Susi Nur Amamah - Narasi



JAKA TARUB

Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja.
Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.
Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung.
Betapa terkejutnya Nawangwulan ketika tahu bahwa selendang yang selama ini ia cari telah disembunyikan oleh suaminya sendiri. Nawangwulan lalu memakai selendangnya itu dan seketika berubah menjadi bidadari yang sangat cantik. Jaka Tarub yang baru kembali dari berburu binatang dihutan sangat terkejut, ketika ia melihat ada cahaya terang yang muncul dari dalam rumahya. Jaka Tarub pun langsung bergegas masuk kedalam rumahnya. Ia begitu terpana ketika ada seorang gadis cantik berbaju bidadari lengkap dengan selendangnya ada didalam rumahnya. Beberapa saat kemudian ia mengenali ternyata yang dilihatnya adalah Nawangwulan istrinya sendiri. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Nawangwulan berhasil menemukan kembali selendangnya. Hal ini berarti rahasianya telah terbongkar.
“Kenapa kau tega melakukan ini padaku Jaka Tarub ?”, tanya Nawangwulan dengan nada sedih. “Maafkan aku Nawangwulan”, hanya itu kata kata yang sanggup diucapkan Jaka Tarub. Ia terlihat sangat menyesal. Nawangwulan dapat merasakan betapa Jaka Tarub tidak berdaya di hadapannya.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Nawangwulan pun harus segera kembali ke kahyangan. Nawangwulan juga mengajak serta putri semata wayangnya Nawangsih untuk ikut bersamanya tinggal di kahyangan. Jaka Tarub hanya bisa pasrah melihat anak dan istrinya kini pergi meninggalkannya sendiri.
Semenjak ditinggal pergi oleh Nawangwulan dan Nawangsih, semangat hidup Jaka Tarub turun. Ia mulai malas berburu bahkan untuk mengurus hidupnya sendiri saja ia tidak mampu. Setiap malam hobinya mabuk-mabukkan, berjudi dan bermain wanita. Hutang dimana-mana, hal ini membuat ia sering dipukuli orang karena tak mampu membayar hutangnya.
Hingga akhirnya Jaka Tarub pun jatuh sakit. Tak ada orang yang merawatnya. Ia begitu sedih. Di saat seperti ini ia teringat kembali akan anak dan istrinya yang ia sayangi dan rindukan. Mungkin saja, kalau ada istri dan anaknya ia tidak akan seperti ini.
Sementara itu, di kahyangan Nawangwulan dan Nawangsih hidup dengan bahagia. Mereka hidup dengan bergelimangan kasih sayang dari para penghuni kahyangan. Suatu waktu Nawangsih sangat merindukan ayahnya, ia ingin sekali bertemu dengan ayahnya. Hal itu ia utarakan kepada Nawangwulan, ibunya.
Awalnya Nawangwulan keberatan dengan permintaan anaknya itu, namun karena ia melihat kesungguhan tekad dari anaknya itu. Akhirnya Nawangwulan mengabulkan permohonan putrinya itu. Berangkatlah Nawangwulan dan Nawangsih ke bumi, betapa terkejutnya mereka ketika melihat Jaka Tarub tergolek tak berdaya di tempat tidur. Nawangwulan dan Nawangsih yang melihat Jaka Tarub seperti itu tidak bisa menutupi kesedihanya. Mereka berdua menangis dipelukan Jaka Tarub. Jaka Tarub merasa sangat bahagia sekali di akhir hidupnya ia bisa bertemu dengan anak dan istrinya kembali.
Jaka Tarub meminta maaf kepada Nawangwulan dan Nawangsih atas kesalahan yang selama ini ia lakukan. Nawangwulan dan Nawangsih pun juga meminta maaf kepada Jaka Tarub karena telah meninggalkannya, dan membuat ia jatuh sakit seperti sekarang. Dan dalam pelukan anak dan istrinya, Jaka Tarub pergi dengan tenang untuk selamanya. Semua orang yang tinggal di dekat gunung keramat dan penghuni negeri kahyangan berduka atas kepergian Jaka Tarub. Sejak kepergian Jaka Tarub, Nawangwulan dan Nawangsih akhirnya memutuskan tinggal di bumi untuk menebus rasa bersalah mereka kepada Jaka Tarub.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment