Tika sulistiani
1112046200013
Timun Mas
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun. Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. “Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju.
Suami
istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka
merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun
berwarna keemasan. Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan
berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka
memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka
menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia.
Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.
Tahun
demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang
tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada
ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu
menangih janji untuk mengambil Timun Mas. Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah
sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani
itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan
sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah
secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.
Suami
istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya
menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia
tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani
itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan..
Dengan
rasa takut timun mas berlari sekuat tenaga menerobos ranting dan pohon-pohon besar, selagi ia berlari
terdengar suara raksaksa yang semakin lama semakin keras menandakan raksaksa
semakin dekat dan suara
raksaksa itu sangat menyeramkan,
setelah ia berlari cukup lama terlihatlah raksaksa tersebut sedang
menghampirinya, Timun Mas pun merasa lemas dan gemetaran melihat sang raksaksa yang begitu besar, dengan rambut
gimbal, gigi bertaring layaknya vampir. Dan sang raksaksa pun berhasil
menangkap Timun Mas “mau lari kemana kau Timun, sudah sekian lama aku menunggu
santapanku yang begitu cantik dan pasti sangat lezat, hahahahahaha” kata
raksaksa, dengan tubuh yang sedang di genggam oleh raksaksa Timun Mas berusaha
mengeluarkan biji di dalam kantung yang diberikan oleh ayah dan ibunya, Timun Maspun berhasil mengambil biji yang ada di dalam
kantungnya dan melemparkannya kewajah raksaksa tersebut ”rasakan ini raksaksa
jelek”.
Sebuah biji yang kecil itupun berubah menjadi kain putih
yang semakin lama semakin melebar dan membungkus sang raksaksa, Timun Maspun
terjatuh dari genggaman sang raksasa, dan tercangang, diam matanya tak
berkedip, mulutnya menganga melihat begitu ajaibnya subuah biji kacang-kacang
bisa berubah dan dapat membungkus sang raksaksa layaknya hantu pocong, sang
raksaksapun sulit untuk bergerak karena terikat kencang terikat kencang, timun
maspun tak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia segera melarikan diri dari
raksaksa itu, setelah jauh ia berlari ia pun berhenti di sebuah pohon beringin
dan duduk bersender di pohon itu, ia mengatur nafasnya yang tersendat-sendat,
ia merasa sangat senang karena sang raksaksa itu tak bisa mengejarjanya lagi
dan ia telah bebas dari tuntutan untu menjadi santapan raksaksa itu, Timun Mas
pun tersenyum lega ia tidak sabar untuk pulang dan memberitahukan kepada ayah
dan ibunya bahwa sang raksaksa itu tak akan mengganggu hidup mereka lagi, angin
bertiup begitu sejuk membuat Timun Mas tertidur pulas.
Hari menjelang sore, tiba-tiba bumi bergetar dan Timun Mas pun terbangun olehnya, “kenapa ini? Apa ini akan
terjadi gempa?” ia pun menoleh dari
balik pohon beringin besar itu, ia pun terkejut ternyata sang raksaksa itu
masih bisa mengejarnya, raksaksa itupun mendekati Timun Mas dengan melompat
lompat karna setengah dari badannya masih terbungkus kain putih dari biji yang
dilempar Timun Mas, Timun Mas pun kembali berlari menghindari raksaksa itu,
tetapi sang raksaksa itu berhasil membebaskan diri dari bungkusan kain yang menghalanginya
mendapatkan Timun Mas. Raksaksa itu pun semakin mendekat tak pikir panjang
Timun Mas pun langsung melemparkan biji-biji itu kembali, tetapi biji-bijian
itu tidak barubah, sang raksaksapun tertawa “hahaha, kau tak bisa lari lagi Timun,
menyerahlah, kau sudah ditakdirkan ada di dunia ini untuk menjadi santapanku”
kata raksaksa sambil menginjak-injak biji yang dilemparkan Timun Mas, tiba-tiba
keluar air dari dalam tanah seperti semburan magma dari gunung meletus yang
membuat sang raksaksa terhempas di udara, Timun Mas pun kembali berlari, karna
Timun Mas lelah, ia pun kembali beristirahat duduk di sebuah bangkai pohon
besar.
Dengan gelisah Timun Mas memeriksa biji dalam kantung
yang diberikan ayahnya, hanya tersisa dua biji yang harus ia gunakan dengan
sebaik-baiknya agar dapat menghentikan raksaksa itu “semoga dengan sisa dua
biji ini, raksaksa itu tak bisa mengejarku lagi” ia pun kembali kantung berisi
biji tersebut di perutnya, di sisi lain biji yang dilemparkan kepada raksaksa
itupun mulai tak menyemburkan air lagi dan raksaksa pun mulai mengerjar Timun Mas
kembali.
Bumipun berguncang, menandakan sang raksaksa berhasil
lolos dari semburan air dari biji itu dan jaraknya sudah semakin dekat dengan
Timun Mas, ia pun berlari kembali tetapi kantung yang diikat di perutnya tak
terlalu kencang sehingga kantung tersebut terlepas dan jatuh saat Timun Mas
berlari tanpa ia menyadarinya, setelah ia berlari cukup jauh ia terkejut
menyadari bahwa kantung yang terikat di perutnya hilang entah ke mana, ia pun
bingung setengah mati dan sangat ketakutan karna tidak ada biji yang bisa mengalahkan
sang raksaksa, Timun Mas pun tetap berlari sambil menangis membayangkan ia
tertangkap oleh raksaksa tersebut dan dijadikan santapan olehnya, dalam
tangisnya ia bergumam “Tuhan, aku bersumpah jika ada seseorang yang bisa
menyelamatkanku dari kejaran sang raksaksa, bila seseorang tersebut perempuan
ia akanku jadikan saudara dan aku akan menyayanginya tetapi bila seseorang yang bisa menyelamatkanku
dari raksaksa itu adalah seorang lelaki akanku jadika ia sebagai suamiku yang
akan aku sayangi dengan sepenuh hati dan aku akan mengabdi kepadanya, tolong
selamatkan aku ya Tuhan”.
Langkah Timun Mas pun semakin melemah karna kehabisan
tenaga, ia terus berusaha berlari dengan air mata yang jatuh tanpa henti,
ditengah-tengah perjalanan Timun Mas pun jatuh tergeletak lemas, ada seekor
anjing menghampirinya dan menjilat-jilat wajahnya, Timun Mas dengan mata
berkunag-kunang ia memandangi anjing tersebut “apakah seekor anjing bisa
menyelamatkanku dari kejaran raksaksa yang begitu besar?” katanya dalam hati.
Dari kejauhan terdengar suara raksaksa “Timun, aku akan
menemukanmu”katanya, Timun Mas pun semakin putus asa “mungkin memang aku ada di
dunia ini untuk menjadi santapan raksasa itu” katanya sambil meneteskan air
mata di pipinya. Sang anjing berlari meninggalkan Timun Mas dan mencari dari
mana asal suara raksaksa itu, dilihatnya sang raksaksa sedang berjalan menuju
arah Timun Mas berada, sang raksaksa dapat mencium aroma wangi tubuh dari Timun
Mas dan ia pun mengikuti aroma tersebut, dilihatnya dari kejauhan timun mas
sedang tergeletak tak berdaya “hahaha sudah menyerahkah kau gadis
manis”katanya, ia pun berjalan dengan santai menghampiri Timun Mas, tetapi sang
anjing pun menghampiri raksaksa itu dan sang anjing berkata “jangan ganggu
gadis itu”. Sang raksaksa pun terhenti dan tertawa “bisa apa kau anjing kecil?
Hahaha” , dari mata sang anjing itu memancarkan cahaya merah yang mengarah kepada
sang raksaksa seperti sinar laser, sang raksaksa itu pun kepanasan dan tubuhnya
berasap dan tak lama kemudian tubuh sang raksaksa itu pun hilang hangus
terbakar. Sang anjing kembali menghampiri Timun Mas yang masih tak sadarkan
diri, beberapa lama kemudian Timun Mas pun membuka matanya, anjing berwarna
coklatlah yang ia lihat pertama kali, anjing itu pun berkata “engkau telah
aman, raksaksa itu sudah menghilang”, Timun Mas pun ter kaget “anjing bisa
bicara?” tanyanya dengan takut. “tenanglah aku tak akan menyakitimu, raksaksa
yang mengejarmu sudah tak ada lagi” kata anjing itu, Timun Mas pun senag
mendengar kabar tersebut tapi ia bertanya-tanya “apakah kamu yang mengalahkan
raksaksa itu” tanyanya kepada anjing itu, “iya, kamu tenang sekarang”jawabnya.
Timun Mas memeluk dan mencium anjing itu dan berkata
“terima kasih telah menyelamatkanku” dan dengan kagetnya anjing itu berubah
menjadi laki-laki yang tampan, Timun Mas pun hanya memandangi wajah laki-laki
tersebut dan tak bisa berkata apapun. “engkau telah menghilangkan kutukanku,
terima kasih”kata laki-laki tersebut. Sesuai dengan janji timun mas jika
seorang laki-laki menyelamatkannya dari sang raksaksa maka ia akan dijadikan
suami, “maukah engkau menjadi pendamping hidupku wahai penyelamatku?”tawarnya
pada laki-laki itu, “iya” jawabnya dengan singkat. Mereka berduapun tersenyum
malu “namaku Timun Mas” katanya memperkenalkan diri,”namaku Jaka”.Merekapun pulang
kerumah timun mas dan hidup bahagia bersama keluarga Timun Mas.






0 comments:
Post a Comment