TIMUN EMAS
(Disalin dari http://dongeng.org/ tanpa perbaikan ejaan)
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun. Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. “Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.
Suami
istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka
merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan
kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan. Buah mentimun itu
semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya.
Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam
buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu
sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.
Tahun
demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang
tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada
ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu
menangih janji untuk mengambil Timun Mas. Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah
sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani
itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan
sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah
secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.
Suami
istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya
menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia
tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani
itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan. Timun
Mas berlari sangat kencang, namun raksasa tetap mengejar Timun Mas. Raksasa
hampir menangkap Timun Mas, Dia mengeluarkan kain pemberian orang tuanya. Di dalam
kain tersebut terdapat dua buah anak panah dan panahan. Timun Mas menembakan
anak panah ke arah Raksasa.
Anak
panah yang pertama mengenai tangan kiri raksasa, namun Raksasa dapat mencabut
anak panah. Tanpa takut Timun Mas melepaskan tembakan anak panah yang kedua
tetapi Raksasa tetap kebal akan anak panah dari Timun Mas. Karna kelelahan
Timun Mas terjatuh,
Raksasa pun langsung menangkap Timun
Mas. Dibawalah Timun Mas ke sebuah rumah yang amat besar dengan peralatan yang
besar pula. Tubuh Timun Mas bergetar melihat dapur raksasa yang luas di sana
terdapat alat-alat masak yang besar ukurannya. Pisau di rumah raksasa itu
sebesar gergaji manusia. Raksasa terus berjalan melewati dapur rumah, Timun Mas
bingung kenapa dirinya tidak dimasak atau disantap di dapur mungkinkah raksasa
akan memakan di tempat lain.
Diletakkan
Timun Mas di sebuah kamar yang nyaman dan sesuai dengan ukuran manusia. Raksasa
berkata “mengapa kamu tadi memanahku?.” Timun Mas menjawab “aku kira kamu akan
memakanku.” Raksasa hanya tersenyum “aku tidak memakan manusia, aku vegetarian”
Timun Mas semakin bingung akan raksasa yang berada di depannya. Timun Mas
berkata “lalu kenapa kau hancurkan rumah ayah dan ibuku?” Raksasa menjawab “aku
tidak suka dibohongi, kamu di sini akan memasakan makanan untukku selamanya.”
Timun Mas menyetujui permohonan raksasa, dengan syarat raksasa tersebut
haruslah membuatkan rumah yang lebih baik untuk kedua orang tuanya. Raksasa menyetujui
permohonan Timun Mas. Setiap hari Timun Mas menyiapkan makanan untuk Raksasa. Pada
waktu luang diajarkan Timun Mas cara menanam, memanah, berenang dan berkuda. Raksasa
senang karna dirinya sudah memiliki teman. Selama ini raksasa merasa kesepian
karna manusia di sekitar rumahnya pergi karna takut akan sosok Raksasa yang
besar.
Tiga
tahun kemudian raksasa meninggal, Timun Mas merasa sedih karna temannya
meninggalkan dirinya. Timun Mas kembali ke rumah orang tuannya yang terdahulu. Ketika
Dia membuka pintu yang ditemuinnya hanyalah barang-barang yang berdebu. Timun
Mas menanyakan tentang orang tuannya kepada tetangga, mereka mengatakan orang
tua Timun Mas sudah meninggal 2 tahun yang lalu dikarenakan jatuh ke jurang. Lengkaplah
penderitaan Timun Mas, dia telah kehilangan teman dan orang tuanya. Rumah oranng
tuanya dikediami oleh Timun Mas. Dia menerapkan ilmu yang diberikan oleh Raksasa,
di depan rumah orang tuanya ditanami berbagai macam bauh-buahan sesekali Timun
Mas berburu ke hutan dengan menunggangi kuda. Dengan memanah, akan mempermudah
Timun Mas untuk mendapatkan binatang buruan.
Suatu
ketika, saat Timun Mas memburu di hutan Dia menemukan seorang laki-laki yang
sedang dikejar oleh seekor Harimau, Timun Mas langsung memanah Harimau. Anak panahnya
terkena tepat kepala Harimau sehingga Harimau tersebut mati. Timun Mas
menghampiri laki-laki tersebut, Timun Mas melihat kaki laki-laki tersebut
terluka Timun Mas mengajak laki-laki tersebut untuk menyembuhakan kakinya di
rumah Timun Mas. Laki-laki tersebut dengan senang hati menerima pertolongan dari
seorang perempuan yang cantik dan berani. Sesampainnya di rumah Timun Mas laki-laki
berkata “terimakasih telah membantuku
namaku Indra” Timun Mas menjawab “sama-sama, namaku Timun Mas.” Indra
melemparkan senyum kepada Timum Mas dan dibala kembali 0leh Timun Mas. Setelah diobati,
Indra pamit kepada Timun Mas. Sejak kejadian
itu Timun Mas selalu mengingat Indra.
Pada
suatu hari, datanglah Indra dengan beberapa pengawalnya ke rumah Timun Mas.
Indra yang ditolongnya ternyata seorang pangeran dari Kearjaan Sriwijaya. Nama lengkap
Indra adalah Sri Indrawarman. Ketika kejadian itu Pangeran Indra terpisah dari
rombongan dan hendak disantap oleh Harimau, untungnya Timun Mas menyelamatkan
dirinya. Pangeran Indra jatuh hati kepada Timun Mas, Dia berniat untuk
mempersunting Timun Mas. Dengan senang hati Timun Mas menerima lamaran dari
Pangeran Indra. Acara pernikahan Timun Mas dan Pangeran Indra berlangsung
selama sepuluh hari. Mereka dikaruniai tiga putra dan dua putri. Mereka pun hidup
bahagia.







0 comments:
Post a Comment