Timun Mas



TIMUN MAS
Oleh Ifa Afifah
Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri petani. Mereka tinggal disebuah desa di  dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum dikaruniai seorang anak pun.  Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. “Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju. 

Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.  Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.

Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menagih janji untuk mengambil Timun Mas. Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.

Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan.....

Hutan yang sangat rimba, gelap dan gulita hanya suara jangkrik dan serangga pada saat tersebut. Namun, Timun Mas yakin bahwa ia bisa lolos dari kejaran raksaksa itu. Ibu dan bapak petani sangat khawatir  pada gadis yang dicintai dan disayangi selama 17 tahun mereka rawat. Raksaksa semakin marah dan terus mengejar Timun Mas. Kencangnya Larian Timun Mas sampai raksaksa tidak menemui jejak gadis tersebut, putus asalah raksaksa untuk mengejarnya. Lalu Timun Mas bersembunyi di belakang pohon yang sangat besar dan ditutupi oleh banyak dedaunan sehingga dirinya sampai aman dari kejaran raksaksa. Tertidurlah Timun dengan nyenyak.
Kicauan burung, kilauan cahaya matahari, sejuknya angin dan pagi telah tiba. Terbangunlah Timun Mas dan merasakan kedinginan. Seketika tangan dan kaki Timun bergetar karena ketakutan dan bingung apa yang harus ia lakukan pada ibu dan bapaknya. Namun ia sangat yakin bisa membuat mereka bahagia dengan kehadirannya. Keroncongnya suara perut Timun Mas, lalu Timun bergegas mencari makan untuk mengisi perutnya.dan ingin sekali Timun kembali pada pelukan ibu dan bapaknya.
            Suatu ketika Timun menemukan pengairan air yang sangat deras, lalu bergegas ke tempat tersebut untuk minum dan mencari ikan. Air yang jernih dan bersih membuat Timun merasakan kesegaran indahnya pengairan di depannya. Tak cukup hanya minum tapi ia harus mencari makan. Lalu Timun Mas melihat seorang laki-laki yang sedang menangkap ikan. Ia pun melihat Timun yang sedang minum. Timun ingin segera berlari untuk menghindar darinya, akan tetapi laki-laki itu menyapanya “Hai gadis cantik!” menolehlah Timun ke arahnya. Namun ia bingung apa yang harus ia lakukan dan katakan jika ia bertanya padanya hingga bisa berada di hutan yang sangat rimba itu. Jika ia mengatakan dengan sejujurnya apa yang terjadi, pasti tidak akan percaya. Lalu laki-laki itu mendekati Timun Mas, kita sebut saja Raden. Percakapan keduanya dimulai dan Timun menceritakan yang sebenarnya terjadi. Bahwa Raden sering berada di sungai untuk menangkap ikan dan didapatnya sangat banyak. Karena tidak ada seorangpun yang menangkapnya kecuali dia. Keduanya sangat akrab dan becanda tawa sampai Timun tidak merasakan ketakutan kembali.
            Kembalilah Timun pada pelukan ibu dan bapaknya. Ibu dan bapaknya tidak lupa mengucapkan terima kasih pada Raden yang telah mengantar Timun untuk kembali ke rumah. Beberapa minggu kemudian, Raden mendatangi rumah ibu dan bapak petani untuk melamar Timun Mas untuk menjadi suaminya. Dan terkejutlah Timun Mas dengan kedatangannya Raden. Tersipu malulah Timun Mas dan merona merah wajahnya. Dengan penuh suka cita, Timun Mas menerima lamaran Raden. Dan pada suatu hari pesta pernikahan pun telah tiba. Disaat pesta pernikahan berlangsung, seketika muncullah raksaksa dengan tubuh yang sangat besar dan goncangan membuat acara pesta pernikahan menjadi kacau. Ibu dan bapak petani sangat merasakan ketakutan begitupun Timun dan Raden. Lalu bergegaslah Raden mengambil pedang untuk melawan raksaksa itu. Tapi apalah daya, kekuatan raksaksa lebih besar dari Raden dan terlemparlah Raden ke arah ibu dan bapak petani. Gemetarlah Timun Mas dengan sangat ketakutan. Dan raksaksa pun menggendong dan membawa Timun Mas, namun tidak ada seorang pun yang berani melawan raksaksa termasuk ibu dan bapak petani. Jeritan dan tangisan ibu dan bapak petani tidak dihiraukan oleh raksaksa. Dan Timun Mas tidak pernah kembali pada pelukan ibu dan bapak petani.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment