Malam
di Gang Pesanggrahan
Pukul
tujuh pada malam yang sejuk di gang pesanggrahan. Matahari yang sudah sama
sekali tak terlihat, angin yang terasa begitu mesra dengan tubuh ini dan suara
ramai lalu lalang orang serta kendaraan roda dua yang melintasi gang ini. Para
pedagang kaki lima yang biasanya memenuhi sepanjang gang pesanggrahan ini dipagi
hari sampai dengan sore hari sudah tak terlihat, yang tersisa hanya kios
fotocopy yang belum tutup, berada tepat bersebrangan dengan tenda pedagang
pecel ayam yang menjadi tujuanku.
Biasanya
pada saat sekarang ini beberapa mahasiswa yang tinggal di kostan sekitar gang
pesanggrahan keluar dan berlalu lalang di gang pesanggrahan untuk membeli makan
malam. Seperti sekarang ini, gang yang tidak pernah terlihat sepi dari pagi
hingga malam hari ini selalu ramai terkecuali pada saat libur panjang
mahasiswa. Di sekelilingku terdengar suara gitar yang dimainkan oleh salah seorang
tukang fotocopy kira-kira 4 meter tepat dihadapanku duduk saat ini.
Di
sebelah kiriku terlihat ibu pedagang pecel yang biasa dipanggil dengan sebutan
bude dan suaminya yang sedang sibuk melayani beberapa orang yang datang
membeli, dan satu karyawannya yang sibuk menggoreng apa yang dipesan para pembeli.
Disekelilingku terdengar ramai percakapan orang yang sedang mengobrol sambil
makan. Terdengar pula suara gemercik minyak panas dalam penggorengan ketika
ayam atau lele basah dimasukan.
Panjang
tenda pedagang pecel ayam ini kira-kira 3 meter dan hampir dipenuhi oleh para
pembeli. Aku duduk disudut kursi, tepat dihadapanku ada seorang bapak-bapak
yang berperawakan tinggi besar, berkumis tebal, dan bermuka sangar dia dengan
asyiknya menghisap sebatang rokok dan tidak punya rasa bersalah sama sekali
terhadap orang-orang yang berada disekitarnya. Udara yang semakin malam semakin
dingin menyelimuti tubuhku, sudah hampir sepuluh menit aku menunggu akhirnya tak
lama pesananku pun datang, aku pun segera menyantap makanan yang sudah ada
dihadapanku.






0 comments:
Post a Comment