Timun Emas 2014

Timun Mas dan Gundala Putra Petir

            Pada zaman dahulu, hiduplah sepasang suami istri, mereka adalah seorang petani. Mereka tinggal di sebuah desa di dekat hutan. Mereka hidup bahagia. Sayangnya mereka belum saja dikaruniai seorang anak pun.  Setiap hari mereka berdoa pada Yang Maha Kuasa. Mereka berdoa agar segera diberi seorang anak. Suatu hari seorang raksasa melewati tempat tinggal mereka. Raksasa itu mendengar doa suami istri itu. Raksasa itu kemudian memberi mereka biji mentimun. “Tanamlah biji ini. Nanti kau akan mendapatkan seorang anak perempuan,” kata Raksasa. “Terima kasih, Raksasa,” kata suami istri itu. “Tapi ada syaratnya. Pada usia 17 tahun anak itu harus kalian serahkan padaku,” sahut Raksasa. Suami istri itu sangat merindukan seorang anak. Karena itu tanpa berpikir panjang mereka setuju. 
            Suami istri petani itu kemudian menanam biji-biji mentimun itu. Setiap hari mereka merawat tanaman yang mulai tumbuh itu dengan sebaik mungkin. Berbulan-bulan kemudian tumbuhlah sebuah mentimun berwarna keemasan.  Buah mentimun itu semakin lama semakin besar dan berat. Ketika buah itu masak, mereka memetiknya. Dengan hati-hati mereka memotong buah itu. Betapa terkejutnya mereka, di dalam buah itu mereka menemukan bayi perempuan yang sangat cantik. Suami istri itu sangat bahagia. Mereka memberi nama bayi itu Timun Mas.
            Tahun demi tahun berlalu. Timun Mas tumbuh menjadi gadis yang cantik. Kedua orang tuanya sangat bangga padanya. Tapi mereka menjadi sangat takut. Karena pada ulang tahun Timun Mas yang ke-17, sang raksasa datang kembali. Raksasa itu menangih janji untuk mengambil Timun Mas. Petani itu mencoba tenang. “Tunggulah sebentar. Timun Mas sedang bermain. Istriku akan memanggilnya,” katanya. Petani itu segera menemui anaknya. “Anakkku, ambillah ini,” katanya sambil menyerahkan sebuah kantung kain. “Ini akan menolongmu melawan Raksasa. Sekarang larilah secepat mungkin,” katanya. Maka Timun Mas pun segera melarikan diri.
Suami istri itu sedih atas kepergian Timun Mas. Tapi mereka tidak rela kalau anaknya menjadi santapan Raksasa. Raksasa menunggu cukup lama. Ia menjadi tak sabar. Ia tahu, telah dibohongi suami istri itu. Lalu ia pun menghancurkan pondok petani itu. Lalu ia mengejar Timun Mas ke hutan. Timun Mas berlari secepat mungkin, ia terus berlari masuk ke dalam hutan. Sang Raksasa yang sedang kelaparan dan harus mengejar Timun Mas pun merasa lelah, semakin lama langkahnya semakin melambat. Akhirnya Raksasa itu berhenti mengejar Timun Mas dan duduk bersandar di bawah pohon, kepalanya menyundul daun-daun rindang dari pohon tersebut. Angin sepoy-sepoy membuat dirinya mengantuk, dan diapun tertidur.
                Timun Mas yang terus berlari akhirnya menyadari bahwa akhirnya sang Raksasa sudah tidak mengejarnya. Ia sudah tidak mendengar langkah kaki dari Raksasa dan sudah tidak melihat sosok Raksasa di belakangnya. Timun Mas akhirnya mengurangi kecepatan larinya dan akhirnya ia berhenti sejenak. Nafasnya terpenggal-penggal. Namun Timun Mas tidak ingin berlama-lama berhenti, ia takut Raksasa itu akan kembali mengejarnya. Timun Mas pun meneruskan pelariannya, menelusuri hutan yang semakin lama mulai terasa kesunyiannya. Mataharipun mulai tenggelam. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh datang dari kejauhan, Timun Mas merasa takut, “Raksasa itu akan menemukanku, dia akan menemukanku di sini. Bagaimana ini?”, kata Timun Mas dalam hati. Suara gemuruh itu semakin terdengar jelas, semakin mendekat, Timun Mas terus berlari, dan tiba-tiba, “hey! Siapa di sana?” ada seseorang memanggilnya, suara itu adalah suara seorang pria, Timun Mas yakin dia bukanlah sang Raksasa. Timun Mas berhenti berlari, “aku...aku hanya seorang gadis yang sedang melarikan diri dari kejaran Raksasa” jawab Timun Mas, tanpa membalikkan badannya. Suara tawa orang-orang di belakang Timun Mas pecah begitu mendengar jawaban darinya. “Hahahahaha Raksasa? Apa kau sudah gila?!” tanya suara yang berbeda dari belakang Timun Mas. Timun Mas pun berbalik dan melihat ada segerombolan orang penunggang kuda di belakangnya. Mereka semua tertawa terbahak-bahak, namun tidak dengan sang pemimpin gerombolan. Pria tampan dengan rambut hitam tebal yang disisir klimis ke belakang, alisnya pun tebal, dan juga kumis yang membuatnya semakin terlihat kharismatik. Matanya bagaikan mata elang yang memandang tajam. Pria itu duduk dengan gagahnya di atas kuda putih yang di tungganginya. Perawakannya bagaikan pangeran dari negri dongeng, dan Timun Mas pun meyakininya sebagai seorang Pangeran. “Aku tidak berbohong Yang Mulia... aku benar-benar hanya seorang gadis, yang sedang melarikan diri dari serangan Raksasa” kata Timun Mas meyakinkan pria itu. “Hey kalian, diamlah sebentar!” perintah pria itu kepada pengawalnya yang masih saja tertawa. “Wahai gadis cantik, siapa namamu?” tanya pria itu dengan lembut. “Namaku adalah Timun Mas, dan aku tidak berbohong tentang raksasa itu Yang Mulia..” “Baiklah Timun, aku adalah Pangeran Tomat, kau bisa memanggilku Tom. Aku dari desa seberang, dan sekarang kemana tujuanmu, Timun?” “Aku tidak memiliki tujuan, Pangeran. Aku harus berlari entah sampai kapan untuk menghindari Raksasa yang akan memakanku”, jawab Timun Mas seraya menunduk karena ia benar-benar merasa sedih dan takut. “Jika kau berkenan, aku akan membawamu ke rumahku untuk singgah seraya kau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana Timun?”. Belum sempat Timun Mas menjawab, pangeran kembali berkata, “kamu tidak usah takut, aku tidak akan berbuat jahat, aku hanya ingin menolongmu. Di sana ada ibu dan adik perempuanku, juga isteriku. Mereka sangat baik, jadi kamu tidak usah khawatir.” Langit sudah gelap, matahari sudah berganti dengan bulan, bintang-bintang mulai memancarkan sinarnya, para jangkrikpun mulai menunjukkan keberadaannya dengan suara yang ditimbulkannya. Timun Mas tidak ada pilihan lagi, “baiklah Pangeran, aku menerima tawaranmu, aku minta maaf sebelumnya karena harus merepotkanmu.” Timun Mas segera naik ke atas kuda yang di tunggangi sang Pangeran, ia duduk di belakang Pangeran, dan merekapun melanjutkan perjalannya menuju rumah Pangeran, yang tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah keraajaan yang sangat megah.
            Sampailah mereka di sebuah desa, desa yang sudah terlihat lebih modern daripada desa dimana Timun Mas tinggal. Dilanjutkannya perjalanan menuju kerajaan, sesampainya disana, Timun Mas merasa takjub, bangunannya indah dan juga terlihat kokoh. Lampu-lampu menyala memancarkan keindahan bangunan itu, bangunan kerajaan modern dengan perpaduan warna yang sangat indah, namun tetap terkesan elegant. Timun Mas dipersilahkan masuk ke dalam rumah, atau lebih tepatnya kerajaan sang Pangeran Tomat. Timun Mas bertemu dengan ibu dan adik dari Pangeran Tomat, diceritakannya asal muasal mengapa ia dikejar oleh sang Raksasa, dan mengapa Raksasa itu ingin memakannya.
****
            Di tengah hutan yang gelap, Raksasa terbangun dari tidurnya yang cukup lama. Ia merasa kesal karena kehilangan santapannya. Raksasa itu bertekad akan terus mencari Timun Mas sampai kapanpun. Ia harus mendapatkan Timun Mas. Raksasa itu berteriak sekencang-kencangnya untuk melampiaskan kekesalannya. Ia mulai memikirkan bagaimana dan kemana ia harus mencari Timun Mas. Raksasapun pergi, kembali ke dalam goa dimana ia tinggal. Langkah kakinya terdengar sangat berat, kencang dan menggema. Mukanya berkerut. Tangannya terkepal menunjukkan kekesalannya. Perutnya terus berbunyi karena lapar. Sambil berjalan, Raksasa mengambil dedaunan yang ada di kanan dan kirinya untuk kemudian dimakannya. Beberapa burung yang lewatpun tak lepas dari tangkapan tangan besarnya. Raksasa terus berjalan sambil mengunyah apapun yang ditangkap oleh tangan besarnya. Raksasa merasa sangat marah.
****
            “Apa kalian mendengar suara menggema itu?”, tanya adik sang Pangeran. “Sepertinya itu adalah sang Raksasa yang merasa kesal karena Timun Mas sudah kabur darinya”, jawab sang Pangeran. “Lalu, jika aku boleh tau, apa isi kantung kain yang kau genggam itu, Timun? Kamu tidak melepasnya sedaritadi kau tiba di sini’, tanya ibu Pangeran Tomat kepada Timun Mas. Timun Mas yang juga tidak tau, bahkan ia lupa kalau dirinya membawa kantung kain pemberian orang tuanya, segera membuka kainitu dan melihat isinya. “Ini adalah sebuah bola kristal”, jawab Timun Mas seraya mengeluarkan bola kristal itu dari kantung kain yang dipegangnya. “Ini pemberian orang tuaku sebelum mereka menyuruhku lari untuk menyelamatkan diri, namun aku tidak tau bagaimana menggunakannya”, lanjut Timun Mas. “Letakkan kedua tanganmu di atas bola kristal tersebut, dan katakanlah apa yang ingin kau lihat. Maka bola itu akan menunjukkanya kepadamu.” Seorang wanita menjawab ketidaktahuan Timun Mas akan kegunaan bola kristal itu, seorang wanita dengan parasnya yang cantik, kulitnya putih, rambutnya berawarna cokelat, panjang terurai. Matanya sipit menunjukan ia sebagai keturunan Tionghoa. “Ini adalah isteriku, namanya Timun Suri”, pangeran Tomat menjelaskan.
Timun Mas meletakkan tangannya di atas bola kristal itu dan dia memohon untuk melihat bagaimana keadaan orang tuanya. Bola kristal itu seperti berasap dan kemudian munculah gambar bergerak kedua orangtua Timun Mas yang sedang singgah di gubuk kecil di desanya. Mereka sudah tidak punya tempat tinggal lagi semenjak pondok mereka dihancurkan oleh Raksasa. Ibu Timun Mas terlihat sedang menangis karena sedih kehilangan anaknya, ia tidak tahu dimana anaknya berada saat ini. Masih hidup ataukah sudah tiada. Sedangkan ayah Timun Mas berusaha untuk menenangkan isterinya. Hujan turun dengan derasnya, mereka hanya berselimutkan kain batik tipis di gubuk itu. Hati Timun Mas hancur melihat orang tuanya seperti itu. Bola kristal kembali berasap dan hilanglah gambar yang tadi ditunjukkannya.
                        Timun suri merasa sedih melihat Timun Mas. Kemudian ia memberikan solusi, bagaimana jika mereka meminta pertolongan kepada Gundala Putra Petir untuk membinasakan sang Raksasa agar tidak mengganggu Timun Mas dan keluarganya. Solusi itupun disetujui oleh keluarga Pangeran Tomat. Mereka segera menghubungi Gundala untuk segera meminta bantuaan. Setelah Gundala setuju, mereka menyusun rencana untuk kembali ke hutan dan memberi pelajaran kepada sang Raksasa, serta mencari kedua orang tua Timun Mas agar dapat bertemu kembali dengannya.
****
            Hari sudah berganti, pagi yang ditunggu-tunggu telah datang. Gundala sang Putra Petir juga sudah datang sejak pagi sekali di kerajaan Pangeran Tomat demi membantu sang Timun Mas. Merekapun bergegas untuk pergi ke hutan demi melawan sang Raksasa. Timun Mas dengan bola kristalnya, Pangeran Tomat dengan para pengawalnya, serta Gundala Putra Petir dengan kekuatan Petirisasinya. Timun Suri pun memberikan perbekalan kepada mereka. Ia memberikan botol kecil berisikan air. Air itu merupakan air ajaib, dimana satu tetes air itu dapat menyembuhkan luka, jika kemudian merasa lapar dan haus, air itu dapat pula diteteskan dan tetesan air itu akan berubah menjadi makanan ataupun minuman.
Merekapun pergi ke hutan setelah melihat dimana tepatnya keberadaan sang Raksasa melalui bola kristal. Sampai di tengah hutan, tiba-tiba terdengar suara menggema dari langkah kaki Raksasa, “mau kemanna kalian?”, sapa sang Raksasa dengan mukanya yang sangat marah. “Kami ingin melawanmu! Menghancurkanmu bagaikan butiran debu!”, jawab si Gundala. Sang Raksasa tertawa mendengar jawaban dari Gundala. “Kalian tidak akan dapat menghancurkanku!”, kata sang Raksasa. Kemudian Pangeran Tomat beserta pengawalnya dan Gundala Putra Petir bersatu untuk melawan Raksasa, mereka bertempur dengan sekuat tenaga yang mereka miliki. Timun Mas menjauh dari mereka dan berlindung di balik pohon besar, ia berdoa kepada Tuhan agar diberi perlindungan, agar kedua teman barunya dapat memenangkan pertempuran. Namun kemudian Pangeran Tomat jatuh terhempas, pedangnya terlempar lima langkah dari dirinya. Pengawal Pangeran Tomat terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Kini tinggal si Gundala Putra Petir, iapun mengangkat tangan kanannya setinggi mungkin dan kemudian menyilangkan kedua tangannya sambil berkata, “Aku, Gundala Putra Petir, prajurit pembela cinta dan keadilan, dengan kekuatan petir, akan menghukummu!!”, kemudian langit berubah menjadi gelap dengan seketika. Halilintar dan kilat saling bersautan, membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa ketakutan. Raksasa mulai kebingungan akan apa yang terjadi, dan tiba-tiba petir mulai menyerangnya. Petir itu menyetrum Raksasa hingga akhirnya sang Raksasa hancur menjadi butiran-butiran debu berwarna hijau dan terbang bersama angin. Seiring dengan hal itu, langitpun kembali cerah, awan hitam menghilang.
                  Gundala Putra Petir menghampiri Timun Mas yang berlindung di bawah pohon besar, paras wajahnya kemudian berubah, “Timun Mas, sudah kubinasakan Raksasa itu hanya untuk dirimu, sekarang, aku ingin mengatakan sesuatu. Maukah kau mendengarnya?”, “katakanlah apa yang ingin kamu katakan Gundala”, jawab Timun Mas. Wajah Gundala memerah, ia malu dan ia mulai bernyanyi, “menatap indahnya senyuman di wajahmu.. membuatku terdiam dan terpaku. Mengerti akan hadirnya cinta terindah, saat kau peluk mesar tubuhkuuu.. Banyak kata.. yang tak mampu kuucapkan kepada dirimu..”. Wajah Timun Mas merah merona dan iapun mulai bernyanyi membalas nyanyian Gundala Putra Petir, ”disesuatu saat kumelihat dia. Ada getaran membuatku rinduuu. Senang hatiku saat kudengar suaranya, ingin selalu ada di dekatnya.. Tiba-tiba cinta datang kepadakuu, saatku mulai mencari cinta.. tiba-tiba cinta datang kepadakuu, kuharap dia rasakan yang sama..” Pangeran Tomat dan pegawalnya tersenyum bahagia melihat mereka yang ternyata saling jatuh cinta pada pandangan pertama.
 Mengerti nyanyian dari masing-masing orang yang disukainya, mereka saling bergandeng tangan dan pergi menuju desa dimana Timun Mas tinggal. Pangeran Tomat dan pengawalnya ikut serta pergi ke desa tempat Timun Mas tinggal. Tak membutuhkan waktu lama, mereka sampai di desa itu, mereka mencari orang tua Timun Mas. Dan ternyata orangtua Timun Mas sedang berada di sawah, mereka sedang melakukan pekerjaan mereka, bertani. Orang tua Timun Mas sangat senang melihat putrinya kembali. Dipeluknya dengan erat anak kesayangannya itu. Gundala Putra Petir dan Pangeran Tomat beserta dengan pengawalnya memutuskan untuk pulang ke rumah mereka. Ada pandangan berbeda di antara Timun Mas dan Gundala Putra Petir. Hanya mereka yang sedang jatu cinta yang memahaminya.
****
            Hari demi hari dilalui oleh Timun Mas bersama dengan orang tuanya. Mereka mendapatkan bantuan dari Pangeran Tomat dan Gundala Putra Petir untuk kembali membangun rumah. Sekarang mereka sudah memiliki rumah yang bahkan lebih baik dari sebelumnya. Pagi itu, tiba-tiba Gundala Putra Petir datang mengunjungi Timun Mas. Namun ada yang berbeda, ia tidak datang seorang diri, melainkan bersama dengan keluarga besarnya. Ia membawa berbagai seserahan dan juga ondel-ondel. Gundala Putra Petir menghampiri ayah dari Timun Mas, dan iapun bernyanyi kembali, kali ini ia menyanyikan lagu Brian McKninght yang membuat Timun Mas menangis terharu.....

Sir, I’m a bit nervous
‘Bout being here today
Still not real sure what I’m going to say
So bare with me please
If I take up too much of your time
See in this box is a ring for your oldest
She’s my everything and all that I know is
It would be such a relief if I knew that we were on the same side
Very soon I’m hoping that I…

Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me ’till the day that I die, yeah
I’m gonna marry your princess
And make her my queen
She’ll be the most beautiful bride that I’ve ever seen
Can’t wait to smile
When she walks down the aisle
On the arm of her father
On the day that I marry your daughter



Namun, yang terjadi hanyalah wajah ayah Timun Mas yang kebingungan, dan ia hanya berkata, "maaf nak, saya nggak ngerti apa yang nak Gundala nyanyikan". Gundala Putra Petir bagaikan disambar petir. Dia diam terpaku kemudian mengatakan maksud dan tujuan sesungguhnya, "saya cuman mau ngelamar anak bapak."

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment