana..” gumam Bawang Putih di hatinya.ia pun melajutkan mencuci baju bersama Bawang Merah. Mereka jalan nberiringan menuju rumah, di tengah perjalanan tiba-tiba Bawang Merah mendengar suara orang kesakitan. Bawang Merah dan bawang putih segera mnuju ke arah suara itu. Ternyata dilihatnya dua orang laki-laki dan wanita tua. Salah seorang laki-laki itu sedang meringis kesakitan.
“ Nenek..!!” Bawang Putih segera berteriak. Ternyata wanita tua itu adalah nenek tua yang ia cari. Bawang Putih segera memeluk nenek tua itu. Namun terjadi perubahan yang sangat luar bisa, nenek tua itu berpakaian seperti ratu keraton. Tidak seperti dulu yang Bawang Putih lihat di gubuk itu. Ternyata nenek tua itu adalah ratu keraton yang sedang bersemedi di gubuk kecil dekat sungai. Bawang Putih pun terperangah kaget ternyata nenek tua yang bersamanya dulu adalah Ratu kerajaannya, yang sedang bersemedi dan menyamar melihat keadaan di pelosok-pelosok desa. Dua orang laki-laki itu adalah anak dari Ratu. Salah seorang darinya tersandung dan jatuh ketika berburu mengejar babi hutan. Bawang Putih dan Bawang Merah pun tersipu dan segera memberi hormat kepada Ratu.
Ratu pun bahagia melihat Bawang Merah sudah berubah baik.  Dan Bawang Putih sudah tidak bersedih lagi. Ratu menjodohkan Bawang Putih dan Bawang Merah kepada kedua anaknya. Bawang Putih menjadi permaiuri istana bersama Pangeran Airlangga, sedangkan Bawang Merah dijodohkan kepada Pangeran Sasmitha adik dari Pangeran Airlangga. Pernikahan mereka di gelar secara bersamaan.
 Dan mereka pun bahagia untuk selama-lamanya..


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment