Deskripsi Suasana dan Waktu

Jurit Malam di Puncak Bogor

Waktu menujukan pukul 00:00 , di suatu malam yang sepi dan sunyi hanya terdengar suara aliran sungai yang deras dan suara jangkrik yang saling bersahutan. Semilir angin malam yang berhembus terasa sangat dingin menusuk hingga menembus tulang. Pancaran sinar rembulan dan bintang-bintang yang betaburan membuat suasana malam ini menjadi begitu hangat. Belum lagi, lampu-lampu dari rumah penduduk yang berada di kaki gunung membentuk rangkaian yang tampak begitu senada.
Aku bersama temanku. Saat itu kami sedang berada di acara pengkaderan suatu organisasi. Kami adalah bagian dari panitia acara tersebut yang bertugas untuk menjaga pos dalam jurit malam. aku bersama temanku bergegas menuju pos tiga, pos yang harus kami jaga. Kami harus menempuh jarak yang cukup jauh kira-kira 500 meter dari villa kami berada. Dalam perjalanan menuju lokasi kami hanya di bekali dua buah lilin dan sebuah lampu minyak.
Perjalanan terasa amat mencekam karena jalan menuju lokasi sangat gelap dan sepi. Ketika aku dan temanku keluar gerbang villa, kami disambut oleh wangi kemenyan. Ditambah lagi suara burung hantu yang membuat aku semakin merinding .Di kanan dan kiri jalan hanya ada beberapa rumah penduduk yang penghuninya sudah terlelap . Tidak ada suara hiruk pikuk seperti di villa tadi, yang ada hanya suara aliran deras sungai dan jangkrik-jangrik yang saling bersahutan. Ya,,, untungnya temanku seorang yang pemberani, jadi tidak ada alasan untukku kembali ke villa karena ketakutan.
Setengah jam berlalu , waktu menujukkan pukul 00:30. Aku dan temanku sampai di sebuah tempat bekas kolam renang yang sudah lama tidak terpakai. Ya inilah pos tiga. Gerbang tua yang besar menyambut kami, pohon-pohon yang besar, serta tidak adanya penerangan sama sekali kecuali cahaya yang berasal dari lampu minyak yang kami bawa.Ini membuat rasa takutku muncul kembali. Semilir angin malam terasa semakin dingin. Lalu aku dan temanku memasuki area kolam renang tersebut, kami masuk ke dalam melewati pohon besar dan bekas kolam renang yang sudah di tumbuhi rumput-rumput liar di dalamnya. Disana sudah ada tikar untuk kami duduk menunggu para peserta yang datang ke lokasi ini.
Kamipun duduk dan menyalakan lilin yang kami bawa dari villa tadi. Untuk membunuh rasa takut, kami saling bercerita pengalaman kami. Aku dan temanku tertawa bersama seakan lupa kalau kami sedang berada di suatu tempat yang menurutku cocok untuk dijadikan tempat uji nyali. Setelah sejam menunggu akhirnya ada tiga orang alumni yang datang ke pos tiga ini . Suasana mencekampun semakin berkurang karena semakin banyaknya orang.
Waktu menunjukan pukul 02:00, akhirnya kelompok para peserta yang kami tunggupun datang satu persatu. Semua rasa takut hilang begitu saja  seakan terbawa oleh angin malam yang berhembus .  Selang waktu yang cukup lama akhirnya tiba waktu subuh, aku dan panitia yang lain, serta para peserta pergi bergegas menuju villa kembali untuk melakukan salat subuh di sana.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment