Senja di Kota Hujan
Sore itu waktu menunjukan pukul 16.30 WIB aku sedang duduk di sebuah taman, menghilangkan penat sejenak sebelum kembali ke Jakarta bersama temanku Lisa, Taman Ade Irma Suryani tepatnya. Letaknya tidak begitu jauh dengan IPB Dramaga kampus temanku Lisa. sebuah taman yang indah dengan pepohonan yang tinggi dan rerumputan yang membentang di sepanjang jalan, serta ada beberapa tempat bermain anak di tengah taman. Tidak banyak pengunjung yang datang ke taman ini kecuali akhir pekan.
Entahlah, mungkin kenangan yang membawaku kembali ke tempat ini. Ya, tempat yang sama dengan cerita yang berbeda. Tidak sedikit waktu yang pernah kuhabiskan disini, walau hanya sekedar menikmati secangkir coklat panas, bercerita, hingga tawa-tawa kecil itupun mengakhiri pecakapan kami. Ah, semua seperti masih tersimpan rapi disini.
Rintik hujan yang turun perlahan seperti menghentikan langkahku untuk meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta, Cahaya matahari seolah pulang ke ufuk barat, langitpun tak lagi terlihat terang dengan awan birunya, berganti dengan indahnya senja yang berwarna jingga. Sesaat lembahyung senja yang perlahan pergi dan mulai menguning meninggalkan berjuta pasang mata yang telah siap menyambut Sang Rembulan.
Hhh… Aku mencoba meghelakan nafasku, kuberdiri dan mencoba melangkahkan kaki, mataku tertuju pada sebuah sofa di kedai minuman di sudut taman. Kuberjalan dan mencoba menundukan pandanganku berharap memori itu tak akan terulang kembali, namun gemerlapnya lampu taman yang satu persatu mulai berkedipan memancarkan sinarnya, seolah berkata padaku “A fear will only make you weak and lose confidence. Ignore the fear and proceed your step!” Kulanjutkan langkahku pada sebuah pohon besar yang sudah berumur, banyak daun-daun kecoklatan yang jatuh dari tangan-tangan pohon itu, seakan telah selesai berjuang memberikan kehidupan, Ya, Satu daun jatuh akan ada puluhan daun lagi yang akan tumbuh.
Ah, aku lupa akan tujuan awalku, sofa itu. Semilir angin menerpa tubuhku dinginnya udara perlahan memberontak masuk kedalam pori-pori kulit. Hari pun sudah semakin gelap, perlahan-lahan para pengunjungpun pergi, sepi dan lirih suara angin serta kicauan burung yang tersisa. Tidak lama kemudian langkahku telah sampai akan apa yang ingin ia tuju, Ya, Sofa di kedai minuman di sudut taman yang andai ia bisa bicara, mungkin ia akan bertanya dimana kita?






0 comments:
Post a Comment