Selvina Nur Amalia - Narasi




 Jaka Tarub

Jaka Tarub adalah seorang pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat sebuah telaga. Tanpa sengaja, ia melihat dan kemudian mengamati tujuh bidadari sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub mengambil selendang yang tengah disampirkan milik salah seorang bidadari. Ketika para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke kahyangan. Salah seorang bidadari, karena tidak menemukan selendangnya, tidak mampu kembali dan akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Bidadari yang bernama Nawangwulan itu bersedia ikut pulang ke rumah Jaka Tarub karena hari sudah senja.

Singkat cerita, keduanya lalu menikah. Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak sekali-kali menanyakan rahasia kebiasaan dirinya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia tersebut adalah bahwa Nawangwulan selalu menanak nasi menggunakan hanya sebutir beras dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak menanyakan tetapi langsung membuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.
                                                                  *****
Akibat hal ini, persediaan gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika persediaan gabah tinggal sedikit, Nawangwulan menemukan selendangnya, yang ternyata disembunyikan suaminya di dalam lumbung.

Nawangwulan langsung menemui suaminya di ladang untuk meminta penjelasan. Jaka Tarub tidak menyangka bahwa istrinya bisa menemukan selendang yang ia sembunyikan. Karena Jaka Tarub tidak ingin kehilangan istrinya maka dia pun tidak memberikan penjelasan yang sebenarnya. Tetapi Nawangwulan mengetahui kalau suaminya telah membohonginya.

Jaka Tarub meminta maaf kepada Nawangwulan. Dia sangat menyesali perbuatannya. Namun rasa penyelasan Jaka Tarub tidak dapat mengurungkan niat Nawangwulan untuk kembali ke kahyangan meninggalakan dirinya.Nawangwulan pun pergi kembali ke kahyangan dengan membawa putrinya, Nawangsih.

Setibanya Nawangwulan di kahyangan di sambut antusias dan gembira oleh bidadari-bidadari lainnya. Nawangwulan menceritakan semua yang telah ia alami selama ini dan seorang putri cantik yang dibawanya. Mereka sangat iba mendengar cerita Nawangwulan. Ada rasa benci kepada Jaka Tarub tetapi ada rasa gembira juga karna ada seorang putri cantik.
Setelah Nawangsih tumbuh dewasa. Seluruh bidadari kahyangan mengangkat Nawangsih sebagai bidadari dan memberikan selendang sama seperti bidadari yang lainnya.
Pada suatu hari Nawangsih pergi bermain bersama teman-temannya. Dari atas awan mereka melihat  sebuah telaga yang sangat indah. Nawangsih dan teman-temannya pun memutuskan untuk turun ke telaga tersebut sekedar untuk beristirahat dan mandi disana.
Setelah beberapa lama Nawangsih asik mandi bersama teman-temannya, ada seorang pria yang mengintip. Pria itu menyembunyikan selendang Nawangsih. Setelah Nawangsih dan teman-temannya selesai mandi, Nawangsih kebingungan mencari seledangnya yang hilang. Ia pun ditinggal pergi oleh teman-temannya karna waktu sudah mengharuskan mereka kembali ke kahyangan.
Kemudian pria yang mengambil selendang Nawangsih menghampiri dan berpura-pura menolongnya. Nawangsih diajak ke rumah pria tersebut.
Mengetahui putrinya tidak ada, Nawangwulan menemui teman-teman Nawangsih dan menanyakan keberadaannya.  Teman-teman Nawangsih menceritakan apa yang terjadi. Tanpa pikir panjang Nawangwulan langsung turun ke bumi untuk mencari anaknya. Ia tidak ingin putirnya mengalami hal yang sama seperti dirinya.
Setibanya Nawangwulan di bumi dia langsung menuju telaga tempat Nawangsih dan dirinya dulu mandi. Benar saja dugaan Nawangwulan. Di telaga, Nawangsih sedang asik bermain bersama pria yang mengambil selendangnya. Nawangwulan segera menghampiri Nawangsih dan pria tersebut. Betapa terkejutnya Nawangwulan setelah melihat pria tersebut. Pria itu adalah Jaka Tarub. Ayah Nawangsih. Jaka Tarub pun terkejut melihat keberadaan Nawangwulan.
Nawangwulan memaksa Nawangsih untuk kembali ke kahyangan. Namun Nawangsih tidak mau menuruti perintah ibunya. Karna dia sudah jatuh cinta kepada pria yang mengambil selendangnya, yaitu ayahnya sendiri. Jaka Tarub pun memiliki perasaan yang sama seperti Nawangsih.
Mengetahui kenyataan seperti itu, Nawangwulan sangat marah dan kecewa. Dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, Nawangwulan meminta diturunkan hujan badai. Tidak lama kemudian turunlah hujan badai beserta gemuruh petir yang sangat dahsyat. Akhirnya Jaka Tarub dan Nawangsih mati tenggelam. Nawangwulan pun mati tenggelam. Ia tidak bisa menyelamatkan diri karena kekuatan yang dimiliki sudah hilang.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment