MENUNGGU LIFT
Siti
Aisyah
Tepat di depan dua buah lift yang
tertutup rapat, kerumunan mahasiswa telah menanti terbukanya pintu
masing-masing lift. Suasana pagi yang beradu dengan mendungnya langit serta
lampu ruangan yang masih dalam keadaan mati membuat ruangan ini pun terlihat
remang-remang, sedangkan cahaya yang masuk hanya datang dari pintu masuk
tempatku berdiri, pintu di antara kedua lift dan pintu yang berada di seberang
tempatku berdiri, yang memang semua pintu itu berbahan dasar kaca, serta tangga
yang berhadapan dengan lift.
Kulangkahkan kakiku menuju salah
satu lift yang telah dipenuhi kerumunan mahasiswa. Saat detik-detik pintu lift
terbuka, kerumunan mahasiswa terlihat semakin merapat dan seketika pintu lift
terbuka, mereka dengan sigap memasuki lift.
Namun, terlihat seorang laki-laki
bertubuh tinggi besar, berkacamata dan memakai tas punggung memaksakan diri
untuk masuk ke dalam lift, sehingga alarm kelebihan kapasitasnya pun berbunyi.
Bunyi alarm yang terdengar sangat jelas membuat semua mata tertuju pada pada
sosok laki-laki tersebut dan dengan wajah tampak memerah menahan malu ia pun
segera keluar. Seketika terdengar gelak tawa beberapa laki-laki yang sontak
membuat orang-orang di depanku menoleh ke belakang.
Tepat di sisi kiri pintu lift
terlihat seorang mahasiswi berkacamata tebal, memakai tas punggung serta
beberapa buku di tangannya sesekali sibuk melihat arloji di tangan kirinya
sambil beberapa kali menghela napas panjang, terlihat menyimpan kepanikan akan keterlambatannya mengikuti kelas dengan
dosen yang super rajin. Sedangkan di samping kanannya, terlihat seseorang yang
sibuk memainkan handphone-nya sambil bersandar
pada dinding belakangnya.
Ketika pintu lift kembali terbuka,
kami pun harus menelan rasa kecewa karena lift telah hampir penuh terisi oleh
mahasiswa yang lebih dulu masuk dari lantai dua. Kejadian itu membuat kerumunan
mahasiswa yang mengantri pecah, dengan wajah kesal mereka membalikkan badan dan
berjalan menuju tangga yang tepat berhadapan dengan lift, sehingga membuat
ruangan tersebut agak lenggang. Terdengar pula suara keluh kesah para mahasiswa
yang membuat suasana menjadi gaduh. Hingga akhirnya beberapa menit kemudian,
pintu lift kembali terbuka dan kami pun segera masuk.
Ruang lift yang kira-kira berukuran
1x2 depa itu pun hampir penuh dan ketika pintu lift hampir tertutup, terlihat
tiga mahasiswi berlari untuk mencapai lift dengan menekan tombol di luar lift
berkali-kali agar pintu dapat kembali terbuka. Hal itu membuat pintu lift
beradu dengan keras, sehingga menimbulkan suara yang tak kalah kerasnya dan
membuat telingaku sedikit berdengung, meski akhirnya pintu lift kembali
terbuka.
Saat pintu lift kembali tertutup, bau
parfum yang berlainan aroma dari ketiga mahasiswi itu pun terasa semakin
menyesakkan. Bau parfum yang sangat menyengat mengalahkan udara pengap disertai
panas karena pendingin ruangan dalam keadaan mati, ditambah lagi ruang lift
yang terasa semakin sesak dipenuhi mahasiswa semakin membuat tidak nyaman
suasana saat itu.
Saat ku lihat tombol angka yang
berada di samping kanan pintu lift, terlihat semua tombol kecuali angka dua
telah berwarna merah. Itu berarti, pintu lift akan terbuka pada angka-angka
tersebut.
Ketika
pintu lift terbuka di lantai tiga, dengan
cepat ketiga mahasiswi itu segera keluar. Seketika terdengar ‘celetukkan’
dari dalam lift dengan nada suara amat kesal, meski kapasitasnya agak berkurang
tetap saja udara di dalamnya panas dan lembab. Kemudian, lantai demi lantai
telah dilewati. Kini, hanya tinggal beberapa orang di dalamnya, membuat bola
mataku berputar melihat seisi ruang lift. Hingga akhirnya, pintu lift terbuka
pada lantai tujuanku, terasa udara segar bertiup membuatku ingin segera keluar
meninggalkan ruang lift yang pengap.






0 comments:
Post a Comment