Aku berlari menyusuri anak tangga
menuju lantai 3. Aku melangkah
terengah-engah menuju ruangan pojok 3.317 karena letih pengelihatanku
tampak kabur. Dari kejauhan tampak pintu berwarna coklat pucat yang di samping
kirinya bersandar ke tembok 3 buah kursi hijau dan di sebelah kanannya ruang
toilet perempuan yang berdampingan dengan toilet laki-laki, ruangan genderia
yang hanya dibatasi tembok sepanjang 5 meter.
Kugenggam daun pintu yang terbuat
dari besi berwarna metalik, rasanya dingin. Perlahan kutekan dan sedikit
didorong agar terbuka. Seketika hawa dingin menerobos jaketku dan membuat
jantungku lebih terpacu. Aku melihat bangku-bangku kelas yang tersusun
berantakan mencapai 70 kursi penuh dengan Mahasiswa/i yang mendudukinya. Tepat
lurus di hadapanku terdapat 4 jendela yang masing-masing keduanya terpisah oleh
tembok selebar setengah meter. Di atasnya terpasang 2 buah Air Conditioner (AC)
yang sedang menghembuskan hawa sejuk darinya. Di pojok kelas terlihat segulung
kabel dan sebuah rak buku kecil kosong dan tentu saja dekat dengan meja Dosen
dan kursinya yang sudah ia duduki. Aku melihat tas dan laptop serta beberapa
buku dan absensi diatas mejanya. Ruangan yang tak kurang dari 30 meter itu
berlantai putih yang setiap lantainya selebar 30 sentimeter. Empat sisi
temboknya yang bercat kuning dan 4
pasang lampu yang menerangi ruangan sehingga memperjelas pandangan. Di tengah-tengah
atap terdapat infocus yang berguna untuk mempermudah presentasi dalam kelas.
Ada juga beberapa atap bolong sehingga tampak gelap dari atasnya terkadang
membuatku berimajinasi seram.
Kedatanganku yang telat
membuat Ia marah besar dan menyuruhku
agar segera cepat mengambil kursi karna aku kehabisan kursi. Kuambil kursi dari
ruangan sebelahnya yang kosong karena tidak ada pengajaran. Kursi yang terbuat
dari kayu berwarna coklat itu kuangkat sambil membuka pintu ruang 3.3.17.
kupandangi seisi kelas, hampir tak ada sisi yang kosong yang bisa kuisi dengan
bangkuku. akhirnya, sisi pojok dekat meja Dosenlah kuletakan kursiku. Aku menggeser
beberapa peralatan Mahasiswi lain yang berserakan di lantai untuk mempermudah
peletakan kursiku.
Setelah aku siap belajar dengan
kursiku yang agak kotor karena banyak coretan pulpen dan tipeks absenpun
dibacakan. Semua Mahasiswa/i mengeluarkan secarik kerta tempat dituliskannya PR
masing-masing. PR Statistika yang dibahas ditulis di Papan Tulis yang tepat
berada di depan kami semua, tepatnya tertempel di dinding yang berwarna kuning.
Warna papan yang sangat putih memperjelas tulisan yang ditulis menggunakan spidol
berwana hitam dan merah. Penghapuspun tersedia di pojok kanan Papan tulis.
Tepat di sisi kanan papan tulis terdapat dua buah bingkai yang berisikan
pernyataan-pernyataan Fakultas dan Kode Etik Mahasiswa/i serta catatan
inventaris kelas.
Seluruh Mahasiswa yang memenuhi
ruangan 3.3.17 terlihat fokus 2 jam terkahir itu semua karna dosennya killer. Barang-barang
yang penuh padat memenuhi ruang kelas
seakan sesak melihat kursi-kursi, tas, buku, pulpen serta Mahasiswa/i yang
meramaikan kelas. Kami bertahan dalam posisi yang sempit selama kelas
berlangsung. Ketika jam kelas berakhir satu demi satu Mahasiswa/i keluar
ruangan yang sedikit-demi sedikit membuat kelas lengang dan kosong. Dan
akhirnya hanya himpitan kursi-kursi kayu dan dinginnya ruangan 3.3.17.






0 comments:
Post a Comment